Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keliling Desa
Rek ayo rek mlaku mlaku nang tunjungan...
Rek ayo rek rame rame bebarengan...
Cak ayo cak sopo gelem melu aku...
Cak ayo cak golek kenalan cah ayu...
(Rek ayo rek, Jawa Timur)
.
.
Seolah tidak ada rasa nyeri yang tertinggal di hatinya, Hagia justru mengajak Azalea untuk menghabiskan hari dengan keluar berjalan-jalan menyapa warga di sana. Matahari pagi itu masih belum beranjak tinggi, namun hangatnya sudah mulai merambat ke pori-pori kulit.
Berjalan-jalan di sini berarti benar-benar menggunakan kaki sebagai tumpuan utama, sebab Azalea dengan tegas menolak menggunakan transportasi apa pun, baik itu motor maupun jasa angkut lainnya. Ia ingin merasakan setiap jengkal tanah yang ia injak sembari menghirup sisa embun yang masih menempel di pucuk-pucuk daun.
Bagi Hagia, ini adalah caranya membahagiakan diri yang murni. Ia percaya bahwa resep bahagia adalah dengan memenuhi hati dan pikiran dengan hal-hal yang positif. Hagia selalu berpesan pada dirinya sendiri, jangan pernah memupuk hati ini dengan rasa kecewa dan benci, karena pupuk itu hanya akan menumbuhkan duri yang kelak melukai diri sendiri.
Namanya juga hidup, pasti tak ada yang benar-benar sesuai dengan ekspektasi manusia. Jadi, Hagia menanggulanginya hal tersebut dengan sangat sederhana. Biarkan saja semuanya berlalu seperti awan yang ditiup angin, tanpa harus bertindak impulsif karena kekesalan sesaat yang ujung-ujungnya hanya akan melahirkan penyesalan di kemudian hari. Itulah prinsip hidup Hagia yang membuatnya tetap tegak berdiri meski badai menyapa.
Saat ini, Hagia membawa Azalea menyusuri jalanan setapak yang kiri-kanannya diliputi pemandangan indah yang menyejukkan mata. Perpaduan antara langit biru yang bersih dan hamparan hijau yang mulai menguning menciptakan pemandangan yang luar biasa untuk Azalea. Tak disangka, langkah kaki mereka membawa mereka ke tengah-tengah kerumunan warga yang sedang berkumpul di pinggir sawah. Kebetulan sekali, hari itu adalah puncak panen raya, dan warga sedang melaksanakan tradisi wiwitan.
Ini adalah kesempatan emas bagi Hagia untuk memperkenalkan sisi lain dari kehidupan desa yang jarang tersentuh oleh orang kota seperti Azalea. Hagia menjelaskan secara detail tentang budaya wiwitan ini, sebuah ritual rasa syukur sebelum padi mulai dipanen secara massal. Ia menjelaskan tentang makna tumpeng, ingkung, dan berbagai sesaji yang ada di sana sebagai simbol keseimbangan alam.
Azalea mendengarkan dengan seksama, matanya berbinar, dan sebuah senyuman takjub perlahan terukir di wajahnya. Ia baru menyadari betapa dalam filosofi yang terkandung dalam setiap jengkal kebudayaan lokal ini.
Keduanya kemudian mengikuti serangkaian acara dengan penuh khidmat, larut dalam suasana spiritual yang sederhana namun menyentuh hati. Acara itu pun ditutup dengan do'a bersama yang dipimpin oleh seorang sesepuh desa.
Setelah do'a usai, sesepuh itu melakukan pemotongan padi secara simbolis.
"Wis dibukak, (Sudah dibuka.)" Ujar sesepuh itu.
"Monggo panen," lanjutnya, mempersilakan warga untuk mulai bekerja.
Beliau kemudian menoleh ke arah Hagia dan Azalea. Dengan kerutan ramah di ujung matanya, sesepuh itu menyapa Azalea dengan hangat. Azalea dan Hagia pun membalas sapaan itu dengan sikap yang tak kalah ramah, menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
Azalea masih berdiri mematung di pematang sawah, mengamati keriuhan para petani yang mulai sibuk dengan arit mereka. Hingga kemudian, seorang ibu petani paruh baya yang sedang mengikat hasil panennya menyapa Azalea.
"Mbaknya nggih turun mawon. Nglap berkah."
(Mbaknya silakan turun saja. Ikut mengambil berkah.)
Azalea sempat ragu. Ia menoleh ke arah Hagia, meminta izin atau kepastian apakah ia pantas melakukannya. Hagia tersenyum lembut dan memberikan anggukan kecil.
"Boleh. Sekarang sudah boleh dicoba."
Dengan pelan dan hati-hati agar tidak terpeleset ke dalam lumpur sawah yang becek, Azalea turun ke area persawahan. Ia menerima sebuah arit dari salah satu petani. Dari kejauhan, pekerjaan itu terlihat sangat mudah, hanya mengayunkan arit dan seketika seikat padi akan terputtus dari batangnya. Namun saat Azalea mencobanya sendiri, realita berkata lain. Ia mengayunkan arit itu berkali-kali, tapi batang padi itu seolah melawan.
Bukannya terpotong rapi, batang padi itu justru hanya lecet. Gerakan Azalea yang berulang-ulang membuatnya terlihat seperti sedang memotong dengan benda yang sangat tumpul.
Hagia yang takut banget Azalea terluka, sontak mengajarkan Azalea. Hagia mengambil posisi di belakang Azalea untuk mengajarinya. Dengan penuh ketelatenan, Hagia membimbing gerakan tangan Azalea. Ia tidak sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, memang begitu adanya tekniknya. Ia harus memegang punggung tangan Azalea untuk menunjukkan sudut kemiringan arit dan kekuatan tarikan yang pas agar padi terpotong dalam sekali ayun.
Momen ini tak pelak memantik perhatian para petani di sekeliling mereka. Ibu-ibu petani mulai berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah mereka, diiringi senyum-senyum. Mereka melihat Hagia dan Azalea seperti pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara di tengah sawah. Berkat bimbingan intensif dari Hagia, akhirnya Azalea berhasil memotong seikat padi dengan sempurna.
Di bawah sinar matahari yang mulai terasa menyengat di ubun-ubun, Azalea berdiri diam. Ia memandangi segenggam pohon padi yang baru saja ia potong. Pikirannya mendadak berkelana jauh. Ada sebuah kesadaran yang menghantam nuraninya. Ternyata butuh perjuangan yang luar biasa hanya untuk menghasilkan butiran beras yang selama ini ia santap. Ada peluh yang menetes, ada otot yang pegal, dan ada do'a yang dipanjatkan dalam setiap prosesnya.
Seketika rasa bersalah yang amat sangat menyergap hati Azalea. Ia teringat betapa seringnya ia menyia-nyiakan makanan. Nasi yang tidak habis, piring yang selalu bersisa, dan semuanya berakhir di tempat sampah tanpa pikir panjang. Ia merasa sangat berdosa terhadap keringat para petani yang ia saksikan hari ini. Ia mulai berpikir dalam-dalam tentang kesejahteraan para pejuang pangan ini yang seringkali tak sebanding dengan kerja keras mereka.
Karena melihat Azalea yang bengong cukup lama, Hagia pun merasa perlu bertanya.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?"
Azalea tersentak, buyar dari termenungnya.
"Nggak papa Kak, aku cuma kepikiran...aku merasa jahat karena sering buang-buang makanan. Padahal untuk mendapatkannya, prosesnya sangat sulit dan melelahkan."
"Rasa susah memang secara tak langsung mengajarkan kita apa arti bersyukur, Lea." Ujar Hagia.
Azalea hanya bisa mengangguk pelan, menyetujui setiap kata yang keluar dari mulut pria itu.
Hagia kemudian mengambil alih seikat padi dan arit dari tangan Azalea agar tangan wanita itu bebas. Setelah itu, ia mengambil botol air mineral dari tas kecil yang ia bawa dan menyodorkannya pada Azalea. Azalea meraihnya lalu meneguk dengan dahaga.
Di saat itulah, sebuah tindakan spontan kembali dilakukan Hagia. Sembari Azalea meneguk air, Hagia mengeluarkan sapu tangan dan dengan lembut mengelap butiran keringat yang mengucur di dahi dan pelipis Azalea, bahkan ke pipi. Perlakuan yang begitu tiba-tiba dan penuh perhatian itu hampir saja membuat Azalea tersedak.
Pemandangan itu tentu saja tidak luput dari mata-mata jenaka warga desa. Ada seorang bapak petani yang rupanya punya jiwa humor tinggi. Melihat romansa tipis-tipis itu, beliau berteriak keras ke arah istrinya yang juga sedang panen tak jauh dari sana.
"Bu! Iki lho bapak yo kringetan! Tulung dikelapi no, Bu, ben koyo cah enom kae!" (Bu! Ini lho bapak juga keringatan! Tolong diusapin dong, Bu, biar kayak anak muda itu!)
Si istri langsung menghampiri bapak-bapak tadi dengan cengiran lebar. Beliau langsung mengelap wajah sang suami pakai baju yang dikenakan, seperti mengelap hingus anak kecil.
Sontak, sawah itu riuh dengan tawa renyah para petani. Suasana menjadi penuh canda. Hagia yang baru sadar bahwa tindakannya ditiru dan menjadi bahan guyonan, langsung mesem-mesem salah tingkah. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Sementara itu, Azalea kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa melipat bibirnya rapat-rapat menahan tawa, sementara matanya terus memperhatikan tingkah Hagia yang sedang salting.
Merasa suasana semakin berbahaya bagi kesehatan mentalnya yang sedang malu, Hagia langsung memberikan kode pada Azalea untuk segera beranjak.
"Yuk, pulang sekarang," ajak Hagia cepat. Ia kemudian berpamitan dengan sopan kepada para petani, yang dibalas dengan sorakan godaan yang semakin ramai.
Dalam perjalanan pulang, saat mereka baru saja keluar dari area persawahan dan masuk ke jalan desa yang lebih sepi, suasana canggung tadi mulai mencair. Tapi langkah mereka terhenti ketika ponsel di saku celana Hagia bergetar. Ada panggilan masuk.
Hagia merogoh ponselnya dan melihat layar. Alisnya bertaut.
"Dari Pak Lurah," gumamnya pada Azalea. Hagia itu selalu lapor ke Azalea tentang siapa yang menelpon jika dapat telepon di hadapan Azalea tanpa perlu ditanya. Berbeda dengan Azalea, wanita itu kebalikan dari Hagia.
Hagia begitu serius mendengarkan diseberang sana Pak Lurah berbicara. Seketika dahi Hagia berkerut seraya menatap Azalea yang tengah kepo dengan perbincangan Hagia dan Pak Lurah.
.
.
Bersambung.
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣