NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Yudiz membantu Rani mengganti pakaiannya dengan daster yang nyaman, lalu dengan sangat hati-hati ia membopong istrinya menuju ruang keluarga.

Ia mendudukkan Rani di sofa utama yang paling empuk, seolah menegaskan kedudukan Rani sebagai ratu di rumah itu.

"Laila! Sini!" panggil Yudiz dengan suara tegas yang bergema di seluruh ruangan.

Laila datang dengan wajah yang awalnya ceria karena merasa dipanggil, namun senyumnya memudar saat melihat tatapan dingin Yudiz dan kehadiran Rani di sana. Yudiz mengambil selembar kertas dan pulpen, lalu menatap Laila dengan tajam.

"Karena kamu sudah memilih untuk masuk ke rumah tangga kami dengan cara seperti itu, maka kamu harus mengikuti aturan di rumah ini. Ada 20 peraturan yang tidak boleh kamu langgar sedikit pun," ucap Yudiz tanpa basa-basi.

Isi peraturan itu adalah:

Rani adalah nyonya besar di rumah ini. Segala keputusan rumah tangga harus melewati persetujuan Rani.

Dilarang memasuki kamar utama. Kamar itu adalah area pribadi Yudiz dan Rani.

Laila menempati kamar tamu di bagian belakang.

Urusan dapur adalah hak Rani. Laila dilarang menyentuh peralatan masak Rani kecuali diizinkan.

Dilarang memanggil Yudiz dengan sebutan 'Abi'. Hanya Rani yang boleh memanggilnya begitu. Laila harus memanggil 'Mas' atau 'Ustadz'.

Waktu Yudiz untuk Laila hanya satu hari dalam seminggu, itu pun jika Rani memberikan izin dan dalam kondisi sehat.

Laila wajib mengerjakan semua tugas rumah tangga (mencuci, menyapu, mengepel) karena Rani sedang dalam masa pemulihan.

Dilarang menyentuh atau menghina Rani. Satu kata kasar saja, Laila akan langsung dipulangkan ke pondok.

Dilarang masuk ke ruang kerja Yudiz.

Laila tidak boleh membawa tamu ke rumah tanpa izin tertulis dari Yudiz dan Rani.

Uang belanja Laila diatur oleh Rani.

Dilarang memamerkan status pernikahan di depan umum atau di media sosial.

Laila tidak boleh ikut campur jika Yudiz dan Rani sedang berbicara berdua.

Dilarang memakai barang milik Rani, sekecil apa pun itu.

Wajib menjaga kebersihan rumah setiap saat.

Dilarang membicarakan keburukan Rani kepada Umi Salmah atau siapa pun di pondok.

Laila harus menyiapkan makan untuk Rani tepat waktu setiap harinya.

Dilarang merengek atau meminta perhatian berlebih saat Yudiz sedang bersama Rani.

Segala bentuk protes terhadap peraturan ini akan dianggap sebagai permintaan cerai.

Yudiz tidak menjanjikan nafkah batin sampai hati Yudiz benar-benar siap (yang entah kapan).

Laila gemetar membaca deretan peraturan itu.

"Mas, ini tidak adil! Aku ini juga istrimu!"

"Adil itu bukan berarti sama rata, Laila. Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan tempatmu adalah di bawah bayang-bayang Rani," jawab Yudiz telak.

Rani hanya terdiam, ia menatap suaminya dengan perasaan campur aduk.

Ia tidak menyangka Yudiz akan bertindak sejauh ini untuk melindunginya.

Yudiz menyodorkan kertas peraturan itu bersama sebuah pulpen ke arah Laila.

Tatapannya tidak goyah sedikit pun, dingin dan menuntut kepatuhan mutlak.

"Tanda tangan sekarang. Setelah itu, segera ke dapur dan masak makan malam untuk kita," perintah Yudiz tegas.

Laila menatap kertas itu dengan tangan gemetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, merasa terhina. Namun, melihat wajah Yudiz yang sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan, ia akhirnya menandatangani kertas itu dengan berat hati.

"Rani suka koloke dan aku ingin ayam bakar," lanjut Yudiz sambil membantu Rani memposisikan gipsnya agar lebih nyaman di atas bantal sofa.

Laila tersentak, wajahnya memucat. "Tapi Mas... aku nggak bisa masak menu itu. Aku nggak pernah masak yang ribet-ribet."

Yudiz menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat sangat sinis di mata Laila. Ia menoleh perlahan, menatap Laila dengan sorot mata meremehkan.

"Kamu bisa, Laila. Bukankah kamu sendiri yang bilang ke Umi di depan semua orang kalau kamu jago masak dan urusan dapur? Kamu bilang kamu jauh lebih baik daripada Rani yang hanya tahu mesin motor, kan?"

Laila tercekat. Kalimat yang dulu ia ucapkan untuk menyindir Rani kini berbalik menyerangnya seperti bumerang.

Ia melirik Rani yang hanya diam menyimak, seolah ingin mencari pembelaan, namun Rani justru membuang muka.

"Masak sekarang. Jangan sampai aku mendengar dapur berantakan atau masakanmu tidak layak makan. Ingat, Rani harus makan tepat waktu untuk minum obatnya," tambah Yudiz lagi, kali ini suaranya lebih tajam.

Laila akhirnya berbalik dengan langkah menghentak, menuju dapur dengan perasaan dongkol yang luar biasa.

Di ruang keluarga, Yudiz kembali memfokuskan perhatiannya sepenuhnya pada Rani. Ia mengusap jemari kiri Rani yang sehat.

"Biarkan dia belajar tanggung jawab atas ucapannya sendiri, Sayang. Kamu cukup duduk manis di sini bersama Abi," bisik Yudiz lembut.

Rani menahan senyumnya. Meskipun hatinya masih terluka dengan pernikahan itu, melihat bagaimana Yudiz 'menghukum' Laila dengan kata-katanya sendiri membuat Rani merasa sedikit terhibur.

"Abi nakal banget," gumam Rani pelan.

"Abi hanya sedang menegakkan keadilan," jawab Yudiz sambil mengecup kening istrinya.

Laila melangkah ke dapur dengan hati yang mendidih.

Ia meraih celemek yang tergantung di dinding celemek berwarna merah muda milik Rani dan memakainya dengan kasar.

Ia menatap deretan bumbu di dapur minimalis itu dengan kebingungan. Bagaimana cara membuat koloke? Saus asam manisnya saja ia tidak tahu dasarnya.

Dari balik meja island dapur yang terbuka ke arah ruang keluarga, pandangan Laila teralun pada pemandangan yang membuatnya semakin perih.

Di sofa, Yudiz sedang menyandarkan kepala Rani di bahunya. Yudiz terlihat sangat telaten memijat lembut tangan kiri Rani yang tidak patah, sesekali membisikkan sesuatu ke telinga istrinya itu yang membuat Rani tersenyum malu.

Yudiz bahkan sempat mengecup puncak kepala Rani dengan penuh perasaan, tanpa peduli bahwa ada Laila yang sedang "berjuang" di dapur.

"Mas! Ini ayamnya harus diapakan dulu?" teriak Laila dari dapur, suaranya sengaja dikeraskan untuk memecah kemesraan mereka.

Yudiz menoleh sebentar, namun tangannya tetap mendekap pinggang Rani.

"Tanya saja pada ponselmu. Kamu punya akses internet, kan? Gunakan itu untuk membuktikan kata-katamu pada Umi kalau kamu istri yang serba bisa."

Laila menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia melihat Rani meliriknya sekilas.

Ada rasa malu yang luar biasa saat ia menyadari bahwa di rumah ini, posisinya benar-benar seperti orang asing yang sedang magang menjadi asisten rumah tangga.

Rani yang melihat wajah frustrasi Laila akhirnya berbisik pada Yudiz, "Abi, apa nggak keterlaluan? Dia bisa saja membakar dapur kita beneran kalau bingung begitu."

Yudiz mengusap pipi Rani, tatapannya melembut hanya untuk Rani.

"Biarkan saja, Sayang. Biar dia tahu kalau menjadi bagian dari hidup seseorang itu butuh kerja keras, bukan cuma modal ancaman pisau di leher. Kamu diam saja di sini, jangan berani-berani bantu dia."

Laila yang mendengar itu hanya bisa membanting spatula ke atas meja dapur.

Dengan tangan gemetar, ia mulai mengupas bawang sambil terus meneteskan air mata, sementara di depannya, ia harus menonton "drama" cinta suami yang baru saja dinikahinya itu hanya untuk istri pertamanya.

Mendengar teriakan histeris itu, Yudiz refleks melepaskan rangkulannya pada Rani.

Sebagai insting dasar manusia, ia langsung berlari menuju dapur, diikuti Rani yang berjalan tertatih di belakangnya karena khawatir.

"Ada apa?!" tanya Yudiz tegas saat sampai di ambang pintu dapur.

Laila terduduk di lantai sambil memegangi jari telunjuknya.

Darah segar mengalir dari sana, menetes ke lantai putih dapur.

Wajahnya dibuat seringkih mungkin, matanya berkaca-kaca menatap Yudiz penuh harap.

"Mas, jariku sakit sekali. Tadi aku kurang fokus karena pusing, terus pisaunya kena jari," isak Laila. Ia sengaja mengulurkan tangannya yang berdarah ke arah Yudiz, berharap suaminya itu akan panik, menggendongnya, atau setidaknya membalut lukanya dengan penuh kasih sayang.

Yudiz menatap luka itu datar. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya hela napas pendek yang terdengar jengah.

Ia melirik pisau di atas meja yang tampak bersih, lalu melirik irisan bawang yang berantakan.

"Rani, di mana kotak P3K?" tanya Yudiz tanpa menoleh pada Laila.

"Di laci bawah rak piring, Abi," jawab Rani yang berdiri bersandar pada meja makan.

Yudiz mengambil kotak itu, mengeluarkan plester dan cairan antiseptik. Namun, bukannya berlutut di depan Laila, ia justru meletakkan benda-benda itu di atas meja dapur dengan kasar.

"Obati sendiri. Luka sekecil itu tidak akan membuatmu mati," ucap Yudiz dingin. "Dan setelah selesai, bersihkan darahmu di lantai. Jangan sampai Rani menginjaknya dan terpeleset."

Laila tertegun, tangisannya berhenti seketika karena syok.

"Mas! Aku berdarah! Kamu tidak mau mengobatiku? Aku istrimu!"

Yudiz mendekatkan wajahnya pada Laila, memberikan tatapan yang membuat bulu kuduk Laila meremang.

"Istri yang tadi mengancam bunuh diri dengan pisau di leher, sekarang menangis hanya karena teriris jari? Jangan pakai trik murahan di rumahku, Laila. Aku tahu mana luka sungguhan dan mana luka yang disengaja untuk mencari perhatian."

Yudiz berbalik, merangkul pundak Rani untuk mengajaknya kembali ke ruang tamu.

"Ayo, Sayang. Kita tunggu di depan saja. Bau darah membuatku mual."

Rani melirik Laila yang mematung dengan wajah merah padam karena malu dan marah.

Di titik ini, Rani menyadari bahwa Yudiz benar-benar menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk wanita itu.

"Selesaikan masakannya, Laila. Kami lapar," tambah Yudiz sebelum benar-benar menghilang dari dapur.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!