MONSTER KEJAM itulah yang Rahayu pikirkan tentang Andika, suaminya yang tampan namun red flag habis-habisan, tukang pukul kasar, dan ahli sandiwara. Ketika maut hampir saja merenggut nyawa Rahayu di sebuah puncak, Rahayu diselamatkan oleh seseorang yang akan membantunya membalas orang-orang yang selama ini menginjak-injak dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerikil Kecil Yang Mengganggu
Agung keluar dari ruang kerja Ayu. Baru saja Ayu meletakkan tasnya di atas meja mahoni yang mengkilap, pintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan. Naomi melangkah masuk dengan gaya yang dibuat-buat, suara hak sepatunya beradu tajam dengan lantai marmer. Ia membawa tumpukan map, namun tatapannya lebih tajam dari ujung pena mana pun.
Naomi berdiri di depan meja Ayu, sengaja meletakkan map-map itu dengan dentuman kecil. Ia memandang papan nama "Vice CEO"
dengan senyum miring yang menghina.
"Selamat ya, Ayu. Eh, maksud saya, Ibu Wakil CEO," sindir Naomi, menekankan kata 'Ibu' dengan nada mengejek.
"Luar biasa sekali progres karier Anda. Kemarin hanya orang asing yang dibawa Pak Agung, sekarang tiba-tiba udah duduk di kursi empuk ini. Saya yang udah bertahun-tahun mengabdi di sini saja harus merangkak dari bawah."
Ayu tidak langsung menjawab. Ia membuka map pertama dengan tenang, menunjukkan ketenangan yang ia pelajari dari rasa sakitnya selama ini.
"Dunia bisnis memang penuh kejutan, Naomi. Kadang dedikasi aja gak cukup jika tidak disertai dengan kepercayaan penuh dari pemilik perusahaan," jawab Ayu tanpa menoleh.
Naomi tertawa sinis, ia melipat tangan di dada.
"Kepercayaan? Atau mungkin 'pelayanan' khusus? Jangan pikir semua orang di kantor ini buta, Ayu. Kamu pikir dengan wajah polos dan akting sok anggunmu itu, kamu bisa menipu semua orang? Jabatan ini bukan mainan. Kamu gak punya pengalaman, gak punya koneksi. Paling-paling, sebulan lagi kamu cuma jadi pajangan cantik di samping Pak Agung."
Ayu perlahan menutup mapnya. Ia berdiri, menatap Naomi tepat di matanya. Tidak ada lagi keraguan atau rona merah malu seperti saat di restoran tadi. Yang ada hanyalah tatapan dingin seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya.
"Naomi," panggil Ayu dengan suara rendah namun mengintimidasi. Ia berjalan memutari meja, mendekati sekretaris itu.
"Kamu benar, jabatan ini bukan mainan. Itulah sebabnya Pak Agung memilihku, bukan kamu."
Wajah Naomi menegang.
"Apa maksudmu?!"
"Maksudku sederhana," Ayu berhenti tepat di depan Naomi, memindai penampilan sekretaris itu dari kepala hingga kaki.
"Untuk berada di posisi ini, seseorang butuh otak yang tajam dan strategi yang berani, bukan sekadar riasan yang berlebihan. Kamu harus tahu diri sebagai bawahan. Perusahaan ini bergerak di bidang profesional, Naomi. Dan untuk mencapai level ini, modal bedak tebal dan parfum menyengat aja gak akan pernah cukup."
Naomi terperangah, wajahnya yang tertutup foundation tebal itu kini memerah padam karena murka.
"Kamu berani menghinaku? Kamu itu cuma orang baru yang beruntung."
"Aku bukan beruntung, aku adalah keharusan," potong Ayu tajam.
"Dan mulai sekarang, setiap laporan yang kamu buat harus melalui meja saya sebelum sampai ke tangan Pak Agung. Jadi, daripada membuang energimu untuk iri hati, lebih baik perbaiki kinerjamu. Sekarang, keluar dari ruangan saya. Dan lain kali, ketuk pintu sebelum masuk. Kamu tahu aturannya, kan? Atau perlu saya ajarkan tata krama dasar sebagai sekretaris?"
Naomi mengepalkan tangannya hingga gemetar. Ia ingin membalas, namun wibawa yang terpancar dari Ayu saat itu entah mengapa membuatnya bungkam. Dengan dengusan kasar, Naomi berbalik dan keluar dari ruangan, membanting pintu dengan keras.
Ayu kembali duduk di kursinya. Napasnya sedikit memburu. Ia tahu, Naomi hanyalah kerikil kecil, namun ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya. Saat ia menoleh ke arah pintu penghubung ke ruangan Agung, ia melihat pria itu berdiri di sana, bersandar di bingkai pintu sambil bersedekap, menyaksikan semuanya dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Ternyata kamu lebih dari sekadar berani," gumam Agung pelan.
Ayu mengatur napasnya yang sempat menderu. Ketegasan yang baru saja ia tunjukkan seolah menguras energi yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Namun, sebelum ia benar-benar bisa bersandar, kehadiran Agung di ambang pintu membuatnya kembali waspada.
Agung melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat dan mantap menciptakan resonansi yang berbeda di ruangan itu bukan ancaman seperti Naomi, melainkan sebuah dominasi yang hangat.
"Aku gak nyangka wanita yang tadi pagi terlihat ragu, bisa berubah menjadi singa betina yang begitu elegan," puji Agung.
Suaranya rendah, bergema di antara dinding mahoni.
Ayu mencoba mengulas senyum profesional.
"Saya hanya menjalankan peran yang Anda berikan, Pak Agung. Anda membayar saya untuk dihormati, bukan untuk diinjak."
Agung sudah berada tepat di belakang kursi Ayu. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dengan lembut mengusap puncak kepala Ayu, lalu turun membelai helai rambutnya yang terjatuh di bahu. Sentuhan itu terasa sangat kontras dengan ketegangan yang baru saja terjadi.
"Lebih dari itu, Ayu. Kamu punya bakat alami untuk berkuasa," bisik Agung.
Ia membungkuk, wajahnya mendekat ke telinga Ayu hingga aroma parfum kayu cendananya yang maskulin memenuhi indra penciuman Ayu.
"Aku makin yakin, memilihmu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat."
Jantung Ayu berdegup kencang. Ada debaran aneh campuran antara rasa bangga, haus akan validasi, dan setitik perasaan yang seharusnya tidak ada di sana. Baper, batinnya meronta. Namun, logika Ayu segera menarik rem darurat.
"Terima kasih atas pujiannya, Pak," ujar Ayu sambil perlahan menggeser kursinya, menciptakan jarak yang sopan. Ia berdiri dan merapikan blazernya.
"Tapi mohon, kita tetap harus bersikap profesional. Saya gak ingin memberi Naomi atau siapa pun di luar sana 'peluru' tambahan untuk menyerang posisi saya maupun reputasi Anda."
Agung terdiam sejenak, menatap Ayu dengan binar kekaguman yang lebih dalam. Ia menegakkan tubuhnya dan mengangguk pelan.
"Sangat bijak. Kamu benar. Baiklah, Ibu Wakil CEO, silakan lanjutkan tugasmu. Aku akan menunggumu di ruang rapat pukul dua nanti."
Sementara itu, beberapa meter dari ketenangan ruang Ayu, sebuah badai sedang mengamuk.
BRAK!
Naomi menghempaskan tumpukan dokumen ke atas mejanya hingga beberapa lembar kertas beterbangan ke lantai. Wajahnya merah padam, dan napasnya tersengal-sengal karena amarah yang tertahan.
"Perempuan sialan!" maki Naomi pelan namun penuh penekanan.
"Dia pikir dia siapa? Mengajari aku tata krama? Dia itu cuma sampah yang dipungut Agung dari jalanan!"
Ia mencengkeram pinggiran mejanya hingga buku-buku jarinya memutih. Bagi Naomi, Ayu adalah anomali. Tidak ada rekam jejak, tidak ada sejarah di dunia korporat, tiba-tiba muncul dan memotong jalur karier yang sudah ia bangun dengan susah payah dan dengan segala cara.
"Strategi? Keberanian?" Naomi tertawa sinis sendirian.
"Kita lihat seberapa berani kamu kalau rahasiamu terbongkar, Ayu."
Ia meraih ponselnya, lalu mencari sebuah kontak di daftar panggilannya. Sebuah nomor milik seseorang yang biasa melakukan 'pekerjaan kotor' untuk menggali informasi.
"Cari tahu semuanya," desis Naomi saat telepon diangkat.
"Mulai dari tempat lahirnya, sekolahnya, sampai siapa orang tuanya. Aku gak percaya dia muncul begitu saja tanpa lubang di masa lalunya. Aku ingin tahu siapa sebenarnya 'Ayu' ini sebelum dia menggigitku lebih jauh."
Naomi menutup telepon dengan senyum licik. Baginya, ini bukan lagi sekadar persaingan kantor. Ini adalah perang untuk menjatuhkan sang ratu baru sebelum sempat mengenakan mahkotanya dengan benar.
BERSAMBUNG