"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Fajar Setelah Badai
Begitu borgol pasti mengunci tangan para pengkhianat, suasana di gedung tua itu mulai terkendali. Namun, Alana tiba-tiba terjatuh.
Napasnya tersengal, keringat dingin sebiji sawo mulai membasahi pelipisnya saat adrenaline rush yang menopang tubuhnya sejak tadi mulai habis.
"Ayah... Raden, Ayahku masih di bunker!" teriak Alana dengan menahan tangis.
Raden dengan sigap menangkap tubuh Alana yang mulai lemas. Ia tidak membiarkan kaki tunangannya menyentuh lantai beton yang kotor dan bersimbah darah itu.
Dengan satu gerakan mantap, Raden membawa Alana dalam dekapannya, mencoba memberi ketenangan.
"Monitor... monitor... halo... Marko, tolong kamu instruksikan Tim Taktis Dua. Jemput Ayah Alana di koordinat bunker sekarang juga! Pastikan beliau baik-baik saja."
"Sudah Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku jamin dengan nyawaku sendiri ayahmu akan sampai di rumah sakit dalam sepuluh menit," perintah Raden tegas melalui alat komunikasinya.
Sementara itu, di atas gedung, suara baling-baling helikopter menderu membelah sisa hujan yang sedikit mulai mereda.
Tim bergerak cepat memindahkan Mama Aristi dan Ibu Alana ke atas brankar untuk dimasukkan ke dalam kabin helikopter.
Arsenio Adicandra berdiri di samping brankar istrinya, menggenggam erat tangan Aristi seolah takut jika ia melepaskannya walau sedikit saja, wanita di hadapannya itu akan hilang lagi.
"Maafkan aku honey... Maafkan aku karena tidak mengenalimu selama belasan tahun," bisik Arsenio dengan suara bergetar di tengah bisingnya mesin helikopter.
Mama Aristi meski sangat lemah dan kurus kering, hanya bisa tersenyum kecil.
Ia mengelus lembut tangan suaminya dengan sisa kekuatannya, menunjukkan bahwa cintanya tetap utuh meski raga dan jiwanya terpisah dan disiksa belasan tahun.
Sementara itu, Arsenio kembali mengingat interogasi dan penyiksaan mental singkat sebelum helikopter berangkat tadi.
Flashback On
Setelah berhasil menyelamatkan istrinya, Arsenio lalu melangkah pergi. Namun sebelum itu, ia sempat berbalik menatap Arista, Gunawan, dan Nadia yang tangannya sudah terborgol di sudut atap.
Arsenio tidak lagi memukul mereka. Baginya, rasa sakit fisik tidak akan cukup untuk membalas mereka. Ia menatap mereka dengan tatapan dingin yang mematikan, bahkan lebih dingin dari kematian.
"Marko," panggil Arsenio tanpa melepaskan pandangannya dari wanita penipu itu.
"Cabut semua identitas mereka mulai detik ini. Secara hukum, mereka sudah mati. Masukkan mereka ke sangkar besi tanpa ada cahaya sedikit pun. Biarkan mereka hidup dalam kegelapan selamanya."
"Baik, Tuan," jawab Marko dingin.
Arista yang tadinya hanya diam tiba-tiba menjerit histeris saat menyadari maksud dari perkataan Arsenio.
"Ti-tidak! Arsenio, kau tidak bisa melakukan semua ini padaku! Aku butuh perawatan! Wajahku... wajahku akan hancur di tempat gelap!" teriak Arista gila.
Saat ini ia benar-benar sangat takut tua dan jelek di dalam penjara yang tanpa cermin dan tanpa dokter kecantikan.
Arsenio tidak mempedulikan jeritan Arista. Ia berbalik dan terus berjalan hingga masuk ke dalam helikopter, meninggalkan Arista yang masih berteriak seperti orang gila.
Flashback Off
Kembali ke masa sekarang. Setelah beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit.
Arsenio dan beberapa anak buahnya menurunkan istrinya dan Ibu Alana dari helikopter. Mereka langsung disambut petugas medis.
Ternyata Ayah Alana juga sampai bersamaan dengan mereka. Akhirnya mereka bertiga dilarikan ke ruang ICU VVIP yang memiliki peralatan tercanggih.
Alana berdiri di balik kaca dengan tubuh gemetar, melihat kedua orang tuanya yang sedang ditangani tim dokter terbaik. Setelah dua jam, tim dokter akhirnya keluar.
"Tindakan awal yang Anda lakukan di bunker adalah mukjizat, Nona Alana. Ayah Anda melewati masa kritisnya. Sementara ibu Anda dan juga ibu Tuan Raden telah dipindahkan di ruangan perawatan."
Beberapa jam kemudian, di dalam satu ruangan besar yang tenang, Mama Aristi dan Ibu Alana dipertemukan. Mereka duduk berdampingan, saling menggenggam tangan sebagai sesama penyintas kekejaman yang sama.
Alana, Raden, dan Arsenio juga berada di sana. Mereka begitu terharu setelah sekian lama akhirnya bisa berkumpul bersama lagi. Alana duduk dan memeluk ibunya lama setelah belasan tahun terpisah.
"Terima kasih... terima kasih karena putrimu telah menyelamatkan putraku," bisik Mama Aristi haru.
Arsenio meletakkan tangannya di bahu Alana. "Mulai hari ini, seluruh biaya pengobatan ayahmu akan ditanggung keluarga Adicandra selamanya. Kau adalah pahlawan keluarga ini, Alana. Terima kasih banyak."
Sebelum fajar benar-benar muncul, Ayah Alana perlahan membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah istrinya yang duduk setia di sampingnya.
Apa ini mimpi? batin Ayah Alana.
"Bu... apa ini beneran kamu? Tapi kita di mana? Apa di surga?" tanya Ayah Alana parau.
"Tidak Pak, ini beneran aku. Sekarang kita aman. Raden dan Alana sudah menjemput kita ke tempat yang sangat baik," jawab Ibu Alana sambil mencium kening suaminya dengan air mata bahagia.
"Maafkan Bapak sempat menuduh kamu selingkuh... hiks hiks..." ucap Ayah Alana dengan air mata mengalir deras.
"Sstt! Tidak perlu dibahas lagi Pak. Semua sudah berlalu. Sekarang kita sudah berkumpul, jadi kita tatap masa depan, tidak perlu melihat ke belakang."
Sementara itu di balkon rumah sakit, Raden dan Alana duduk berdua melihat matahari terbit yang mulai membelah kegelapan malam.
Raden menyandarkan kepala Alana di bahunya. Tubuh mereka memang penuh luka, akan tetapi hati mereka begitu lega. Akhirnya semua telah berakhir.
"Terima kasih... terima kasih sudah menjaga rahasia kita, dan terima kasih sudah menyelamatkan keluargaku, perawat kecilku, Sayang," bisik Raden rendah.
Alana menatap matahari yang mulai meninggi, lalu tersenyum lebar. "Kita satu tim, Raden. Mulai sekarang, esok, dan selamanya."
Raden mengeratkan pelukannya pada Alana, menyadari satu hal bahwa fajar ini adalah awal dari kehidupan mereka yang sesungguhnya.
*******
Catatan Penulis:
Akhirnya fajar menyapa keluarga Adicandra dan Alana! Puas banget kan lihat pertemuan haru keluarga mereka dan hukuman "Sangkar Besi" buat para pengkhianat? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa Like dan Vote supaya Author makin semangat!
Btw guys, selain lanjutin bab ini, gue juga ada proyek baru yang nggak kalah seru judulnya "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri". Ceritanya lebih kocak, tentang mafia yang kena mental gara-gara istri dokter sekaligus pengacara yang barbar banget, apalagi kalau udah kumat latahnya yang bikin harga diri suami jatuh di depan anak buah! Kebayang kan gimana serunya?
Novel ini bakal rutin update setiap hari jam 15.17 ya! Buat yang mau lihat gimana kocaknya hubungan CEO Mafia vs Istri Savage, langsung aja mampir ke profil gue jam 3 sore nanti. Sampai ketemu di sana! Love you all! 🔥✨