Season 1 dan Season 2
Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.
Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.
Sugar Daddyku buktinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: The Reason
“Aku tidak merasa perlu mendengar apa-apa lagi dari Om. Kami akan keluar dari sini dan kita bisa memulai kehidupan kita masing-masing, terima kasih atas semua kemewahan yang Om berikan untukku, tapi aku tak butuh ini semua.”
“Sayang, kemarilah. Izinkan aku memelukmu,”
“Aku tidak sudi Om panggil begitu,” rasanya menangis saja tidak cukup untuk saat ini, aku ingin menjerit, meraung melepaskan semua rasa sakit yang menggerogoti hatiku.
“Queen,”
“Aku benar-benar kecewa, aku tidak menyangka kalau...”
“Kamulah orangnya,” aku terdiam.
“Kamulah orang yang akan aku nikahi.” Sambungnya.
Mataku membulat sempurna, aku berusaha memahami perkataan dari Om Gabriel.
“Aku ingin menikahimu, segera, secepatnya.” Katanya lagi, ia bergerak mendekatiku dan membawaku ke pelukannya.
“Haha. Om belajar akting dimana? Apa semua wanita sebelumku percaya dengan omong kosong itu?” aku tertawa dan mendorong tubuhnya menjauh dariku, rasanya menyakitkan sekali, aku tidak menyangka ia akan melakukan pembelaan dengan cara menjijikkan seperti itu.
“Queen..”
“Terima kasih banyak atas semua bantuan dari Om ya? Aku dan Moly pamit, satu lagi, kartu debit pemberian dari Om aku letakkan di laci meja rias, isinya sedikit berkurang. Mungkin aku tidak bisa menggantinya dalam waktu dekat, jika berkenan anggap saja kompensasi atas rasa sakit yang aku alami. Kami kembali ke tempat kami, semoga tak ada persimpangan selanjutnya yang membuat kita harus bertemu.” Ucapku, rasa sayatnya semakin menjadi-jadi saat pandanganku beradu dengan Om Gabriel, wajahnya terlihat sendu dan matanya sangat sayu.
“Jangan pergi Sayang, aku akan pulang sekarang. Kalian tidak punya tempat bersinggah,” ia menahanku dengan menarik lenganku. Tangannya sama hangatnya, harum tubuhnya tak berubah, nada bicaranya masih sama, dan aku benar-benar menginginkannya.
“Baik, kalau Om tidak mau aku pergi, berarti Om yang pergi!” aku menunjuk pintu apartemen dengan marah.
“Bolehkah aku memelukmu sekali saja? aku benar-benar merindukanmu.”
“Tidak!” jawabku. Aku tidak ingin digoyahkan lagi olehnya.
Meski begitu, ia tetap mendekatiku dan mengecup keningku, lalu melangkah keluar tanpa berpamitan padaku.
Aku segera berbalik memunggunginya pergi dan membiarkan air mataku mengalir bebas, setiap kali aku membentak Om Gabriel bertambah satu lagi sayatan di hatiku. Bagaimana sekarang? Apa kami tidak akan bertemu lagi? Aku belum siap kehilangan Om Gabriel. Biarlah aku dianggap bodoh sekali lagi, karena dalam cinta tak ada yang benar dan salah, bodoh dan pintar, kuat dan lemah. Aku mencintainya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk bersama dengannya sekali lagi.
Belum sempat kuberbalik untuk menahan langkah Om Gabriel, ia sudah lebih dulu memelukku dari belakang, melingkarkan tangannya di tubuhku dan menenggelamkan wajahnya di pundakku. Aku bisa merasakan tubuh hangatnya yang selama ini aku rindukan, aroma tubuhnya yang selalu menjadi heroinku dan detak jantungnya yang seperti lagu bagiku. Syukurlah ia tidak pergi!
“Berhentilah menangis, wajahmu jadi jelek sekali.” Bisiknya.
“Aku sudah bilang kan? Percayalah padaku, tapi kamu bandel sekali, bahkan kalian ingin keluar dari rumah ini. Jika saja aku tidak datang hari ini, aku tidak tahu keadaannya sudah separah ini.”
Aku berbalik dan mempererat pelukanku padanya, tangisku semakin terisak hingga kemejanya basah dengan air mataku. Aku tidak perduli, aku merindukannya hingga hatiku mau meledak, sudah kubilang bukan? menangis saja tidak cukup untuk mengungkapkan perasaanku.
“Aku minta maaf Sayang, sudah membuatmu menunggu terlalu lama.” Ia merenggangkan pelukannya padaku, lalu mengangkat tubuhku. Aku melingkarkan kaki di pinggangnya dan mengalungkan lenganku di lehernya. Persis bayi koala di gendongan ibunya. Om Gabriel kembali memelukku dan menahan berat badanku, bahkan tubuhnya tidak bergetar sama sekali.
“Aku begitu merindukanmu, tapi aku harus menyelesaikan semua masalah sebelum mendatangimu dan membawamu ke dalam kehidupanku. Aku tidak ingin hari-hari pertamamu sebagai nyonya Halim dipenuhi masalah,” aku semakin terisak saja mendengar penjelasannya.
“Kamu tahu Sayang, keadaan Mama semakin memburuk sebulan ini, ia dirawat di rumah sakit dan baru dibawa pulang pagi tadi. Naila lebih parah lagi, dia mulai bersikap aneh dan tidak mau diajak bicara, aku membawanya ke rumah sakit untuk medical check up tapi ia tidak terluka sama sekali. Aku membawanya ke psikolog, kamu tahu apa kata dokter itu? Naila tertekan karena ia berbeda dengan teman-temannya. Di saat teman-teman TK-nya ditemani Ibu mereka, Naila ditemani Om-Omnya, padahal ia anak pemberani dan ceria. Kuputuskan untuk menemani Naila seharian penuh setiap hari agar keadaannya membaik, ia sudah cuti selama sebulan dari TK itu dan menjalani perawatan di rumah.”
“Perusahaan juga sedikit bermasalah, kami bersaing dengan Neils Group sejak lama, saling serang dan berebut pangsa pasar. Papa menyarankanku untuk mencari jalan tengah agar permusuhan kami segera berakhir. Berita yang kamu lihat di TV, kami menandatangi perjanjian kerjasama Sayang, bukan rencana pernikahan, itu hanya bumbu-bumbu manis yang ditambahkan media.” Om Gabriel mengelus punggungku pelan dengan penuh kasih sayang.
“Aku memintamu mempercayaiku berulangkali bukan tanpa alasan, aku tahu suatu saat nanti kamu akan terluka karenaku, tapi kamu harus mampu melewatinya agar kita bisa bersama.”
Aku masih saja diam, tidak tahu bagaimana merespon penjelasan Om Gabriel.
“Berat badanmu naik lagi Queen?” tanyanya tiba-tiba.
“Om...”
“Ahaha, berhentilah marah padaku, aku hanya punya satu anak perempuan, satunya lagi Ibu dari anak perempuanku.”
“Aku takut kehilangan Om.” Tanganku semakin erat memeluk punggungnya.
“Aku lebih takut Queen, mari kita menikah. Jangan menolakku lagi ya?”
“Kapan aku menolak Om?”
“Kamu menolakku hari itu Queen, saat Papa dan Asisten Sebastian datang. Kamu menolak lamaran dariku.”
Aku melepaskan pelukanku dan menatap wajah Om Gabriel,
“Jadi kedatangan Ketua Kusuma hari itu?”
“Menurutmu Papa punya waktu mengurusi pacar-pacarku?” tanya Om Gabriel diiringi senyum nakalnya.
“Pacar-pacarku?” tanyaku.
“Ah, bukan begitu, maksudku...” Om Gabriel gelagapan.
“Jadi yang Om maksud sudah mengadakan pertemuan keluarga?”
“Tentu saja kamu Queen, kamu lebih hebat dari artis, selebritis atau model bagiku. Kamu satu-satunya yang menodong para penjahat itu dengan berani hanya untuk gadis kecil yang tidak kamu kenal. Keluargaku sudah menemuimu bukan? Hanya saja kamu menolaknya, kamu membuatku kecewa. Tapi aku paham, mungkin saat itu aku terlalu cepat memintamu melangkah lebih jauh.”
“Aku tidak paham jika Ketua Kusuma mendatangiku karena melamarku, sikapnya terlalu dingin untuk melamar seseorang.”
“Harusnya kamu jangan langsung menolakku begitu saja. Aku malu sekali saat Asisten Sebastian menceritakan semuanya padaku. Karena kamu menyanggah sebagai calon istriku, Papa dan Asisten Sebastian terpaksa mengalihkan pembicaraan.”
“Salah sendiri, kenapa tidak menjelaskan tujuan kedatangannya padaku.” Aku memasang wajah cemberut di hadapannya. Entah kemana semua rasa sakit yang membuatku bersembunyi di balik selimut dua hari ini.
“Om, aku ingin turun, pinggangku sakit,” keluhku.
“Bukankah harusnya aku yang kesakitan karena menahan berat badanmu ini?”
“Aku tidak berat,”
“Aku yang menggendongmu, aku lebih tahu kamu berat atau tidak.”
“Aku mau turun,”
“Aku tidak mau menurunkanmu hingga kamu menjawab iya.”
“Iya untuk apa?”
“Untuk menikah denganku,” wajahku bersemu merah, yang benar saja Om Gabriel sedang memintaku menikahinya.
“Apa Om harus bertanya kembali sesuatu yang sudah pasti?”
“Em, oke. Kamu menang, aku akan menurunkanmu.” Om Gabriel segera menurunkanku dari gendongannya.
“Bagaimana dengan Naila? Apa ia akan menerimaku?” tanyaku begitu memijakkan kaki kembali di lantai.
“Kamu harus menemuinya secara langsung dan ajak ia berbicara ya? Aku khawatir sekali pada keadaannya,”
“Bagaimana jika ia menolakku? Apa Om akan membatalkan pernikahan kita?”
“Kamu temui dia dulu, baru kita bicarakan kembali ya Sayang?” Om Gabriel kembali menarikku ke dalam pelukannya, tak ada tempat yang lebih nyaman dibanding Om Gabriel. Dia heroinku, dia canduku dan akan selalu begitu.
.
.
.
Jangan tanya kenapa aku bisa mencintaimu,
Karena cinta itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
-Ayla Daniyah
klik like, komen dan rate untuk mendukung Om Gabriel dan Queen ya ? ♥️
To Be Continued,
Lovelove
bemine_97