Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan di Meja Makan
Siapa sangka, Maira justru tak menemukan toilet yang dimaksud. Ia sudah berkeliling hampir seluruh sudut rumah besar itu, melewati lorong-lorong panjang dan pintu-pintu yang tampak serupa satu sama lain.
"Ya Tuhan, ini rumah apa sih. Nyari toilet aja rasanya kayak keliling kampung," keluh Maira sambil sesekali menahan perutnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan ia benar-benar sudah tak nyaman.
Ia baru saja berhenti di depan sebuah pintu ketika sebuah suara mengejutkannya.
"Kamu sudah selesai dari toiletnya? Ngapain kamu di sini?"
Maira menoleh dan mendapati Hazel berdiri tak jauh darinya, menatap dengan ekspresi datar khasnya.
"Ah, untung saja Anda datang," ucap Maira spontan.
"Tolong tunjukin saya arah toiletnya. Dari tadi muter-muter tapi gak ketemu-ketemu." Nada suaranya terdengar putus asa.
Hazel menghela napas pelan.
"Pakai toilet di kamar saya saja," katanya singkat sambil menunjuk pintu yang tepat berada di belakangnya.
"Terima kasih," jawab Maira cepat. Ia tak menunggu lama dan langsung masuk ke ruangan yang dimaksud.
Hazel hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat tingkah Maira yang tergesa-gesa, lalu berdiri menunggu di luar.
Tak lama kemudian, Maira keluar. Wajahnya terlihat jauh lebih rileks, napasnya pun sudah kembali normal.
"Anda masih di sini?" tanyanya, agak bingung.
"Hmm. Nanti kamu bisa nyasar lagi," jawab Hazel dingin.
"Lah, dia kira aku anak kecil kali, pakai acara nyasar segala," gumam Maira pelan agar Hazel tak mendengarnya.
Hazel berjalan lebih dulu, langkahnya tenang dan kaku. Maira mengikutinya dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah.
"Pak Hazel," panggilnya tiba-tiba.
Hazel berhenti dan menoleh.
"Anda yakin dengan ini semua?" Maira berjalan mendekat, sorot matanya terlihat serius.
"Kalau Anda merasa terluka, seharusnya Anda bilang ke istri Anda. Jangan pasrah seperti ini."
Hazel terdiam, sementara Maira melanjutkan dengan nada yang makin tegas.
"Cinta itu boleh. Tapi jangan bodoh."
"Maksud kamu?" tanya Hazel, jelas terkejut dengan keberanian Maira.
"Bukankah kalian saling mencintai? Dan Anda juga sudah menerima apa pun kondisi istri Anda. Anda bahagia, kan?"
Maira menatap Hazel lurus.
"Lalu kenapa istri Anda malah memaksa Anda mencari wanita lain cuma demi keturunan?"
Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Apa patokan kebahagiaan itu harus selalu ada anak? Banyak di luar sana yang gak punya keturunan tapi tetap saling mencintai dan bahagia."
Hazel tetap diam, sementara Maira menambahkan, suaranya kini lebih pelan tapi menusuk, "Sudah jelas Anda gak bahagia, tapi istri Anda tetap memaksa. Itu namanya egois."
Hazel tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tak menunjukkan kehangatan.
"Kamu gak akan paham situasi hubungan kami," ujarnya.
"Jadi silakan kamu mau berkomentar apa pun. Saya gak akan marah."
Tanpa menunggu jawaban, Hazel kembali melangkah pergi, meninggalkan Maira yang berdiri terpaku di tempatnya.
***
Maira dan Hazel kembali ke ruang makan lalu ikut bergabung duduk bersama yang lain. Maira mulai mencicipi hidangan yang tersaji di atas meja. Ia mengangguk-angguk pelan, mengakui kelezatannya, meski pikirannya tak sepenuhnya fokus pada makanan.
“Kapan rencananya Maira dan Hazel akan menikah?” tanya Naina tiba-tiba. Tatapannya bergantian tertuju pada anaknya dan Nadia, seolah menunggu jawaban yang sudah ia duga.
“Rencananya minggu depan saja, Ma. Semua sudah aku siapkan, dan acaranya mau diadakan di rumah kami saja,” jawab Nadia dengan wajah berbinar, nada suaranya terdengar penuh semangat.
Hazel sontak terkejut mendengar itu. Garpu di tangannya berhenti bergerak. Minggu depan terasa terlalu cepat baginya, apalagi keputusan itu baru pertama kali ia dengar.
“Nadia, kenapa kamu tidak membicarakannya dulu denganku?” ucap Hazel dengan nada kesal. Wajahnya menegang, jelas merasa diabaikan, seolah ia tak punya peranan dalam keputusan besar yang menyangkut hidup mereka berdua.
Nadia mencoba menenangkan suasana. Ia tersenyum manis, lalu menatap Hazel dengan penuh perhatian.
“Sayang, semakin cepat semakin baik, kan? Bukankah kita ingin segera punya anak?” ucapnya lembut, ada nada memohon dan kasihan di sana.
“Terserah kamu!” balas Hazel, suaranya meninggi. Ekspresinya penuh emosi, rahangnya mengeras menahan amarah.
“Lanjutkan saja ide gila kamu itu! Kamu memang tidak pernah mengikutsertakan aku dalam keputusanmu!” katanya lagi sebelum berdiri.
Dengan langkah berat, Hazel meninggalkan ruang makan, berusaha menenangkan hati yang berkecamuk antara cinta dan amarah.
Maira menahan napas. Matanya bolak-balik memandangi Nadia yang kini menunduk dan Hazel yang berjalan menjauh dengan langkah cepat. Kerumunan keluarga hanya bisa saling bertukar pandang, bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Suasana yang semula hangat berubah dingin dalam hitungan detik.
“Pasti kamu yang mendesak Nadia, kan?” suara Tamara mencuat tajam di tengah keheningan. Tatapan matanya menusuk ke arah Maira, seolah Maira adalah sasaran paling mudah untuk meluapkan kekesalan.
“Loh, kok saya, Tante? Saya juga kaget kenapa Nadia bisa bilang begitu,” jawab Maira membela diri. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan yang jujur. Ia benar-benar tak mengerti mengapa dirinya harus terseret dalam pertengkaran suami istri itu.
“Sudah, kita biarkan Hazel tenang dulu,” ujar Naina kemudian. Suaranya lebih lembut, namun tetap tegas, mencoba meredam emosi yang semakin memanas.
Di sudut lain, Nadia masih terpaku di kursinya. Matanya memerah, bibirnya bergetar menahan tangis. Hatinya hancur melihat Hazel marah dan kecewa padanya. Ia ingin berlari mengejar, ingin menjelaskan semuanya, namun kakinya terasa berat, seolah tak mampu bergerak. Pikirannya sibuk mencari kata-kata yang tepat untuk meredam amarah suaminya.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar bunyi sendok kecil yang beradu dengan cangkir, mamanya Nadia tetap terlihat tenang menikmati teh di hadapannya, seakan keributan barusan tak terlalu memengaruhinya.
Maira semakin merasa canggung berada di sana. Dadanya ikutan terasa sesak,padahal ini jelas gak ada hubungannya dengan dirinya.
“Seharusnya aku tidak datang ke sini tadi. Ini bukan tempat yang nyaman untukku,” batinnya, sambil berusaha mencari alasan yang masuk akal agar bisa segera meninggalkan ruangan itu.