Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Natural itu Maksudnya kamu
Mereka berdiri di lorong bioskop setelah film selesai.
Lampu sudah terang. Penonton lain berlalu-lalang.
Anne masih sibuk merapikan rambutnya di pantulan kaca, sementara Damar berdiri agak jauh, temen-temen Anne tampak berbisik-bisik sambil sesekali melirik Anne.
Aira menatap mereka berdua, lalu tersenyum kecil.
“Damar,” katanya polos,
“Anne itu baik dan cantik.”
Anne langsung menoleh, senyumnya melebar.
“Kalian itu serasi” lanjut Aira tulus,
Hening.
Naya membeku.
"Tololnya kebangetan," Damar melirik Naya dia sedikit mengangguk.
Anne terdiam setengah detik—lalu senyumnya makin dibuat-buat.
"Masa sih,"
Damar menoleh perlahan ke Aira.
“Kamu,” katanya datar,
Aira berkedip.
“Hah?”
“Dasar sok tau,” lanjut Damar tanpa basa-basi.
Anne terkejut.
“Damar,”
“Anne bukan tipe ku,” potong Damar dingin.
Udara langsung menegang.
Anne tersenyum kaku.
”Kak Damar aku juga mengangap Kakak sebagai senior ku,"
Anne berdiri kaku, wajahnya mulai sulit menjaga senyum.
“Aku… ke toilet dulu,” katanya akhirnya.
"Kalian turun aja ke parkiran duluan,"
"Sopir nunggu,"
Mereka lalu berjalan beriringan menuju parkiran,
"Trus tipe kamu kaya apa?" Tanya Lisa penasaran.
“Aku suka cewek yang natural. Apa adanya.”
Aira langsung menoleh ke Naya.
"Ini Naya Natural,"
Damar menarik nafasnya dalam
Naya hampir tersedak.
“Kenapa jadi gue?!”
"Sabar ya Damar," Ucap Naya, Lagi-lagi Damar hanya mengangguk.
Damar menatap Aira tajam.
“Bukan itu maksudku,” katanya kesal.
“Terus maksud kamu apa?” tanya Aira jujur.
“Makanya aku bilang kamu bodoh.”
TOK.
Damar mentoyor kepala Aira tidak keras, tapi cukup bikin Aira meringis.
“AU!”
Aira memegang kepalanya. “Ngapain sih?!”
“Biar mikir,” balas Damar.
Naya menatap Damar.
“Eh, jagan di toyor dong dia nggak akan ngerti.”
Damar tersenyum kecil, dia tau Raya mulai menyadari sesuatu.
"Anne mana yaa kok lama banget," Celetuk Lisa.
"Kamu sih," Kata Aira melirik Damar,
"Kok gue..."
"Kamu kasar banget tadi," Kata Aira merasa kasihan sama Anne.
"Aku cuman jujur, Aku nggak mau kasih harapan,"
Naya mengangguk setuju.
"Anne udah naksir kamu dari masa orientasi lho" Sambung Alice di ikuti anggukan Lisa dan Siska.
"Kasian Anne," kata Aira terlihat sedih.
"Perasaan kan nggak bisa di paksakan," ucap Damar dingin.
"Iya setuju," sahut Raya.
"Trus Kak Damar sukanya sama siapa dong?" Tanya Alice penasaran.
"Aku fokus belajar, hal seperti itu nggak penting buat aku," Damar mulai menjelaskan dengan panjang lebar.
Damar dan Raya saling menatap kemudian mereka berdua menarik nafas hampir bersamaan.
Tak lama Anne muncul wajah poker pacenya sudah kembali.
"Ayo kita pulang" Katanya di ikuti gengnya dari belakang.
Setelah Sampai Rumah..
Damar melihat pintu kamar Aira sedikit terbuka,
Damar hendak menutupnya dia melihat Aira sedang serius belajar.
Damar tersenyum diam-diam memperhatikan. Kemudian dia mengetuk pintu Aira berlahan.
"Eh, Damar,"
"Belum tidur?
Damar menggeleng cepat, lalu berkata, "Kamu lagi belajar?"
Aira mengangguk cepat "Aku lagi baca-baca pelajaran buat besok"
"Kalau ada yang nggak ngerti," Damar melajutkan ucapannya, "Tanya aja nggak usah sungkan,"
"Oh, Iya..." Aira masih menatap Damar "Aku nggak akan sungkan,"
"Em, Damar terimakasih ya, udah mau ikut nonton tadi,"
"Huh, Jangan jadi kebiasaan..."
"Siap,"
Damar hendak pergi,
Aira memotong, "Selamat malam Damar," Damar menoleh hanya tersenyum tipis sangat tipis
Damar berlahan menutup pintu kamar Aira dan masuk kedalam kamarnya.
Malam ini jarak antara Aira dan Damar mulai menipis.