"Tapi, kalau gue kepilih nanti jadi ketua OSIS, lo harus jadi pacar gue." -Kavin
"Siapa takut!" -Alina
----------
Pernah gagal move on?
Apa yang kalian lakuin saat kalian gagal move on?
Kenalin, namaku Alina. Aku salah satu dari ribuan orang yang gagal move on. Namun caraku untuk mengurangi kadar kegalauan dari gagal move on adalah dengan menulis.
Hingga aku bertemu dengan dia, tanpa sengaja. Laki-laki tengil yang membuatku menaruh rasa.
Dan, inilah kisahku .........
-----------------
Update setiap hari ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWL 30
“Morning!” ucap Kak Arga sembari membuka helm yang ia kenakan.
Ini adalah hari pertamaku resmi berpacaran dengannya. Dan pagi ini ia sengaja menjemputku untuk berangkat ke kampus bersama.
Aku tersenyum. “Tumben pakai motor?”
Kak Arga mengangguk dengan senyuman. “Ini motornya Bang Dimas, sengaja pinjem supaya bisa berduaan sama pacar naik motor.”
Aku terkekeh. “Biar apa gitu?”
Kak Arga memamerkan deretan giginya. “Biar romantis,” ucapnnya membuatku tertawa lalu meraih helm yang sengaja ia bawa untukku.
Aku memperhatikan helm tersebut dengan seksama. “Jangan bilang helm ini punya Kak Rina?”
Lagi-lagi Kak Arga memamerkan deretan giginya dan mengangguk.
Aku tertawa dan segera mengenakan helm tersebut.
“Bisa nggak?” tanyanya dan bersiap membantuku.
Aku mengaitkan pengaitnya dan mengangguk. “Bisa kok. Yuk, berangkat.”
Kak Arga mengangguk namun detik berikutnnya ia mendongak dan melihat ke arah rumahku.
“Ibu sama Ayah udah berangkat,” ucapku membuat Kak Arga membulatkan bibirnya hingga membentuk huruf ‘o’ lalu bersiap naik ke motor.
Aku memperhatikan Kak Arga yang sudah bersiap di motor. Lalu tersenyum menatapnya, ini nampak berbeda dengan Kak Arga biasanya. Dan entah mengapa, aku lebih suka dia yang seperti ini.
“Kenapa gitu banget ngeliatinnya?” tanya Kak Arga yang sudah menungguku untuk naik.
Aku menggeleng pelan. “Seneng aja liat Kak Arga kaya gini.”
Kak Arga terkekeh. “Lebih keliatan badboy badboy gitu ya?” tanyanya sembari menaikan kerah bajunya.
Aku tertawa lalu berpegangan pada pundaknya dan naik ke atas motor ninja sebelum akhirnya motor tersebut membawa kami menyusuri ibu kota untuk kembali kepada realita.
Tangan Kak Arga menarik satu tangannya dan menggenggamnya.
“Nanti jatoh,” ucapku yang malah membuatnya tertawa.
Saat kecepatan laju motor mulai naik, aku pun melepaskan tanganku dari genggamannya dan membiarkannya fokus pada kemudi.
Aku memejamkan mataku sembari menyenderkan kepala pada punggungnya. Menikmati angin pagi yang menampar wajahku dengan kesejukannya.
Hingga di sebuah perempatan, kami berhenti karena lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah.
“Na,” ucapnya di sela-sela perjalanan kami.
Aku yang tengah asik menikmati sejuknya pagi pun menoleh dan menatapnya melalui kaca spion. “Kenapa?”
“Laper,” lanjutnya terkekeh malu.
Aku menggelengkan kepalaku dan tertawa. “Memang belum sarapan tadi?” tanyaku.
Kak Arga menggeleng dengan senyumannya.
Mataku pun menyusuri penjual nasi uduk yang biasa aku beli. Ah, itu dia! “Mau makan nasi uduk nggak?” tawarku padanya.
Kak Arga tampak berpikir. “Enak nggak?” tanyanya yang sepertinya tidak yakin.
Aku melebarkan mataku. “Memang belum pernah makan nasi uduk?” tanyaku.
Kak Arga menggeleng.
Aku menghela napas dan tersenyum. “Mau nyoba nggak?”
Akhirnya ia mengangguk dan aku pun menunjuk penjual nasi uduk yang sering aku beli jika aku lupa untuk sarapan.
Kak Arga mengangguk mengerti, dan saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, ia pun membawa motor itu menuju penjual nasi uduk yang ku tunjuk tadi.
Aku melepas helm dan turun dari motor lalu menghampiri Ibu penjual nasi uduk. “Bu, nasi uduknya satu porsi ya?”
“Iya neng.”
Aku pun mengajak Kak Arga untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.
“Kamu nggak beli juga?” tanya Kak Arga padaku.
Aku menggeleng. “Aku udah sarapan tadi,” jawabku.
Tak lama, nasi uduk yang ku pesan tadi pun datang dengan membawa segelas air.
“Ini buat si eneng atau si akang?” tanya sang suami yang juga membantu istrinya berjualan nasi uduk di pinggir jalan ini.
“Si akang, Pak,” ucapku menunjuk Kak Arga yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kak Arga.
“Akang, akang,” ucap Kak Arga merengut sebal saat Bapak tadi sudah pergi meninggalkan kami berdua.
Aku tertawa mendengar komentar Kak Arga yang tak ingin di panggil Akang. “Terus maunya di panggil apa?”
“Ayang,” jawabnya sembari menatapku dengan tatapannya yang membuatku tak kuasa untuk tertawa.
Kak Arga terkekeh lalu mengaduk nasi uduknya dengan sambal dan juga orek tempe yang menjadi pelengkapnya. “Mau barengan nggak?” tawarnya.
Aku menggeleng pelan. “Buat Kak Arga aja.”
Kak Arga menggeleng lalu menyuapkan nasi uduk tersebut ke mulutku. Aku sudah menolaknya, namun karena paksaannya, akhirnya aku mengalah dan membuka mulutku untuk melahap nasi uduk tersebut.
“Enak nggak?” tanyanya sembari kembali meraih nasi tersebut dengan sendok di tangannya.
Aku yang masih mengunyah nasi uduk pun hanya menjawab dengan anggukan. Dan detik selanjutnya giliran ia yang menyuapkan nasi uduk tersebut ke dalam mulutnya.
Aku menatapnya yang tengah mengunyah dan melahap nasi uduk. Dan tak lama, ia pun tersenyum dan berkata, “Enak banget!”
Aku terkekeh lalu menatapnya dengan senyuman di wajahku. Lucu sekali melihatnya seperti ini.
“Mau aku suapin lagi nggak?” tanyanya dengan nasi yang masih berada dalam mulutnya.
Aku menggeleng, namun lagi-lagi ia menyuapiku dan tertawa.
“Kapan-kapan kita janjian nggak usah sarapan di rumah ya?”
Aku mengernyitkan dahiku. “Terus?”
“Sarapan disini aja,” ujarnya.
Aku terkekeh lalu mengangguk membuatnya tersenyum.
“Makasih ya Na, berkat kamu, aku jadi suka nasi uduk,” ucap Kak Arga membuatku tertawa. “Eh, enggak-enggak!”
“Terus apa?” Aku menaikan kedua alisku.
Kak Arga tersenyum. “Karena nasi uduk, aku jadi semakin suka kamu.”
Aku terkekeh, lalu tersenyum dan menatapnya lekat. “Makasih ya kamu selalu ada buat aku,” ucapku.
Kak Arga mengangguk. “Makasih juga udah kasih kesempatan,” ucapku lalu meraih tangaku dan menggenggamnya. “Jangan tinggalin aku ya?”
Aku menggeleng. “Nggak akan.”
“Ehem!” deham seseorang di samping kami yang membuatku melepas tanganku dari genggaman Kak Arga.
Aku merasa malu, rupanya sejak tadi mereka memperhatikanku dan Kak Arga.
“Kok dilepas sih Mbak?” tanya laki-laki yang berada di samping meja kami.
Aku tersenyum malu. “Nggak papa, hehe.”
Kak Arga terbatuk dan menatapku dengan gelak tawa.
Jangan lupa klik love dan tulis komentarnya ya 💛
napa Alina ga balik ma Rafa ja Thor..
biar g da hati yg terluka