Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*23
"Dion. Sebenarnya, kapan terakhir kali kita melihat tuan muda tersenyum ya?" Bi Tari kembali membayangkan senyum indah Rain yang telah lenyap.
"Senyum? Tidak ingat, Bi. Sudah lama tidak pernah melihatnya."
"Heh ... bibi juga tidak ingat. Tapi bibi berharap, tuan muda, suatu hari nanti bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dia impikan."
Sontak, sebelum Dion menjawab, si bibi langsung menoleh. "Bagaimana dengan hubungan tuan muda dan nona Kania? Apakah, hubungan mereka tidak bisa kita buat lebih dekat lagi, Dion? Kan, hanya nona Kania satu-satunya gadis yang bisa dekat dengan tuan muda selama beberapa tahun terakhir. Bagaimana?"
Dion malah langsung menatap lekat wajah bi Tari. Beberapa saat kemudian, barulah bibirnya mengucapkan kata-kata setelah diam beberapa saat lamanya.
"Hm ... bibi-bibi. Mana bisa kita buat lebih dekat lagi. Bibi lupa? Tuan muda kita bukan orang yang bisa mencintai sembarang wanita."
"Lagian, ini bukan seperti masalah pekerjaan, Bi. Bisa kita rekrut orangnya jika kita anggap dia mampu. Ini masalah hati, Bi Tari. Gak akan bisa kita paksakan."
"Tuan muda cinta mati sama satu orang. Mana bisa kita gantikan dengan yang lain." Hembusan napas berat langsung Dion lepaskan. "Aku rasa, jika bukan karena semangat untuk menemui nona Aina lagi, tuan muda mungkin tidak akan mampu bertahan hingga detik ini."
Si bibi tidak lagi bisa berkata-kata. Dia ingin majikannya baik-baik saja. Tapi sayangnya, tidak ada kemungkinan untuk membantu sedikitpun. Sudah lima tahun berlalu, tapi tuan muda mereka tidak membaik sama sekali.
"Hah, baiklah. Aku kembali ke kamar dulu, Bi. Jangan banyak berpikir yang aneh-aneh ya. Sayang tuh sama gaji bulanan. Tar, bisa-bisa melayang kalau salah langkah." Goda Dion pada si bibi.
"Kamu ya." Kesal bi Tari pada Dion.
*
Pagi harinya, saat cahaya mentari mulai menyinari dunia. Rain mulai mengerjapkan matanya. Perlahan, dia membuka mata setelah kemarin malam hilang kendali, lalu istirahat karena dosis obat yang ia konsumsi.
Rain terdiam dengan lengan yang dia letakkan di atas dahi. Mencoba mengatur napas secara perlahan. Setelahnya, bangun secara perlahan.
Saat dia bangun, dia bisa mengingat dengan jelas apa yang sudah ia lalui kemarin malam. Rain mengalihkan pandangan keluar jendela.
Sesaat menatap kaca jendela, pria itu kembali menoleh. Kali ini, dia melihat ke arah samping yang berlawanan dari jendela kamarnya. Dia melihat ke atas nakas. Ringan tangan Rain meraih bingkai foto wanita tercintanya yang sedang tersenyum dengan manis sambil memegang buket bunga tulip yang ia hadiahkan saat hari ulang tahun si gadis.
Seketika, senyum manis Rain terlukis di bibir. Tangannya menyentuh lembut bingkai foto tersebut. "Sudah lima tahun, Ain. Kenapa kamu masih bersembunyi dari aku?"
"Tahukah kamu? Raga ini semakin lama, rasanya semakin kosong saja. Perasaan rindu ini terlalu berat."
"Aina. Aku sudah berusaha dengan sangat keras. Tapi kamu masih tidak bisa aku temukan. Setiap kali kabar kegagalan itu datang, aku merasa, semakin tidak punya semangat untuk hidup."
"Haruskah kamu semarah itu padaku? Aku tidak berniat untuk berpisah darimu. Asal kamu tahu itu, Ain. Aku sangat-sangat menyayangi kamu."
Rain langsung memeluk bingkai foto tersebut dengan erat. "Kembalilah padaku, Aina. Aku rela jika kamu memperlihatkan kebencian mu padaku. Asal kamu kembali, apapun yang kamu lakukan, aku akan terima."
Sambil memeluk erat bingkai foto Ain, Rain menjatuhkan air mata secara perlahan. Sudah lima tahun berlalu. Tapi luka hatinya masih terasa sangat dalam.
Luka itu seolah tak pernah hilang. Tak pernah sedikitpun berkurang. Sepertinya, waktu sama sekali tidak mampu untuk menyembuhkan luka itu. Rasanya, perih itu masih sama seperti baru saja terjadi.
Ketukan di pintu pun tiba-tiba terdengar. Bersamaan dengan ketukan tersebut, suara Dion pun ikut menyapa telinga Rain.
"Tuan muda. Apakah, anda sudah bangun?"
Rain menghapus dengan cepat air mata yang tumpah di pipinya. "Sudah. Masuk saja jika kamu punya hal penting yang ingin kamu sampaikan padaku."
"Baik, tuan muda."
Pintu kamar tersebut langsung terbuka. Dion seketika menampakkan wajahnya dari balik pintu tersebut.
"Ada apa, Dion?"
"Tuan muda. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini adalah hari kematian nenek nona Aina. Apakah kita akan berkunjung ke makamnya seperti biasa?"
Mendengar ucapan Dion, Rain langsung beranjak dari duduknya. "Astaga. Hampir saja aku lupa bahwa hari ini aku harus mendatangi makan nenek."
"Dion, seperti biasa. Kita akan datang berkunjung. Jangan lupa, belikan aku bunga tabur nanti."
"Baik, tuan muda."
"Aduh ... hampir saja aku lupa," ucap Rain langsung sibuk dengan urusannya sendiri.