Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Demi Kebebasan
Suasana di bangsal kelas tiga semakin tegang seiring detak jam dinding yang terus berputar. Rian berdiri di depan pintu ruang rawat inap, kakinya tidak bisa berhenti menghentak lantai. Pikirannya dipenuhi kekesalan, bukan kekhawatiran.
“Ke mana gadis tolol itu pergi? Masa dari tadi belum juga kembali,” umpatnya dalam hati. Baginya, Maya bukan hanya istri, tapi juga sumber penghasilan yang kini sedang “rusak”.
“Kenapa tidak tanya saja sama suster yang membawa istrimu tadi, Dek?” celetuk seorang ibu, tamu pasien di ranjang sebelah, yang sejak tadi memperhatikan kegelisahan Rian.
“Benar, ini sudah tidak wajar. Istrimu itu baru saja operasi, jangan-jangan pingsan di jalan. Cepat cari!” desak tamu lainnya.
Rian mendengus kasar. “Jangan bilang dia nekat melarikan diri. Tapi kalaupun iya, dia mau ke mana? Uang tidak punya, keluarga juga tidak peduli,” pikirnya sombong.
Akhirnya, karena merasa terpojok oleh tatapan orang-orang di dalam ruangan, ia melangkah keluar menuju meja resepsionis dengan wajah ditekuk.
Sesampainya di sana, ia menggebrak pelan meja counter, mengejutkan seorang perawat yang sedang menulis laporan. “Suster! Istriku atas nama Maya Anita, kenapa sampai sekarang belum balik ke kamar? Dia dibawa suster untuk menemui dokter Arkan tadi!”
Perawat itu mengernyit, lalu mengecek daftar pasien di layar komputer. Setelah beberapa saat, ia menatap Rian dengan bingung. “Istri Anda? Ibu Maya sudah dinyatakan pulang dua jam yang lalu, Pak.”
“APA?!” Rian berteriak, tangannya memukul meja dengan keras sehingga vas bunga kecil di sana bergetar. “Kenapa bisa kalian mengizinkan istriku pulang tanpa memberitahuku? Aku ini suaminya!”
Beberapa petugas keamanan mulai menoleh ke arah keributan itu. Perawat tersebut menjawab dengan suara bergetar karena takut, “Maaf, Pak… tapi prosedur di sini sudah terpenuhi. Penjamin yang menandatangani berkas kepulangan dan melunasi seluruh biaya administrasi adalah ibu kandung Anda sendiri, Ibu Aminah.”
Rian tertegun. Matanya membelalak. “Ibu? Ibu yang menjemputnya?”
Rian mematung di tengah lobi rumah sakit, matanya menangkap sosok Ibu Aminah yang berjalan santai, bahkan sesekali bersenandung kecil seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu sang ibu sampai di hadapannya, Rian langsung mencengkeram lengan ibunya.
“Ibu! Apa-apaan ini? Kenapa Ibu tanda tangan surat pulang Maya? Dia di mana sekarang?” tanya Rian dengan nada mendesak.
Ibu Aminah tidak langsung menjawab. Ia justru melempar senyum manis yang dipaksakan kepada perawat di meja resepsionis, lalu menarik Rian menjauh ke sudut lobi yang lebih sepi. Begitu merasa aman, wajah ramah itu langsung berubah menjadi dingin dan penuh kewaspadaan.
“Aku tidak tahu keteledoran apa yang kau lakukan kali ini, Rian!” desis Ibu Aminah tajam. “Tadi, ada seorang polisi berpakaian preman mendatangiku. Dia bilang status pernikahanmu dengan Maya itu melanggar hukum negara!”
Rian mengerutkan kening, “Melanggar hukum apa? Kami kan menikah siri, Bu!”
“Itu masalahnya, bodoh!” Ibu Aminah memukul bahu putranya dengan gemas. “Polisi itu bilang, karena kau menghamili dan menikahi Maya yang masih di bawah umur tanpa izin resmi, kau bisa dituduh melakukan pemerko*saan terhadap anak! Kau bisa busuk di penjara!”
Ibu Aminah bergumam histeris, membayangkan putra semata wayangnya yang menjadi tumpuan hidupnya harus memakai baju oranye. Ketakutan itu membuatnya mengambil keputusan cepat untuk memutuskan hubungan dengan Maya seolah gadis itu adalah penyakit menular.
“Lalu, Maya di mana?” tanya Rian, suaranya kini sedikit mengecil karena ketakutan akan ancaman penjara.
Ibu Aminah mendengus, membenarkan letak tasnya. “Sudahlah, lupakan saja gadis lemah itu. Dia hanya bawa sial dan beban. Sekarang dia bukan urusan kita lagi. Anggap saja dia sudah mati bersama bayinya.”
Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Rian, membisikkan rencana licik lainnya. “Lebih baik kita pergi dari sini sekarang sebelum polisi itu datang lagi. Kita cari perempuan lain yang lebih tangguh, yang punya modal, untuk kita peras duitnya. Jangan buang-buang waktu mengurusi bocah ingusan yang air matanya tidak berhenti mengalir itu.”
Rian terdiam. Sifat pengecutnya mulai muncul. Bayangan jeruji besi lebih menakutkan baginya daripada kehilangan istri yang selama ini ia injak-injak. Ia melirik ke lorong ruang rawat inap untuk terakhir kalinya, lalu berbalik mengikuti langkah ibunya keluar dari rumah sakit, meninggalkan Maya tanpa beban sedikit pun.
****
Sementara itu, di dalam kabin Land Rover Defender (SUV)
Di dalam kabin Land Rover Defender hitam yang mewah dan kedap suara, Maya duduk meringkuk di kursi penumpang belakang. Tubuh mungilnya tenggelam di balik selimut putih tebal yang diberikan Arkan. Matanya yang kosong menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat, memantul di kaca jendela.
Di kursi depan, dr. Arkan duduk dengan aura dingin yang mendominasi. Sementar itu, di balik kemudi, seorang pria dengan jaket kulit hitam dan potongan rambut cepat, Gavin, sahabat Arkan yang bekerja sebagai intel kepolisian, sesekali melirik spion tengah dengan dahi berkerut.
“Arkan, kau serius membawa bocah ingusan ini ke rumahmu?” tanya Gavin dengan nada sangsi, memecah keheningan. “Urusan dengan suaminya memang sudah beres karena gertakanku tadi, tapi membawa orang asing ke kehidupanmu menurutku aneh?”
“Iya, dia adalah sumber kehidupan untuk Leon,” sahut Arkan tenang. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang menghitung setiap detik yang terbuang sementara putranya menunggu di rumah.
“Sumber kehidupan untuk Leon? Maksudmu apa?” Gavin mengerutkan kening. Ia melirik spion tengah lagi, menatap Maya yang tampak sangat rapuh. “Arkan, apa kau tidak melihat…” Gavin melepaskan satu tangannya dari setir, membuat gestur melengkung dengan tangannya. “dia masih kecil. Dadanya saja seperti melon yang baru tumbuh. Wah, jangan-jangan kau…kau punya kelainan—”
TAK!
Sebuah ketukan keras dari punggung tangan Arkan mendarat telak di kepala Gavin, membuat suara benturan yang cukup nyaring di dalam mobil.
“Aduh! Sialan, Arkan! Sakit tahu!” umpat Gavin sambil mengelus kepalanya yang berdenyut. Ia meringis, satu tangannya kembali memegang kemudi sementara yang lain masih mengusap bekas pukulan Arkan.
“Jaga bicaramu, Gavin. Dia adalah pendonor ASI terbaik yang bisa ditemukan untuk Leon saat ini. Air susunya bahkan bisa menyelamatkan nyawa anakku, sementara kau hanya bisa memberikan omong kosong,” desis Arkan tajam.
Gavin terdiam, namun otaknya yang “kotor” sebagai pria dewasa. Ia melirik spion tengah, melihat Maya yang tampak tidak peduli dengan percakapan mereka, lalu melirik Arkan yang terlihat sangat protektif. Gavin bergidik ngeri, tubuhnya merinding membayangkan hal-hal aneh jika seorang pria sedewasa Arkan mulai terobsesi pada gadis di bawah umur.
“Oke, oke, aku diam. Tapi ingat, Arkan, kau membawa ‘api’ ke dalam rumahmu. Kalau sampai kau kebablasan, aku yang akan memborgol tanganmu sendiri,” gumam Gavin pelan, hampir tidak terdengar.
Arkan tidak membalas. Ia justru menoleh ke belakang, menatap Maya yang kini tampak memejamkan mata.
****
Kini, mobil mereka akhirnya berhenti di depan sebuah kediaman megah bergaya klasik modern dengan dominasi warna charcoal grey dan aksen marmer putih. Pencahayaan kuning redup dari lampu-lampu taman yang tersembunyi memberikan kesan mewah sekaligus misterius pada rumah tersebut.
Arkan bergegas turun bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Ia memutari mobil dan membukakan pintu untuk Maya. Sebagai pria yang terbiasa memegang kendali, ia kembali mengulurkan tangannya, berniat memapah Maya yang masih tampak sangat lemah.
Namun, Maya seolah tidak melihat tangan itu. Dengan wajah datar yang menyembunyikan rasa sakit luar biasa di perutnya, ia turun dari mobil dan berjalan tertatih-tatih menuju anak tangga teras. Langkahnya berat dan tidak stabil, tapi ia menolak untuk bertumpu pada siapa pun.
Arkan mematung di sisi mobil, menatap telapak tangannya yang menggantung kosong di udara. Ini sudah kesekian kalinya perhatiannya diabaikan oleh gadis kecil itu.
“Hahaha!” tawa Gavin pecah saat ia keluar dari kursi pengemudi. Ia melihat wajah frustasi sahabatnya dengan puas. “Seorang dokter spesialis hebat, duda paling diincar di kota ini, baru saja dikacangi oleh bocah 16 tahun? Pemandangan cukup langka!”
Arkan langsung melemparkan tatapan tajam yang seolah bisa melubangi tengkorak Gavin, membuat tawa pria itu terkatup seketika. Tanpa membalas ejekan sahabatnya, Arkan segera menyusul Maya yang sudah hampir sampai di anak tangga teras paling atas.
“May, aku bantu, ya? Tangga ini cukup tinggi untuk kondisi lukamu,” tawar Arkan lembut, mencoba sekali lagi.
Maya hanya menggelengkan kepala tanpa menoleh, terus menyeret kakinya masuk ke dalam rumah.
Gavin yang kini menyandarkan tubuhnya ke badan mobil sambil menyulut sebatang rokok, memperhatikan interaksi itu dari kejauhan. Ia berdecak pelan. “Apa yang dikatakan Arkan pada gadis muda itu sampai dia mau memberikan ASI-nya? Arkan biasanya tidak sesabar itu pada wanita,” gumamnya pada diri sendiri.
^^^^
Ingatan Gavin melayang kembali ke parkiran rumah sakit sore itu. Sebagai seorang intel, mengintimidasi orang seperti Ibu Aminah adalah makanan sehari-harinya. Ia sudah mencegat wanita itu tepat saat ia baru saja turun dari motor bebeknya yang butut.
“Ibu Aminah?” panggil Gavin dengan suara berat yang sengaja dibuat mengancam. Ia menunjukan lencana kepolisiannya sekilas, cukup untuk membuat wajah wanita itu pucat pasi.
Gavin menyudutkan Ibu Aminah di dekat tembok beton. “Anakmu, Rian, sedang dalam masalah besar. Menikahi anak di bawah umur secara siri, menghamilinya, dan membiarkannya bekerja keras hingga keguguran. Itu bukan sekadar masalah keluarga, Bu. Itu tindak pidana berlapis. Pemerko*saan anak, eksploitasi, hingga kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa janin. Ancaman pencaranya? Minimal 15 tahun.”
Ibu Aminah gemetar hebat, kakinya lemas hingga hampir jatuh terduduk. “T-tolong, Pak... jangan bawa Rian. Dia anak saya satu-satunya. Apa yang harus saya lakukan?”
Gavin menyeringai tipis, menjalankan rencana yang sudah disusun Arkan. “Polisi bisa saja menutup mata, asalkan Maya Anita keluar dari tanggung jawab kalian. Sekarang juga, Ibu masuk ke dalam, tanda tangani surat Pulang Paksa atas Permintaan Keluarga (APS). Dengan surat itu, pihak rumah sakit, terutama dr. Arkan tidak akan bertanggung jawab secara hukum jika terjadi apa-apa pada Maya, karena itu permintaan Ibu sendiri sebagai wali.”
“T-tapi sisa biaya rumah sakitnya?”
“Sudah ada yang melunasi secara anonim. Ibu cukup masuk, tanda tangan, dan bilang pada Rian bahwa kalian harus membuang Maya sebelum polisi datang menjemputnya. Mengerti?”
Ibu Aminah mengangguk kalap. Ketakutannya pada penjara jauh lebih besar daripada rasa kasihannya pada menantunya. Tanpa banyak tanya, ia masuk ke bagian administrasi, menandatangani semua berkas kepulangan Maya.
^^^^
Kembali ke Gavin.
Gavin membuang puntung rokoknya ke bawah. Ia melihat punggung Maya yang sudah menghilang di balik pintu besar rumah Arkan.
“Licik kau, Arkan,” gumam Gavin. “Dengan membuat ibunya yang menandatangani kepulangan itu, kau bersih dari sanksi medis. Kalau ada audit, itu salah keluarga yang memaksa membawa pasien pulang. Kau benar-benar sudah merencanakan ini untuk mengurungnya.”
...❌ Bersambung ❌...