Erika yang merupakan gadis cantik dan baik, harus menikah kontrak dengan pria yang sudah merebut kesuciannya.
Perjanjian mereka hanya sampai Erika melahirkan seorang anak untuk Bima.
Tanpa di duga Erika melahirkan bayi kembar, tapi Erika tapi dia merahasiakan dirinya mengandung bayi kembar. Dan setelah lahir, Erika mengambil salah satu dari bayinya, dan satunya lagi di ambil oleh Bima.
Akankah Erika bisa bertemu lagi dengan bayi kembarnya yang bersama Bima, dan apakah Bima dan Erika bisa menjadi keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daffa dan Bima
Daffa yang di bawa oleh wanita paruh baya ke sebuah rumah besar bernuansa Eropa.
"Tuan, maaf kami pulang terlambat." Ucap bibi pengasuh pada Bima.
"Hemm.." Jawab Bima, lalu Bima langsung melihat ke arah Daffa yang dia kira adalah Davit.
Daffa yang di tatap tajam oleh pria di hadapannya itu langsung teringat kata-kata ibunya.
"Ingat yah, sayang. Kamu gak boleh ikut sama orang gak kenal karena mereka itu bisa nyulik kamu."
"Davit.." Panggil Bima.
Tapi Daffa hanya diam saja karena dia tak kenal. Bima yang kesal pada putranya itu langsung menarik tangan anak yang dia kira Davit dan menatap tajam.
Daffa yang ketakutan pun langsung menangis. "Bunda.. Hiks, hiks, Daffa pengen pulang.. Hiks, hiks, hiks.."
Bima seketika terkejut, kenapa putranya bisa menangis seperti itu karena tak biasanya Davit menangis.
"Ada apa dengan mu Davit, kenapa kau menangis?" Tanya Bima.
"Hiks, hiks, bunda.. Daffa pengen pulang.. Hiks, hiks, hiks.."
Bima terus saja menatap tak mengerti, siapa Daffa? Bukannya putranya bernama Davit.
"Bibi, ada apa ini? Kenapa Davit menjadi seperti ini?" Tanya Bima.
"Kami tak tahu, Tuan." Jawabnya.
Lalu Bima berusaha menenangkan anak di hadapannya itu. "Sudah jangan menangis lagi, coba katakan siapa nama mu." Ucap Bima.
Daffa pun mulai bisa tenang. "Na..ma saya Daffa, Om."
"Daffa? Tapi kamu putra ku Davit." Ucap Bima.
"Bu..kan om, saya Daffa." Jawab Daffa sekali lagi.
"Daffa? Tapi kenapa wajahnya sama dengan Davit." Pikir Bima.
Lalu Bima kembali mengaju beberapa pertanyaan untuk Daffa. "Lalu siapa ayah dan ibu mu?" Tanya Bima.
"Ayah, Daffa tak punya ayah. Daffa tinggal bersama ibu, nenek dan Tante." Jawab Daffa.
"Lalu siapa nama ibu mu?" Tanya Bima.
"Nama ibu Daffa, Erika." Jawabnya.
Deg..
Saat mendengar ucapan anak di hadapannya itu, Bima langsung terdiam seketika. Apa dia tak salah dengar. Tapi apa ibu dari anak itu adalah Erika yang sama dengan wanita yang telah meninggalnya.
Lalu Bima pun bangkit, "Bibi antarkan anak ini ke kamar Davit." Ucap Bima.
Lalu Bima segera pergi meninggalkan Daffa, Bima pergi menuju kamarnya. Dia masih memikirkan ucapan dari anak kecil itu.
"Apa maksudnya ini, kenapa ada anak yang mirip dengan anak ku dan nama ibunya pun sama dengan wanita itu."
Bima terus saja memikirkan semua ucapan anak itu, "Jika benar dia anak ku, beraninya wanita itu menyembunyikannya benih ku."
...
Tak terasa hari sudah menjelang malam, Bima yang penasaran dengan anak itu pun kemudian pergi ke kamar Davit.
Di lihatnya anak itu tengah tertidur dengan pakaian Davit, dia sangat mirip dengan Davit bahkan tak ada celah untuk membedakan mereka berdua.
"Apa kau anak ku.." Gumam Bima.
Lalu Bima membelai pipi anak itu, tapi belainya Bima langsung membuat Daffa bangun.
"Om?"
"Maaf, om telah membangunkan mu." Ucap Bima.
"Gak papah, Om."
"Apa Om, boleh bertanya sesuatu?"
"Iya, tanya apa. Om?"
"Dimana ayah mu?"
"Ayah? Daffa gak tahu. Om. Jika Daffa tanya soal ayah, ibu selalu sedih dan Daffa gak mau buat ibu sedih." Jawab Daffa.
"Apa nama ibu mu benar, Erika?"
"Iya. Om.."
"Lalu kalian sekarang tinggal dimana? Besok Oma mau anter kamu pulang, biar Om tahu dimana rumah mu."
"Daffa gak tahu nama jalannya Om, tapi Daffa tahu arah pulang kok." Jawabnya.
"Ya sudah, besok Om akan anter kamu pulang. Sekalian Om ingin tahu ibunya."
"Ibu Daffa sangat cantik, Om. Banyak laki-laki yang mau jadi ayah Daffa, tapi ibu selalu nolak Om."
"Kenapa?"
"Daffa gak tahu, Om." Jawabnya.
"Ya sudah, sekarang kau tidur saja." Ucap Bima.
"Baik, om." Jawabnya.
Lalu Bima pun segera pergi meninggalkan kamar Davit, dia masih terus saja memikirkan ibu dari anak itu.
...
Keesokan paginya.
Terlihat Bima sudah rapih dengan stelan jas miliknya, hari ini dia akan mengantarkan Daffa pulang ke rumahnya.
Dan Bima yakin jika putranya sudah tertukar, jadi Bima sekalian mengecek apakah wanita itu membawa Davit atau tidak.
Setelah mengikuti arahan Daffa, kini Bima sudah sampai di sebuah rumah kontrakan yang cukup besar.
"Bunda..." Panggil Daffa.
Erika yang sedang berada di dalam rumah merasa ada suara Daffa, tapi kini dia sedang bersama dengan Daffa.
"Bunda.." Suara itu pun terdengar kembali, lalu Erika segera pergi ke pintu keluar.
Dan saat dia membuka pintu, matanya membulat saat melihat seorang anak yang mirip dengan putranya.
"Bunda.." Panggil Daffa sambil memeluk Erika.
Lalu Erika pun terdiam, jika ini Daffa lalu yang semalam bersama dengannya siapa? Kenapa wajahnya mirip dengan putranya.
"Ada siapa Bunda?" Tanya Davit yang baru saja datang.
Dan mata Davit pun ikut membulat saat melihat ada anak kecil yang mirip sekali dengannya.
"Daffa? ini kamu nak?" Tanya Erika.
"Iya bunda." Jawab Daffa.
Lalu Erika langsung melihat ke anak yang berada di dalam rumah, Davit pun hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut di marahi oleh Erika.
"Khem.." Terdengar suara tak asing di telinga Erika, suara yang sudah lama tak ia dengar.
Dan saat Erika melihat ke sumber suara, matanya langsung membulat sempurna.