NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang Tidak Diundang Masuk

Perjalanan pulang dari pantai menuju rumahnya di pinggiran Bantul terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Sekar mengayuh sepeda onthel tuanya dengan kaki yang terasa berat, seolah ada beban ribuan kilo yang menggelayut di betisnya. Roda sepeda berdecit setiap kali berputar, suaranya menyayat kesunyian jalan desa yang mulai gelap. Namun, yang membuat bulu kuduknya meremang bukan suara itu, melainkan keheningan yang menyelimuti dusunnya.

Biasanya, jam segini suara jangkrik dan kodok akan bersahut-sahutan di pematang sawah. Suara azan Magrib baru saja selesai, dan biasanya akan disusul oleh puji-pujian dari surau kecil di ujung jalan. Tapi malam ini, tidak ada suara binatang malam. Angin pun mati. Daun-daun pisang di pekarangan tetangga diam mematung, seakan takut untuk bergerak dan menarik perhatian sesuatu yang sedang mengawasi dari langit.

Sekar sampai di halaman rumahnya, sebuah bangunan limasan sederhana dengan dinding anyaman bambu yang sudah mulai lapuk. Ia menyandarkan sepedanya di dekat sumur, lalu buru-buru masuk lewat pintu dapur.

"Assalamualaikum, Eyang," ucapnya setengah berbisik.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara air mendidih di atas pawon yang menyambutnya. Kayu bakar meletup-letup pelan, mengirimkan aroma asap yang biasanya menenangkan, tapi kali ini terasa menyesakkan.

Sekar melangkah masuk ke ruang tengah. Di sana, duduk di atas amben kayu beralaskan tikar pandan, sosok renta itu sedang mematung. Eyang Sumi, neneknya. Mantan abdi dalem yang dulu bertugas merawat pusaka-pusaka kecil keraton, kini duduk dengan punggung tegak yang tidak wajar. Mata Eyang terpejam, tapi tangannya mencengkeram tasbih kayu stigi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Eyang?" panggil Sekar lagi, kali ini ia berlutut di dekat kaki neneknya. Ia menyentuh lutut wanita tua itu.

Dingin. Kulit Eyang sedingin es, padahal udara malam ini terasa gerah dan lengket.

Eyang Sumi membuka matanya perlahan. Mata yang biasanya keruh termakan usia itu kini terlihat tajam, waspada. Ia menatap Sekar, atau lebih tepatnya, menatap sesuatu di belakang bahu Sekar.

"Kamu bawa apa pulang, Nduk?" tanya Eyang. Suaranya bukan suara nenek-nenek yang biasa memanjakan cucunya. Itu suara seorang penjaga gerbang yang sedang menginterogasi penyusup.

Sekar menelan ludah. "Sekar tidak bawa apa-apa, Eyang. Cuma keranjang bekas sesajen yang tadi..."

"Bukan keranjang," potong Eyang cepat. Ia menarik tangan Sekar, mendekatkan hidungnya ke lengan cucunya itu. Hidung tua itu mengendus, lalu wajahnya mengkerut jijik. "Baunya... amis. Bukan amis ikan. Ini amis tembaga. Amis arogansi."

Sekar menarik tangannya, merasa tersinggung sekaligus takut. "Sekar sudah cuci tangan di kran depan pos SAR tadi, Eyang."

"Cuci tangan pakai air tawar tidak akan hilang," gumam Eyang, lalu ia beringsut turun dari amben dengan susah payah. "Ambilkan air sumur. Campur dengan garem krosok dan kembang setaman yang ada di kebun belakang. Sekarang. Jangan masuk kamar sebelum kamu mandi."

Sekar ingin membantah, mengatakan bahwa ia lelah dan hanya ingin tidur, tapi tatapan Eyang tidak menerima penolakan. Dengan langkah gontai, Sekar kembali ke belakang.

Di kamar mandi yang sempit dan berdinding semen kasar, Sekar mengguyurkan air campuran bunga dan garam itu ke tubuhnya. Air sumur yang biasanya sejuk, malam ini terasa hangat. Saat air itu menyentuh kulitnya, Sekar mendesis. Perih. Rasanya seperti diguyur air perasan jeruk nipis di atas luka terbuka.

Ia melihat ke lantai kamar mandi. Air bekas mandinya tidak berwarna bening keruh seperti biasa. Air itu menggelap, berputar-putar menuju lubang pembuangan seolah enggan meninggalkan tubuhnya. Dan baunya... bau itu muncul lagi. Bau logam panas. Bau pedang yang baru saja ditempa.

Sekar menggosok kulitnya dengan sabuk kelapa, mencoba menghilangkan sensasi gatal yang menjalar dari telapak kaki hingga ke leher. Ia merasa kotor. Bukan kotor karena debu, tapi kotor karena tatapan. Sejak di pantai tadi, ia merasa ada sepasang mata raksasa yang menelanjanginya, menilai kelayakan jiwanya, dan menertawakan betapa kecilnya keberadaannya.

Setelah selesai dan berganti pakaian bersih, Sekar merasa sedikit lebih baik. Ia masuk ke kamarnya, sebuah ruangan kecil dengan jendela yang menghadap langsung ke arah selatan. Ia ingin menutup gorden, tapi tangannya terhenti saat melihat langit.

Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Langit selatan benar-benar hitam pekat, seperti kain beludru tebal yang sengaja ditutupkan untuk menyembunyikan kejahatan.

Sekar berbaring di tempat tidurnya, menarik selimut jarik hingga sebatas dada. Ia memejamkan mata, berharap tidur bisa membawanya lari dari perasaan tidak enak ini.

Namun, tidur justru membawanya ke tempat yang lebih mengerikan.

Dalam mimpinya, Sekar berdiri di tengah Alun-Alun Kidul. Tapi, tempat itu bukan lagi alun-alun yang ia kenal. Dua pohon beringin kembar yang biasanya berdiri gagah di tengah lapangan, kini terbakar. Api yang membakarnya bukan api merah atau oranye, melainkan api biru yang dingin.

Daun-daun beringin itu rontok, berubah menjadi abu sebelum menyentuh tanah. Dan di sekeliling alun-alun, tembok keraton yang putih bersih retak-retak. Dari celah retakan itu, air merembes keluar. Air laut.

Sekar ingin lari, tapi kakinya terpaku.

Kemudian, ia mendengar suara itu. Suara derap kaki kuda. Bukan kuda Jawa yang kecil dan lincah, tapi suara hentakan kaki kuda perang yang berat. Tanah bergetar.

Dari arah gapura selatan, sebuah kereta emas melaju masuk. Kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda putih raksasa yang memiliki sirip di kakinya. Di atas kereta, berdiri seorang pria.

Sekar tidak bisa melihat wajah pria itu karena silaunya cahaya yang memancar dari tubuhnya. Pria itu telanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang seperti dipahat dari batu marmer. Ia memegang sebuah tongkat panjang bermata tiga yang berkilauan.

Pria itu tertawa. Tawanya menggelegar, meruntuhkan atap-atap pendopo di sekitar alun-alun.

"Kecil sekali," suara pria itu menggema, bahasanya asing tapi anehnya Sekar mengerti artinya langsung di dalam kepala. "Kerajaanmu seperti mainan pasir, Ratu Kecil."

Pria itu menghentakkan tongkatnya ke tanah.

BLAAARRR!

Tanah alun-alun terbelah. Air laut menyembur deras dari dalam tanah, tinggi sekali, membentuk pilar air yang menghancurkan segalanya. Dan di puncak pilar air itu, Sekar melihat wajah pria itu sekilas.

Mata biru. Biru yang kejam. Biru yang tidak memiliki kedalaman kasih sayang, hanya ada kedalaman nafsu untuk menaklukan.

Mata itu menatap lurus ke arah Sekar.

"Kamu," tunjuk pria itu. "Sampaikan pada Nyonya rumahmu. Poseidon tidak suka menunggu di teras."

Sekar terbangun dengan napas tersengal.

Ia duduk tegak di tempat tidur, keringat dingin membasahi punggungnya. Jantungnya beralu seperti genderang perang. Kamarnya gelap, tapi matanya segera menangkap sesuatu yang salah.

Gelas berisi air putih yang ia letakkan di meja kecil samping tempat tidurnya bergetar.

Air di dalam gelas itu... mendidih.

Sekar mundur, menempelkan punggungnya ke dinding kapur yang dingin. Ia menatap gelas itu dengan horor. Tidak ada api di bawahnya, tapi gelembung-gelembung udara naik dengan cepat, dan uap panas mulai mengepul.

Krak.

Gelas kaca itu pecah. Air panas tumpah ke atas meja kayu, mendesis saat menyentuh pernis meja.

"Gusti..." bisik Sekar. Suaranya gemetar.

Ini bukan mimpi. Tamu itu benar-benar sudah masuk. Dia tidak hanya di pantai. Dia sudah sampai ke daratan. Dia sudah sampai ke dalam rumah-rumah penduduk.

Sekar buru-buru turun dari tempat tidur, kakinya menginjak pecahan kaca tanpa sadar, tapi rasa sakitnya tidak ia rasakan. Ia lari keluar kamar, menuju ruang tengah.

"Eyang!" panggilnya panik.

Ruang tengah kosong. Pintu depan rumah terbuka lebar. Angin malam yang kering dan panas masuk, menerbangkan ujung taplak meja.

Sekar berlari ke halaman depan. Di sana, di bawah pohon mangga yang gelap, Eyang Sumi berdiri menghadap ke selatan. Tangan neneknya terentang ke depan, telapak tangannya terbuka menghadap ke arah laut, seolah sedang menahan tembok yang tidak terlihat.

"Eyang, masuk! Di luar bahaya!" teriak Sekar.

"Jangan mendekat, Nduk!" bentak Eyang tanpa menoleh. Suaranya berat, bukan suara Eyang lagi. "Dia sedang mengetes pagar. Dia sedang mencari celah."

Sekar berhenti lima langkah di belakang neneknya. Ia bisa melihat punggung Eyang gemetar hebat. Tasbih di tangan Eyang putus. Butiran-butiran kayu stigi itu berjatuhan ke tanah satu per satu. Tuk... tuk... tuk...

Dan saat butiran tasbih itu menyentuh tanah, tanah itu berasap.

"Siapa dia, Eyang?" tanya Sekar, air matanya mulai menetes karena ketakutan yang tak tertahankan. "Siapa Poseidon itu?"

Nama itu terasa pahit di lidah Sekar. Asing. Tidak sopan.

Eyang Sumi perlahan menurunkan tangannya. Tubuhnya limbung. Sekar sigap menangkap neneknya sebelum jatuh ke tanah. Tubuh wanita tua itu lemas, energinya terkuras habis.

Dalam pelukan Sekar, Eyang mendongak menatap langit yang hitam tanpa bintang. Napasnya berat.

"Raja dari laut barat," bisik Eyang, suaranya lemah sekali. "Dia yang mengira seluruh air di dunia adalah miliknya. Dia yang tidak tahu sopan santun bertamu."

Eyang mencengkeram lengan baju Sekar. Kuku-kukunya menancap sakit.

"Besok kamu harus ke Keraton, Sekar. Jangan pergi ke pantai lagi. Temui Gusti Pangeran. Bilang sama beliau..." Eyang terbatuk, meludah ke tanah. Ludahnya bercampur darah hitam. "...Bilang sama beliau, segel di Parangkusumo sudah retak. Tamu itu membawa pasukannya lewat jalur bawah tanah."

Sekar mengangguk cepat, meski ia tidak sepenuhnya paham. Ia hanya tahu satu hal: kedamaian hidupnya yang sederhana sudah berakhir malam ini.

Angin berhembus lagi. Kali ini membawa suara yang terbawa dari jarak puluhan kilometer. Suara itu lirih, tapi jelas. Suara gemerincing lonceng kecil yang biasa dipasang di kereta kuda. Dan suara tawa. Tawa yang sama seperti dalam mimpinya.

Tawa itu mengejek setiap doa yang dipanjatkan penduduk desa malam itu.

Di kejauhan, ke arah selatan, Sekar melihat kilatan cahaya biru membelah langit. Bukan petir. Itu adalah tombak cahaya yang dilemparkan dari laut ke darat.

Hutan jati di perbukitan selatan mulai terbakar. Tapi apinya tidak merah. Apinya biru.

Perang sudah dimulai. Dan tembakan pertamanya baru saja dilepaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!