Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23.
Pak Baskoro menoleh ke arah Aurely. Namun sebelum ia sempat bertanya, suara Pak Polisi terdengar.
“Baik, Mbak. Rekaman ini bisa kita simpan sebagai bukti,” ucapnya sambil menulis di buku catatan. “Kami akan mulai identifikasi kendaraan dan pemiliknya lewat database. Tapi kita tetap harus hati-hati sebelum menuduh siapa pun.”
Pak Baskoro mengangguk pelan. “Iya, Pak. Dari rekaman ini juga tidak terlihat jelas apa yang dilakukan orang di dalam mobil itu.”
Ia masih menatap monitor. Sudut kamera CCTV di pos polisi hanya menangkap gambar dari arah belakang, agak tinggi.
Aurely ikut mengangguk, berusaha menenangkan diri. Rasa takut masih ada, tapi kini bercampur dengan sedikit lega. Setidaknya mereka tidak hanya mengandalkan firasat. Namun pikirannya terus berputar, mencoba mengingat siapa pemilik mobil itu. Ia tidak sabar menunggu informasi lebih lanjut.
Pak Polisi menambahkan keterangan pada laporan: nomor plat, warna mobil, serta lama kendaraan itu berhenti. Layar CCTV tetap menyala, menampilkan gambar mobil yang kini menjadi kunci dari semua pertanyaan.
Pak Polisi lalu mengangkat wajahnya dan menatap Pak Baskoro.
“Bapak bisa minta izin ke kios di dekat lokasi mobil itu berhenti. Biasanya mereka punya CCTV dengan sudut lebih jelas,” katanya serius. “Dari sana, mungkin bisa terlihat apakah kaca mobil itu terbuka atau tidak.”
Pak Baskoro mengangguk mantap. “Baik Pak.”
“Setelah itu, kita koordinasi dengan pihak keamanan pasar dan database kepolisian,” lanjut Pak Polisi. “Semua langkah ini supaya Mbak dan keluarga aman, dan kita bisa menindaklanjuti kendaraan mencurigakan ini.”
Aurely menarik napas panjang. Rasa kesal belum sepenuhnya hilang, tapi ada satu hal yang menenangkan, kali ini, mereka punya petunjuk nyata. Dan ia tidak menghadapinya sendirian.
“Baik, Pak. Sekali lagi, terima kasih,” ucap Pak Baskoro. “Besok saya akan minta izin kios di dekat tempat mobil itu berhenti.”
Aurely menatap ayahnya. “Ayah sungguh?”
Pak Baskoro mengangguk. “Iya, Nak. Supaya semuanya jelas. Dan kamu bisa bekerja dengan tenang.”
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, mereka melangkah keluar dari bangunan kecil itu.
Di luar pos polisi, langit senja telah gelap sepenuhnya. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, sementara pasar perlahan sepi. Hanya tersisa aroma tanah basah dan sisa-sisa aktivitas siang tadi.
Tiba-tiba, Aurely berhenti melangkah. Ingatan itu datang begitu saja.
“Yah… aku ingat,” ucapnya, hampir berteriak sambil menarik tangan ayahnya yang berjalan lebih cepat.
Pak Baskoro berhenti. “Ingat apa?”
“Itu mobil siapa,” kata Aurely, suaranya bergetar. “Mobil itu milik papanya Riko.”
Pak Baskoro terdiam.
“Riko? Temanmu dulu itu?”
Aurely mengangguk. “Aku pernah lihat mobil itu waktu main ke rumahnya.”
Dadanya terasa sesak. Pak Baskoro menatap jalan di depan mereka, lampu-lampu yang buram seolah ikut bergetar bersama pikirannya. Ia tidak habis pikir, mengapa ayah dari teman anaknya sendiri tega melakukan hal sejauh itu. Mengambil foto dirinya saat memikul karung di pasar. Menyebarkannya untuk menghina. Menjadikan putrinya bahan candaan dan tawa. Kedua mata Pak Baskoro agak memerah.
“Kalau benar dia…” suara Pak Baskoro terhenti.
Aurely menggenggam tangan ayahnya lebih erat. “Yah, aku takut. Tapi aku juga capek terus-terusan dihina.”
Pak Baskoro menatap putrinya. Di matanya, bukan hanya rasa marah yang muncul, tapi tekad.
“Kita tidak akan diam,” katanya pelan namun tegas. “Kalau memang dia pelakunya, kebenaran akan keluar. Ayah janji.”
Lampu pasar berkedip pelan di belakang mereka, seolah menjadi saksi bahwa malam itu bukan akhir, melainkan awal dari sebuah pembongkaran.
Mereka segera melangkah ke tempat parkir. Setelah duduk di atas motor pinjaman. Motor melaju pelan pelan.. dan kecepatan bertambah setelah keluar dari lokasi pasar.
Saat motor sudah sampai di depan rumah kayu. Pintu rumah itu telah terbuka. Ibunya Aurely sudah duduk menunggu dengan gelisah di beranda.
“Ayah dan anak kok sama saja.” Ucap Ibunya Aurely sambil bangkit berdiri, “pulang terlambat tanpa kabar.”
Aurely melangkah mendekati Ibunya, mencium punggung tangan Ibunya, “Maaf Bun.” Ucapnya lirih.
Pak Baskoro memasukkan motor sambil berkata, “Bukannya tadi Ayah sudah bilang, akan ke kios koperasi dulu.”
“Iya, tapi Bunda pikir tidak sampai hari gelap begini baru pulang, “ ucap Ibunya Aurely sambil melangkah masuk, “Sampai makanan sudah dingin.” Ucapnya lagi sambil menutup pintu.
Di dalam rumah, lampu di ruang tengah menyala redup. Bayang-bayang dinding kayu bergerak mengikuti langkah mereka. Ibunya Aurely meletakkan piring-piring ke meja tanpa suara, tapi gerakannya kaku, jelas masih menyimpan kekhawatiran.
Pak Baskoro menggantung jaketnya, lalu duduk perlahan. “Maaf, Bun. Tadi kami ke pos polisi dulu,” katanya akhirnya.
Tangan Ibunya Aurely berhenti di udara. Ia menoleh cepat. “Pos polisi?”
Nada suaranya turun, bukan marah, lebih ke arah cemas.
Aurely ikut duduk, menunduk. “Aku masih penasaran dengan foto foto itu , Bun. Kami cuma mau pastikan…” Suaranya mengecil di akhir kalimat.
Ibunya Aurely menarik kursi dan duduk berhadapan dengan mereka. Menatap Aurley dan Ayahnya secara bergantian . “Dan kalian sudah dapat..”
Pak Baskoro menghela napas panjang. “Dari CCTV, memang ada mobil yang mencurigakan.”
Hening jatuh cukup lama. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan detak jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya.
“Mobil siapa?” tanya Ibunya Aurely pelan, hampir berbisik.
Aurely ragu sejenak, lalu mengangkat wajahnya. “Bun… aku ingat. Itu mobil papanya Riko.”
Ibunya Aurely terdiam. Alisnya berkerut, “Riko… yang kamu bilang paling vokal menghina kamu?”
“Iya,” jawab Aurely cepat. “Dan foto-foto yang beredar itu… di share oleh Riko di group chat.”
Ibunya Aurely geleng geleng kepala. “ Sebenarnya apa mau mereka.” gumamnya.
Pak Baskoro menatap Istrinya. “Besok aku akan ke kios dekat pasar. Cari CCTV tambahan. Kalau memang jelas, kita laporkan resmi.”
Ibunya Aurely diam sesaat, lalu “Ya, sudah sekarang kita makan dulu.” Ucapnya dengan nada lembut, “terlalu banyak pikiran dan telat makan bisa sakit kalian.”
Aurely dan Ayahnya mengangguk lalu mereka mulai makan. Di sela sela waktu makan. Aurely dan Ayahnya memberi kabar bahagianya.. Aurely yang ditempatkan di cabang baru dekat kampus, bersama Sinta dan Rizky. Dan Pak Baskoro yang sudah mendapat orderan dari teman temannya di Ibu kota.
Ibunya Aurely menelan makanannya, lalu tersenyum ke arah mereka berdua. Kedua matanya agak berkaca kaca, “Syukurlah.. kalau Ayah dan Aurely mendapat pekerjaan yang lebih baik. Bunda turut senang dan hanya bisa membantu dengan restu dan doa.”
Malam itu, setelah makan dan membantu Ibunya membereskan peralatan makan sambil berbincang bincang. Aurely menyiapkan pakaian untuk esok hari. Ia memilih baju seragam terbarunya. Yang sudah dicuci dan disetrika rapi, oleh Ibunya. Sepatu datar yang nyaman. Tangannya sempat berhenti saat menutup tas.
Ia menatap bayangannya di cermin. Masih Aurely yang sama. Tapi ada sesuatu di matanya yang kini berbeda.
Ponselnya bergetar. Aurely cepat cepat meraih ponselnya.
Pesan dari Rizky : Besok jam tujuh ya. Aku jemput kamu di rumah mu. Jangan lupa sarapan dulu.
Jantung Aurely berdetak lebih cepat. Berkali kali ia membaca ulang pesan itu. Takut kalau ia salah baca. Atau pesan berubah karena diedit oleh Rizky..
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting