Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Gejolak Naga di Dalam Perut
"Esensi Sumsum Naga" itu seharusnya menjadi anugerah yang dicari oleh ribuan kultivator. Namun, bagi Li Yuan dan Dong Dong yang meminumnya seperti orang kesetanan, cairan itu berubah menjadi bencana dalam hitungan detik.
Setelah tetes terakhir amblas ke kerongkongan mereka, suasana di dalam gua yang tadinya hening tiba-tiba berubah mencekam. Bukan karena aura spiritual yang agung, melainkan karena suara aneh yang berasal dari perut mereka berdua.
Kruyuuuk... blubuk... blubukk...
Li Yuan membeku. Wajahnya yang tadi kemerahan karena semangat, kini berubah menjadi pucat pasi, lalu berubah lagi menjadi hijau limau. "Dong Dong... kau dengar itu?"
Dong Dong tidak menjawab. Ia sedang memegang perutnya dengan kedua tangan, kakinya gemetar hebat, dan matanya melotot seolah-olah hendak keluar dari rongganya. "Li... Li Yuan... perutku... rasanya seperti ada naga yang sedang melakukan tarian perang di dalam sana..."
"BODOH!" teriak hantu kakek itu dari kejauhan, sambil menutup hidungnya meski ia adalah hantu. "Esensi Sumsum Naga itu harus diminum setetes demi setetes selama satu bulan! Kalian malah menenggaknya seperti minum air kelapa di pinggir pantai! Energi itu sekarang sedang membuang seluruh kotoran di tubuh kalian dengan cara yang... paksa!"
"Kenapa tidak bilang dari tadi, Kek?!" teriak Li Yuan sambil melompat-lompat menahan beban yang tak tertahankan di perut bagian bawahnya. "Di mana toiletnya?! Di mana?!"
"Gua ini sudah ditinggalkan seribu tahun! Mana ada toilet!" sahut kakek itu kesal.
Li Yuan dan Dong Dong saling berpandangan. Insting bertahan hidup mereka kembali menyala, namun kali ini bukan untuk melawan musuh, melainkan melawan panggilan alam yang sangat mendesak.
"Jangan lihat aku, Monyet!" Li Yuan berlari menuju sudut gua yang paling gelap.
"Aku juga tidak sudi melihatmu, Manusia!" Dong Dong melesat ke arah berlawanan, memanjat dinding gua dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat daripada saat ia dikejar ular, hanya untuk menemukan celah batu yang cukup aman.
Maka terjadilah sebuah fenomena kultivasi yang paling tidak bermartabat dalam sejarah. Di dalam gua suci itu, terdengar suara gemuruh yang lebih dahsyat daripada ledakan panci tadi.
DUUUUTTT! BROOOT!
"AAARRGGHH! JANGAN MATI DULU, PERUTKU!" raung Li Yuan dari balik batu besar.
"INI LEBIH SAKIT DARIPADA DIGIGIT ULAR!" teriak Dong Dong dari atas celah batu.
Hantu kakek itu hanya bisa melayang di langit-langit gua, membelakangi mereka dengan tangan menutupi wajah. "Hancur sudah... reputasi tempat suciku... bau ini... bahkan energi spiritual tingkat tinggi pun tidak bisa menetralkan bau dosa ini!"
Setiap kali mereka melepaskan "beban" tersebut, aliran energi panas merambat masuk ke sumsum tulang mereka. Kotoran hitam yang berbau busuk—hasil dari bertahun-tahun makan dari tempat sampah—dikeluarkan sepenuhnya dari tubuh mereka.
Proses ini berlangsung selama hampir dua jam. Li Yuan dan Dong Dong sudah terlihat seperti mayat hidup; lemas, keringat bercucuran, dan wajah yang seolah-olah sudah melihat pintu akhirat.
Namun, saat badai di perut mereka akhirnya mereda, sebuah keajaiban terjadi.
Li Yuan berdiri dengan kaki gemetar, namun ia merasa tubuhnya menjadi sangat ringan—seringan kapas. Kulitnya yang tadinya penuh daki dan luka kini menjadi halus dan memancarkan cahaya tipis. Di dalam pembuluh darahnya, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir tenang seperti sungai.
"Ini..." Li Yuan mencoba menggerakkan tangannya.
Wusss!
Sebuah tekanan angin tercipta hanya dari gerakan kecil tangannya.
"Ini adalah Arus Qi," gumam sang kakek, akhirnya menoleh dengan wajah yang masih sedikit jijik. "Kalian berhasil melewati tahap Pengerasan Dasar dan langsung melompat ke Arus Qi tingkat satu karena kerakusan kalian itu. Tapi jangan harap aku akan memuji kalian!"
Dong Dong merangkak turun dari celah batu, terlihat jauh lebih segar meski matanya masih kuyu. "Kek... lain kali... kalau ada ramuan lagi... tolong sediakan toilet yang layak."
Li Yuan mengambil pedang hitamnya. Sekarang, pedang itu terasa seperti bagian dari lengannya sendiri. Ia menatap ke arah pintu keluar gua dengan tajam.
"Kek, sepertinya pembersihan ini tidak hanya terjadi di dalam perut," ujar Li Yuan. "Aku bisa merasakan... di depan pintu gua, ada banyak napas yang menunggu kita. Dan baunya amis seperti ular kemarin."
"Bagus," hantu kakek itu menyeringai tipis. "Gunakan kekuatan baru kalian untuk membersihkan sampah di depan pintu. Jangan permalukan aku lagi, atau aku akan membuat perut kalian mulas selama seratus tahun!"