Adrian Walker, seorang pemilik sebuah Restoran terbesar di kotanya, terpaksa menikah lagi dengan seorang gadis bernama Ariana atas permintaan istri pertamanya, Elizabeth.
Elizabeth terpaksa melakukannya karena kedua orangtua Adrian sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Sedangkan Elizabeth tidak mungkin hamil karena rahimnya sudah diangkat akibat kecelakaan yang pernah terjadi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra Part
Masih di hari yang sama, dimana Siska masih berkunjung di kediaman Ariana. Siska masih menunggu anaknya, Anin yang tidak mau diajak pulang. Ia masih betah bermain bersama Alice di ruang tengah.
"Daripada kita suntuk nungguin mereka, mendingan kita ke dapur yuk, Siska! Kita bikin cemilan buat si gadis-gadis cantik ini," ucap Ariana.
Siska pun mengangguk kemudian mengikuti Ariana menuju dapur. Setibanya disana, Ariana segera membuka lemari pendingin kemudian mengambil bahan-bahan yang akan ia masak menjadi cemilan siang ini, untuk kedua gadis cantik yang masih asik bermain diruang tengah.
Setelah semuanya tertata diatas meja, merekapun segera mengeksekusinya. Sesekali mereka bercanda dan tertawa di ruangan itu. Dan tanpa mereka sadari, dua orang laki-laki yang sedang menyamar menjadi pengatar barang, masuk ke ruang tengah.
Mereka mengendap-endap kemudian memperhatikan sekelilingnya. Dan akhirnya mereka menemukan dua orang gadis cantik yang tengah asik bermain. Penjahat itu mengenali salah satu dari bocah cantik itu adalah Alice, putri kesayangan Adrian dan Ariana.
Lelaki itu menghampiri Alice dan Anin yang tengah bermain. Kemudian dengan sangat cepat, mereka membekap mulut Alice dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius. Hingga gadis mungil itupun tak sadarkan diri.
Anin menjerit ketakutan. Dan setelah mendengar teriakan Anin yang memekakkan telinga, penjahat itupun segera membawa tubuh Alice yang sudah tidak berdaya memasuki mobil mereka.
"Cepat! Cepat! Nanti kita ketahuan," seru salah seorang dari mereka. Setelah mereka berhasil menculik Alice, merekapun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Para penjaga mulai merasa curiga, karena mobil yang mengaku sebagai pengantar barang tersebut melaju dengan kecepatan tinggi.
"Mereka mencurigakan!" ucap salah satu keamanan.
Mereka mencoba mengejar mobil itu namun percuma, mobil itu sudah melesat jauh, meninggalkan kediaman Adrian.
Sementara itu, Anin berlari ke dapur yang jaraknya cukup jauh dari ruang tengah. Sehingga kejadian itu sama sekali tidak diketahui oleh Ariana dan Siska.
Gadis cilik itu menangis sembari menghampiri Ibunya, Siska yang masih asik memotong-motong bahan makanan yang ada diatas meja.
"Mamaaaa ..." teriak Anin dengan derai airmata.
"Kenapa, Nin?" tanya Siska sembari mengangkat tubuh Anin kemudian mencoba menenangkannya.
Bukan hanya Siska yang panik, Ariana pun begitu terkejut ketika melihat Anin menangis histeris seperti itu. Padahal Alice dan Anin tidak pernah bertengkar ketika bermain. "Anin kenapa?" tanya Ariana kepada Siska yang masih mencoba menenangkan Anin didalam pelukannya.
Siska menggelengkan kepalanya, pertanda iapun tidak tahu apa yang menyebabkan anaknya menangis histeris seperti itu.
"Mama, Mamaaaa ... Alice dibawa kabur sama Om-Om," ucap Anin disela tangisnya.
"Apa!!!" pekik Ariana dan Siska secara bersamaan.
Ariana segera berlari menuju ruang tengah. Dan ternyata benar, Alice sudah tidak ada di ruangan itu. Ariana tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia menangis terisak di ruangan itu dan tubuhnya merosot ke lantai.
"Alice!!!" teriak Ariana,
Siska hanya bisa mengelus punggung Ariana membantunya berdiri. "Sebaiknya kamu hubungi Adrian," ucap Siska kepada Ariana yang masih menangis histeris sembari menyebutkan nama Alice.
Namun, baru saja Ariana ingin menghubungi suaminya, ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ariana memperhatikan nomor baru yang tengah menghubunginya.
"Siapa ini?!" gumam Ariana dengan tangan bergetar.
"Terima saja panggilannya, Ariana. Siapa tahu penting," ucap Siska.
Dengan tangan gemetar, Ariana menerima panggilan itu. "Ha-hallo?!" ucap Ariana dengan terbata-bata.
"Hallo, Ariana! Apa khabar! Kamu pasti sedang memikirkan bagaimana nasib Alice, bukan?!" sahut seorang laki-laki di seberang telepon sambil tertawa lantang.
"Siapa kamu! Jangan pernah macam-macam sama Anakku, kau dengar itu!" hardik Ariana disela isak tangisnya.
Lelaki itu semakin tergelak mendengar ucapan Ariana saat itu.
"Ariana, Ariana ... disaat seperti ini kamu masih saja sombong! Dengarkan aku, Ariana! Jika kamu ingin anakmu selamat, ikuti apa kataku! Dan jangan berani-berani menghubungi Polisi! Atau akan kuhabisi anakmu sekarang juga!" ancam lelaki itu.
"Jangan!!! Jangan bunuh anakku! Ba-baiklah, sekarang katakan apa maumu?!" ucap Ariana terbata-bata, sedangkan Siska masih berdiri disamping Ariana sembari mengelus punggungnya.
"Tunggulah ke depan Bank di jalan XX, disana ada anak buahku yang akan menjemput mu. Ingat, hanya kamu seorang!!! Dan jika kamu berani mengajak yang lain untuk membuntuti mu, maka aku akan mengetahuinya dan bersiap-siaplah untuk melihat jasad anakmu," sahut lelaki itu.
"Baiklah, aku akan segera ketempat itu!" sahut Ariana
"Sekarang!!!" teriak lelaki itu,
"Baik-baik!"
Ariana bergegas menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh penculik itu. Siska sudah mencoba melarangnya, tetapi Ariana tetap bersikeras ingin menemui lelaki itu dan menyelamatkan Alice.
...***...
👍👍👍
smoga saja ariana berjodoh dgn dokter yang sdh menolongnya