Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlempar kedalam Novel
"....."
Hembusan angin dari arah jendela kaca yang terbuka. Membuat genangan air mata di balik kacamata. "Kisah cinta tragis untuk Selir Yu."
Layar ponsel di alihkan pada dokumen penandatanganan untuk kontrak novel secara online. Dengan tarikan napas dalam yang menekan. Zhen Nuo memberikan tanda tangan yang di perlukan. Agar novel dengan judul "Asmara Dalam Istana" bisa langsung di terbitkan. Dan pembaca setia di platform novel online Zuzu bisa melihat karya dari penulis Wanxi.
Penulis yang telah terkenal dengan karya-karya luar biasanya. Bahkan memiliki ratusan ribu pengikut setia di akunnya.
"Huh..." Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Treiingg...
Ponselnya berdering.
Dia mengangkatnya. "Ya."
"Tiga hari lagi akan ada penghapusan akun tidak aktif di platform. Aku harap kamu bisa menyelesaikan pemilihan karya dalam waktu dua hari."
"Kak Feng, apa kau ingin membutakan kedua mataku? Bagaimana bisa aku memilih ribuan karya dalam waktu sesingkat itu." Zhen Nuo menjawab dengan malas.
"Baca saja seperlunya. Dua bab awal jika bagus kamu bisa langsung menandatangani perjanjian kontrak. Jika buruk langsung hapus. Bukankah cukup mudah," ujar pria di sambung telepon.
"Mudah, sangat mudah." Wanita itu bangkit. "Semua orang membuat karya mereka sepenuh hati. Jika hanya melihat pada bagian awal. Bukankah sama saja kita tidak menghargainya. Beri waktu dua Minggu. Aku akan menyelesaikan semua dokumen penandatanganan yang memuaskan." Zhen Nuo masih membuat penawaran.
"Tidak ada tawar menawar."
Sambungan telepon di akhiri.
"Huh..." Hela napas di keluarkan cukup berat. Zhen Nuo kembali duduk di kursi kerjanya. Dia diam di depan laptop mengerjakan seperti perintah atasannya. Wanita itu hanya melihat setiap karya pada dua bab awal lalu mulai menyimpulkan dan menyeleksi secara bergilir. Karya mana saja yang ia yakini dapat menarik minat para pembaca.
Selang dua hari, Zhen Nuo benar-benar telah berhasil menyelesaikan tugasnya seperti permintaan atasannya.
Sore itu cuaca terasa cukup sejuk. Angin musim dingin berhembus lembut di wajahnya. Jaket tebal yang menyelimuti tubuhnya terasa hangat juga nyaman. Zhen Nuo berjalan santai di sepanjang jalur pejalan kaki dan pesepedah. Dia menikmati bunga-bunga musim dingin yang bermekaran memenuhi jalur itu.
"Sangat indah." Beberapa kali dia juga memotret pemandangan sekitar sebagai kenang-kenangan.
Ting...
Pesan masuk di ponselnya.
Tertera notifikasi pesan yang menyatakan jika novel dengan judul "Asmara Dalam Istana". Telah mengupdate bab terbaru.
Zhen Nuo menekannya ingin melihat lanjutan bab keenam yang sangat ingin ia lihat.
Tiiittt...
Dari arah belakang sepeda montor melaju kencang.
Brkakk...
Belum sempat Zhen Nuo menghindar dia sudah tertabrak sepeda montor yang tidak berada di jalurnya.
Semua orang yang melihat kejadian itu segara berlari mendekat.
"Segera hubungi ambulan."
"Baik."
Pandangan mata wanita yang sudah tergeletak tidak berdaya di aspal yang dingin itu mulai mengabur. Suara yang ada di sekitarnya menjadi lebih sunyi.
"Nona."
"Nona."
Suara orang-orang yang ada di sana berusaha tetap menyadarkannya. Tapi kedua mata Zhen Nuo terasa semakin berat. Hingga di detik setelahnya kesadarannya hilang.
"........."
Kebisingan yang terdengar di sekitar menghilang seketika. Dunia terasa sangat sunyi dan sepi.
Samar-samar dunia yang hening kembali menunjukkan aktivitasnya.
Drakkk...
"Huh..."
Wanita di dalam kereta terhentak kaget.
Brakkk...
Dia terjungkal di dalam keretanya.
"Aduuh..."
"Yuhhh..." Pelayan wanita yang tengah mengendalikan kereta kuda segara berhenti. "Selir Yu, anda tidak apa-apa?" Dia menyibak kain penutup pintu kereta dan mendapati Selir Yu baru saja bangun dari lantai kereta.
"Aaaa..." Selir Yu menekan kuat kepalanya. Rasa sakit akibat benturan masih terasa cukup kuat.
"Selir Yu."
Wanita yang ada di dalam kereta menatap tidak perduli. "Kau ingin membawaku kemana?" Detik setelahnya. "Kau siapa?"
Pelayan wanita itu menatap binggung. "Selir Yu, saya pelayan anda Guyi."
Kedua alis Selir Yu terangkat. Dia memperhatikan kembali keadaan di sekitarnya. Suasana terlihat sangat gelap dan saat ini dia berada di dalam ruangan kecil. Saat dia menyibak kain penutup jendela. "Ini kereta kuda! Aku ada di manaaa..."
Dreeee...
Sambaran petir terdengar kuat dan kencang setelah kilatan cahaya putih terlihat beberapa detik.
Selir Yu bergegas menarik tubuhnya kembali masuk kedalam kereta. Dia menatap kearah pelayan wanita yang masih melihat penuh kekhawatiran. "Tadi kau memanggilku apa?"
"Selir Yu."
Wanita itu menatap panik. "Selir Yu?" Dia memperhatikan gaun yang ia kenakan. "Bukankah aku mengenakan baju musim dingin. Dan berjalan santai di luar rumah." Masih berusaha meyakinkan dirinya. "Sekarang kenapa aku bisa mengenakan gaun layaknya wanita zaman dulu?" Pikirannya menjadi kacau.
"Selir Yu, jika anda merasa tidak enak badan kita bisa segera kembali keistana." Pelayan itu semakin khawatir melihat tingkat aneh wanita di dalam kereta.
"Bagaimana bisa? Apa ini nyata?" Selir Yu mencubit lengannya. "Aaahhh..." Bekas cubitan di elus kuat. "Sakit, terasa sakit. Jika aku tidak salah dalam mengingat. Selir Yu adalah tokoh dua dimensi di dalam novel yang aku baca. Apa aku menembus waktu masuk kedalam novel? Sungguh gila. Apa ini sungguh nyata?" Dia berlari keluar dari kereta bahkan mendorong pelayannya agar memberikan jalan.
Hutan lebat itu terlihat sangat sunyi juga menakutkan. Hawa dingin menyebar penuh kesetiap sudut hutan. "Jika tidak salah ingat. Saat ini aku berada di bab pertama." Melihat kearah pelayannya. "Apa mereka telah pergi?" Memastikan jika yang ia pikirkan adalah benar.
Pelayan wanita mendekat. "Yang Selir Yu maksudkan. Selir Jing dan selingkuhannya?"
"Iya, mereka. Mereka sudah pergi!"
"Mereka telah pergi beberapa menit yang lalu," jawab Pelayan Guyi.
Selir Yu menatap kearah langit malam. Bulan di tempat itu terlihat lebih besar dan cerah. Bahkan bintang-bintang terlihat lebih banyak dengan galaxy membentang memenuhi langit.
"Sangat indah. Sayangnya aku akan terbunuh di bab selanjutnya. Huhh..." Tubuhnya melemas. Dia berjalan dengan menunduk malas. Selir Yu naik keatas kereta dengan hela napas tanpa henti. "Kita kembali sekarang."
"Baik."
Ciahh...
Kereta melaju kencang menebus kegelapan yang ada di hutan belakang istana.
Di sepanjang perjalanan Zhen Nuo mengerutkan keningnya. Dia terus memikirkan dirinya yang saat ini telah menjadi pemeran pembantu di dalam novel. Selir paling gila dan sangat terobsesi dengan Kaisar Xiao Chen.
"Jika mengikuti cerita aslinya. Selir Yu akan membongkar rahasia Selir Jing dan kekasih gelapnya. Bahkan memanfaatkan situasi itu untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Kaisar Xiao Chen. Di hari itu juga Selir Yu terbunuh oleh anak panah yang melesat langsung tepat di jantungnya." Wanita itu memegangi dadanya. "Isss..." Mendesis. "Anak panah menembus jantung. Pasti sangat menyakitkan. Aahhh..." Dia berteriak frustrasi. "Kenapa aku harus menjadi Selir Yu. Dia bahkan hanya keluar dalam satu hari dua malam saja. Setelah itu tidak ada lagi kelanjutan dari kisah hidupnya."
Ia sandarkan tubuhnya dengan lemas kearah pembatas kereta. Kedua kakinya di luruskan dengan gaun bagian bawah sedikit terangkat.
"Sangat menyebalkan."
Dreekkk...
Kedua kakinya terus menggebrak lantai kereta.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana