NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. BAYANGAN MASA LALU

..."Ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh ramuan apa pun, hanya oleh pilihan untuk tetap berdiri."...

...---•---...

Pagi itu datang dengan kabut tipis yang merayap di antara pepohonan bambu. Doni duduk di teras gubuk Pak Karso, mengamati embun yang masih membasahi dedaunan. Tangannya sibuk menggulung daun sirih kering menjadi gulungan kecil, persiapan persediaan obat sederhana yang akhir-akhir ini selalu habis lebih cepat dari yang ia sangka.

Jari-jarinya bergerak otomatis, melipat, menekan, menggulung. Tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Wajah-wajah yang tidak bisa ia lupakan. Anak dengan perut buncit karena cacingan yang sudah terlambat. Lelaki tua dengan batuk berdarah yang terlalu lama diabaikan. Perempuan muda dengan demam setelah melahirkan, tubuhnya membusuk dari dalam karena kondisi yang terlalu kotor.

Seharusnya bisa diselamatkan.

Seharusnya.

"Kau belum tidur lagi semalam?" Mbok Wulan keluar sambil membawa nampan berisi nasi hangat dan tempe goreng. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Tubuhmu masih muda, Doni. Jangan sampai Kau yang jatuh sakit."

Doni tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. "Aku baik-baik saja, Mbok. Hanya... ada banyak yang harus disiapkan."

Mbok Wulan menatapnya cukup lama. Ia tahu Doni berbohong. Tapi ia juga tahu kapan harus diam.

Karyo muncul dari tikungan jalan. Langkahnya cepat, napasnya terengah. Bahkan dari kejauhan, Doni sudah merasakan ada yang tidak beres. Karyo tidak pernah berlari kecuali untuk urusan mendesak.

"Doni!" Karyo berhenti di depan teras, tangannya bertumpu pada lutut sambil menarik napas panjang. "Ada yang mencarimu!"

Doni mengangkat kepala. "Pasien?"

"Bukan." Karyo meluruskan tubuh, menatapnya dengan tatapan aneh. Ragu. Khawatir. "Mbok Sarmi."

Gulungan daun sirih di tangan Doni terhenti.

Udara seakan membeku. Nama itu bergema di kepalanya, membawa serta ingatan yang bukan miliknya tapi terasa seperti luka terbuka. Perempuan yang berteriak. Kata-kata kasar. Pintu gubuk yang dibanting. Hujan dan dingin malam itu.

Pergi! Jangan kembali! Kau pembawa sial!

Doni menarik napas. Dalam-dalam. Tangannya mencari sesuatu untuk dipegang, ujung nampan, tepi bangku, apa saja yang bisa menjadi jangkar agar ia tidak terseret arus ingatan yang bukan miliknya.

Mbok Wulan menatap Karyo dengan mata membulat. "Mbok Sarmi? Bibinya Doni?"

"Ya. Dia ada di balai kampung sekarang. Mencarimu." Karyo menatap Doni dengan tatapan penuh pertanyaan. "Kau... ingin aku ikut?"

Doni meletakkan daun sirih perlahan. Sangat perlahan. Membersihkan tangannya yang lengket getah pada kain lap. "Tidak usah. Aku akan ke sana sendiri."

"Doni..." Mbok Wulan menyentuh bahunya. Sentuhan ringan, tapi hangat. "Kau tidak perlu memaksakan diri. Perempuan itu kasar padamu dulu."

"Makanya aku harus ke sana, Mbok." Doni berdiri. "Aku harus tahu apa maunya."

Perjalanan ke balai kampung terasa lebih panjang dari biasanya. Warga yang melintas memberi hormat, ada yang tersenyum, ada yang membungkuk. Doni membalas dengan anggukan singkat, tetapi pikirannya tertuju pada sosok perempuan yang memarahinya habis-habisan dan mengusirnya dari gubuk reot yang bahkan tidak layak disebut rumah.

Langkahnya melambat saat balai kampung mulai terlihat.

Apa yang dia inginkan?

Apakah dia datang untuk memaki lagi?

Atau...

Balai kampung masih sepi. Matahari belum sepenuhnya naik, dan pasien biasanya baru datang setelah subuh. Di teras, seorang perempuan paruh baya duduk dengan punggung membungkuk. Tubuhnya kurus, jauh lebih kurus dari ingatan yang Doni punya. Kain kebaya lusuh yang ia kenakan penuh tambalan. Rambutnya yang diikat ke belakang terlihat kusam dan mulai memutih di beberapa bagian.

Mbok Sarmi.

Tapi bukan Mbok Sarmi yang Doni ingat.

Perempuan di depannya ini rapuh. Hancur. Seperti bayangan dari seseorang yang pernah begitu menakutkan.

Perempuan itu menoleh saat mendengar langkah kaki. Matanya, yang dulu tajam penuh kemarahan, kini redup dan cekung. Kulitnya pucat kekuningan. Bibirnya kering pecah-pecah. Doni langsung mengenali tanda-tanda itu.

Kurang gizi. Kurang cairan. Dan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih dalam.

"Doni..." Suaranya serak, hampir seperti bisikan.

Doni berhenti beberapa langkah darinya. Tangannya terkepal di sisi tubuh. "Mbok Sarmi."

Perempuan itu berusaha berdiri, tetapi tubuhnya bergoyang. Lutut hampir melipat. Doni refleks melangkah maju, menopang lengannya sebelum ia jatuh.

Kulitnya terasa dingin. Lembap seperti kain basah yang sudah lama tidak dijemur. Denyut nadinya lemah, tidak teratur, seperti debaran burung yang terluka.

"Duduklah dulu." Doni membantu Mbok Sarmi duduk kembali, kali ini lebih perlahan, menopang punggungnya dengan hati-hati. Ia berlutut di depannya, menatap wajah yang dulu begitu ia takuti. "Kenapa Kau ke sini?"

Mbok Sarmi tidak langsung menjawab. Napasnya pendek dan berat, dadanya naik turun dengan susah payah. Tangannya yang keriput dan penuh kapalan gemetar saat ia menggenggam ujung kainnya.

"Aku... aku sakit, Doni."

Doni menarik napas panjang. Ia sudah menduga. "Sejak kapan?"

"Dua bulan. Mungkin lebih." Suaranya terputus-putus. "Awalnya hanya lemas. Lalu perutku mulai terasa penuh. Tidak bisa makan. Sekarang... sekarang aku bahkan tidak bisa berjalan jauh tanpa sesak."

Doni mengamati lebih teliti. Bagian putih mata Mbok Sarmi sedikit kekuningan. Tanda penyakit kuning. Tangannya menyentuh perut perempuan itu dengan hati-hati, meraba, menekan perlahan. Ada pembesaran yang tidak normal di bagian kanan atas. Keras seperti batu. Benjol-benjol. Seharusnya organ ini kenyal dan rata. Limpa juga membesar, hampir menyentuh panggul.

"Kau sering demam?"

"Ya. Setiap malam. Keringat dingin sampai pagi."

Doni menggigit bibir bawahnya. Gambaran semakin jelas. Organ hati yang rusak parah. Stadium lanjut. Kemungkinan besar karena penyakit kuning yang pernah diderita bertahun-tahun lalu, tidak diobati, berubah menahun, dan perlahan menghancurkan hatinya dari dalam. Tanpa pemeriksaan laboratorium, ia tidak bisa memastikan. Tapi kondisinya sudah sangat parah.

Ia sudah tahu prognosisnya.

Tidak ada harapan.

"Kenapa baru sekarang datang?"

Mbok Sarmi menunduk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku... aku tidak tahu harus ke mana. Dukun kampung bilang ini kutukan karena aku dulu jahat padamu. Mereka tidak mau mengobatiku."

Ironi yang pahit. Perempuan yang dulu menolaknya, kini ditolak orang lain karena hubungannya dengannya.

"Aku tahu aku tidak berhak meminta tolong padamu." Suara Mbok Sarmi bergetar. "Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku menyakitimu. Tapi aku... aku takut mati, Doni. Aku takut."

Tangis pecah dari bibirnya. Pelan, tapi penuh kepedihan yang terdengar seperti luka terbuka. Tubuhnya gemetar hebat. Doni hanya duduk di sana, menatap perempuan yang dalam ingatan tubuh ini adalah simbol penolakan dan rasa sakit.

Tapi Doni yang sekarang adalah dokter.

Dan seorang dokter tidak memilih pasien berdasarkan masa lalu.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh bahu Mbok Sarmi dengan lembut. "Baring telentang. Aku perlu memeriksa lebih teliti."

Mbok Sarmi mengangkat kepalanya. Menatap Doni dengan mata basah, tidak percaya. "Kau... Kau mau menolongku? Setelah semua yang aku lakukan?"

Doni tidak menjawab. Ia hanya berdiri dan mengulurkan tangan.

Tangan Mbok Sarmi gemetar saat meraih uluran itu. Genggamannya lemah, hampir tidak bertenaga. Doni memapahnya masuk ke dalam balai kampung, menuntunnya ke tikar di sudut ruangan yang biasa ia gunakan untuk pemeriksaan.

"Baring. Aku akan periksa perutmu lebih detail."

Mbok Sarmi menurut dengan patuh, tubuhnya turun perlahan ke tikar seperti daun yang jatuh. Doni berlutut di sampingnya, tangannya mulai meraba perut dengan tekanan lembut namun sistematis. Hati sangat membesar. Keras seperti kayu. Permukaannya benjol-benjol, tidak rata seperti seharusnya. Limpa membesar hingga hampir ke panggul. Cairan bebas di rongga perut terasa jelas, bergerak seperti ombak kecil saat ia tekan.

Organ hatinya sudah tidak berfungsi. Cairan menumpuk karena tubuh tidak bisa menyaring racun lagi.

"Kau pernah sakit kuning sebelumnya?"

"Ya. Lima tahun lalu."

Penyakit radang hati. Kemungkinan besar tipe yang menular lewat darah atau cairan tubuh, berubah menahun, dan perlahan menghancurkan hatinya. Tanpa obat, tanpa pemeriksaan, tanpa dukungan medis modern, prognosisnya sangat buruk.

Sangat buruk.

Doni menarik napas panjang. Ia duduk bersila, menatap Mbok Sarmi dengan serius. "Penyakitmu ada di hati. Hatimu sudah tidak bisa bekerja seperti dulu. Seperti saringan yang tersumbat. Racun tidak keluar, malah balik lagi ke tubuhmu. Cairan menumpuk di perutmu karena hatimu tidak bisa menyaring lagi."

Mbok Sarmi menatapnya dengan mata ketakutan. Bibir kering bergetar. "Itu artinya... aku akan mati?"

Kejujuran atau harapan palsu?

Doni sudah memilih jalannya sejak awal.

"Kondisimu sangat berat, Mbok. Aku tidak bisa membohongimu." Ia berhenti sejenak, memilih kata yang tepat. "Tetapi selama Kau masih bernapas, aku akan berusaha meringankan penderitaanmu."

Air mata mengalir di pipi Mbok Sarmi. Jatuh tanpa suara ke kain lusuh yang membungkus tubuhnya. "Maafkan aku, Doni. Maafkan aku."

Doni menatap tangannya sendiri. Tangan yang masih menopang pergelangan tangan perempuan ini, merasakan denyut lemah di bawah kulitnya.

Bagian dalam dirinya yang bukan Doni, ingatan tubuh ini, menjerit. Dia mengusirmu. Dia bilang Kau pembawa sial. Dia menutup pintu saat Kau kedinginan dan lapar.

Tapi tangannya tidak bergerak.

"Kau harus ikuti semua yang aku katakan. Pertama, jangan makan makanan asin. Garam akan membuat cairanmu semakin banyak. Kedua, makan sedikit-sedikit tapi sering. Bubur, sayur rebus, apa pun yang lembut dan mudah ditelan. Ketiga..."

Bambang muncul di pintu. Wajahnya terkejut saat melihat Doni dan Mbok Sarmi. "Kang Doni, ada pasien... Oh, maaf, aku tidak tahu Kau sedang..."

"Tidak apa-apa, Bambang. Siapa?"

"Anak kecil. Kejang di rumahnya. Keluarganya panik membawanya ke sini."

Kejang. Anak kecil.

Tidak bagus.

Doni menoleh ke Mbok Sarmi. Perempuan itu menggeleng lemah. Bibirnya bergerak pelan. "Pergilah. Anak itu lebih penting."

"Bambang, panggilkan Karyo. Suruh dia ke sini sekarang." Doni berdiri, membersihkan tangannya dengan kain. "Mbok Sarmi akan tinggal di rumah Pak Karso. Aku akan memberinya ramuan setiap hari. Karyo akan menjemputmu nanti."

"Tidak, Doni, aku tidak bisa merepotkan..." Mbok Sarmi mencoba protes, tetapi suaranya terlalu lemah.

"Ini bukan permintaan." Doni menatapnya dengan tegas. "Kau tidak punya tempat tinggal yang layak. Kau perlu diawasi. Kau akan tinggal di sana."

Sebelum Mbok Sarmi bisa menjawab, Doni sudah berbalik dan berlari keluar, mengikuti Bambang menuju rumah di ujung kampung.

Ada nyawa lain yang menunggu.

Dan waktu tidak pernah berpihak pada siapa pun.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
Mentariz
Alamak~~ bakal syulit nih ngadepin aki-aki 😅
Greta Ela🦋🌺
Entah pun mungkin sampai puluhan nyawa yang kau selamatkan Don
Greta Ela🦋🌺
Iya lah, Don. Kalau kerja keras berarti makan pun harus kuat. Kau ya harus juga jaga kesehatanmu
Greta Ela🦋🌺
Gakk gakkk bisa bayangin ini. Aku orangnya mudah ngiluan😭
Greta Ela🦋🌺
Berarti perempuan itu pulih kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!