Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih bertahan
Tampaknya penghuni rumah tidak lagi begitu peduli dengan janjinya pada sang kekasih, dilihat dari meja rias yang biasanya dihiasi bunga mawar merah yang segar tidak ada lagi di atas meja. Hanya ada tangkai kering yang belum sempat dibuang oleh pemiliknya.
Debu pun mulai hinggap di setiap sudut kamar karena tidak tersentuh sedikitpun. Pemiliknya terlalu sibuk, atau lebih tepatnya sengaja menyibukkan diri.
Satu minggu sejak pembicaraan Liam dan Leon dan selama itu pula Liam menjadi pria tidak tersentuh oleh siapapun. Gila kerja dan ambisus dengan segala hal sampai lupa dengan kesehatannya.
Keluarga mulai mengkhawatirkan Liam yang sangat sulit di ajak bicara dan fokus bekerja. Ada sisi positif dan negatif yang terjadi dalam waktu bersama.
Perusahan berkembang pesat akan tetapi kesehatan Liam mulai turun akibat makan tidak teratur begitu pun dengan istirahatnya.
"Tuan Besar." Asisten Liam menunduk pada Cakra yang kini berdiri di depan pintu ruangan Liam. Memperhatikan putra sulungnya yang tampak fokus bekerja.
"Jadwal Liam hari ini bagaimana?"
"Sangat padat Tuan, sebenarnya bisa di atur tetapi Tuan muda sendiri yang meminta agar jadwanya dibiarkan padat."
"Siapa yang bisa membujuknya kali ini?" tanya Cakra masih menatap putranya.
Bagimana tidak bertanya, dia dan istrinya sudah berusaha membujuk tetapi keberadaan mereka dihiraukan begitu saja.
"Hanya satu yang belum datang Tuan, yaitu tuan Seaven."
"Coba hubungi dia untuk membujuk Liam," ujar Cakra dan berlalu tanpa menemui putranya.
Sedangkan yang sejak tadi dikhawatirkan tampak fokus pada pekerjaanya tanpa kenal lelah dan tidak peduli akan sekitar. Hanya dengan seperti ini dia tidak terlalu merasakan sakit setelah tahu fakta yang sebenarnya.
"Liam."
Liam mendengar panggilan itu tetapi enggang menyahut, terlebih orang yang baru saja menyebut namanya adalah orang yang sangat ingin dia hindari karena banyak alasan.
"Om, tante dan orang-orang sekitarmu mengatakan satu minggu ini kamu gila kerja tanpa peduli dengan kesehatan. Bukankah kamu sudah terlalu jauh? Bagaimana pun caranya Arumi nggak akan pernah hidup lagi. Menyiksa dirimu seperti ini bukan keputusan yang tepat. Akhiri semuanya dan nggak akan ada lagi orang yang terluka," ujar Seaven tetapi Liam masih saja fokus pada tumpukan berkas.
"Oke aku minta maaf karena nggak bisa menangkap orang yang kamu inginkan, tapi nggak harus menghindari seperti ini kan?" Yap, Seaven hanya mengira Liam marah karena insiden kecelakaan di mana ia tidak bisa menangkap karyawan Arumi.
Terdengar helaan napas panjang dan suara pena yang diletakkan secara kasar. Pemilik ruangan bersandar pada kursi dan menatap kosong pada sahabat yang sangat dia percayai.
"Sudah drama malaikatnya? Sekarang kamu pergi dari ruanganku."
"Apa maksudmu?" Kening Seaven merengut.
"Nggak perlu menjadi malaikat di depanku Seaven!"
"Liam, berhenti membuatku bingung, kenapa kamu bersikap seperti ini?"
"Kamu menyukai Arumi bukan?"
Liam senyum sinis melihat reaksi Seaven yang terkejut. Mimik wajah sahabatnya berubah drastis usai kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Kamu memanfaatkan kepercayaanku dengan mendekati calon istriku kan Seaven? Di saat aku sibuk dengan perusahaan, kamu selalu ada waktu jika aku meminta tolong menemani Arumi."
"Liam dengarkan penjelasan aku dulu."
Liam beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Seaven dan menarik kerah kemeja pria itu.
"15 tahun kita sahabatan Ven, suka duka di negara orang kita selesaikan bersama. Kenapa hanya karena perempuan kamu mengkhianatiku, hm?"
"Ak-aku minta maaf, ak-aku nggak seharusnya ...."
"Persahabatan kita sampai di sini saja Ven. Aku muak melihat wajahmu!" Liam mendorong Seaven sehingga pria itu mundur beberapa langkah.
"Aku punya alasan melakukan semuanya Liam, ini semua demi kamu. Aku mendekati Arumi hanya untuk memastikan dia serius denganmu atau nggak. 15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk bertahan. Bisa saja dia memiliki pria lain sebelum kamu. Apalagi kamu mengacuhkannya selama itu. Apa ada perempuan yang bertahan?"
Dam
Kalimat terakhir Seaven tepat mengenai jantungnya karena fakta. Benar, apa ada seorang perempuan yang bisa bertahan tanpa kabar selama 15 tahun? Jawabannya sudah pasti tidak kan? Tapi Aruminya bisa saja berbeda sebab mereka memiliki janji sebelum berpisah.
Namun, kenapa kalimat itu berhasil menggoyahkan Liam untuk kedua kalinya untuk mempercayai Arumi. Dia hanya ingin mengungkap siapa dalang kecelakaan calon istrinya, bukan fakta menyakitkan seperti ini.
"Lalu bagaimana, apa kamu menemukan fakta tentang calon istriku?" tanya Liam dengan nada datarnya, ia pun masih membelakangi Seaven.
"Aku nggak menemukan apapun tentangnya, hanya saja dia selalu merasa nggak nyaman denganku. Bukankah sudah membuktikan bahwa Arumi sedang menyembunyikan sesuatu. Dia tahu kita dekat sehingga takut aku mengetahui tentangnya."
"Dan kamu memutuskan membunuhnya?"
"Liam ayolah, kenapa malah jadi seperti ini. Mana mungkin aku membunuh seseorang." Seaven tampak memelas, tidak terima jika Liam menuduhnya sembarangan.
"Aku banyak pekerjaan, sebaiknya kamu pergi!"
"Oke aku akan pergi, tapi tolong banget kesehatan kamu diperhatikan. Om dan tante mengkhawatirkanmu."
Usai mengatakan hal tersebut Seaven benar-benar meninggalkan Liam, memberi waktu pria itu berpikir jernih. Tidak mudah bagi Liam untuk mencerna semuanya, Seaven mengerti itu.
Sedangkan Liam sendiri meninju meja kerjanya sehingga beberapa barang berjatuhan karena getaran.
Sekarang bahkan Seaven pun sudah masuk list tersangka untuk Liam. Kali ini tidak ada lagi yang Liam percaya, jika pun menyuruh seseorang menyelidiki dia tidak akan menaruh kepercayaan hingga seratus persen.
Pria itu menyugar rambutnya ke belakang setelah duduk di kursi kebesarannya. Memutar kursi tersebut hingga menghadap sebuah gambar yang dititipkan kekasihnya. Ia terus memandangi lukisan yang sampai saat ini tidak tahu apa maknanya dan alasan apa yang Arumi punya sampai memberikan gambar tersebut.
"Kamu nggak seperti yang mereka katakan kan Rum? Mereka salah menilaimu, mereka hanya salah paham. Kamu hanya mencintaiku," gumam Liam yang masih percaya pada kekasihnya meski sering kali digoyahkan oleh kenyataan.
Ekor matanya menangkap sang asisten yang meletakkan segelas kopi di atas meja. Ia tidak bicara, terlebih asistennya pun tidak mengeluarkan suara dan ikut menatap gambar bersama.
"Hasil potret bu Arumi nggak ada yang gagal. Apapun itu akan terlihat cantik," gumam asisten Liam.
"Kamu dekat dengan Arumi?"
"Tidak Tuan, saya hanya dekat dengan asistennya Sevia."
Hening
"Dilihat dari gambarnya sepertinya bu Arumi menggunakam kamera kesayangannya untuk memotret."
"Kamera kesayangan?" Kening Liam mengerut, memutar kursi menghadap sang asisten yang berdiri di seberang meja.
"Kata Sevia, bu Arumi memiliki kamera kesayanggan yang hanya akan memotret hal-hal pribadi tentangnya."
Liam semakin bingung, dia tidak terlalu mengerti estetika sebuah gambar. Baginya semuanya sama saja baik itu profesional atau bukan.
Ia berdiri dan menghampiri gambar itu, menatap lebih intens dan akhirnya menemukan sesuatu yang sangat kecil di pojok kanan bawah.
....
jijik