NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Kegilaan?

Sementara itu, di bangsal lain yang lebih sepi, bayangan kematian sedang bersiap untuk menari kembali. Sheila Nandhita berdiri di balik tirai sebuah ruang ganti staf. Selendang bermotif bunga yang ia curi sebelumnya kini ia lilitkan di pinggang, sementara matanya yang liar memantau pergerakan seorang suster muda bernama Rini yang sedang membereskan peralatan medis.

Sheila tertawa tanpa suara. Kegilaannya telah mencapai puncak di mana rasa takut sudah tidak ada lagi dalam kamusnya. Baginya, rumah sakit ini hanyalah sebuah labirin besar yang menyenangkan untuk dikacaukan.

Suster Rini masuk ke dalam ruang penyimpanan tanpa menyadari sosok yang mengintai di balik pintu. Saat Rini berbalik, Sheila sudah berdiri tepat di depannya.

"Siapa ka—"

Belum sempat Rini berteriak, Sheila melilitkan selendangnya ke leher suster malang itu dengan kecepatan yang luar biasa. Ia menarik kedua ujung selendang itu dengan tenaga yang meluap dari amarah murni. Wajah Rini membiru, tangannya meronta-ronta di udara, namun Sheila justru menatap mata suster itu dengan tawa melengking yang tertahan.

"Jangan berisik, Sayang... Aku hanya butuh bajumu untuk bertemu 'sahabatku' Livia," bisik Sheila tepat di telinga Rini yang mulai lemas.

Setelah Rini pingsan tak berdaya di lantai, Sheila dengan dingin melucuti seragam putih sang suster. Ia mengenakannya dengan rapi, menyisir rambutnya yang acak-adut, dan mengenakan masker medis untuk menutupi wajahnya. Kini, ia tampak seperti malaikat maut berbaju putih yang siap memberikan suntikan terakhir bagi Livia.

****

Namun, Sheila tidak sadar bahwa sejak ia menginjakkan kaki di rumah sakit itu, sepasang mata tajam telah mengikutinya. Santi, detektif suruhan Attar, telah lama mengawasi gerak-gerik mencurigakan di sekitar bangsal. Sebagai mantan anggota satuan khusus, Santi memiliki insting yang tidak bisa dibohongi oleh sekadar seragam curian.

Santi berdiri di ujung lorong saat melihat "Suster" Sheila keluar dari ruang staf dengan langkah yang terlalu terburu-buru dan sorot mata yang terlalu tajam.

"Suster, bisa bantu saya sebentar?" panggil Santi dengan nada tenang namun mengancam.

Sheila membeku. Ia tidak menoleh, justru mempercepat langkahnya menuju lift.

"Aku bicara padamu, Sheila Nandhita!" bentak Santi sambil berlari menerjang.

Menyadari penyamarannya terbongkar, Sheila berbalik dan melemparkan nampan besi berisi peralatan medis ke arah wajah Santi. PRANG! Santi menghindar dengan lincah, namun Sheila sudah menerjang maju seperti macan lapar.

Sheila mengeluarkan selendangnya kembali—senjata favoritnya yang kini telah ia gunakan untuk mencekik orang. Ia mencoba menjerat leher Santi, namun Santi lebih cepat. Dengan teknik bela diri yang mumpuni, Santi menangkap pergelangan tangan Sheila dan menghantamkan sikunya ke rusuk wanita gila itu.

"ARGH! Kau... kau anjing suruhan Attar, kan?!" teriak Sheila, suaranya melengking memenuhi lorong yang sunyi.

Baku hantam tak terelakkan. Sheila bertarung dengan gaya yang tidak terduga—brutal, kacau, dan penuh dengan gigitan serta cakaran. Ia tidak peduli pada rasa sakit. Saat Santi melayangkan tendangan ke arah perutnya, Sheila justru menangkap kaki Santi dan menjatuhkannya ke lantai.

Keduanya berguling-guling di lantai rumah sakit. Sheila mencoba mencolok mata Santi dengan jari-jarinya yang panjang, sementara Santi berusaha mengunci gerakan tangan Sheila.

"Kau tidak akan pernah sampai ke kamar Livia selama aku masih bernapas!" geram Santi sambil menghantamkan kepalanya ke dahi Sheila.

DUK!

Dahi Sheila berdarah, namun ia justru tertawa histeris. Darah yang mengalir ke matanya justru membuat senyumnya terlihat lebih mengerikan di balik masker yang sudah robek. "Livia akan mati! Jika bukan oleh api, maka oleh tanganku! Kau tidak bisa menghentikan takdir!"

Sheila meraih sebuah vas bunga keramik besar dari atas meja lobi kecil dan menghantamkannya ke arah kepala Santi. Santi berhasil menangkis dengan lengan, namun vas itu pecah berkeping-keping, melukai lengan sang detektif.

Di kejauhan, Ayub yang mendengar keributan itu mulai berlari menuju sumber suara. Di saat yang sama, Attar baru saja keluar dari lift, terkejut melihat dua wanita sedang bergulat dalam duel maut di depan matanya.

Santi berhasil menindih tubuh Sheila dan mengunci kedua tangannya di belakang punggung, menekan wajah Sheila ke lantai dingin. "Panggil polisi! Sekarang!" teriak Santi pada perawat lain yang mulai berdatangan dengan wajah ketakutan.

Sheila, meski terjepit, tetap tertawa. Suaranya bergema di seluruh penjuru rumah sakit jiwa, sebuah suara yang menjanjikan bahwa meski ia tertangkap hari ini, bayangan kegilaannya tidak akan pernah benar-benar meninggalkan mereka.

"Ayub... Attar... kalian lihat ini? Ini baru permulaan dari simfoni kehancuran kita!" teriak Sheila sebelum akhirnya petugas keamanan rumah sakit mengepungnya.

****

Lampu neon di koridor Rumah Sakit Jiwa Grogol berkedip-kedip redup, seolah-olah suasana gedung tua itu sendiri ikut tertekan oleh kegilaan yang baru saja kembali ke dalam pelukannya. Sheila Nandhita tidak dibawa masuk dengan cara biasa. Ia diseret oleh empat orang perawat pria bertubuh kekar, tangan dan kakinya terikat pada tandu besi dengan sabuk kulit yang sangat kuat.

"LEPASKAN! KALIAN TIDAK BISA MENAHAN RATU!" raung Sheila. Suaranya sudah tidak menyerupai suara wanita, melainkan geraman rendah yang penuh kebencian.

Dokter Kusno, dengan leher yang masih dibalut perban tipis, berdiri di depan pintu sel isolasi baru yang kini telah diperkuat dengan lapisan baja tambahan. Wajahnya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Siapkan suntikan Thorazine dosis maksimal. Kita tidak bisa mengambil risiko lagi."

Sheila meronta begitu hebat hingga tandu besi itu berguncang keras. Saat jarum suntik mendekati kulitnya, ia meludahi kaca mata Dokter Kusno. "Hahahaha! Kau takut padaku, Kusno? Kau takut karena kau tahu aku benar! Livia harusnya mati! Aku adalah keadilan!"

"Tahan lengannya!" teriak Dokter Kusno.

Cairan bening yang dingin itu akhirnya menembus pembuluh darah Sheila. Dalam hitungan detik, raungan Sheila perlahan melambat. Matanya yang tadinya melotot lebar mulai berkedip sayu. Kepalanya terkulai ke samping, bibirnya masih menggumamkan nama "Attar" sebelum akhirnya ia jatuh pingsan, tak berdaya di bawah pengaruh obat penenang yang sangat kuat.

"Kunci pintunya," bisik Dokter Kusno sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin tertulis dariku dan kepolisian."

****

Di saat yang hampir bersamaan, di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit umum, suasana hening berubah menjadi penuh harapan. Detak jantung di monitor yang semula tenang dan monoton, tiba-tiba menunjukkan grafik yang bergejolak. Jari-jari tangan Livia yang pucat mulai bergerak sedikit demi sedikit, menyentuh seprai putih yang dingin.

Ayub, yang tertidur di samping tempat tidur dengan kepala bersandar pada kedua tangannya, tersentak bangun. Ia melihat kelopak mata Livia bergetar.

"Mbak... Mbak Livia?" bisik Ayub dengan suara parau. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera menekan tombol panggilan suster. "Mbak Liv, ini aku, Ayub. Bisakah kau mendengarku?"

1
Meri Susana
up terus kk
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!