Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesilia Steel
Menjelang pagi, udara di lantai 88 gedung Steel Group tidak lagi diselimuti ketegangan seperti biasanya. Ada sebuah frekuensi baru yang bergerak pelan di udara. Frekuensi bernama penerimaan atau mungkin kebahagiaan.
Setelah ciuman panjang kemarin, hubungan sang monster dan tikus kecilnya menjadi lebih hangat. Sesilia juga memberi julukan baru pada Axel. Bukan lagi monster, tetapi Satu huruf bernada X.
Satu huruf itu mampu merubah seorang Axel dari kanebo kering tanpa ekspresi menjadi wajah kemerahan dengan senyum tipis.
Sesilia berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menyajikan panorama Jakarta yang masih berselimut kabut tipis. Di pergelangan tangannya, jam tangan biometrik itu masih melingkar, namun sensornya kini merekam ritme jantung yang stabil, sebuah melodi ketenangan yang belum pernah terbaca oleh server Axel selama empat tahun terakhir.
Gadis cantik itu tidak lagi merasa seperti tawanan yang sedang menunggu eksekusi. Tetapi lebih seperti seorang anak kecil yang dibawa kabur oleh pujaan hatinya sendiri. Setidaknya itulah yang terlintas didalam kepala cantik Sesilia, sembari menunggu Axel di ruang makan.
Axel masuk ke ruang makan dengan langkah yang lebih ringan, meski auranya tetap memancar dingin. Ia berhenti sejenak, mengamati siluet gadisnya yang terbingkai oleh cahaya matahari pagi. Bagi lelaki bermarga Steel, pemandangan ini adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya, lebih dari sekadar akuisisi perusahaan minyak atau peluncuran satelit komunikasi. Ia telah berhasil melakukan akuisisi pada jiwa gadis kecil yang paling sulit ditaklukkan.
"Morning, baby girl.” Sapanya ringan.
Lamunan gadis itu buyar kala mendengar sapaan romantis dari Axel. “Morning too, X,” ia menjawab malu-malu.
Dengan gerakan cepat, Axel meraih kepala gadis itu dan memberikan ciuman di dahi dan pipinya. Wajah sang gadis kini terlihat seperti udang rebus, memerah sampai telinga.
“I hope you get used to physical contact with me, baby girl. I'll do it, everyday”
Sesilia mati kutu. Perlakuan manis dari lelaki ini adalah baru bagi dirinya yang jomblo sejak lahir. Perasaannya sulit didefinisikan. Sementara jantungnya didalam sana, berdetak tidak karuan. Perutnya diisi oleh kupu-kupu yang entah datang dari mana.
“You look so happy today.” Axel memecah kesunyian, suaranya serak dan mengandung nada ejekan yang nyata. Matanyai bahkan memberikan kerlingan manja pada gadis yang sedang malu-malu itu.
“Yes, I am.” Sesilia menjawab antusias. “Because of you, if course.” Ia melanjutkan. Berusaha tidak terpengaruh ejekan Axel.
Percakapan dua sejoli itu kemudian berlanjut. Mengalir seperti air, tidak ada lagi kecanggungan atau pandangan penuh kebencian darj Sesilia. Mereka kini terlihat seperti dua orang kasmaran normal, seperti yang lainnya.
Selama waktu sarapan indah itu, Sesilia mengajukan sebuah "Perjanjian Baru." Ia menyadari bahwa kini mulai menyukai apartemen mewah ini, yang awalanya dipandang sebagai penjara mewah. Lebih tepatnya, menyukai orang yang memiliki apartemen ini
"Jika aku setuju untuk tetap berada di sini, menjadi tunangan dan tentu saja kekasihmu," Gadis itu memulai dengan nada hati-hati, takut membuat keakraban mereka kembali meregang.
"Apa yang akan terjadi kedepannya? Ma.. maksudnya, aku kan calon dokter. Apa aku …. Masih bisa melanjutkan itu?.”
“Of course, baby girl. Do everything you want, I'll support you.” Axel menjawab tenang.
“Really?! You promise me that, X!” Sang gadis menjawab antusias, seperti anak kecil yang kegirangan diberi permen.
Tapi, bisakah aku mendapat akses penuh ke riset klinis Steel Medical Foundation tanpa ada sensor dari tim keamananmu terhadap korespondensi medisku?" Gadis itu kembali melanjutkan.
Axel menyesap kopinya, matanya yang kelabu menatap tikus kecilnya dengan binar penuh apresiasi. Ia menyukai kecerdasan gadis ini. Baginya, Sesilia yang cerdas jauh lebih menggairahkan daripada jalang manapun dengan pakaian kurang bahannya.
Ada jeda beberapa detik sebelum pertanyaan itu mendapat jawaban. "Baik. Aku akan memberikan akses tingkat Alpha pada sistem riset. Tetapi, setiap data yang keluar masuk tetap melewati server pusatku. Aku tidak akan membiarkan informasi pribadimu bocor ke pihak ketiga."
"Termasuk Uni?" tanyanya
"Terutama Uni," jawab Axel dengan nada final. "Keluarganya memiliki kecenderungan untuk terlalu ikut campur. Aku sudah mengurus mereka. Kau hanya perlu fokus pada studimu... dan padaku juga hubungan kita."
Setelah Axel berangkat ke kantor pusat, Sesilia memutuskan untuk mengeksplorasi "hadiah" baru yang disiapkan Axel di lantai bawah penthouse. Axel telah mengubah salah satu lantai menjadi laboratorium medis pribadi yang lengkap dengan peralatan yang bahkan rumah sakit nasional pun tidak memilikinya.
Saat sang gadis melangkah masuk, lampu sensor menyala, menerangi deretan lemari pendingin sampel dan mikroskop laser. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bedah simulasi virtual. Namun, detail yang membuatnya terpaku, yaitu sebuah dinding digital yang menampilkan seluruh sejarah medisnya sejak bayi.
Axel tidak hanya mengoleksi foto, tetapi mengoleksi semua hal yang berkaitan dengan dirinya. Disana juga terdapat grafik pertumbuhan tulang, analisis nutrisi dari setiap tahap usianya, hingga prediksi genetik tentang kemungkinan penyakit yang akan ia hadapi di masa depan. Lelaki itu seperti mencoba mencegah kematian gadis yang dicintainya bahkan sebelum penyakit itu ada.
"Amazing," gumam Sesilia.
Ia menemukan sebuah catatan pada layar utama laboratorium. Berjudul
Proyek: Keabadian Subjek S.
Optimasi nutrisi tingkat sel dimulai. Suplemen khusus akan dicampurkan dalam diet harian mulai hari ke-30.
Tujuan: Memastikan regenerasi sel maksimal agar subjek tetap dalam kondisi fisik puncak selama mungkin.
Gadis itu, dalam beberapa detik terpaku, diam bak patung mencerna apa yang didepannya. Ia benar-benar sudah menyadari bahwa obsesi Axel telah melampaui batas kewarasan manusia normal. Axel tidak hanya ingin memiliki tubuhnya, ia ingin memiliki eksistensi biologis Sesilia selamanya. Namun, alih-alih merasa takut seperti sebelumnya, Sesilia merasakan dorongan untuk mempelajari sistem ini. Jika Axel menggunakan sains untuk mengurungnya, ia akan menggunakan sains untuk memahami Axel, laki-laki yang mencintainya itu.
Malam harinya, Axel pulang lebih awal. Ia menemukan Sesilia sedang membaca jurnal di ruang kerja laboratorium barunya. Axel mendekat, melepaskan dasinya dan melemparkannya ke atas meja steril.
"Bagaimana dengan mainan barumu?" tanya Axel, berdiri di belakang gadisnya, tangannya mengelus leher jenjang itu.
Sesilia tidak bergeming. Ia memutar kursinya, menatap Axel dengan berani. "Ini luar biasa, X. Tapi ada sesuatu yang kurang.”
"Apa?"
"Sentuhan manusia. Terlalu banyak sentuhan robotik didalamnya. Dan itu membuatku merasa bosan. Aku butuh sentuhan manusia, X!”
Pria itu menyipitkan matanya. Mmenangkap tantangan dalam suara milik gadis itu. Tanpa aba-aba, ia menarik sang gadis berdiri, menekannya pada meja laboratorium yang dingin.
"Kau ingin sentuhan manusia, sayangku? Aku bisa memberimu lebih dari itu.” Jawaban Axel bernada sensual.
Detik berikutnya, ciuman panas diberikannya pada gadis yang meminta lebih banyak sentuhan manusia. Kali ini, sang gadis juga membalas dengan intensitas yang sama. Beberapa kali berciuman dengan lelaki ini membuatnya sedikit lebih pintar.
Dalam dekapan monster kesayangannya yang posesif, Sesilia bisa merasakan denyut jantung pria itu. Jantung yang berdetak hanya untuknya seorang. Tidak ada wanita lain.
"Kau adalah candu, Sayangku," bisik Axel di antara napasnya yang memburu. "Dan aku adalah satu-satunya rehabilitasi yang akan terus mengobatimu."
…
Di luar apartemen mereka, dunia mulai bereaksi terhadap stabilitas baru pasangan Steel. Rival bisnis Axel, Julian Vane, sedang duduk di sebuah klub eksklusif, menatap foto Sesilia dan Axel di tabletnya.
"Dia sudah menyerah," ucap seorang asisten Julian. "Dia tidak lagi mencoba lari."
Julian tersenyum licik. "Tidak, dia tidak menyerah. Dia sedang beradaptasi. Dan wanita yang sedang beradaptasi adalah wanita yang sedang mencari celah. Axel Steel mungkin merasa dia telah menang, tapi dia lupa satu hal, bahwa predator yang paling
berbahaya adalah predator yang paling dekat dengan jantungmu."
bau bau bucin😍😄