Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 31
"Aku mengerti sayang! Semuanya gak akan mudah, jadi kita akan hadapi semuanya sama-sama!" Ujar Darren menenangkan calon istrinya
Ia tahu tak akan mudah, Darren akan berusaha lebih keras lagi untuk mendekatkan dirinya pada calon anak sambungnya itu
"Coba aja kamu deketin cewek yang.." Ucapan Reya terhenti saat Darren meletakkan jari telunjuknya pada bibir ranumnya
"Aku hanya mencintai kamu, aku gak pernah berpikir untuk mencintai wanita lain, Reya"
Reya terharu, cairan bening perlahan turun membasahi pipinya yang dengan cepat diusap okeh Darren
Reya tak pernah menyangka jika cinta yang Darren miliki untuknya begitu besarnya hingga pria itu rela menunggu sepuluh tahun lamanya
"Aku cinta kamu Darren!" Reya memeluk sang kekasih, Darren mengusap punggung kekasihnya dengan lembut
"Kita akan yakinkan Arlo! Aku akan berusaha lebih keras lagi agar dia mau menerima aku sebagai ayahnya!"
Reya kian menyandarkan kepalanya didada bidang pria itu, tempat yang menurutnya begitu nyaman saat ini
***
"Arlo!" Setelah Darren pamit, Reya menghampiri sang putra dikamarnya. Arlo tengah merajuk dan saat ini bocah tampan itu tengah mengurung diri di kamarnya
Arlo tak menyahut, putra Reya itu bahkan membelakangi ibunya
"Mama boleh masuk?"
Karena tak ada jawaban, Reya masuk dan duduk disisi tempat tidur tepat dibelakang putranya
"Arlo marah sama mama?" Tanya Reya dengan suara lembut
"Arlo gak mau punya papa yang lain!"
Reya menghela napasnya, ia mencoba mencari kata yang tepat untuk mengatakan semua pada putranya
"Memangnya om Darren kenapa? Kok Arlo gak suka?" Tanya Reya
Arlo berbalik, ia duduk berhadapan langsung dengan sang Mama
"Emangnya papa kemana sih mah? Udah lama banget loh papa gak pulang kerumah. Emangnya Papa gak sayang lagi yaa sama kita?"
Reya diam, dirinya tak tahu harus menjawab seperti apa? Selama ini memang Reya dan Reyhan tetap menjadi orang tua yang baik didepan Arlo
"Papa sekarang punya rumah sendiri sayang"
"Kenapa? Emangnya papa gak mau tinggal disini lagi?" Tanya Arlo lagi
"Mama sama Papa itu sudah bercerai!" Jawab Reya pada akhirnya, entah Arlo akan mengerti atau tidak, tapi Reya benar-benar kehabisan kata-kata
"Bercerai itu apa?"
"Itu artinya, Mama sama Papa sudah berpisah, jadi Papa gak bisa lagi tinggal sama kita!" Reya menjelaskan semuanya
"Seperti orang tuanya Jason?" Tanya Arlo yang menyamakan cerita sang Mama dengan kisah temannya
"Memangnya Jason kenapa?"
"Mami sama Papi nya Jason sudah bercerai, jadi Jason punya dua papa sama dua mama, Mama baru nya Jason jahat, dia suka marah sama Jason kalau Jason main"
Reya mendengarkan semua cerita anaknya itu dengan baik
"Arlo gak mau jadi seperti Jason, Arlo gak mau dipukul" bocah tampan itu menunduk
Reya mengusap kepala putranya dengan lembut "Jadi, Arlo takut kalau om Darren akan pukul Arlo?"
Dengan polosnya Arlo mengangguk "Apa menurut Arlo om Darren orang yang jahat?"
Arlo menggeleng, Reya tersenyum ia peluk putranya itu dengan erat "Kalau Arlo gak suka sama om Darren ya udah, Mama gak akan menikah sama om Darren!"
"Arlo sayang sama om Darren, tapi Arlo juga sayang sama Papa"
"Mama ngerti sayang, Sekarang Arlo tidur yaa!"
Reya membantu menyelimuti putranya, wanita cantik itu mengusap kepala Arlo hingga terlelap
Reya larut dalam lamunannya, ternyata tak mudah baginya untuk kembali menata hidupnya yang sempat hancur
Arlo adalah hal yang paling berharga untuknya, jika selamanya ia tak mendapatkan cinta, memangnya kenapa?
Asalkan Arlo terus bersamanya maka dunianya akan baik-baik saja. Setelah ini Reya akan bicara dengan Darren
Membiarkan pria itu mencari cinta yang lain, yang tidak memiliki seorang anak laki-laki agar tak ada yang menolaknya
"Maafkan aku Darren"
***
Darren datang kerumah Reya, misi nya adalah mengambil hati putra dari kekasihnya
Darren datang dengan beberapa paperbag ditangannya, Darren membeli banyak hadiah untuk bocah itu
"Darren?" Lirih Reya begitu ia membuka pintu
"Selamat pagi sayang!"
"Selamat pagi!" Reya membawa pandangannya pada paperbag yang ada ditangan kekasihnya itu "Ini apa Darren?"
"Hadiah untuk Arlo" ujar Darren dengan wajah tersenyum
"Darren kamu gak perlu melakukan semua ini! Mungkin memang kita"
"Dimana Arlo?" Darren sengaja memotong ucapan kekasihnya itu, jika terus dibiarkan Reya pasti memintanya untuk mencari wanita lain dan Darren tak mau
"Didalam"
Tanpa menunggu lagi, Darren melangkah masuk, ia tersenyum begitu melihat Arlo tengah bermain dengan pengasuhnya di ruang tengah rumah itu
"Hay Arlo!" Sapa Darren
Bocah tampan itu menatap kearah pria yang baru saja tiba
Darren mendekat, duduk dihadapan bocah laki-laki itu dan meletakkan semua barang bawaannya didepan Arlo membuat bocah tampan itu tersenyum
"Ini apa om?" Tanyanya, Darren tersenyum, setidaknya Arlo mau bicara lagi padanya
"Ini semua punya Arlo, om sengaja beliin biar Arlo bisa pilih"
Darren membantu mengeluarkan semua isinya, seperti anak-anak biasanya, Arlo gembira bahkan ia lupa jika tengah marah
Deretan mainan itu membuat mata bocah tampan itu berbinar, ia sampai bingung harus memilih yang mana dulu
"Ini semua untuk Arlo?"
Darren mengangguk "Tentu saja"
Arlo bangkit, ia peluk pria dihadapannya dengan erat. Tangan mungilnya melingkar di leher Darren membuat pria itu tersenyum
"Terima kasih om Darren!"
"Sama-sama sayang!" Darren tersenyum kearah Reya yang berdiri tak jauh dari sana
Arlo melepas pelukannya, sekarang ia sibuk dengan berbagai jenis mainan yang ada dihadapannya
***
Setelah menemani Arlo bermain, Darren pamit pada kekasihnya. Kini keduanya berada diruang tamu sementara Arlo berada dikamarnya
"Terima kasih yaa, kamu bahkan melakukan semua ini demi mendapatkan kepercayaan dari Arlo"
Reya merasa jika Darren berlebihan, mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk mendapatkan restu dari putranya
"Walaupun bukan karena kita, aku akan tetap memberikan hadiah untuk Arlo!"
Keduanya tersenyum, Darren menarik kekasihnya lalu keduanya berpelukan. Reya merasa nyaman dalam dekapan sang kekasih
Tiba-tiba saja pintu terbuka, menampilkan Reyhan yang berdiri mematung didepan pintu
Mungkin Reyhan merasa masih memiliki hak dirumah ini hingga pria itu tak mengetuk pintu
Sepasang kekasih itu tampak kaku, pelukan keduanya terlepas lalu Reyhan melangkah masuk
"Aku ganggu kalian?" Tanyanya takut-takut, harusnya ia tak perlu bertanya karena memang dirinya mengganggu
"Enggak kok, ada apa Rey?" Tanya Reya
Wanita cantik itu menormalkan lagi detak jantungnya, wajahnya bersemu merah karena malu tertangkap basah oleh mantan suaminya itu
"Aku kesini mau ketemu Arlo, aku mau pamit sama dia" jawab Reyhan sembari menatap lekat wajah cantik Reya
Reya mengerutkan keningnya "Pamit? Memangnya kamu mau kemana?"