Karena kemurkaan sang ayah, Khanza harus menjadi dokter relawan di daerah perbatasan. Tapi bukan Khanza namanya kalau tidak mengacau, apalagi dia dikelilingi tentara-tentara tampan dan seksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellestinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Whoaah.." mulut gue tidak bisa berhenti mengagumi, "Ini kita di New Zealand, Pak?"
Pletak.
Aduh, jidat gue kena lagi. Heran sama si bapak, hobi banget nyentil jidat lebar gue. Gue sumpahin lo jatuh cinta sama gue Pak.
"Ya kali cuma jalan dari desa ke sini tiba-tiba nyampe New Zealand" cibirnya. Kendra melanjutkan, "Ini namanya Fulan Fehan. Tepatnya di kaki Gunung Lakaan. Tuh, gunung-gunung yang keliatan di sana itu udah punya Timor Leste."
"Woaahh.. gunungnya gedhe ya, Pak. Bapak suka nggak kalau gunungnya gedhe?"
"Namanya gunung ya gedhe"
"Liat tuh pak. Kawanan burungnya pada terbang. Gilaak.. warnanya cantik-cantik banget"
"Binatang endemik di sini memang kebanyakan berwarna cerah. Khas satwa bumi bagian selatan. Mirip-mirip sama yang di Austalia"
"Kenapa burungnya pada terbang ke gunung sih pak?"
"Ya mana gue tau. Gue kan bukan burung"
"Emang ya, yang namanya burung itu suka nemplok di gunung-gunung. Kalau burungya bapak suka nemplok di gunung juga nggak?"
Dengan nada kesal Kendra menjawab, "Nggak, burung gue belum pernah keluar sangkar" setelah itu dia melenggang pergi meninggalkan gue.
Idih si bapak.. gitu aja ngambek.
Buru-buru Kendra gue susul, "Ya elah bapak... jangan ngambek dong. Becanda doang"
"Nggak lucu"
"Iya..iya.. maaf deh. Lucu gitu kalau lagi ngambek. Bibirnya kayak bebek"
"Bukannya lo yang bibirnya kayak bebek kalau lagi ngambek?"
"Iya emang. Kok bapak ikut-ikutan sih? Awas lho pak, ntar naksir"
"Eh, lo mau nyoba naik kuda nggak?" si bapak mengalihkan pembicaraan.
"Mau dong. Bapak yang jadi kudanya ya"
"Nggak jadi"
"Eh eh eh... ngambek lagi. Iya deh, gue serius sekarang. Emang kuda di sini boleh dinaikin?"
"Boleh lah. Gue kenal sama yang punya. Ntar gue bilang"
"Ada yang punya toh? Kirain kuda liar"
"Beberapa emang ada yang punya. Tapi dibiarkan lepas di alam bebas. Pemiliknya tetap memantau, baru kalau udah musim panen nanti mereka dimasukkan ke kandang buat di perah"
"Di perah? Susunya?"
"Ya masak batangnya? Mau dapet apa?"
"O iya ya. Yang diiklan-iklan itu ya? Susu kuda liar yang katanya bisa bikin laki jreng"
"Nggak cuma itu juga kali khasiatnya"
"Bapak udah pernah minum?"
"Udah. Kenapa?"
"Nanti minum lagi dong Pak. Kan gue penasaran bisa bikin jreng beneran apa enggak"
"Belum produksi" jawab si bapak ketus sebelum melenggang pergi.
Tuh kan, gue ditinggal lagi.
"Lo pilih yang mana kudanya?" tanya si bapak sambil mengotak-atik tali kekang kuda di tangannya. Heran, habis ngilang bentar balik-balik udah bawa iketan. Duh, jadi pengen main iket-iketanan sambil kuda-kudaan.
"Emm... yang mana yaa.." gue mengedarkan pandangan ke sekitar. "Yang itu aja deh. Cantik banget. Ada bulu-bulunya lagi. Kayak kakinya bapak.. hehe"
"Kalau kaki gue mulus ntar dikira banci"
Selesai ngomong gitu Kendra langsung beraksi. Dia deketin si bulu tadi pelan-pelan. Awalnya dikasih makan. Trus dielus-elus. Habis itu langsung nurut deh si bulu sama pak tentara. Diem aja gitu dipasangin tali. Pasti si bulu jenis kelaminnya cewek nih.
😆😆😆
g sabar baca selanjutnya