Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga
Keesokan harinya.
Langit sedikit mendung siang ini. Axel duduk santai sambil mengawasi pasar saham dari balkon penthousenya yang menghadap kota. Tak lama, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Mikhasa.
"Udah siap? Kujemput ya. Share lokasi." Pesan Mikhasa masuk ke ponsel.
Axel alias Armin mengulas senyum kecil, kemudian mengirim pesan balasan.
"Biar aku aja yang jemput kamu." Agar tidak menjadi pertanyaan, dia segera menambahkan, "nanti hitung sekalian jasa sewa mobil."
Mikhasa setuju. Dia mengirim lokasi tempatnya berada.
Axel beranjak, dia segera membersihkan diri secara singkat, memakai tuksedo hitam yang jatuh pas di tubuh tegapnya, rambut disisir rapi mempertegas garis rahangnya yang tajam. Aura CEO kelas atas sungguh tak terbantahkan.
Beberapa saat kemudian, mobil mewah melaju menuju lokasi. Ke sebuah apartemen sederhana yang kontras dengan kehidupan Axel yang sesungguhnya.
Di sana, Mikhasa berdiri di lobi setelah Armin mengatakan jika ia sudah dekat. Padahal kenyataannya, mobil pria itu sudah parkir di sisi kanan gedung.
Di balik kaca gelap, Armin memperhatikan Mikhasa diam-diam. Memperhatikan bagaimana gadis itu menatap ke depan menunggunya. Bagaimana gadis itu menunduk melihat ponsel di tangannya. Lalu mengigit bibir seolah mencemaskan sesuatu.
"Ternyata memang ada yang serupa di dunia ini," gumam Armin. "Liora. Aku tahu gadis itu bukan kamu. Tapi ada sesuatu di dirinya yang mengingatkanku padamu."
Pelan, Armin keluar mobil. Melangkah ke lobi, menghampiri gadis yang berdiri menunggunya.
Mikhasa menyadari seseorang berjalan ke arahnya. Ia membawa padangan pada Armin. Seketika ia terdiam. Kelopak matanya seolah enggan untuk berkedip. Menikmati pesona setiap langkah yang terlihat penuh wibawa. Wajah tampannya berkilauan di bawah surya sore ini.
Hingga Armin telah sampai di depannya. Ia bahkan lupa caranya menyapa.
"Hai, Sayang." Armin tersenyum menyapanya lebih dulu.
Mikhasa mengangguk begitu saja seperti orang ling lung. Hingga sentuhan lembut ia rasakan di pipi. Eh Armin menyentuh pipinya? Mikhasa mengerjap.
"Hei!!" Mikha tersadar dan segera mundur satu langkah. "Kamu .... " Dia menunjuk Armin seolah tak percaya. "Kamu ...."
"Armin, pacar baru kamu, Mikha." Armin segera menyahut.
Mikhasa mengalihkan pandangan. Menarik nafas dalam. Mencoba untuk fokus dan tidak akan terpesona begitu saja pada pria tampan di depannya.
"Tadinya aku mau ngajak kamu ke salon. Buat nyewa jas dan rapiin rambut, tapi kayaknya nggak jadi," ucap Mikha.
"Kenapa nggak jadi?"
"Ya karena kamu udah sesempurna ini." Mikha menunduk, memperhatikan sepatu yang terlihat mengkilap. Laku membawa pandangannya perlahan hingga ujung kepala. "Kayak bukan kamu yang semalem," komentarnya.
"Peran ini harus totalitas dong," jawab Armin seraya merapikan ujung lengannya.
Mikhasa mengangguk setuju dan ia sungguh tidak menyesal telah menyewa Armin.
"Oh mana mobil yang kamu sewa?" Tanya Mikhasa.
"Itu." Armin menunjuk mobil mewah di sisi kanan. Dan seketika Mikhasa ingin pingsan di tempat.
"Armin!!!" Serunya panik. Lalu menatap pria itu dengan tegas. "Kamu serius?!"
Sementara Armin membalas tatapannya santai. "Datang ke pesta penghianat harus sempurna. Benar?" Katanya. "Dah, ayo." Ia mengulurkan tangan menggenggam tangan Mikhasa. Membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju tenang menuju lokasi resepsi sang mantan.
"Berapa sewa mobil ini perjam, Armin?" Tanya Mikhasa tak tenang. Jiwa miskinnya meronta-ronta membayangkan betapa mahalnya sewa mobil ini.
"Enggak tau." Armin menjawab santai.
Mata Mikhasa membelalak. "Apa!!" Dia semakin frustasi. Kayaknya tabungannya bakal terkuras habis demi bisa petentang-petenteng di nikahan mantan laknat.
Mikhasa menarik nafas dalam. "Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Harga diri nomer satu." Dia menghibur dirinya sendiri, menepuk pelan dadanya.
Sesampainya di depan gedung resepsi. Mikhasa mengeluarkan kaca dari dalam tas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. 'Menyedihkan.' teriak hatinya. Ia menyimpan kaca itu lalu mengambil nafas dalam, "Semangat, Mikha." Ia mengepalkan tangannya penuh tekad.
"Siap?" Tanya Armin.
Mikhasa menoleh ke arahnya dan mengangguk. "Siap."
Mereka keluar mobil. Armin menawarkan tangannya.
"Nggak sekarang gandengannya, Armin," ucap Mikhasa enggan. Dia menatap telapak tangan Armin yang mengulur di depannya.
"Halah, kelamaan," jawab Armin santai. Ia menyambar tangan Mikhasa tanpa permisi. Menggenggamnya erat.
"Hei!" Mikhasa protes tapi Armin lebih dulu membawanya melangkah masuk ke dalam gedung.
"Gadis cantik begini, bahaya kalau jalan sendirian. Takut dikira bidadari nyasar nggak tau jalan," bisik Armin jenaka.
Mikha tertawa kecil merasa terhibur. Ini sedikit mengurangi rasa cemasnya yang akan berhadapan langsung dengan dua penghianat.
"Tapi kayaknya emang bakal nyasar sih," sahut Mikha dengan gurauan.
"Oh ya?!"
"Nyasarnya di hati kamu... Hahhaaa."
Armin ikut tertawa. Menatap gadis di sampingnya.
"Aku terima dengan lapang dada, Sayang," jawabnya. Entah kenapa, melihat tawa Mikhasa, ia seolah memiliki perasaan bahagia yang sama. Seperti dulu saat ia bersama Liora.