Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Kila larut dalam sujudnya di sepertiga malam, seuntai doa terus dia panjatkan sepanjang malam, doa yang selalu dia ucapkan dengan linangan air mata, dengan penuh kesungguhan, mengharap belas kasih sang pencipta, membuka hati orang tercinta menuju hidayah.
Tiada do'a yang terabaikan, hanya saja ada yang di segerakan dan ada yang di tangguhkan, dan sesungguhnya allah memberi apa yang kita butuh, bukan apa yang kita mau, Kila berharap allah mengabulkan do'anya.
Hingga usai subuh barulah Kila beranjak dari ruang Sholat, membangunkan suaminya agar bersiap berangkat kekantor.
"Mas, bangun" Kila mengguncang tubuh Rico pelan. perlahan Rico membuka matanya menatap Kila yang sudah duduk di sampingnya dengan wajah yang sudah terlihat segar.
"Sudah selesai Sholat sayang" tanya Rico dengan suara serak.
"Iya sudah mas, mas bangunlah, biar aku siapin air mandi untuk mas" ujar Kila beranjak bangkit menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya.
Rico keluar dari kamar mandi dengan rambut terlihat basah, sisa-sisa air masih terlihat menempel di tubuhnya, membuat tubuh kekarnya tampak seksi di mata Kila, manik mata Kila menatapnya berbinar-binar.
"Jangan menatapku begitu sayang, apa kau ingin ku beri pekerjaan ekstra pagi ini" tegur Rico yang menyadari tatapan Kila mengandung sesuatu.
"Aku hanya menikmati pemandangan mas, emang gak boleh" ujar Kila tersipu malu.
"Tentu saja boleh sayang, hanya saja aku takut tak mampu nenahan gairahku karena ulah mu" ujar Rico.
"Abaikan saja mas, anggap gak liat" ujar Kila.
"Mana mungkin bisa mengabaikan mu sayang" Ujar Rico memeluk tubuh Kila.
"Mas, pakai bajumu dulu, jangan sampai aku yang tak mampu menahan gairahku" seloro Kila, berusaha melepas pelukan Rico yang malah memeluknya semakin erat.
"Baguslah kalau memang itu yang terjadi" ujarnya , seraya memberi kecupan lembut di puncak kepala Kila.
"Sudah, Ahh" elak Kila melepas diri dari Rico, Rico mengalah melepas pelukannya, kemudian memakai baju dinasnya.
"Sayang, siang nanti jadwal mu cek kandungan bukan" tanya Rico di sela kesibukannya mengenakan bajunya.
"Iya mas, Aku pergi dengan Nana saja kalau mas sibuk" ujar Kila, menatap suaminya mengenakan pakainya sambil duduk di tepi ranjang.
"Dengan aku saja nanti sayang, sebisa mungkin aku luangkan waktu" ujar Rico.
"Baiklah aku tunggu ya mas"
"Iya sayang, mari sarapan" ajak Rico, menggandeng tubuh Kila, yang mulai sedikit mengalami kenaikan berat badan.
Di meja makan sudah terhidang berbagai menu yang cukup untuk makan sepuluh orang lebih, terkadang Kila merasa heran dengan suaminya, yang meminta di buatkan berbagai menu pada juru masak, tapi dia hanya mampu menyantap beberapa saja, walau begitu Kila tak berani protes, dia cukup memastikan makanan tidak boleh terbuang sia-sia, Kila meminta pelayan memberikan makanan berlebih pada yang membutuhkan, agar tidak mubazir.
Kila menyendok nasi ke piring suaminya, baru kemudian ke piringnnya, Kila memang tak mengalami ngidam pada kehamilannya, mual di pagi haripun hanya sebentar dia alamami.
Mereka makan penuh keheningan, Rico tidak suka ribut saat makan, dia akan begitu menikmati, kunyahan demi kunyahan hingga selesai makan.
Kila berjalan mengiring langkah suaminya menuju mobil, Rico menghentikan langkahnya sesaat, memberi kecupan lembut di puncak kepala Kila yang tertutupi oleh jilbab panjangnya.
"Aku pergi sayang" ujar Rico menatap lembut wajah istrinya.
"Iya hati-hati mas" ujar Kila lemah lembut.
"Iya sayang" ujar Rico, kembali memdaratkan kecupan lembutnya, kemudian meninggalkan kila menuju kantornya.
Sepeninggal Rico, Kila meminta Nana menemuinya di taman belalang, ada hal penting yang ingin dia bahas dengan Nana.
"Duduklah" ujar Kila saat Nana tiba di hadapannya.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya" tanya Nana.
"Mbak, aku mau buat pengajian, di kampung sebelah, buat ibu-ibu" tutur Kila menyampaikan keinginannya.
"Kampung sebelah..?" tanya Nana heran, sebab setau dia kampung sebelah adalah perumahan kumuh tak layak huni, yang berbatas tembok tinggi dengan perumahan elit milik mereka.
"Iya mbak" sahut Kila.
"Memang nyonya ada kenal dengan warga di sana" tanya Nana. Kila menggeleng.
"Itu sebabnya aku minta bantuan mbak Nana, aku mbak menghubungi Rt, Rw, sampaikan bahwa kita mau bagi-bagi sembako, yang di adakan beserta pengajian" jelas Kila.
"Ooo baiklah kalau begitu, kapan saya bisa menemui mereka nyonya," ujar Nana, setuju dengan usul Kila.
"Sekarang mbak," sahut Kila antusias.
"Lho bukannya ini jadwal nyonya cek kandungan.?"
"Tuan yang temani aku mbak, jadi mbak bisa pergi hari ini" sahut Kila,
"Ooo baiklah kalau begitu, saya bersiap dulu nyonya" ujar Nana beranjak bangkit dari duduknya.
"Minta datanya yang akurat mbak, kita mulai satu Rt terdekat dengan perbatasan kita dulu" usul Kila.
"Baik nyonya" ujarnya seraya beranjak pergi.
Sepeninggal Nana, Kila teringat kemarin siang dia memutuskan mencari angin segar, dengan berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Saat itulah dia tak sengaja mendengar percakapan seorang pemulung yang sengaja di bawa masuk ke rumah kila oleh orang suruhan Kila, sebab pemulung di larang masuk perumahan mereka, saat mereka membagikan nasi beserta lauk pauk untuk di bagikan kembali pada teman-taman si pemulung.
Nenek berusia enam puluh tahun itu masih terlihat kuat dan sehat.
"Jarang -jarang loh ada panggilan kerumah gedongan begini" ujarnya saat menyusun beberapa bungkus nasi dan buah segar dari pelayan Kila.
"Iya nyonya kami ini orangnya taat agama walau masih muda belia, hobinya bersedekah" puji pelayan itu tanpa tau nyonyanya tengah menguping pembicaraan mereka.
"Beruntung ya dia, kaya, baik, taat agama, aku sudah setua ini, yang namanya sholat gak pernah aku kerjakan" keluhnya sedih.
"Kalau aku masih ngerjain, walau bolong-bolong, tapi semenjak nyonya buat peraturan wajib, ya gak pernah tinggal sholat sekarang" curhat si pelayan.
"Sebenernya aku juga mau sholat gak tinggal, tapi nyari makannya kayak gini, kalau gak kerja sehari ya gak makan, orang kerja sehari gak cukup untuk makan sehari, gak pernah ngerjain sholat matinya entah jadi apa besok" keluhnya sedih.
"Di sempet-sempetin nek" ujar pelayan itu memberi saran.
"Iya juga sih, tapi lingkungannya kayak gitu, gak ada yang mikir akhirat, tiap hari mikir makan aja, mushola aja gak pernah tau azan, biar magrib, biar shubuh" keluhnya lagi.
Obrolan yang membuat Kila kembali berpikir keras, apa gunanya pesantren melahirkan orang-orang berilmu agama, kalau orang seperti mereka tak tersentuh, inilah jihad sesungguhnya meluruskan aqidah, membawa manusia kembali taat, jihad dengan ilmu yang di miliki, jihad dengan harta yang di punyai.berbagi ilmu, berbagi harta, bagi insan seperti mereka.
Hal itulah yang membuat Kila memiliki ide, membuat pengajian, dengan iming-iming sembako, mereka tak kan tertarik kalau hanya pengajian biasa, sebab pemahaman mereka belum di tahap itu.
***
Kila sudah bersiap saat Rico menjemputnya untuk cek kandungan.
"Sudah siap sayang" tanya Rico saat menemui Kila di kamar.
"Sudah mas" sahut Kila. Kila tampak begitu cantik dengan gaun Syar'i
"Kau terlihat cantik, dan seksi sayang" puji Rico pada penampilan Kila.
"Dimana seksinya, aku bahkan menutup seluruh tubuhku, beda dengan sekertaris mas, yang terbuka di sana sini, kalau mas bilang dia seksi aku percaya" ujar Kila bebau sindiran.
"Kau memang beda sayang, itu sebabnya aku menjadikanmu istri, bukan sekertaris" ujar Rico membalas sindiran istrinya.
"Yakin seperti itu" ujar Kila dengan menaikan alisnya sebelah.
"Menapa mengujiku dengan hal seperti itu, dengar sayang aku memilihmu karena aku menginginkan mu, dimataku kau tetap wanita seksi walau kau menutup seluruh tubuhmu, aku bisa melihatnya dengan hatiku, paham wanita seksiku" ujar Rico, yang mengakhiri kalimatnya dengan membuat gerakan Kilat, mengecup lembut bibir merah Kila.
"Mas" protes Kila.
"Iya, iya ayo sayang" ujarnya menggandeng jemari Kila keluar kamar. Kila mengikuti langkah Rico dengan bergelayut manja di lengannya.
.
.
Happy reading.
Tingalin dukungannya ya sayang, like and komen agar Author semangat Up 🙏🙏🥰