NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Bersama

Di dalam ruang rawat inap yang sempit dan pengap itu, waktu seakan melambat. Suara kipas angin tua yang berputar di langit-langit menjadi satu-satunya pengisi keheningan di antara ibu dan anak itu.

Rian duduk di tepi ranjang besi, menggenggam tangan ibunya yang kini terasa kasar dan kurus, tangan yang dulu selalu dihiasi cincin berlian dan jam tangan mahal.

Bocah itu menatap mata ibunya lekat-lekat, mencoba menembus kabut kebencian yang selama puluhan tahun menutupi hati wanita yang melahirkannya.

"Ma..." suara Rian bergetar, namun penuh kedewasaan yang melampaui usianya. "Mama tau nggak? Tadi di parkiran, kak Tamara dorong Rian. Dia maki-maki Rian, tapi kak Putri... dia yang peluk Rian. Dia yang lindungi Rian."

Anggun memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap anaknya. Rahangnya mengeras, emosinya tertahan.

"Ma, tolong dengerin Rian sekali aja." Rian meremas pelan tangan mamanya. "Kak Putri baik, Ma. Sangat baik malah. Jauh lebih baik dari kak Tamara yang ninggalin Mama sendirian di sini."

Anggun diam, namun napasnya mulai memburu.

"Selama ini kak Putri yang tulus sama Rian, Ma. Dia nggak pernah dendam walaupun Mama sering marahin dia. Dia yang antar Rian ke sini karena dia tau Rian kangen Mama."

Air mata Rian menetes, jatuh tepat di punggung tangan Anggun.

"Rian memang terlahir dari rahim yang berbeda dengan kak Putri. Rian anak Mama, dan kak Putri anak Ibu Laras. Tapi kita satu ayah, Ma," ucap Rian lirih, menusuk tepat di jantung ego Anggun. "Ikatan ini begitu dekat dan darah papa mengalir di tubuh kami berdua. Kita satu wali, Ma. Nggak ada yang bisa mutusin ikatan itu."

Untuk sedetik, bahu Anggun bergetar. Kalimat polos namun tajam dari anak bungsunya itu seolah palu godam yang menghantam benteng pertahanannya.

Ada secercah rasa malu yang menyelinap. Malu karena anak kecil itu lebih paham arti persaudaraan daripada dirinya.

Malu karena ia sadar, di saat ia terpuruk sakit, putri kandung yang ia agung-agungkan (Tamara) entah berada di mana, sementara anak tiri yang ia benci setengah mati justru mengantar Rian padanya.

Mata Anggun berkaca-kaca. Hatinya nyaris luluh, hampir saja ia ingin berbalik dan memeluk Rian, mengakui bahwa ia lelah membenci.

Namun, bayangan masa lalu kembali menari. Bayangan wajah Laras, ibu Putri. Wanita yang merebut perhatian Brahma, bayangan Putri yang kini hidup mewah di rumah Devan sementara dirinya terbaring di bangsal kelas dua. Rasa iri dan sakit hati karena kehilangan status sosialnya kembali membakar nuraninya lebih parah.

Anggun tidak ingin mengakui dirinya juga salah, egonya terlalu besar untuk itu.

Anggun menarik tangannya dengan hentakan kasar dari genggaman Rian.

"CUKUP!" bentak Anggun parau.

Rian tersentak kaget. "Ma?"

Anggun menoleh, menatap Rian dengan sorot mata yang kembali dingin dan keras, lebih keras dari sebelumnya. Air mata yang tadi sempat menggenang, kini kering seketika oleh api amarah.

"Jangan pernah sebut nama anak sialan itu di depan mama!" desis Anggun tajam.

"Tapi Ma, itu fakt—"

"Fakta apa?!" potong Anggun histeris. Ia menunjuk dadanya sendiri. "Faktanya adalah dia anak dari perempuan yang menghancurkan hidup mama! Faktanya, dia hidup enak di atas penderitaan mama! Kamu pikir karena dia kasih kamu mainan, dia orang baik? Dia itu ular, Rian! Dia mau rebut kamu dari mama!"

Anggun mencengkeram bahu Rian, kuku-kukunya menekan kulit anaknya.

"Kamu sudah dicuci otaknya sama dia, hah?! Kamu lupa siapa yang melahirkan kamu?! Mama yang sakit-sakitan mengandung kamu, bukan dia! Kenapa kamu malah bela musuh mama?!"

"Rian nggak bela musuh, Ma! Rian cuma mau Mama damai..." isak Rian.

"Damai?" Anggun tertawa sumbang, tawa yang terdengar menyedihkan. "Nggak akan pernah ada damai antara mama dan keturunan perempuan itu sampai mama mati, Rian. Ingat itu!"

Anggun mendorong Rian pelan agar menjauh. Ia kembali membangun tembok tebal itu. Kali ini, ia, kali ini lebih tebal dari sebelumnya. Ia mengunci rapat pintu hatinya, Anggun sudah tidak ingin mendengar apapun yang bersangkutan dengan Putri.

"Pulang kamu," usir Anggun dingin, memunggungi anaknya. "Kembalilah ke istana kakak tirimu yang suci itu. Jangan datang ke sini lagi kalau cuma mau jadi juru bicara dia. Mama lebih baik mati sendirian dimakan penyakit daripada harus menerima belas kasihan dari anak haram itu."

"Ma..."

"KELUAR!" teriak Anggun, melempar bantal ke arah pintu.

Rian mundur dengan hati hancur berkeping-keping. Ia menyadari, kebencian ibunya sudah menjadi penyakit yang lebih parah daripada sakit fisiknya, penyakit yang tidak ada obatnya.

Dengan langkah gontai, Rian keluar dari kamar rawat inap itu.

Di lorong, Putri yang melihat Rian keluar dengan wajah sembab langsung berdiri. Tanpa bertanya, Putri tahu jawabannya. Ia segera merentangkan tangan, dan Rian berlari memeluk kakaknya, ia menangis tersedu-sedu di sana.

"Mama nggak mau denger, Kak. Mama benci Kakak..." adu Rian pilu.

Putri mengusap punggung adiknya, menatap pintu kamar rawat tersebut.

"Nggak apa-apa, Yan. Kita sudah berusaha," bisik Putri, mencium puncak kepala Rian. "Tugas kita mendoakan. Hati manusia itu milik Allah, biar Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia. Yang penting, Rian jangan pernah benci mama ya."

Di dalam kamar, Anggun mendekap wajahnya dengan kedua tangan, menangis dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri.

Ia menangis bukan karena menyesal, tapi karena ia sadar... ia baru saja membuang satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya demi sebuah kebencian yang sia-sia.

***

Halaman belakang rumah Devan malam itu tidak lagi sepi. Lampu-lampu hias kecil berwarna kuning hangat, terpasang melintang di atas taman, menciptakan suasana yang romantis.

Aroma sedap dari ikan kakap merah dan ayam yang dibakar di atas arang menguar ke udara, bercampur dengan wangi jagung manis yang diolesi mentega.

"Mas! Itu ikannya jangan dikipasin terus, nanti bumbunya kering!" seru Putri dari duduknya di kursi taman yang empuk.

Devan, yang mengenakan apron masak bergambar superhero (hadiah iseng dari Rian), menoleh dengan wajah belepotan arang sedikit di pipi.

"Ini teknik slow cooking, sayang. Biar matangnya meresap sampai ke tulang," elak Devan sok tau, dan matanya sudah perih kena asap.

"Halah, slow cooking apaan," celetuk Arga yang sedang sibuk menusuk sosis di samping Devan. "Itu mah lo aja yang nggak bisa bedain mana ikan mana areng. Lihat tuh, buntutnya udah gosong, Van!"

"Berisik lo, Ga. Mending lo urusin sosis lo itu, jangan sampe Nindi ilfeel lihat lo nggak becus masak," balas Devan sengit, tapi sambil tertawa.

Di meja makan taman, Nindi sedang membantu menata piring bersama pak Brahma. Suasana benar-benar cair. Tidak ada lagi ketegangan bisnis atau wibawa kaku dari pak Brahma malam ini, beliau hanya seorang kakek yang sedang menikmati masa tuanya.

"Arga emang gitu, Pak," adu Nindi pada pak Brahma sambil terkekeh. "Kemarin dia mau masak mie instan aja, airnya lupa dimasukin dan pancinya gosong."

Pak Brahma tertawa lepas, suara tawanya berat dan renyah. "Wah, kalau gitu Devan masih mendingan ya, Nin. Setidaknya Devan jago bikin kopi, walaupun dulu dia ngaku-ngaku itu buatan dia padahal buatan Putri."

"Papa!" protes Devan, mukanya memerah malu. "Jangan buka kartu dong!"

Semua orang tertawa, termasuk Rian yang sedang asyik mengunyah jagung bakar sampai pipinya gembung.

"Kak Devan emang suka ngaku-ngaku, Pa," timpal Rian polos, "dulu juga bilang dia yang menang main PS lawan Rian, padahal Rian yang ngalah."

"Wah, parah lo, Van. Sama bocah SD aja curang," ledek Arga sambil menepuk bahu Devan keras-keras.

Malam itu terasa begitu sempurna, mereka makan bersama di bawah langit berbintang.

Devan dengan telaten memisahkan duri ikan untuk Putri, menyuapi istrinya dengan sabar. Nindi dan Arga yang mulai terlihat ada percikan-percikan asmara sering saling lempar ejekan, sementara pak Brahma menatap semuanya dengan mata berkaca-kaca penuh syukur.

Inilah definisi 'rumah' yang sebenarnya, bukan bangunan mewah tanpa kehangatan di dalamnya.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
What happened?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!