"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Detail Pertunangan
Meski sudah mencoba menghindarinya berkali-kali, pada dasarnya hal ini akan tetap terjadi. Hari ini adalah hari di mana Jenderal Ardan dan Putri Raventhal benar-benar mengikat pertunangan mereka secara sah dan legal. Seperti yang sudah disepakati, acara ini digelar secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat.
Kate yang sedang berjalan menuju ruangan utama kapel tempat acara berlangsung sontak membelalakkan mata. Ia menatap sesosok manusia yang sebenarnya sama sekali tidak ada di daftar undangan. Gadis itu langsung menoleh dan berbisik cepat pada Rhea.
"Rhea," bisik Kate sembari memberi kode agar sang dayang mendekat.
Rhea menurut, memiringkan kepalanya agar telinganya berada tepat di dekat mulut majikannya.
"Kenapa ada Raja Henry di sini? Bukannya acaranya cuma ada aku, Ayah, dan Sal?" bisik Kate tajam.
Rhea melirik ke arah pandang sang Putri. Memang benar, di sana Raja Henry sudah duduk tenang di kursi kebesaran yang disiapkan, tampak siap menonton pertunjukan pertunangan yang menurutnya akan sangat menghibur.
"Entahlah, Nona. Mungkin Yang Mulia sangat tertarik dengan acara pertunangan dua manusia paling unik di kerajaannya. Lagipula, Anda tentu tidak bisa mengusir beliau," jawab Rhea lempeng.
Jawaban Rhea hanya membuat Kate semakin mendengkus kesal. Sudah bukan rahasia umum kalau Raja Henry adalah penguasa yang kurang pekerjaan dan suka sekali mencari hiburan dari penderitaan orang lain.
Mengabaikan sang Raja, Kate meneruskan langkahnya mendekati altar pertunangan. Di sana, Salvatore sudah berdiri tegak dalam balutan seragam resminya. Dari cara berdirinya saja sudah begitu tegap khas seorang panglima perang. Rasanya Kate ingin sekali mengejek sikap sok keren pria itu.
"Anda tampil sangat memukau hari ini, Putri," puji Salvatore begitu Kate berdiri di sisinya.
Bukannya senang, Kate malah berdecih pelan. "Cih. Pujianmu tidak akan membuatku tiba-tiba menerima pertunangan ini dengan tulus," bisiknya ketus.
Mendengar balasan tajam itu, Salvatore hanya terkekeh pelan. Pria itu justru merasa terhibur dengan tingkah Kate yang tak pernah gagal mencairkan kecanggungannya.
Raja Henry yang melihat kedatangan sang pengantin wanita langsung menegakkan posisi duduknya. Mata tuanya berbinar jenaka, seolah baru saja mendapatkan tiket baris terdepan untuk menonton pertunjukan paling seru tahun ini.
"Ah, sang merpati galak akhirnya tiba!" cetus Raja Henry dengan suara lantang yang bergema di dalam kapel yang sunyi. "Ravental, lihat putrimu. Wajahnya ditekuk begitu rupa, seolah-olah dia sedang berjalan menuju tiang gantungan, bukan menuju pelukan jenderal terbaikku."
Duke Raventhal yang berdiri di sisi altar hanya bisa memijat pelipisnya, menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. "Mohon maklum, Yang Mulia. Putri hamba memang memiliki cara yang unik untuk mengekspresikan rasa gugupnya."
Gugup dari mana? Aku sedang menahan diri untuk tidak melempar sepatu ke wajah Jenderal batu ini! teriak Kate meradang dalam hati. Namun, di bawah tatapan tajam sang Raja, ia terpaksa mempertahankan tata krama bangsawannya yang tersisa, menekuk lututnya sedikit untuk memberikan salam hormat yang kaku.
Pendeta tua yang bertugas memimpin upacara berdeham kecil, mencoba mencairkan ketegangan di antara kedua calon mempelai.
Upacara pertunangan tertutup itu pun dimulai. Prosedurnya sebenarnya singkat—hanya pembacaan sumpah pertunangan, penandatanganan dokumen legal kerajaan, dan pertukaran cincin sebagai simbol pengikat.
Namun bagi Kate, setiap detik terasa seperti siksaan panjang. Terutama ketika Salvatore melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka. Aroma maskulin yang khas—campuran aroma kayu cendana dan samar-samar wangi sabun yang bersih—langsung menyerbu indra penciuman Kate, membuatnya mendadak kehilangan fokus. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan seragam formal hitam berhias sulaman emas murni, sangat selaras dengan Kate yang mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud.
"Jenderal Salvatore Ardan," ucap pendeta tua dengan suara berat berwibawa. "Apakah Anda bersedia mengikat janji suci, menjaga, dan menghormati Putri Katherine Raventhal sebagai tunangan sah Anda, serta menyerahkan seluruh kesetiaan Anda padanya?"
"Saya bersedia," jawab Salvatore tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya yang bariton terdengar mantap, bergema dengan keyakinan yang membuat bulu kuduk Kate meremang.
Pendeta kemudian beralih pada Kate. "Putri Katherine Ravental, apakah Anda bersedia menerima Jenderal Salvatore Ardan sebagai tunangan sah Anda, mendampinginya dengan kesetiaan, dan menjaga kehormatan hubungan ini?"
Kate terdiam. Lidahnya mendadak terasa kelu. Ia melirik ke arah ayahnya yang menatap dengan pandangan penuh peringatan, lalu melirik ke arah Raja Henry yang menopang dagu dengan senyum lebar yang sangat menyebalkan. Terakhir, matanya bersitatap dengan manik mata elang milik Salvatore. Pria itu menatapnya dalam, seolah mengunci seluruh ruang geraknya.
Sial, kenapa dadaku mendadak sesak begini? Ini pasti gara-gara Rhea mengikat tali korset gaun ini terlalu kencang! tuduh Kate dalam hati, mencari kambing hitam atas debaran jantungnya yang tidak tahu diri.
"Putri Katherine?" ulang pendeta, mengira sang putri tidak mendengar.
Kate menarik napas sedalam yang ia bisa, lalu mendongak angkuh. "Ya. Saya... bersedia," ucapnya dengan nada sekaku papan kayu, seolah kata-kata itu ditarik paksa dari tenggorokannya menggunakan tang besi.
Raja Henry langsung bertepuk tangan heboh sendirian, memecah kesakralan ruangan. "Luar biasa! Cepat tanda tangani dokumennya sebelum Putri Raventhal berubah pikiran dan melompat keluar jendela!"
Sesi berikutnya adalah penandatanganan dokumen bermaterai emas kerajaan. Salvatore mengambil pena bulu terlebih dahulu, menggoreskan tanda tangannya dengan gerakan cepat dan tegas khas seorang militer.
Ketika giliran Kate tiba, tangannya sedikit gemetar. Bukan karena terharu, melainkan karena ia sadar bahwa begitu tinta ini kering, statusnya resmi menjadi milik pria berbadan benteng di sebelahnya ini. Dengan hati yang menjerit pilu, Kate menorehkan tanda tangannya.
"Sekarang, pertukaran cincin," titah pendeta.
Salvatore meraih tangan kanan Kate. Kulit tangan Sal yang sedikit kapalan karena terlalu sering memegang gagang pedang terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit porselen Kate. Salvatore menyelipkan sebuah cincin emas bermata berlian hitam yang memesona ke jari manis Kate. Ukurannya pas, sangat sempurna.
Kini giliran Kate. Ia mengambil cincin perak polos yang berukuran jauh lebih besar dari kotaknya. Dengan sisa-sisa dendam dari insiden teh garam semalam, Kate mencengkeram jari manis Salvatore dan mendorong cincin itu dengan tenaga ekstra, berharap pria itu setidaknya meringis kesakitan.
Sret!
Cincin itu masuk dengan mulus. Salvatore bahkan tidak berkedip. Ia justru menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Kate yang dihiasi anting zamrud.
"Tenaga Anda cukup kuat untuk seorang calon pengantin wanita, Putri. Saya terkesan," bisik Salvatore dengan nada geli yang tertahan.
Kate melotot, giginya bergelutuk jengkel. "Itu baru permulaan, Jenderal. Bersiaplah untuk malam-malam penuh teror setelah ini."
"Saya selalu menyukai tantangan taktis di malam hari," balas Salvatore tenang, kembali menegakkan posisinya dengan wajah datar andalannya sebelum orang lain menyadari interaksi mereka.
Setelah upacara dinyatakan selesai, Raja Henry bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati pasangan baru itu. "Selamat, Salvatore. Kau akhirnya berhasil menjinakkan singa betina Ravental. Dan untukmu, Katherine, sebagai hadiah pertunangan dari kerajaan, aku akan memastikan seluruh koki istana mengirimkan stok garam terbaik ke kediaman kalian kelak."
Mendengar kata 'garam', Kate langsung tersentak. Wajahnya memerah padam. Bagaimana bisa Raja tahu tentang insiden teh garam semalam? Ia langsung melempar tatapan menuduh ke arah belakang, di mana Rhea berdiri tegap dengan wajah tanpa dosa.
Merasa ditatap dengan intensitas yang sanggup membakar pakaian, Rhea melangkah maju satu tapak, membungkuk sedikit di belakang Kate, lalu berbisik dengan nada polos nan realistis. "Jangan menatap saya begitu, Nona. Saya tidak membocorkannya pada Yang Mulia Raja. Saya hanya menceritakannya pada kepala pelayan istana, yang kebetulan adalah sepupu dari penasihat spiritual Raja, yang kebetulan sedang sarapan bersama Raja pagi ini. Itu namanya rantai informasi logistik yang efisien, bukan pengkhianatan."
Kate memejamkan mata erat-erat, tangannya mengepal kuat di sisi gaunnya. "Rhea... setelah ini, kau benar-benar akan jadi dayang pertama yang dideportasi ke peternakan babi di ujung utara."
"Peternakan babi terdengar tenang, Nona. Paling tidak, babi-babi di sana tidak akan menyuruh saya mengencangkan korset secara mendadak atau memaksa saya membaca daftar hitam untuk menculik kuda tempur," balas Rhea santai, sama sekali tidak terintimidasi.
Salvatore yang mendengar samar-samar perdebatan dayang dan majikannya itu menyembunyikan senyum di balik kepalan tangan sembari berpura-pura batuk. Hari pertunangan yang seharusnya penuh dengan ketegangan politik dan formalitas kaku itu ditutup dengan kepastian satu hal: kehidupan pernikahan Salvatore Ardan tidak akan pernah berjalan membosankan selama Katherine Raventhal dan dayang ajaibnya ada di sekitarnya.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗