NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunci Penthouse, Pindah Rumah, dan Ruang Ganti Nona Pengacara

Dua bulan setelah malam Gala Dinner yang sukses besar itu, ritme kerja di PT Campus Relay perlahan mulai menemukan keseimbangannya. Valuasi perusahaan meroket, dan Lu Feng kini tidak perlu lagi tidur di sofa kantor atau begadang setiap hari memikirkan gaji karyawan.

Sore itu, di hari Jumat yang cukup lengang, Lin Xiao sedang membereskan meja kerjanya. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Ia merapikan beberapa map ke dalam laci, berniat pulang lebih awal untuk beristirahat di apartemen kecil mereka.

Tiba-tiba, pintu ruang kaca Kepala Legal terbuka.

Lu Feng masuk dengan gaya santai andalannya. Pria itu sudah melepas dasinya, kancing kerah kemejanya terbuka dua, dan ia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu sambil melipat tangan di dada.

"Udah selesai beres-beresnya, Ibu Pengacara?" sapa Lu Feng, senyum miringnya terbentuk sempurna.

Lin Xiao menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Sudah. Tumben sekali kamu selesai sebelum jam enam? Biasanya hari Jumat kamu selalu ada rapat evaluasi dengan tim operasional."

"Gue geser ke hari Senin," jawab Lu Feng enteng. Ia berjalan mendekat, meraih tas kerja Lin Xiao dari atas meja, dan menggandeng tangan wanita itu. "Sore ini gue mau nyulik lo lagi. Ada tempat yang harus kita datengin sebelum makan malam."

"Ke mana? Kalau kamu membawaku ke tempat pertemuan bisnis dadakan tanpa memberitahuku, aku akan benar-benar menggigitmu, Lu Feng," ancam Lin Xiao, meski ia membiarkan Lu Feng menarik tangannya keluar dari ruangan.

Lu Feng hanya tertawa pelan. "Tenang aja, nggak ada urusan bisnis malam ini. Cuma urusan kita berdua."

Mereka turun ke tempat parkir bawah tanah. Lu Feng membukakan pintu mobil SUV hitamnya untuk Lin Xiao, lalu melajukan kendaraan itu membelah jalanan Beijing yang mulai padat oleh jam pulang kerja.

Mobil itu tidak melaju ke arah apartemen lama mereka, melainkan mengarah ke distrik Chaoyang, tepatnya ke sebuah kompleks residensial elit dengan menara-menara pencakar langit yang mewah. Pengamanan di gerbang masuknya sangat ketat, namun penjaga langsung membungkuk hormat dan membukakan palang saat melihat pelat nomor mobil Lu Feng.

Lin Xiao menatap ke luar jendela dengan kening berkerut. "Lu Feng, ini kompleks apartemen Tianyu. Salah satu kawasan elit dengan harga properti paling tidak masuk akal di Beijing. Siapa yang mau kita temui di sini? Klien VVIP?"

Lu Feng tidak menjawab. Ia memarkirkan mobilnya di area VIP "basement", mematikan mesin, lalu menoleh menatap Lin Xiao dengan sorot mata yang penuh teka-teki.

"Turun, Yang," ucap Lu Feng, melepaskan sabuk pengamannya.

Lin Xiao mengikuti pria itu dalam diam, langkahnya bergema di lantai "basement" yang mengkilap. Mereka masuk ke dalam lift khusus yang berdinding kaca, dan Lu Feng menempelkan sebuah kartu akses hitam ke panel lift, menekan tombol lantai paling atas. Lantai 45.

Lift melesat naik tanpa suara. Pemandangan kota Beijing yang sedang diselimuti cahaya senja berwarna jingga keemasan terlihat luar biasa indah dari balik kaca lift.

Ting!

Pintu lift terbuka, langsung mengarah ke sebuah "foyer" atau ruang depan pribadi. Tidak ada pintu apartemen lain di lantai itu. Ini adalah sebuah "penthouse".

Lu Feng berjalan ke depan pintu kayu jati berukuran besar, lalu menoleh ke arah Lin Xiao yang masih berdiri mematung di dekat lift.

"Sini," panggil Lu Feng lembut, mengulurkan tangannya.

Lin Xiao berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk. Ia menatap pintu besar itu, lalu menatap Lu Feng. "Lu Feng... jangan bilang..."

Lu Feng merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kunci elektronik berbentuk kartu, dan menyelipkannya ke telapak tangan Lin Xiao. Ia menuntun tangan wanita itu untuk menempelkan kartu tersebut ke panel sensor pintu.

Klik. Bunyi kunci terbuka terdengar manis di udara yang hening.

"Buka pintunya, Xiao," bisik Lu Feng di telinga Lin Xiao.

Dengan tangan sedikit gemetar, Lin Xiao menekan gagang pintu dan mendorongnya ke dalam.

Napas Lin Xiao tercekat. Matanya membelalak tak percaya.

Ruangan di balik pintu itu luar biasa luas, mungkin lima atau enam kali lipat dari ukuran apartemen lama mereka. Lantainya terbuat dari marmer berkualitas tinggi. Jendela kaca setinggi langit-langit membentang di sepanjang dinding ruang tamu, menyajikan panorama 360 derajat kota Beijing dari atas awan.

Interiornya didominasi warna abu-abu, putih, dan kayu gelap, sangat elegan dan modern, persis seperti selera mereka berdua. Sebuah sofa besar berbentuk L berwarna abu-abu muda terletak di tengah ruangan, menghadap ke televisi raksasa.

"Lu Feng... ini..." Lin Xiao tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Suaranya hilang ditelan keterkejutan.

Lu Feng melingkarkan lengannya di pinggang Lin Xiao dari belakang, menaruh dagunya di bahu wanita itu.

"Selamat datang di rumah baru kita, Nona Pengacara," bisik Lu Feng, suaranya dipenuhi kebanggaan yang absolut. "Gue resmi beli tempat ini minggu lalu. Atas nama kita berdua."

Lin Xiao berbalik, menatap pria di depannya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu membelinya? Sebuah penthouse di Tianyu? Ya Tuhan, Lu Feng, ini pasti harganya puluhan juta yuan! Kenapa kamu menghabiskan uang sebanyak itu tanpa berdiskusi denganku?!"

Kebiasaan mengomel Lin Xiao tidak hilang, namun kali ini omelannya diiringi oleh air mata haru yang mulai menetes.

Lu Feng tertawa pelan, menghapus air mata di pipi Lin Xiao dengan ibu jarinya. "Duit perusahaan makin muter, Xiao. Dan gue udah janji sama diri gue sendiri, kalau kita udah stabil, hal pertama yang harus gue lakuin adalah ngeluarin lo dari apartemen sempit itu."

Lu Feng menarik tangan Lin Xiao, mengajaknya berkeliling.

"Gue tau lo selalu ngeluh soal dapur kita yang sempit kalau lagi mau masak akhir pekan," Lu Feng menunjuk ke area dapur bersih dengan meja "island" marmer yang luas dan peralatan memasak paling modern. "Sekarang lo bisa masak sambil ngeliatin lampu kota."

Kemudian, Lu Feng menuntun Lin Xiao menyusuri lorong yang luas, membuka sebuah pintu ganda di ujungnya. Itu adalah kamar utama, sangat luas dengan kasur berukuran "king size". Tapi bukan itu yang membuat Lu Feng tersenyum penuh arti.

Pria itu membuka sebuah pintu geser di dalam kamar tersebut.

Lampu otomatis menyala, menerangi sebuah "walk-in closet" atau ruang ganti pakaian yang besarnya menyamai ukuran apartemen pertama mereka! Lemari-lemari kaca berderet rapi hingga menyentuh langit-langit, meja rias yang sangat elegan dengan pencahayaan profesional, dan cermin besar di setiap sudut.

Lin Xiao menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.

"Kepala Legal gue sekarang jabatannya udah tinggi. Sering masuk majalah bisnis, sering nemenin gue ketemu orang penting," ucap Lu Feng, berdiri bersandar di kusen pintu ruang ganti itu. "Gue nggak mau liat jas-jas mahal lo dan gaun-gaun lo kusut karena digantung desak-desakan. Mulai sekarang, lo punya seluruh ruangan ini buat nyimpen perlengkapan perang lo."

Lin Xiao menatap ruang ganti itu, lalu berlari memeluk Lu Feng dengan sangat erat. Tangisnya akhirnya pecah. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, meremas kemejanya.

"Kamu ini benar-benar gila," isak Lin Xiao bahagia. "Kamu selalu saja melakukan hal-hal yang membuatku tidak bisa tidak mencintaimu lebih dari hari kemarin."

Lu Feng membalas pelukan itu dengan sangat erat, mengecup puncak kepala Lin Xiao berulang kali. "Itu tujuannya. Biar lo makin bucin sama gue dan nggak kepikiran buat ninggalin gue."

Mereka berpelukan cukup lama di dalam "penthouse" yang masih kosong dari barang-barang pribadi mereka itu, hanya diisi oleh kehangatan dan rasa syukur yang tak terhingga.

Lu Feng akhirnya melepaskan pelukannya, menunduk menatap wajah Lin Xiao yang memerah karena menangis. Ia tersenyum miring, senyum khas berandal yang tidak pernah benar-benar hilang dari dirinya.

"Jadi, kapan kita mulai pindahan?" tanya Lu Feng santai. "Karena gue pribadi udah nggak sabar pengen nyobain kasur baru kita yang ukurannya dua kali lebih gede dari kasur lantai kita yang lama."

Lin Xiao langsung memukul dada Lu Feng dengan cukup keras, membuat pria itu pura-pura mengaduh kesakitan. Rona merah di wajah Lin Xiao kini bukan hanya karena menangis, tapi karena pikiran kotor bos besarnya itu.

"Isi kepalamu itu benar-benar harus disucikan dengan buku hukum perdata, Lu Feng!" omel Lin Xiao, membuang muka untuk menyembunyikan senyumnya.

"Hukum gue aja, Yang. Gue rela," kekeh Lu Feng, kembali menarik Lin Xiao ke dalam pelukannya, menikmati pemandangan kota Beijing dari jendela "penthouse" baru mereka.

Malam itu, di lantai 45 menara elit Tianyu, mereka berdua merayakan sebuah langkah baru. Dari sebuah meja reyot di kelas 11-3 SMA Mingde, hingga ke puncak tertinggi kota Beijing. Mereka membuktikan bahwa sekeras apa pun dunia mencoba menekan mereka, selama mereka memiliki satu sama lain, tidak ada langit yang terlalu tinggi untuk dicapai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!