Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-7
..."Gadis kebersihan tadi... siapa nama lengkapnya?"
Di balik meja kerjanya yang berada tepat di luar ruangan, Sekretaris Rian sempat terpaku selama beberapa detik. Gagang telepon yang digenggamnya terasa dingin.
Sejak bekerja menjadi asisten orang nomor satu di Mahardika Group selama empat tahun terakhir, Rian belum pernah sekalipun mendengar Tuan Mahrup menanyakan identitas seorang staf bawahan terlebih seorang office girl yang baru bekerja setengah hari.
"N-nama lengkapnya Hazelia Verlita Putri, Tuan," jawab Rian sigap, berusaha menata keterkejutannya agar nadanya tetap terdengar formal.
"Dia baru direkrut kemarin oleh bagian HRD untuk mengisi posisi staf kebersihan lantai dasar dan gilir area eksekutif."
Di dalam ruangannya, Mahrup terdiam sejenak. Jemari tangannya yang mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca mendadak terhenti.
Hazelia Verlita Putri.
Nama itu bergema pelan di dalam pikirannya. Terasa pas dengan kepribadian gadis itu yang riang, bebas, dan seakan tidak tersentuh oleh beban ketegangan di gedung megah ini.
"Minta bagian HRD mengirimkan salinan berkas lamaran kerjanya ke email saya," perintah Mahrup datar, berusaha menutupi rasa ingin tahunya yang sebenarnya melonjak drastis.
"Saya perlu memastikan seluruh staf yang memegang akses lantai eksekutif memiliki latar belakang yang bersih."
"Baik, Tuan Mahrup. Segera saya proses," balas Rian patuh sebelum sambungan telepon terputus.
Mahrup menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang empuk. Ia menatap ke luar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pencakar langit Jakarta.
Tatapan matanya yang biasa dingin kini meredup, menyimpan gejolak penasaran yang asing bagi dirinya sendiri.
Sementara itu, di lantai bawah, ruang pantry pusat sedang riuh oleh gelak tawa. Hazel yang baru saja kembali dari gilirannya di lantai dua belas melompat duduk di atas salah satu kursi bar sembari memegang segelas es teh manis buatan Vita.
"Aduh, Mbak Vita! Hazel tuh tadi benar-benar uji nyali!" seru Hazel heboh, matanya berbinar-binar penuh ekspresi.
Tangannya memeragakan adegan secara dramatis di udara. "Beneran deh, Tuan CEO kalian itu gila... ganteng banget! Mukanya kayak dilukis, rahangnya tegas, terus baunya itu lho... harum wangi kayu mahal yang bikin hidung Hazel mendadak kembang kempis!"
Vita yang sedang menyapu sudut meja langsung tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Halah! Tadi pagi ngomongnya manusia kulkas dua pintu! Sekarang malah dipuji-puji sampai langit ke tujuh! Ketemu langsung kan kamu akhirnya?"
"Bukan cuma ketemu, Mbak!" celoteh Hazel tanpa beban, ketengilannya makin menjadi-jadi.
"Hazel tadi hampir ajak Tuan CEO-nya melantai gara-gara kepeleset! Untung ditangkap... kalau enggak, muka cantik Hazel ini sudah rata sama karpet!"
Akbar yang baru masuk membawa spons pembersih mendadak menghentikan langkahnya. Dadanya terasa agak sesak melihat betapa antusiasnya Hazel menceritakan momen bersamanya dengan sang CEO. Namun, Akbar hanya tersenyum tipis dan memilih diam di sudut ruangan.
Di sudut lain pantry, Luna yang sejak tadi menyimak perbincangan itu menaruh cangkir keramiknya dengan hentakan pelan. Matanya menyipit tajam menatap Hazel dengan pendar kecemburuan yang membakar.
Bagi Luna, fakta bahwa Hazel seorang budak baru yang dekil dan tidak tahu tata krama bisa bersentuhan langsung dan mencuri perhatian Tuan Mahrup adalah hal yang sangat tidak adil. Luna yang selama ini memoles penampilannya sedemikian rupa dengan barang bermerek imitasi demi memikat pandangan para manajer, merasa kesempatan emasnya sedang disrobot oleh cewek ingusan.
"Nggak usah kegenitan deh, Hazel," potong Luna dingin dengan nada suara menyindir.
"Tuan Mahrup itu standar pilihan wanitanya setinggi langit. Kamu jangan mimpi disebandingkan sama beliau cuma gara-gara kamu ceroboh dan kepeleset di depan lift."
Hazel menoleh, lalu menyeringai lebar tanpa tersinggung sedikit pun.
"Lho, Mbak Luna, Hazel kan cuma bilang Tuan CEO ganteng dan wangi, enggak bilang mau ngajak nikah besok! Tapi serius deh, Mbak... kalau Mbak Luna yang kepeleset tadi, mungkin Tuan CEO langsung terpesona sama gaya anggunnya Mbak Luna!"
Luna mendengus, berpaling dari Hazel. Namun di dalam hatinya, sebuah niat licik mulai bertunas. Jika seorang office girl polos seperti Hazel saja bisa mengetuk pintu lantai eksekutif, maka dirinya yang berpenampilan jauh lebih menarik pasti bisa berbuat lebih dari itu.
Luna bertekad, besok ia yang harus mengambil alih jadwal giliran kebersihan di lantai dua belas demi menunjukkan pesonanya pada sang CEO secara langsung.
Tanpa mereka semua ketahui, di ruang kerjanya yang megah, Mahrup baru saja membuka berkas PDF lamaran kerja Hazelia.
Mata sang CEO terpaku pada selembar foto formal berlatar merah milik Hazel, sebelum pandangannya bergeser ke bawah,pada kolom catatan pribadi yang melampirkan sebuah berkas khusus yang tidak diperhatikan orang lain.