NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Bayang-Bayang di Dasar Air dan Keputusan yang Menyayat Hati

Derasnya arus sungai yang mengalir menuju wilayah perbatasan tidak mampu menenangkan badai kecemasan di dalam dada Jin So Hwa.

Setelah kilasan memori horor itu memercik di tepi sungai hutan, ia tidak bisa lagi tinggal diam dalam ketidaktahuan. Demi memastikan kebenaran mutlak apakah dirinya benar-benar sesosok monster pembunuh bernama Nara, Jin So Hwa nekat melompat ke atas sebuah perahu kayu kecil.

Sendirian, ia mendayung perahu tersebut menyusuri aliran air yang membelah bukit, menuju ke satu tempat yang terus berdengung di mimpinya: Dahyangguk.

Dan benar saja, begitu perahunya merapat di tepian wilayah Dahyangguk yang sunyi, atmosfer masa kecil yang familier seketika menyergap panca inderanya. Setiap jengkal tanah, embusan angin, hingga lambaian daun dari pohon besar di kejauhan seolah menarik paksa seluruh tabir amnesianya. Runtunan ingatan masa lalu bergulir dengan teramat jelas dan benderang di depan matanya.

Saking masifnya luapan energi ingatan tersebut, kesadaran Jin So Hwa perlahan limbung hingga ia jatuh terpejam ke dalam alam bawah sadarnya.

Namun, di dalam ruang hampa yang gelap di batinnya, ia tidak sendirian. Dari balik secercah cahaya keperakan, sesosok wanita dengan gaun putih anggun melangkah mendekat. Wajah wanita itu sangat mirip dengannya, namun memancarkan aura ketenangan yang sakral.

Dialah jiwa Jin So Hwa yang asli. Sang pemilik sah dari raga yang kini ia tempati.

Jiwa Jin So Hwa asli menatapnya dengan tatapan mata yang penuh rasa iba, namun sarat akan kepastian takdir yang kejam. Ia melangkah mendekat, lalu menjelaskan seluruh kebenaran yang selama tiga tahun ini disembunyikan oleh dunia.

"Waktumu sudah tidak banyak, Nara," ucap jiwa asli itu, suaranya bergema lembut namun menusuk batin.

"Setiap kali ingatan masa lalumu kembali, itu adalah tanda bahwa energi spiritual murni di dalam tubuh ini sedang memulihkan dirinya sendiri. Dan ketahuilah... jika seluruh kekuatanku sebagai keturunan murni Jinyowon telah pulih seutuhnya, maka kesadaranku akan terbangun, dan jiwamu yang menumpang di raga ini akan terkikis, menghilang, dan musnah selamanya dari dunia fana."

Wussh!

Jin So Hwa tersentak bangun di atas perahunya dengan napas yang memburu dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

Sepulangnya dari perjalanan batin yang teramat mengerikan di Dahyangguk tersebut, jiwa Jin So Hwa dirundung oleh rasa duka dan kesedihan yang teramat mendalam hingga membuatnya menangis tersedu-sedu di sepanjang jalan pulang.

Kini, ia tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan pahit. Rasa perih yang luar biasa menghantam dadanya saat ia menyadari sebuah fakta yang teramat kejam—bahwa ialah yang ternyata selama ini telah melukai Han Seol dengan cara yang paling biadab.

Baik itu luka luar yang teramat mengerikan akibat tusukan pedang dinginnya di altar tiga tahun lalu, ataupun luka batin yang teramat dalam karena telah meninggalkan Han Seol dalam kubang duka dengan cara yang sangat menyakitkan.

“Bagaimana bisa aku hidup di dekatnya... sementara tanganku adalah tangan yang pernah menghancurkan dunianya?” ratap So Hwa dalam hati, meremas jemarinya yang gemetar menahan sesak.

Beberapa saat kemudian, perahu kecilnya kembali merapat di dermaga sunyi dekat pinggiran kota. Begitu ia melangkah naik ke daratan dengan jubah yang kusut dan mata yang sembap, sesosok jubah hitam pekat mendadak melangkah keluar dari balik pepohonan.

Itu Han Seol. Pria itu rupanya telah mencarinya ke mana-mana dengan rasa cemas yang luar biasa sejak So Hwa menghilang dari hutan tumpukan batu tadi siang.

Han Seol melangkah mendekat, sepasang mata dinginnya menyiratkan kelegaan yang samar saat melihat istrinya dalam keadaan utuh. Tanpa basa-basi, ia langsung mengulurkan tangan kanannya, berniat untuk menggandeng jemari So Hwa.

"Dari mana saja kau? Hutan sedang tidak aman. Ayo, kita pulang sekarang," ajak Han Seol dengan nada suara yang sedikit melunak dari biasanya.

Namun, di luar dugaan Han Seol, Jin So Hwa justru menarik tangannya mundur dengan cepat, menghindari sentuhan kulit mereka seolah-olah tangan Han Seol adalah bara api yang membakar.

Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, menolak untuk menatap lurus ke dalam manik mata pria yang teramat dicintainya itu. Rasa bersalah yang teramat raksasa kini telah menjelma menjadi dinding pembatas yang tebal di antara mereka.

"Aku tidak bisa pulang bersamamu ke rumah itu lagi, Han Seol," ucap Jin So Hwa dengan suara yang serak dan bergetar menahan tangis.

Ia mundur dua langkah, memperlebar jarak di antara mereka. "Aku... aku telah mengambil keputusan. Aku lebih memilih untuk kembali dan tinggal di dalam benteng Jinyowon mulai malam ini."

Melihat penolakan yang teramat tiba-tiba dan drastis tersebut, Han Seol seketika terpaku membeku di tempatnya berdiri. Alisnya bertaut rapat, dan rahangnya mengeras karena didera rasa bingung sekaligus terkejut yang luar biasa hebat melanda benaknya. Pria pemilik Bintang Kerajaan itu benar-benar tidak habis pikir.

Bagaimana mungkin, mereka baru saja mengikat janji cinta sejati dan saling berbagi ciuman mesra di bawah kabut malam kemarin, namun sekarang, tanpa alasan yang jelas, Jin So Hwa tiba-tiba bersikap sedingin es dan memilih untuk meninggalkannya kembali ke pelukan Jinyowon?

Han Seol hanya bisa berdiri mematung dalam keheningan dermaga, menatap punggung Jin So Hwa yang berjalan pergi menjauh menembus kegelapan, tanpa tahu bahwa wanita itu sedang melangkah pergi demi melindungi hatinya dari bayang-bayang dosa masa lalu mereka yang siap meledak kapan saja.

****

Fajar keesokan harinya menyingsing dengan warna abu-abu keperakan, menyelimuti Kota Niskala dalam suasana yang teramat sunyi dan dingin.

Sesuai dengan perintah mutlak dari Raja Go Haneul yang tidak bisa diganggu gugat lagi, Han Seol akhirnya berdiri di gerbang luar padepokan dengan pakaian zirah lengkap.

Hari ini, ia harus bersiap-siap untuk melaksanakan tugas barunya, yaitu pergi jauh meninggalkan ibukota menuju Kota Pertahanan Utara sebagai seorang Jenderal Agung.

Meskipun ia melangkah dengan kegagahan seorang panglima, suasana hati Han Seol saat itu sedang dirundung gundah gulana yang teramat luar biasa. Bayangan penolakan dingin Jin So Hwa di dermaga malam lalu terus berputar, mencabik-cabik fokus batinnya.

Namun, demi menjaga kedamaian negara dan menghormati hukum takhta, dengan berat hati ia pun terpaksa berangkat memacu kudanya.

Han Seol pergi membelah kabut pagi, meninggalkan kekasih yang mendadak menjauh, teman-teman seperjuangan, serta Do Kwang—satu-satunya sanak saudara yang ia miliki di dunia ini.

****

Klak... klak... klak...

Derap langkah sepatu bot bergeser di atas lantai batu benteng Jinyowon, memutus keheningan setelah kepindahan Han Seol ke utara. Tepat setelah memastikan bahwa sang Penyihir Agung pemilik Batu Es telah berada jauh di luar batas kota, Jin Wu langsung bergerak cepat tanpa membuang waktu satu detik pun untuk mengeksekusi rencana besarnya yang selama ini tertunda.

Langkah pertama yang paling krusial bagi Jin Wu adalah mendapatkan artefak magis terpenting yang akan digunakan sebagai jangkar utama dalam Ritual Gyeongcheon—yaitu telur burung api Hwajo.

Dengan kawalan pasukan Cheonbugwan, Jin Wu melangkah masuk menerobos aula utama Jinyowon. Di hadapan Jin Hwa Young yang menatapnya dengan pandangan murka, Jin Wu berdiri tegak tanpa menyembunyikan sedikit pun kelicikan di wajahnya.

"Nyonya Jin," ucap Jin Wu, suaranya terdengar begitu lantang dan penuh penekanan di dalam aula yang sepi.

"Hamba datang ke sini secara terang-terangan untuk meminta Anda menyerahkan artefak Hwajo dari ruang pusaka dalam Jinyowon kepada Cheonbugwan saat ini juga."

Jin Hwa Young langsung bangkit dari kursi kebesarannya, energinya bergejolak hebat. "Beraninya kau melangkah sejauh ini, Jin Wu! Hwajo adalah pusaka sakral keturunan murni Jin. Tempatnya adalah di sini!'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!