NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Puncak Lentera

Jian Chen sudah sebelas hari duduk bersila di Puncak Lentera. Ia berada di tengah lingkaran batu seluas dua belas langkah, menghadap sebuah lentera batu setinggi dada orang dewasa. Lentera itu lebih tua daripada Sekte Pedang Fajar, lebih tua daripada catatan mana pun di perpustakaan sekte. Sumbunya sudah lama menjadi abu, dan tidak ada orang yang pernah melihatnya menyala.

Dari tepi puncak, atap-atap sekte di bawah tampak sebesar kancing baju. Kabut menutupi lereng sampai separuh gunung. Hari itu angin berhenti sejak subuh, dan itu sendiri sudah tidak biasa di tempat setinggi ini.

Tubuh Jian Chen sudah berada di Setengah Dewa puncak selama tiga tahun. Selama itu ia terhenti di depan satu dinding yang tidak bisa ditembus dengan latihan biasa. Pagi ini dinding itu terasa lebih tipis. Napas Langit di sekitar puncak berputar lebih rapat dari biasanya, dan bulu di lengannya berdiri.

Langkah kaki terdengar di tangga batu. Jian Chen tidak membuka mata. Ia sudah hafal bunyi sepatu itu.

"Kau belum makan sejak kemarin," kata Shen Yu. Ia meletakkan mangkuk bubur di atas batu datar di sisi lingkaran. "Aku tidak mau menyeret tubuhmu turun gunung kalau kau pingsan di tengah terobosan."

"Terobosan tidak membuat orang pingsan," jawab Jian Chen. "Paling-paling muntah darah."

"Itu lebih buruk." Shen Yu tertawa pendek. "Ye Ran, bilang padanya itu lebih buruk."

Ye Ran berdiri di anak tangga terakhir, dua langkah di belakang Shen Yu. Usianya tiga puluh dua, tetapi ia masih berdiri seperti murid yang takut salah menjawab. "Lebih buruk, Guru," katanya pelan.

Jian Chen akhirnya membuka mata dan menatap muridnya. "Formasi penutup?"

"Sudah kupasang ulang sejak subuh, Guru. Tidak ada yang bisa naik sampai Anda selesai." Ye Ran menelan ludah. "Zhao Feng juga menjaga kaki gunung dengan dua puluh murid dalam."

"Kau memeriksanya sendiri?" tanya Jian Chen.

"Dua kali."

"Bagus." Jian Chen mengambil mangkuk itu dan makan beberapa suap. Buburnya hambar. Sama persis dengan bubur yang dulu dibawakan orang yang sama, ketika ia masih murid luar yang tidak sanggup mengangkat pedang kayu tanpa gemetar. "Kau masih memasaknya tanpa garam."

"Dua puluh tahun kau tidak pernah protes," sahut Shen Yu.

"Aku protes tiap kali. Kau saja yang tidak mendengar."

Shen Yu berjalan mengitari lingkaran batu, lalu berhenti di dekat lentera. Ia berdiri di sana lebih lama daripada yang diperlukan, kedua tangannya terkatup di belakang punggung. Jian Chen memperhatikannya sebentar, tetapi tidak berkata apa-apa.

"Kalau berhasil," kata Shen Yu akhirnya, "apa yang pertama kau lakukan?"

"Turun dan tidur tiga hari."

"Itu saja?"

"Lalu mencari tahu kenapa lentera ini tidak pernah menyala," kata Jian Chen. "Setiap kali aku menyerap Napas Langit di sini, batunya menjadi hangat. Baru kali ini aku bisa merasakannya dari jarak sejauh ini."

Ye Ran menoleh ke lentera itu. "Hangat, Guru?"

"Seperti batu yang ditaruh dekat api."

"Mungkin hanya pengaruh qi Anda," ujar Shen Yu. Suaranya tetap ramah, tetapi ia tidak menoleh ke arah Jian Chen ketika mengatakannya. "Lanjutkan saja. Aku tidak mau jadi alasan kau terlambat."

Ye Ran maju setengah langkah. "Guru, kalau Anda sudah menjadi Dewa, apakah Anda masih mau mengajar saya?"

"Kau pikir aku akan berhenti?" tanya Jian Chen.

"Kata orang, Dewa tidak punya waktu untuk murid."

"Kata orang juga bubur tanpa garam itu sehat," balas Jian Chen. "Jangan percaya semua yang orang katakan. Sekarang kalian berdua turun sampai ujung tangga. Kalau terjadi sesuatu pada..."

"Kalau terjadi sesuatu, kami tidak mendekat," potong Ye Ran. "Anda sudah mengatakannya tiga kali sejak kemarin, Guru."

"Empat kali," kata Shen Yu.

"Lima, dengan yang barusan," gumam Jian Chen.

Mereka turun. Jian Chen mendengar langkah keduanya semakin jauh sampai tidak terdengar lagi. Ia menutup mata dan mulai menarik Napas Langit.

Prosesnya berjalan seperti yang ia perkirakan. Dari pusat dadanya, qi mengalir naik melewati bahu, lalu turun lagi ke perut. Ia memutarnya dua belas kali, lalu dua puluh empat kali. Pada putaran ketiga puluh enam, dinding yang menahannya selama tiga tahun retak. Retakannya kecil. Ia menekan lagi.

Terdengar bunyi berdesis dari depannya. Jian Chen membuka mata sedikit. Sumbu lentera batu itu, yang selama ini hanya abu, mengeluarkan api putih sebesar kuku ibu jari.

"Siapa yang menyalakan itu?" gumamnya.

Tidak ada jawaban. Tidak ada orang lain di dalam lingkaran. Ia mencoba menghentikan putaran qi supaya bisa berdiri, tetapi retakan di dinding itu sudah terbuka separuh. Kalau ia berhenti sekarang, intinya akan pecah.

Langkah kaki terdengar lagi di tangga. Pelan. Ada dua orang.

"Aku sudah bilang jangan naik," kata Jian Chen tanpa menoleh. Suaranya serak. "Pergi. Sekarang."

Tidak ada yang menjawab. Langkah itu terus mendekat sampai berhenti tepat di belakangnya.

Sesuatu yang dingin menembus punggungnya, di antara tulang rusuk kiri, dan keluar dari depan dadanya. Bilah itu lewat begitu saja melalui lapisan qi pelindungnya yang sedang terbuka karena terobosan. Ia belum sempat merasakan sakit. Yang pertama terasa adalah tenaganya bocor keluar lewat luka itu.

Ia memaksa kepalanya menoleh. Dua sosok berdiri di belakangnya. Pandangannya sudah buram oleh darah dan cahaya putih dari lentera, tetapi itu bukan satu-satunya sebab. Setiap kali ia mencoba melihat wajah orang yang memegang gagang pedang itu, wajah itu tidak mau terbentuk. Ia hanya melihat tinggi badan, bahu, dan tangan yang gemetar.

"Maafkan aku," kata sosok pertama. Suaranya pecah, dan nadanya tidak seperti suara siapa pun yang ia ingat.

"Cepat selesaikan," kata sosok kedua. "Lenteranya sudah menyala."

"Kenapa?" Jian Chen terbatuk, dan darah menetes ke batu. "Aku mempercayai kalian."

"Aku tahu," jawab sosok pertama.

Bilah itu ditarik keluar. Jian Chen jatuh bertumpu pada satu tangan. Qi yang tadi ia putar berantakan, setengah mengalir ke lukanya, setengah tertarik ke arah lentera. Api putih itu membesar, dan ia merasakan sesuatu di dalam dadanya ikut ditarik ke sana, seperti benang yang ditarik dari kain.

'Aku mengenal mereka,' pikir Jian Chen. 'Aku pasti mengenal mereka.'

"Jangan lihat, Guru," kata sosok kedua dengan suara bergetar.

Kata itu membuat tangannya melemas. Ia mencoba sekali lagi menatap wajah di depannya, tetapi cahaya putih sudah memenuhi seluruh puncak. Dinding yang tadi retak separuh itu terasa hanya tinggal selapis tipis. 'Satu lapis lagi,' pikirnya. 'Hanya satu lapis lagi.'

Lantai batu menjadi dingin di pipinya. Suara di sekelilingnya mengecil, lalu hilang, dan cahaya itu membawa seluruh tubuhnya pergi.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!