NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Berdarah dan Kenangan Sang Permaisuri

​Atmosfer di dalam kemah utama Lembah Angin Barat terasa pekat. Cahaya obor bergoyang ditiup angin malam, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding kain kemah. Di atas meja kayu besar, sebuah peta kulit bergambar denah Istana Kerajaan Timur dan benteng perbatasan terbentang luas, tertindih oleh batu-batu penanda posisi pasukan.

​Jenderal Gu menancapkan belati kecil di titik tengah peta, raut wajahnya yang penuh bekas luka tampak teramat serius.

​"Pangeran, Raja..." ujar Jenderal Gu, suaranya berat dan menggelegar pelan. "Intelijen kita yang menyusup ke ibu kota membawakan kabar krusial. Zhao Feng tidak bertindak sendirian. Di samping sang pengkhianat, terdapat dua orang kepercayaan yang menjadi benteng utamanya. Keduanya adalah kultivator iblis tingkat tua yang telah mencapai Ranah Inti Jiwa Puncak (Peak Soul Core)."

​Kata-kata Jenderal Gu membuat udara di dalam kemah terasa kian menghimpit.

​Ketimpangan kekuatan mereka sangat mencolok. Di pihak perlawanan, hanya Hu Jin seorang yang telah menembus Ranah Inti Jiwa Puncak. Sementara Raja Hu Yan dan Jenderal Gu sendiri baru pulih dan berada di ranah di bawahnya. Bertarung secara ceroboh sama saja menyerahkan leher ke pedang musuh.

​Raja Hu Yan mengepalkan tangannya di atas meja, matanya memancarkan kecemasan mendalam. Namun, Hu Jin yang berdiri menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu kemah justru tetap tenang. Tangannya memilin tangkai rumput liar dengan santai, seolah bahaya yang dibicarakan barusan hanyalah embun pagi.

​"Dua Inti Jiwa Puncak..." gumam Hu Jin pelan, matanya berkilat emas tipis. "Mengalahkan musuh yang lebih kuat dari segi jumlah tidak bisa dilakukan dengan adu otot secara buta. Kita butuh strategi yang matang untuk memecah fokus mereka."

​Usai rapat koordinasi yang menguras pikiran tersebut, Hu Jin melangkah keluar kemah, berjalan menyusuri jalan setapak berkerikil menuju tepi kolam alami di celah tebing batu.

​Air kolam yang jernih memantulkan pendar rembulan. Hu Jin melepaskan topi jeraminya, duduk di atas batu pualam dingin sambil membiarkan kakinya terendam air. Matanya yang jernih menatap ke kedalaman air, menyerap keheningan malam sebelum badai perang pecah.

​Suara langkah kaki yang berat menyapu rumput kering di belakangnya. Raja Hu Yan berjalan mendekat, menyelimutkan jubah bulu hangat ke bahu putranya lalu duduk di sampingnya.

​Sang Raja menatap profil wajah Hu Jin dari samping. Ada rasa bangga yang luar biasa di dadanya, tetapi mendadak rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam menyeruak membasahi matanya.

​"Maafkan Ayah, Hu Jin..." bisik Raja Hu Yan dengan suara parau yang bergetar. "Kita baru saja bertemu kembali... tapi Ayah justru langsung menyeretmu ke dalam intrik berdarah dan bahaya perebutan kerajaan ini. Seharusnya Ayah bisa memberimu kehidupan yang tenang."

​Mendengar penyesalan sang ayah, Hu Jin menoleh. Wajah tampannya mengukir sebuah senyuman yang teramat lembut dan hangat. Ada kedewasaan dan ketegaran luar biasa di balik tatapan matanya.

​"Ayahanda berbicara seolah-olah aku ini seorang anak kecil yang mudah pecah," sahut Hu Jin, nada bicaranya teramat mirip dengan cara bicara mendiang ibunya di masa lalu. "Lagi pula, seorang laki-laki sejati tidak akan melarikan diri saat rumah dan keluarganya dihancurkan oleh pengkhianat."

​Raja Hu Yan tersentak. Gaya bicara, raut wajah, hingga nada menenangkan dari Hu Jin barusan begitu persis dengan sosok mendiang istrinya—Sang Permaisuri.

​Nostalgia masa lalu yang indah melintasi pikiran sang Raja, membuat rasa sedih di hatinya mencair seketika menjadi kehangatan yang tak ternilai.

​"Kau... kau sungguh mirip sekali dengan Ibumu, Hu Jin," ujar Raja Hu Yan terkekeh pelan, air matanya menetes namun bibirnya tertawa lebar. "Sifat keras kepala dan senyumanmu itu... benar-benar jiplakan sempurna dari dirinya."

​Hu Jin ikut tertawa renyah. "Benarkah? Ibu galak sekali ya, Ayah?"

​"Galak?!" Raja Hu Yan menepuk pahanya sendiri, matanya membelalak penuh kenangan menggelikan. "Jangan tanya lagi! Dulu, kalau Ayah terlambat pulang dari rapat kerajaan atau tidak sengaja merusakkan tanaman hiasnya, Ibumu akan berdiri di depan pintu kamar membawa tongkat kayu tebal! Raja mana di benua ini yang berani bertindak sewenang-wenang jika punya istri segalak Ibumu, hm?"

​Gelak tawa bahagia pecah di tepi kolam alami tersebut. Ayah dan anak itu saling berbagi pembicaraan hangat, tertawa bersama mengenang kehangatan keluarga yang sempat hilang belasan tahun. Di bawah pendar rembulan malam, luka masa lalu lumer, digantikan oleh ikatan batin yang kian tak tergoyahkan.

​Satu jam kemudian, Hu Jin kembali ke kemah utama bersama Raja Hu Yan. Jenderal Gu masih berdiri di depan meja taktik, menyusun ulang posisi pasukan.

​Hu Jin melangkah mendekati meja, mengambil beberapa batu penanda strategi.

​"Jenderal Gu, kita tidak bisa mengandalkan satu jalur serangan," tegas Hu Jin, matanya kembali fokus bagaikan seorang panglima perang sejati. "Kita harus menyusun taktik bertingkat tiga lapis."

​Jenderal Gu membungkuk penuh perhatian. "Mohon petunjuknya, Pangeran."

​"Rencana Pertama," papar Hu Jin sambil menggeser batu biru ke pintu gerbang luar. "Pasukan utama yang dipimpin oleh Ayahanda dan Jenderal Gu akan melancarkan serangan frontal berpola pancingan di Benteng Gerbang Luar. Buat kegaduhan besar seolah-olah seluruh kekuatan kita bertaruh di sana."

​"Rencana Kedua," lanjut Hu Jin, meletakkan batu hijau di jalur perbukitan belakang. "Saat pasukan benteng terdistraksi, tim penyusup elit akan bergerak menembus jalur rahasia Lembah Bunga Es untuk menguasai pusat Array pelindung istana. Jika Array hancur, pertahanan Zhao Feng akan runtuh dari dalam."

​Jenderal Gu mengangguk-angguk paham. "Taktik yang sangat rapat, Pangeran! Tapi... bagaimana jika kedua pakar Inti Jiwa Puncak kepercayaan Zhao Feng menyadari pancingan ini dan langsung turun tangan menghancurkan pasukan utama kita?"

​Hu Jin mengembuskan napas es tipis dari bibirnya. Tangannya melayang, menaruh satu batu hitam tepat di tengah-tengah lapangan istana.

​"Jika Rencana Pertama dan Kedua gagal..." suara Hu Jin mendadak berubah sangat dingin dan dalam. "...maka kita gunakan Rencana Ketiga."

​"Apa Rencana Ketiga itu, Pangeran?" tanya Jenderal Gu penasaran.

​Hu Jin menatap lurus ke dalam mata Jenderal Gu dan Raja Hu Yan. "Aku sendiri yang akan melompat lurus ke atas tembok istana utama, melepaskan seluruh aura Tulang Kaisar milikku untuk memprovokasi dan menarik secara penuh kedua pakar Inti Jiwa Puncak musuh sekaligus ke dalam zona pertempuran terisolasi milikku."

​DEG

​Jenderal Gu terhenyak kaget, matanya membelalak liar! Wajah sang Jenderal tegap itu mendadak pucat pasi.

​"T-TIDAK! ITU TERLALU BERBAHAYA, PANGERAN!" teriak Jenderal Gu menolak keras, menghentakkan tangannya ke meja. "Bertarung satu lawan dua melawan sesama kultivator Ranah Inti Jiwa Puncak adalah tindakan bunuh diri! Risiko keselamatan jiwa Pangeran terlalu besar! Hamba tidak akan pernah menyetujui Rencana Ketiga ini!"

​Raja Hu Yan pun ikut tersentak, memegang bahu putranya dengan raut cemas. "Hu Jin, Jenderal Gu benar! Kau adalah masa depan kerajaan ini! Kami tidak bisa membiarkanmu mempertaruhkan nyawamu sendirian melawan dua iblis itu!"

​Menghadapi penolakan keras dari dua orang tetua di hadapannya, Hu Jin hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat yakin dan penuh ketenangan.

​Ia mengulurkan tangan, meraih topi jeraminya, lalu memiringkan benda tersebut di atas kepalanya dengan gerakan yang teramat anggun.

​"Ayahanda... Jenderal Gu..." bisik Hu Jin dengan nada bariton yang mantap dan sarat akan wibawa kaisar tak tertandingi. "Sejak hari aku selamat dari kematian di hutan es belasan tahun lalu, nyawaku sudah bukan milikku sendiri. Demi keselamatan Ayahanda, kebebasan Guruku, dan kedamaian rakyat kecil yang menderita di bawah kezaliman Zhao Feng... aku siap menanggung risiko tertinggi di panggung mana pun."

​Mata keemasan Hu Jin berkilat tegar menembus kegelapan malam kemah. Tekad bajanya telah mengunci takdir perang—sebuah pergerakan agung yang siap mengguncang dan merebut kembali takhta Kerajaan Timur!

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!