Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memeriksa Kepemilikan Aset
Laras akhirnya sampai di rumah. Ia segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke rumah, menuju ruang kerjanya.
Setelahnya, Laras menutup pintu, kemudian berjalan menuju sebuah lemari besar di sudut ruangan. Ia membuka salah satu bagiannya yang memperlihatkan sebuah brankas yang selama ini ia gunakan untuk menyimpan dokumen penting miliknya.
Jari-jarinya memasukkan kombinasi angka dengan cepat. Dan, setelah terdengar bunyi klik, pintu brankas pun terbuka.
Laras segera mengambil satu per satu dokumen, mulai dari Sertifikat tanah, sertifikat rumah, dokumen kepemilikan aset, serta sejumlah berkas penting lainnya. Lalu, ia masukkan nya ke dalam tas yang sudah ia siapkan.
Tidak lupa, ia juga mengambil surat adopsi Bara.
Setelah memastikan semua dokumen penting sudah ia masukkan ke dalam tas, Laras mengambil ponsel, untuk menghubungi Aryan.
"Apa Kakak sibuk?" tanyanya panggilan tersambung.
"Tidak, ada apa memangnya?"
"Aku ..." Laras menarik napas dalam-dalam. "Aku sudah mengambil semua dokumen penting. Aku ingin Kakak membantuku memeriksanya."
"Baiklah, kita bertemu di kantorku saja."
Laras mengerutkan kening. "Kantor?"
Aryan tertawa pelan mendengar nada heran wanita itu. "Ya, kantor. Kita tidak mungkin membahas ini di perusahaan. Lagipula, lebih aman dan privasi jika kita membicarakannya di kantorku."
"O-oh... Baiklah."
"Ya sudah, nanti aku kirim alamatnya."
Panggilan pun terputus.
Laras menurunkan ponselnya, lalu menggenggam perangkat itu erat-erat. Ia berharap semua aset yang menjadi haknya masih aman.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
Laras segera membuka pesan tersebut dan membaca alamat yang dikirim oleh Aryan.
"Arras Law Firm?" gumamnya.
Tanpa ingin membuang waktu, Laras segera mengangkat tas tersebut, keluar dari ruang kerja dan berjalan dengan langkah lebar menuju pintu utama.
Pak Lukman yang siaga segera membukakan pintu mobil untuk Laras. Setelah memastikan majikannya duduk dengan nyaman, Pak Lukman mengitari mobil dan mengambil tempat di balik kemudi.
"Antar aku ke alamat ini, Pak." Laras menunjukkan pesan dari Aryan melalui layar ponselnya.
Pak Lukman memperhatikan alamat tersebut sejenak, lalu mengangguk.
"Baik, Nyonya."
Mesin mobil dinyalakan. Tidak lama kemudian, kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, Laras sesekali melirik tas di sampingnya. Ia berharap semuanya masih berada dalam keadaan aman.
Sebab, jika ternyata Robby sudah lebih dahulu mengutak-atik kepemilikan aset miliknya, ia harus segera mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat.
Tidak membutuhkan waktu lama, Mobil berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Laras segera turun dengan pandangan yang langsung tertuju pada logo besar bertuliskan Arras Law Firm yang terpampang jelas di bagian depan gedung.
Ia mendongak, mengamati bangunan megah itu dengan ekspresi tidak percaya.
Ia sudah lama mengenal Aryan. Bahkan, mereka tinggal di kota yang sama. Tapi, ia sama sekali tidak menyangka, pria itu memiliki kantor hukum sebesar ini.
"Sepertinya, dia sukses menjadi pengacara," gumam Laras pelan. "Tapi, kenapa namanya Arras?"
Laras segera menggelengkan kepala, tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu karena ada hal yang lebih penting.
Ia segera melangkah masuk dan menghampiri meja resepsionis.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis dengan senyum profesional.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Aryan."
Resepsionis itu mengamati Laras sejenak sebelum kembali tersenyum.
"Apa Anda Bu Laras?"
"Iya, benar."
"Kalau begitu, mari saya antar ke ruangan Pak Aryan."
"O-oh, terima kasih."
Laras mengikuti resepsionis tersebut menuju lift. Mereka kemudian naik ke lantai paling atas, tempat ruang kerja Aryan berada.
Sesampainya di sana, resepsionis itu membawanya melewati sebuah lorong sebelum berhenti tepat di depan salah satu pintu ruangan.
Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya sedikit.
"Pak Aryan, Bu Laras sudah datang."
"Oh, persilakan beliau masuk."
Resepsionis itu mengangguk, kemudian membuka pintu lebih lebar dan sedikit menyingkir untuk memberikan jalan.
"Silakan, Bu."
"Terima kasih."
Laras masuk ke ruangan tersebut. Setelahnya, resepsionis kembali menutup pintu dari luar sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Silakan duduk, Bu Laras," ujar Aryan yang sudah menunggunya di balik meja kerja.
Laras menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Rasanya sangat aneh, kita harus kembali berbicara formal," ucapnya sambil duduk di kursi yang berada tepat di seberang Aryan.
Pria itu terkekeh kecil. "Mau bagaimana lagi? Sekarang, kamu adalah klienku. Oh, ya. Kamu bawa dokumennya?"
"Oh." Laras segera membuka tas yang ia bawa lalu, mengeluarkan beberapa map berisi dokumen.
"Ini beberapa dokumen kepemilikan aset milikku. Ada sertifikat rumah, tanah, dan beberapa dokumen kendaraan," jelasnya sembari meletakkan map tersebut di atas meja.
Aryan menerima map itu. Ia mulai membuka dan memeriksa isinya satu per satu. Sesekali, dahinya berkerut saat mencermati informasi yang tertera pada dokumen.
"Kamu ingin aku memeriksa apakah seluruh aset ini masih terdaftar atas nama kamu?"
Laras mengangguk. "Iya. Aku ingin memastikan tidak ada aset yang diam-diam dialihkan oleh Robby. Aku memang belum menemukan bukti bahwa dia melakukan itu, tetapi setelah semua kebohongannya, aku tidak ingin mengambil risiko."
"Baik, aku akan meminta tim untuk menginventarisasi seluruh aset ini dan mengoordinasikan pemeriksaan dengan pihak terkait. Untuk sementara, simpan dokumen aslinya baik-baik. Kita gunakan salinannya terlebih dahulu."
"Terima kasih, Kak. Aku benar-benar ingin memastikan semuanya masih aman.”
Aryan mengangguk mantap. "Jangan khawatir. Kita periksa satu per satu. Kalau ditemukan sesuatu yang mencurigakan, baru kita tentukan langkah hukumnya."
Laras mengangguk pelan. Setidaknya, kini ia memiliki seseorang yang bisa membantunya memeriksa semua hal yang selama ini tidak sempat ia perhatikan.
Tapi, saat kembali mengamati salinan dokumen di hadapannya, Aryan tiba-tiba teringat sesuatu.
"Seingat ku, kamu punya apartemen, kan?"
"A-apa? Apartemen?"
Aryan mengangguk. "Sebelum Salsa ke luar negeri, dia bilang ingin berpesta denganmu di apartemen milikmu. Dia bahkan tidak berhenti membicarakannya."
Laras terdiam.
Ucapan Aryan membuatnya teringat pada sebuah apartemen miliknya yang berada di pusat kota. Tempat itu sudah lama tidak ia kunjungi, bahkan ia hampir melupakannya.
"Ya, itu benar. Tapi, aku lupa di mana dokumennya."
"Tidak apa-apa. Kalau kamu mau, aku akan meminta tim ku mencari informasi mengenai kepemilikan apartemen itu melalui prosedur yang semestinya."
"Baik, kak." Laras kemudian mengeluarkan satu dokumen lain. "Dan, itu ... Apa kamu bisa memeriksa surat ini?"
Aryan menerimanya. Namun, begitu melihat dokumen tersebut, ekspresinya sedikit berubah.
"Ini ..."
"Itu surat-surat saat aku mengadopsi Bara." Laras menarik napas sebelum melanjutkan. "Aku sangat menyayangi Bara. Tapi, setelah tahu kalau Bara anak Robby dan Maya, aku jadi kesal dan mengabaikannya. Aku merasa bersalah. Jadi, aku berniat mendapatkan hak asuh Bara dengan menggunakan surat adopsi itu. Tapi, ternyata panti asuhan yang kami datangi waktu itu semuanya palsu. Itu sebabnya, aku ingin tahu keaslian surat ini."
Aryan tidak langsung menjawab. Ia membaca setiap bagian dokumen tersebut dengan teliti, memeriksa informasi yang tercantum di dalamnya, termasuk identitas lembaga yang menerbitkannya.
Semakin lama ia memeriksa, semakin jelas kerutan di dahinya.
Beberapa saat kemudian, Aryan meletakkan dokumen itu di atas meja dan menggeleng pelan.
"Surat ini palsu, Ras."
Laras terdiam sesaat. Meski ia sudah menduga hal itu, mendengar kepastian dari Aryan tetap membuat hatinya terasa berat.
"O-oh, begitu, ya," lirihnya. "Itu artinya, aku dan Bara memang tidak berjodoh."
Aryan menghela napas pelan. "Kenapa kamu berpikiran untuk mendapatkan hak asuh Bara?"
Laras menunduk sejenak sebelum menjawab. "Ya, karena aku menyayanginya. Aku tidak mau, anak itu dijadikan alat untuk memenuhi keserakahan orang tuanya.”
Mendengar jawaban itu, tanpa sadar, Aryan menggenggam tangan Laras.
"Meski begitu, Bara tetap tanggung jawab orang tuanya. Kamu hanya orang luar."
Laras menatap tangan Aryan yang menggenggam tangannya, kemudian mengangkat wajah.
"Ya, aku tahu."
Ia berusaha tersenyum, meskipun ada sedikit kesedihan yang tidak bisa disembunyikannya.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti