"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ampun, Mayor!
Dua minggu Yudhana membiarkan gadis ini berada di rumah sakit, meyakini sepenuhnya bisikan Tanti bahwa Vina hanya sedang melancarkan aksi mogok dan pura-pura sakit demi memeras rasa ibanya. Kedatangannya pagi ini semata-mata untuk mengakhiri apa yang ia anggap sebagai 'pemberontakan konyol' istrinya.
Yudhana melipat lengannya di dada, berdiri tegak di samping ranjang dengan rahang mengeras, siap melontarkan teguran sebelum sempat melihat kebingungan polos di mata istrinya.
"Puas kamu?" suara Yudhana meluncur dingin, bernada bariton yang berat dan penuh tekanan otoriter. "Empat belas hari kamu bikin drama di sini. Kamu pikir dengan cara picik begini saya bakal iba dan lari-lari mengemis maaf sama kamu?"
Pria itu menarik napas pendek, menatap tajam ke arah wajah Vina yang pucat pasi.
"Saya sudah bilang berkali-kali, Vina. Jangan pernah bawa urusan pribadi atau bertingkah kekanak-kanakan seperti ini untuk mengancam saya," lanjut Yudhana, suaranya tajam menembus keheningan kamar. "Kamu sengaja menabrakkan motor kamu, kan? Kamu tahu saya mau ajukan perceraian, lalu kamu bikin skenario kecelakaan ini supaya Opa Gema marah sama saya dan batalin semuanya?"
Yudhana merogoh saku dalam kemeja dinasnya, menarik keluar sebuah amplop cokelat tebal yang agak kaku. Tanpa ragu, ia melempar amplop itu ke atas selimut putih tepat di dada Vina.
"Itu surat peringatan dari saya dan draf kesepakatan pisah rumah," tegas Yudhana tanpa belas kasihan. "Tanda tangani begitu kamu pulang. Jangan harap drama amnesia atau pura-pura koma kamu ini bisa meluluhkan hati saya. Mulai hari ini, stop kekonyolan kamu!"
Di atas ranjang, kelopak mata Vina bergerak tipis. Panggilan bersuara keras dan dentuman amplop di dadanya merambat naik menyentuh saraf kesadarannya.
Dengan usaha keras yang menyiksa, Vina perlahan-lahan membuka matanya. Pandangannya yang buram dan berkabut putih perlahan memfokuskan pendar cahaya matahari pagi. Nyeri tumpul masih berdenyut di pelipisnya, membuat keningnya berkerut dalam.
Saat penglihatannya membaik, sosok pertama yang tertangkap oleh matanya adalah seorang pria jangkung bertubuh tegap yang berdiri kaku di samping ranjangnya. Pria itu berseragam tentara kaku, melipat tangan di dada dengan rahang menegang dan sorot mata yang penuh amarah menyudutkan.
Vina berkedip beberapa kali. Ia menatap wajah pria di depannya dengan teliti—menatapi garis kumis tipisnya, rahang tegasnya, serta lambang pangkat tiga melati di pundaknya.
Tidak ada detak desir penderitaan di dadanya.
Tidak ada ingatan tentang rasa sakit di koridor markas.
Tidak ada bayangan tentang ciuman di balik pintu kayu jati.
Bahkan, nama Yudhana sama sekali hampa dari benaknya.
Yang tersisa di dalam kepala Vina hanyalah ingatan tentang masa-masa seragam putih abu-abu—saat ia baru saja memegang ijazah kelulusan sekolah dan bercanda lepas bersama Ita di panti asuhan.
Vina menggerakkan lehernya yang kaku, menatap Yudhana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan polos, heran, dan penuh penilaian yang blak-blakan.
"Om ...." Vina membuka suara. Suaranya serak dan parau, terengah kaku karena tenggorokannya yang kering. "Om ini ... siapa, ya?"
Yudhana menghentikan bentakannya seketika. Dengus napas kejengkelan yang tadinya hendak meluncur dari hidungnya mendadak tertahan di tenggorokan. Dahi sang Mayor berkerut dalam, matanya menyipit menatap Vina.
"Jangan mulai lagi, Vina," potong Yudhana dingin, mengibaskan tangannya meremehkan. "Trik akting amnesia begini terlalu murahan buat kamu pakai. Saya tahu kamu dengar semua ucapan saya."
Vina mengerutkan keningnya makin dalam. Rasa tidak nyaman merayap di hatinya melihat cara pria asing berseragam ini berbicara padanya. Jiwa mulus dan terbiasa bebas yang dimilikinya saat usia delapan belas tahun mendadak muncul ke permukaan.
"Dih, si Om malah makin aneh," gumam Vina pelan, mencoba menelan ludahnya yang pahit. Ia menggeser duduknya sedikit meski meringis menahan nyeri di rusuknya, lalu menatap Yudhana dengan tatapan sengit. "Datang-datang bentak-bentak orang sakit. Lagian Om ini siapa sih? Petugas pos? Atau tentara gadungan yang salah masuk kamar?"
Yudhana membeku di tempatnya berdiri.
Raut wajah pria itu berubah drastis dari keangkuhan kaku menjadi kebingungan yang tak bisa disembunyikan. Matanya membelalak pelan. Sepanjang satu tahun pernikahan mereka, Vina adalah wanita yang paling penurut, selalu menundukkan kepala, berbicara halus dengan intonasi gemetar, dan tidak pernah sekalipun berani menatap matanya secara langsung jika tidak diminta.
Namun sekarang, wanita di depannya ini menatap tepat ke dalam matanya dengan binar berani, polos, dan sama sekali tanpa beban pertahanan.
"Vina! Kamu sadar kamu lagi bicara sama siapa?!" tekan Yudhana, nada suaranya meninggi menutupi keraguan yang mulai menyusup ke dadanya. "Saya suami kamu!"
"Suami?!"
Vina tertawa kecil—sebuah tawa renyah, lepas, dan agak barbar yang terdengar sangat asing di telinga Yudhana. Vina menggelengkan kepalanya seraya menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Yudhana dengan jari telunjuknya.
"Bercanda Om nggak lucu banget," celetuk Vina santai, sama sekali tak gentar pada pangkat Mayor di dada pria itu. "Gue baru aja lulus sekolah! Umur gue baru mau delapan belas tahun! Masa iya gue nikah sama Om-om kaku berkumis yang sukanya marung-marung begini? Nggak sudi banget!"
Yudhana menyentak napas kaget. Langkah kakinya bergerak mundur setengah tapak tanpa disadari. Kata 'Gue', sebutan 'Om-om kaku', dan penolakan mentah-mentah itu menghantam harga dirinya seperti pukulan keras.
Tepat saat ketegangan di antara mereka memuncak, pintu kamar kembali terdorong terbuka.
Ita masuk membawa kantong plastik berisi bubur hangat. Langkah Ita langsung terhenti seketika saat melihat sosok Mayor Yudhana berdiri kaku di samping ranjang Vina dengan amplop cokelat tergeletak di atas selimut.
Seketika, mata Ita menyala oleh amarah meluap. Ia melangkah cepat, memasang badan di depan ranjang Vina untuk menutupi sahabatnya dari pandangan Yudhana.
"Mau apa lagi Anda ke sini?!" bentak Ita tanpa takut, menunjuk pintu keluar dengan jari bergetar. "Dua minggu Vina bertaruh nyawa di sini, Anda nggak pernah kelihatan hidungnya! Sekarang tiba-tiba datang mau bikin Vina menderita lagi?! Keluar Anda dari sini!"
Yudhana mengepalkan jemarinya kaku di sisi tubuh. "Ita, jaga batasan kamu. Saya suaminya—"
"Suami?!" potong Ita dengan teriakan sinis yang bergetar penuh rasa benci. "Suami yang biarkan istrinya mati sendirian?! Suami yang nuduh kecelakaan tragis ini cuma drama?! Pergi Anda! Vina nggak butuh Anda lagi!"
Vina, yang duduk bersandar di bantal di belakang punggung Ita, memiringkan kepalanya dengan raut wajah makin bingung. Ia memegang ujung baju Ita, lalu berbisik cukup keras hingga terdengar oleh seluruh ruangan.
"Ta ... Ta ...," bisik Vina dengan nada polos tanpa beban. "Pria berseragam ini beneran ngaku-ngaku jadi suami gue? Dia agak bermasalah di kepalanya ya, Ta?"
Yudhana merasa darahnya tersentak naik ke kepala. Wajahnya memerah padat oleh kombinasi rasa malu, kebingungan, dan penghinaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pria yang biasanya disembah dan ditakuti oleh seluruh bawahannya di markas komando itu kini berdiri mematung di kamar rawat yang dingin, dipandang bagai orang asing yang mengganggu oleh wanita yang selama setahun ini selalu mengemis remah-remah perhatiannya.
bersambung...
Marung-marung dalam bahasa gaul/lokal daerah tertentu (terutama yang dipengaruhi bahasa Jawa/Sunda di beberapa wilayah) merujuk pada sikap atau perilaku marah-marah, mengomel, atau bersungut-sungut tanpa alasan yang jelas atau secara berlebihan.
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡