“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Puncak Pendar Cahaya
Hari yang dinanti-nanti selama berbulan-bulan akhirnya tiba. Pancaran lampu sorot keemasan di ballroom utama sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat Jakarta memantulkan kemegahan yang luar biasa. Papan reklame digital raksasa menampilkan logo K-Sambal Fusion berdampingan dengan lambang Garuda Group, menyambut ratusan tamu undangan yang terdiri dari jajaran komisaris eksekutif, mitra bisnis internasional dari Korea Selatan, para food blogger ternama, serta puluhan awak media nasional.
Di balik tirai panggung utama, jantungku berdegup kencang. Namun, tidak ada lagi rasa ragu atau gemetar yang melemahkan. Yang ada di dalam dadaku hanyalah rasa syukur dan keyakinan penuh.
Malam ini, aku mengenakan blazer modern berpotongan rapi dengan sentuhan tenun tradisional berwarna merah marun dan hitam menyimbolkan perpaduan sempurna antara identitas budaya Nusantara dan modernitas global. Rambut panjangku disanggul rapi dengan hiasan minimalis, memberikan kesan anggun sekaligus profesional sebagai pimpinan tim kreatif pemasaran.
"Mbak Mei, luar biasa banget sambutan audiens di depan! Perwakilan agensi dari Seoul bilang konsep kita jenius!" bisik Sonya antusias sambil merapikan map catatan di tangannya. Juno dan Rudi mengacungkan jempol mereka tanda mendukung penuh.
Aku tersenyum hangat, menepuk bahu Sonya pelan. "Terima kasih kerjasamanya ya, Sonya, Juno, Rudi. Tim Garuda hebat!"
Tepat saat pembawa acara memanggil namaku dengan suara lantang, aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, lalu melangkah keluar menyusuri panggung utama di bawah sorotan lampu putih yang terang. Riuh tepuk tangan penonton menggema mengisi seluruh ruangan.
Dengan suara yang tenang, jelas, dan penuh percaya diri, aku memaparkan filosofi di balik K-Sambal Fusion bagaimana kami meracik keotentikan sambal tradisional Indonesia dengan kelezatan saus fermentasi khas Korea, menciptakan harmoni rasa lintas budaya (Cultural Crossover) yang menembus batas geografis. Presentasi itu berjalan sangat memukau, memicu decak kagum dan tepuk tangan meriah dari para mitra asing yang hadir.
Namun, di tengah kesuksesan acara yang sedang mencapai puncaknya, sebuah insiden tak terduga mendadak terjadi di area belakang panggung.
Saat aku turun dari panggung utama untuk mengambil berkas cadangan di ruang tunggu, seorang pria berjas rapi tiba-tiba muncul dari balik koridor layanan. Langkahku terhenti seketika.
Juan.
Pria itu tampak nekat menyusup masuk mengenakan kartu tamu palsu. Matanya menyiratkan keputusasaan dan rasa iri yang teramat sangat melihat kesuksesan besar yang kuraih malam ini.
"Hebat sekali presentasimu malam ini, Maizara," sapa Juan dengan senyum sinis yang mengerikan. "Kau pikir dengan menumpang kesuksesan keluarga Arjowibowo, kau bisa melupakan siapa dirimu sebenarnya? Kau hanya gadis daerah yang beruntung!"
Aku menatapnya tajam tanpa sedikit pun rasa takut. Aku melangkah mundur satu tapak, bersiap memanggil petugas keamanan. "Mau apa lagi kamu di sini, Juan? Cepat pergi sebelum aku panggil pihak keamanan untuk menyeretmu keluar!"
Juan melangkah maju dengan tergesa, berniat merampas map berkas di tanganku untuk mempermalukan acaraku. "Kau tidak akan bisa menyingkirkanku begitu saja, Mei!"
Sebelum tangan Juan sempat menyentuhku, sebuah bayangan tegap bergerak secepat kilat dari arah sudut koridor.
Bugh!
Sebuah cengkeraman tangan yang kuat dan kokoh dengan cepat menepis tangan Juan, lalu mendorong tubuh pria itu hingga membentur dinding dengan keras.
Dimas Arjowibowo.
Pria itu berdiri di hadapanku, melindungi tubuhku sepenuhnya di balik punggung tegapnya. Setelan jas navy yang dikenakannya tampak kaku, dan rahangnya mengeras sempurna menahan amarah yang luar biasa. Matanya memancarkan tatapan tajam membunuh yang sanggup membuat siapa pun nyali mereka ciut seketika.
"Berani sekali kau menginjakkan kaki di area ini, dan berani sekali kau mengangkat tangan di hadapan calon istri saya, bajingan!" suara berat Dimas bergema rendah penuh tekanan, suaranya dingin berdarah dingin namun sangat terkontrol.
Juan meringis kesakitan, mencoba berontak, namun detik berikutnya dua petugas keamanan hotel dan tim pengamanan internal Arjowibowo bergegas datang mengepung area tersebut atas isyarat tangan Dimas.
"Bawa pria ini keluar dari gedung sekarang juga, dan pastikan dia tidak pernah bisa mendekati radius satu kilometer dari perusahaan saya!" perintah Dimas mutlak kepada petugas keamanan.
"Baik, Pak!" sahut petugas itu sigap, lalu menyeret Juan pergi menjauh dari area belakang panggung.
Suasana kembali senyap. Dimas memutar tubuhnya perlahan menghadapku. Pria jangkung itu meneliti setiap inci tubuhku dengan pandangan cemas yang tak bisa disembunyikannya.
"Mei... kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya Dimas panik, jemari tangannya yang hangat sempat meraba bahuku dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
Aku menggeleng pelan, menatap manik matanya yang dipenuhi rasa khawatir. "Aku tidak apa-apa, Mas Dimas. Terima kasih..."
Dimas menghela napas panjang, meredakan debar emosinya sendiri. Pria itu tidak memaksakan diri untuk memelukku, tidak pula mendominasi keadaanku. Dia memberikan ruang dan rasa hormat yang utuh, membuktikan bahwa tindakannya barusan murni untuk melindungiku, bukan untuk mengatur hidupku.
"Baguslah kalau kamu aman," bisik Dimas tulus, lalu mengulas senyuman tipis yang menenangkan. "Kembalilah ke depan, para tamu penting menunggumu untuk memberikan selamat atas kesuksesan besar ini."
Malam perayaan usai acara puncak dilangsungkan di sebuah rooftop lounge eksklusif yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu pencakar langit Jakarta. Angin malam berhembus lembut, membawa ketenangan setelah berjam-jam tenggelam dalam riuh panggung megah.
Aku berdiri sendiri di dekat pembatas kaca rooftop, menikmati tegukan air mineral di tanganku.
"Boleh saya bergabung?"
Suara berat yang sangat kukenal itu menyapa pendengaranku. Aku menoleh. Dimas berdiri di sampingku, mengenakan kemeja putih tanpa jas, dengan dua kancing atas yang terbuka santai.
"Silakan, Mas," jawabku tenang.
Dimas ikut memandang hamparan lampu kota di bawah sana. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan di antara kami, ditemani alunan musik instrumental piano yang mengalun syahdu dari sudut ruangan.
"Mei..." panggil Dimas pelan, memecah kesunyian.
"Ya, Mas Dimas?"
Dimas menoleh, menatap lurus ke dalam manik mataku. Tidak ada lagi arogansi, tidak ada lagi sorot mata yang menuntut kepatuhan. Yang ada hanyalah ketulusan yang telanjang di wajahnya.
"Malam ini, melihatmu berdiri di atas panggung membawakan proyek itu dengan begitu anggun dan berdaya... membuat saya sadar akan satu hal," tutur Dimas dengan suara parau yang amat jujur. "Bahwa cinta yang benar bukanlah tentang bagaimana saya menundukkanmu, melainkan bagaimana saya belajar berdiri di sampingmu sebagai pendamping yang setara."
Aku tertegun, menatap manik matanya yang berkaca-kaca tipis.
Dimas merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis velvet hitam yang sederhana namun elegan. Pria itu membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin perak berukir motif klasik Nusantara yang indah.
"Saya tidak akan memaksamu untuk langsung memberikan jawaban hari ini, Mei," ucap Dimas tulus, menatapku dengan kerendahan hati yang meruntuhkan seluruh sisa benteng es di dalam dadaku. "Tapi izinkan saya mengulang lamaran ini bukan atas dasar perjodohan keluarga, bukan pula atas dasar ego dan kekuasaan saya sebagai CEO. Melainkan murni karena saya mencintaimu, menghormati prinsipmu, dan ingin memuliakan sisa hidupku bersamamu."
Air mata haru menetes perlahan di pipiku. Kata-kata mutiara dari lubuk hatiku yang paling dalam berkelebat pelan di benakku:
"Sebab cinta yang tulus tidak pernah datang untuk merantai kebebasan, melainkan merangkul jiwa dengan kesabaran. Dan kehormatan seorang perempuan tidak diukur dari seberapa banyak ia mengalah, melainkan dari bagaimana ia dihargai saat ia memilih untuk berdiri tegak di atas prinsipnya."
Aku tersenyum, senyuman paling tulus dan ikhlas yang kuberikan padanya setelah sekian lama perang dingin membelenggu kami.
Aku mengangkat tangan kananku perlahan, membiarkan Dimas mengambil jemariku dengan sangat hati-hati dan menyematkan cincin perak itu di jari manisku.
"Terima kasih, Mas Dimas," bisikku lirih, suara angin malam membawa kehangatan yang menyatukan dua jiwa kami untuk selamanya. "Aku siap melangkah bersamamu... dengan tenang, tanpa rasa takut."
Di bawah pendar jutaan bintang kota Jakarta malam itu, badai di antara kami resmi reda. Kami menemukan pelabuhan terakhir bukan di dalam kemegahan harta, melainkan di dalam keikhlasan dua hati yang saling memaafkan dan saling meratukan.