AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 MBAH SARTI WAFAT - PENYESALAN TERAKHIR SANG MBAH
Tiga bulan setelah Aisyah masuk TK B Melati seragam biru putih gigi ompong satu, tepat Oktober dua ribu tiga puluh lima, kontrakan cat hijau nomor empat yang sudah sembilan ratus ribu sebulan yang tidak bocor itu diguyur hujan deras sejak sore jam lima sampai malam jam sembilan. Hujan sama seperti sebelas tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah lembab atap bocor tiga titik suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok, seperti sembilan tahun lalu di kontrakan empat ratus ribu yang mau diusir Pak Lurah karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis, seperti tujuh tahun lalu lima ratus ribu, enam ratus ribu, tujuh ratus ribu. Tapi malam ini hujan terasa lebih dingin, lebih lama, lebih sunyi.
Mbah Sarti yang kini delapan puluh tahun kursi roda kayu buatan Arga, mata rabun total kacamata tebal minus lima, rambut putih semua, yang tiga bulan lalu masih semangat datang jam lima pagi naik mobil pick up bawa tumpeng kecil kedua untuk Aisyah masuk TK, yang empat tahun lalu bawa tumpeng kecil pertama untuk Salsa masuk SD, yang sembilan tahun lalu datang pertama kali ke kontrakan empat ratus ribu naik angkot dua jam bawa ayam goreng dua potong dan amplop coklat mas kawin seratus ribu yang dikembalikan, yang sebelas tahun lalu mengusirku dari Wonorejo dengan bawa tiga ibu PKK dan sapu lidi karena hamil duluan anak Rendo, kini terbaring di kasur spring bed kontrakan, di kamar yang dulu tempat Salsa dan Aisyah tidur peluk boneka kain sobek sebelas tahun peninggalan Wonorejo.
Sudah seminggu Mbah Sarti tinggal di kontrakan sembilan ratus ribu, bukan seminggu bergantian seperti biasanya seminggu di Wonorejo seminggu di kontrakan, tapi sudah dua minggu tidak mau pulang ke Wonorejo. Alasannya sakit lutut, sakit pinggang, tidak kuat naik pick up lagi. Padahal kami tahu, Mbah Sarti sebenarnya ingin habiskan sisa umur di dekat cicitnya Salsa sebelas tahun lima bulan kelas lima SD juara kelas dan Aisyah delapan tahun sembilan bulan TK B gigi ompong satu.
Jam tujuh malam hujan masih deras, Mbah Sarti terbaring tiba-tiba panggil aku suara pelan serak, beda dengan suara kencangnya sebelas tahun lalu ketika mengusirku.
"Kirana, Nduk, sini Nduk, Mbah mau ngomong Nduk," kata Mbah Sarti nafas terengah.
Aku yang sedang suapi Aisyah bubur ayam di lapak kayu dua kali satu meter depan kontrakan yang kini omzet satu juta sehari untung lima ratus ribu, langsung lari masuk, tinggalkan Aisyah dan Salsa yang kerjakan PR kelas lima SD.
Arga yang baru pulang jaga malam dari Puskesmas sebagai koordinator keamanan gaji tiga setengah juta, seragam coklat tiga stel masih basah hujan, juga langsung masuk.
Mbah Sarti pegang tanganku yang kini sudah tidak kasar lagi karena tidak cuci baju di sumur belakang rumah bocor, tangannya keriput delapan puluh tahun dingin.
"Nduk, Mbah mau minta maaf Nduk, maaf sebesar-besarnya Nduk," kata Mbah Sarti sambil teteskan air mata pertama kali aku lihat sejak sebelas tahun lalu. Selama sebelas tahun, Mbah Sarti tidak pernah nangis depanku, hanya bentak, banting panci alumunium sampai penyok, bawa sapu lidi.
"Maaf untuk apa Mbah?" tanyaku genggam tangan dingin Mbah Sarti.
"Maaf karena sebelas tahun lalu Mbah usir Nduk dari Wonorejo karena hamil duluan anak Rendo, Mbah bawa tiga ibu PKK Bu Tati dengan sapu lidi, Mbah bilang Nduk aib desa, Mbah bilang di mata desa Nduk masih perawan hamil haram, Mbah usir Nduk ke rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil yang dua tahun sebelumnya bunuh Mira menantu Mbah sendiri karena pendarahan kurang gizi," kata Mbah Sarti suara terputus nafas sesak.
Aku angguk, air mataku juga tetes ingat sebelas tahun lalu diusir jam sembilan pagi dengan tas kain berisi daster bunga dan foto USG enam belas weeks dua days.
"Maaf juga karena Mbah dulu tidak percaya Salsa adalah cucu kandung Mbah sendiri, anak Arga dan Mira. Mbah kira Salsa anak yatim tetangga, Mbah biarin Bu Minah titipkan Salsa ke Nduk yang sedang hamil empat bulan di rumah bocor dengan telur dibagi dua. Padahal Salsa adalah darah daging Mbah, cicit Mbah. Mbah baru tahu di BAB 20 setelah Bu Minah mengaku di kontrakan empat ratus ribu," lanjut Mbah Sarti sambil lihat Salsa sebelas tahun lima bulan berdiri di pintu kamar seragam SD masih dipakai belum ganti, nangis dengar buyutnya minta maaf.
"Maaf juga karena Mbah dulu menolak jadi wali nikah siri Nduk sama Arga, Mbah bilang Nduk belum tentu jodoh Arga, padahal kertas HVS tipis itu yang selamatkan Nduk dari Pak Lurah kontrakan yang mau usir karena tidak punya buku nikah KUA. Mbah baru mau jadi wali KUA resmi di BAB 24 Jumat jam sembilan pagi di KUA Jombang setelah lihat Nduk lahirkan Aisyah dua koma delapan kilo selamat tidak pendarahan seperti Mira," kata Mbah Sarti lagi.
Hujan di luar makin deras jam delapan malam, seperti hujan di rumah bocor sebelas tahun lalu yang bikin aku takut mati kedinginan.
"Mbah, tidak apa-apa Mbah, Kirana sudah maafkan Mbah sejak Mbah datang pertama kali ke kontrakan empat ratus ribu bawa ayam goreng dua potong dan amplop coklat mas kawin seratus ribu. Sejak Mbah gendong Aisyah umur satu tahun satu minggu, sejak Mbah potong tumpeng kecil pertama Salsa masuk SD dan tumpeng kecil kedua Aisyah masuk TK, Kirana sudah anggap Mbah seperti ibu kandung sendiri," kataku sambil peluk Mbah Sarti delapan puluh tahun kursi roda yang kini terbaring.
Mbah Sarti senyum dengan gigi tinggal tiga di depan, senyum yang tidak pernah aku lihat sebelas tahun lalu, senyum yang dulu selalu kecut.
"Nduk, Mbah ada wasiat Nduk, kalau Mbah sudah tidak ada nanti, rumah induk Wonorejo yang besar itu Mbah wariskan untuk Nduk, bukan untuk Pak Karim, bukan untuk Arga, tapi untuk Nduk Kirana, Salsa, dan Aisyah. Karena Nduk yang dulu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor, sekarang jadi juragan daster tiga lapak di Pasar Legi dan Pasar Pon omzet satu juta untung lima ratus ribu tabungan BRI dua puluh juta motor Beat hitam, Nduk yang pantas dapat rumah induk. Dan Nduk, tolong bakar foto-foto lama Mbah yang masih simpan foto Mira yang meninggal di rumah bocor itu, biar kutukan Kembang Kantil hilang total," kata Mbah Sarti suara makin pelan.
Aku angguk sambil nangis keras, Salsa sebelas tahun lima bulan kelas lima SD juara kelas juga nangis keras peluk kursi roda buyutnya, Aisyah delapan tahun sembilan bulan TK B gigi ompong satu juga nangis peluk kaki buyutnya meskipun tidak paham sepenuhnya kenapa buyut minta maaf.
Arga tiga puluh enam tahun koordinator keamanan Puskesmas gaji tiga setengah juta juga nangis, ketiga kalinya nangis di depan umum setelah Salsa masuk SD dan Aisyah masuk TK.
Jam sembilan malam hujan masih deras, Mbah Sarti yang sudah minta maaf panjang lebar sebelas tahun penyesalan, tiba-tiba nafasnya terengah lebih keras, tangannya yang dingin genggam tanganku erat, lalu pelan-pelan lepas.
"Mira, Mbah datang Nduk, Mbah sudah minta maaf sama Kirana, Nduk, jaga Salsa dan Aisyah ya Nduk," bisik Mbah Sarti terakhir suara sangat pelan hampir tidak terdengar karena hujan deras, sambil lihat ke atas langit-langit kontrakan cat hijau sembilan ratus ribu yang tidak bocor.
Setelah itu, Mbah Sarti diam, mata terpejam, nafas tidak ada lagi.
Mbah Sarti wafat jam sembilan lewat sepuluh malam di kontrakan cat hijau nomor empat sembilan ratus ribu sebulan yang tidak bocor, di kasur spring bed yang dulu tempat Salsa dan Aisyah tidur peluk boneka kain sobek sebelas tahun peninggalan Wonorejo, di tengah hujan deras yang sama seperti hujan sebelas tahun lalu di rumah bocor, di pangkuan Kirana yang dulu diusirnya karena hamil duluan, di samping Salsa sebelas tahun lima bulan yang ternyata cicit kandungnya sendiri dan Aisyah delapan tahun sembilan bulan yang ternyata cicit tirinya, dan Arga tiga puluh enam tahun cucu kandungnya sendiri.
Malam itu juga Pak Karim enam puluh sembilan tahun sakit lutut dan Bu Minah enam puluh dua tahun rantang besar datang naik pick up hujan-hujanan setelah ditelepon Arga, bawa kain kafan putih. Ibu-ibu kontrakan yang dulu laporkan aku ke Pak Lurah karena hamil tanpa buku nikah, yang dulu ikut antar Salsa masuk SD dan Aisyah masuk TK, kini datang bawa tikar dan air hangat untuk mandikan Mbah Sarti.
Jenazah Mbah Sarti dimandikan di kontrakan sembilan ratus ribu, bukan di rumah induk Wonorejo, karena wasiatnya ingin dimandikan di tempat cicitnya Salsa dan Aisyah sekolah SD dan TK favorit. Jenazah disholatkan di Mushola depan gang kontrakan jam sepuluh malam hujan masih deras, dihadiri puluhan warga kontrakan dan warga Wonorejo yang datang hujan-hujanan.
Jam sebelas malam hujan masih deras, jenazah Mbah Sarti dibawa mobil ambulance Puskesmas tempat Arga kerja sebagai koordinator keamanan, menuju pemakaman Wonorejo di sebelah makam Mira menantu yang meninggal pendarahan sebelas tahun lalu di rumah bocor yang sama. Jadi Mira dan Mbah Sarti akhirnya dimakamkan bersebelahan, setelah sebelas tahun terpisah karena penyesalan dan pengasingan.
Di pemakaman jam dua belas malam hujan masih deras, aku Kirana tiga puluh satu tahun juragan daster tiga lapak, Arga tiga puluh enam tahun koordinator keamanan, Salsa sebelas tahun lima bulan kelas lima SD, Aisyah delapan tahun sembilan bulan TK B gigi ompong satu, Pak Karim enam puluh sembilan tahun, Bu Minah enam puluh dua tahun, semua berdiri hujan-hujanan pegang payung, lihat liang lahat Mbah Sarti delapan puluh tahun yang dulu usir aku dengan sapu lidi karena hamil duluan.
"Selamat jalan Mbah, terima kasih sudah jadi wali KUA ku di BAB 24, terima kasih sudah gendong Aisyah, terima kasih sudah potong tumpeng Salsa dan Aisyah, terima kasih sudah wariskan rumah induk Wonorejo untukku yang dulu diasingkan karena hamil duluan," bisikku pelan sambil tabur bunga di atas makam Mbah Sarti yang masih basah hujan.
Setelah pemakaman, kami kembali ke kontrakan sembilan ratus ribu jam satu pagi hujan masih deras. Kontrakan terasa kosong tanpa Mbah Sarti delapan puluh tahun kursi roda kayu, tanpa tumpeng kecil pertama dan kedua, tanpa ayam goreng dua potong dan telur rebus tiga butir.
Di dinding kontrakan masih ada foto keluarga besar berbingkai kayu yang kini bertambah foto baru Aisyah seragam TK biru putih dan Salsa seragam SD merah putih, tapi foto Mbah Sarti kebaya coklat kini diberi pita hitam.
Salsa sebelas tahun lima bulan kelas lima SD juara kelas yang dari tadi nangis sejak jam tujuh malam, kini tertidur di kasur spring bed peluk boneka kain sobek sebelas tahun peninggalan Wonorejo yang dulu adalah milik Mbah Sarti juga, sambil pegang foto Mbah Sarti.
Aisyah delapan tahun sembilan bulan TK B gigi ompong satu juga tertidur peluk kaki Salsa.
Aku dan Arga duduk di lantai semen bersih lihat kursi roda kayu buatan Arga yang kini kosong, tidak ada lagi Mbah Sarti delapan puluh tahun yang minta maaf sebelas tahun penyesalan.
Dari diasingkan karena hamil duluan sebelas tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah lembab atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan yang bunuh Mira, diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi dan tiga ibu PKK Bu Tati, diusir warung Bu Lasmi, didobrak pagar bambu oleh Rendo yang lempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar dan kini sudah meninggal kecelakaan kerja di Kalimantan, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis nikah siri, melahirkan Aisyah dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar takut mati pendarahan seperti Mira, jadi juragan daster tiga lapak omzet satu juta untung lima ratus ribu tabungan BRI dua puluh juta motor Beat hitam, antar Salsa masuk SD Negeri favorit dan Aisyah masuk TK B Melati, sampai malam ini Mbah Sarti delapan puluh tahun yang dulu usir aku karena hamil duluan wafat di pangkuanku di kontrakan cat hijau sembilan ratus ribu yang tidak bocor di tengah hujan deras dengan penyesalan terakhir dan wasiat rumah induk.
Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah berubah menjadi Aku Yang Dulu Diasingkan Kini Mewarisi Rumah Induk Setelah Mbah Sarti Wafat Dengan Penyesalan.
Dan itu cukup untuk malam ini dan selamanya.
Bersambung...
---