NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:291.3k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh

Vania perlahan mengikuti arah telunjuk Reatha. Matanya langsung membesar.

Di atas ranjang, Azka masih tertidur pulas. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangannya berada di atas bantal, sementara selimut menutupi sebagian tubuhnya.

Vania terdiam beberapa detik. Wajahnya yang semula hanya kesal berubah menjadi merah padam.

“Dia … tidur di sini?” tanyanya pelan.

Reatha mengangguk santai dan menjawab singkat, “Iya.”

“Dari malam?" tanya Vania dengan suara sudah mulai tinggi.

Reatha mengangkat bahu. “Tentu saja dari malam, emang kamu pikir sejak kapan? Dari kemarin?" Ia balik bertanya.

Vania mengepalkan tangan dan berteriak, “RAISA!”

Azka langsung terbangun. “Hah?” Ia bangkit dengan wajah kebingungan. Matanya masih setengah tertutup.

“Kenapa?” tanya Azka dengan wajah bantalnya.

Vania menunjuknya dengan wajah marah. “Kamu tidur di kamar ini semalam?" tanyanya.

Azka mengusap wajah. Ia melihat Vania, kemudian melihat Reatha, lalu melihat sekeliling kamar. Butuh beberapa detik sampai otaknya benar-benar bekerja.

“Oh .…” Hanya itu jawaban yang keluar dari bibirnya.

Vania semakin emosi. Ia berharap Azka menjawab dengan kata tidak.

“Oh?! Cuma oh?!” tanya Vania dengan sedikit emosi.

Azka menghela napas panjang. Sepertinya kesadaran Azka sudah kembali, “Vania, jangan teriak pagi-pagi," ucapnya.

“Bagaimana aku nggak teriak? Semalaman aku menunggu kamu! Aku pikir kamu akan menelepon atau datang membujukku. Ternyata kamu malah tidur di kamar istrimu!” seru Vania.

Azka menoleh kepada Reatha. Gadis itu hanya berdiri di dekat pintu sambil menahan senyum.

“Jangan lihat aku,” ucap Reatha. “Aku juga nggak menyuruh dia tidur di sini.”

Azka mengangguk dan menjawab, "Ya, memang aku yang ketiduran sendiri."

Vania menatap keduanya bergantian. Ia tampak makin kesal mendengar jawaban Azka.

“Kalian tidur satu kamar?" tanya Vania lagi.

“Jangan takut, aku masih perawan. Dia tidur di ranjang,” jawab Reatha cepat. “Aku tidur di sofa,” sambungnya.

Vania tampak kurang percaya dan menunjuk ranjang. “Dua mahluk berlainan jenis tidur sekamar tanpa melakukan apa-apa? Kamu pikir aku anak kecil yang harus percaya dengan ucapan kamu!" serunya.

Reatha mengangkat bahu dan menjawab, "Kalau kamu tak percaya, aku mesti apa. Apakah aku harus kembali ke hari kemarin?"

Azka mengangguk polos. “Benar apa yang Reatha katakan. Kami hanya tidur sekamar tanpa melakukan apa-apa!"

Vania menatapnya tidak percaya. “Jadi kamu bisa tidur nyenyak tanpa pikiran macam-macam?”

“Bisa.”

“AZKA!”

Azka langsung menutup telinganya. “Jangan teriak. Telingaku masih berfungsi.”

Reatha hampir tertawa melihat ekspresi pria itu. Vania semakin kesal.

“Kamu benar-benar nggak punya perasaan! Aku marah, bukannya kamu bujuk, tapi kamu malah tidur nyenyak di kamar berdua dengan istrimu!" seru Vania.

Azka turun dari ranjang dan merapikan rambutnya. “Sudahlah. Aku jelaskan nanti.”

“Nanti kapan?” tanya Vania.

“Setelah aku mandi," jawab Azka.

“Kenapa harus mandi dulu? Kenapa tidak sekarang saja?" Vania kembali bertanya.

“Karena aku baru bangun tidur.”

Vania terdiam. Jawaban Azka begitu sederhana sampai membuatnya tidak tahu harus membalas apa.

Azka kemudian mengambil ponselnya dan berjalan melewati Vania. “Ayo, kita kembali ke kamarku," ucapnya.

Vania langsung mengikuti. Reatha hanya berdiri di pintu. Dalam hatinya ingin tertawa melihat dua kekasih yang sedang bertengkar itu.

Namun sebelum Azka keluar, ia menoleh. “Martabaknya habiskan?" tanyanya. Ia baru teringat kemarin malam membelikan martabak buat istrinya.

Reatha tersenyum dan menjawab, “Iya.”

Vania yang mendengar itu langsung berhenti. “Martabak?” tanyanya.

Azka mengangguk. “Iya.”

“Kamu jadi juga membeli martabak untuk dia?” tanya Vania.

Azka menghela napas. “Vania, jangan mulai lagi. Kamu sudah tau'kan?”

“Aku belum mulai pertengkaran ini!” seru Vania.

Azka menatapnya. “Wajah kamu sudah keliatan ingin mulai perdebatan lagi.”

Reatha akhirnya tertawa kecil. Vania meliriknya tajam.

“Kamu diam!” ucapnya sedikit kesal.

Reatha langsung mengangkat kedua tangan. “Oke. Aku diam, tak akan tertawa lagi."

Azka menarik napas panjang. Pagi-pagi sudah seperti sidang pengadilan.

Begitu sampai di kamar Azka, Vania langsung menutup pintu dengan keras.

“Sekarang jelaskan kenapa kamu bisa tidur di kamar Raisa?" tanya Vania.

Azka mengambil handuk. “Aku mengantar martabak karena semalam dia bilang ingin makan itu," jawabnya.

“Terus kenapa kamu bisa tidur di kamarnya?” Kembali satu pertanyaan terlontar dari bibirnya Vania.

“Aku ketiduran,” jawab Azka.

“Kenapa tidak kembali ke kamar?”

“Aku memang mau pulang. Tapi sudah terlalu mengantuk," jawab Azka lagi.

Vania tertawa sinis. “Alasan!”

Azka menatapnya dan membalas, “Kalau aku mau macam-macam, menurut kamu aku akan tidur dengan posisi seperti orang mati?”

Vania terdiam. Azka menunjuk dirinya sendiri.

“Aku bahkan tidak tahu kapan selimut menutupi tubuhku," ucap Azka.

“Tapi kamu tetap tidur di sana!”

“Iya.”

“Dengan istrimu!”

“Iya ...," jawab Azka. Ia hanya menjawab singkat karena sudah tampak malas berdebat.

Jawaban Azka yang terus-menerus mengiyakan justru membuat Vania semakin kesal.

“Kamu sengaja, kan memilih tidur di kamarnya, kenapa bukan di kamarku?” tanya Vania.

Azka mengerutkan kening. “Sengaja apa?”

“Sengaja membuatku cemburu!”

Azka memejamkan mata. “Vania, aku sudah bilang. Aku capek," ujar pria itu.

“Aku juga capek!” balas Vania.

“Kita sama-sama capek. Jadi jangan berteriak," ucap Azka.

Vania menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku cuma ingin kamu memilih aku.”

Azka terdiam.

“Aku ingin sekali kamu membuktikan kalau aku lebih penting daripada Raisa," ucap Vania dengan suara yang hampir tak terdengar menahan air mata.

“Dia istriku, Vania," jawab Azka.

“Aku tahu!” Suara Vania pecah. “Itulah masalahnya!”

Azka menatapnya cukup lama. “Kamu tahu sejak awal kalau aku harus menikah dengannya dan kamu mengizinkan!"

“Tapi aku berharap kamu tetap memilih aku, mengutamakan aku. Menomor satukan aku.”

Azka menarik rambutnya frustasi. Baru bangun tidur sudah diajak bertengkar. Sudah mencoba meredakan emosi tapi tetap saja Vania mengajak bertengkar.

"Jadi mau kamu apa?" tanya Azka dengan suara tinggi. Kesabarannya sudah setipis tisu dibagi sepuluh.

Vania terkejut. Ini pertama kalinya Azka membentaknya.

"Aku hanya ingin menjadi prioritas kamu," jawab Vania.

"Kurang apa aku selama ini. Aku selalu menuruti apa maumu. Aku capek, Vania. Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Susun pakaianmu, kita pulang pagi ini juga!" seru Azka.

Vania tampak terkejut mendengar perintah Azka. Ia lalu bertanya untuk memastikan, "Kita pulang?"

1
Sri Supriatin
Reatha malu2 meong 🤭🤭😍😍😍
Cicih Sophiana
semoga Reatha dan Azka jodoh nya di lancarkan dan di mudahkan... jgn ada halangan apa pun
Cicih Sophiana
semoga semua nya lancar ya Azka... jgn sampai di jegal Raisa dan orang tuanya
Engkar Sukarsih
semangat terus mas Azka 🥰🥰🥰🥰
Engkar Sukarsih
cape deh😇😇😇
Sugiharti Rusli
seharusnya kala Azka mengatakan mencintai dan akan menikahi Reatha, dia sadar diri kalo bagi Azka sekarang dirinya bukan siapa" lagi yah
Sugiharti Rusli
seperti sekarang saat dia mendatangi kantor Àzka dia seolah dia masih kekasihnya dan tanpa mengetuk pintu terlèbih dahulu,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Vania masih mengaanggap ucapannya tentang hubungan mereka sudah berakhir sudah dipahami oleh si Vania apa tidak yah
Sugiharti Rusli
tapi hal itu tidak akan menyurutkan niatan mereka untùk mendatangai keluarga Handoko, karena Reatha harus diwali nikahkan oleh ayahnya kan,,,
Sugiharti Rusli
meski baik Reatha dan Azka belum mengetahui kabar tentang Raisa yang sedang dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan yah,,,
Sugiharti Rusli
Azka memang harus membereskan urùsannya yah, salah satunya membatàlkan pernikàhannya yang dulù karena masih atas ñama Raisa
Nar Sih
kayak nya lama,,raisa bisa gilla
Naufal Affiq
anak gak sadar diri berubah jadi setan,
Naufal Affiq
semoga lancar urusan mu azka
ken darsihk
Semangat Azka semangat menjeput kebahagiaan 👍👍
Aysah Meta
Rasain nohhh..enakan di maki² anak sendiri,anak kesayangan lagi?
Di elus layaknya pualam..ehh!!Sekalinya jadi duri dalam daging.
Patrick Khan: biarin kak biarin..emaknya begok..anak jahat di pelihara..😏😏
total 1 replies
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Sri Supriatin
Seruuu thoor, tks n lanjuuut 🙏🙏🙏😍😍😍
Lusi Hariyani
semoga raisa g buat ulah lg sm reatha&aska
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!