NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGINAPAN DI BATAS KERAJAAN

Jalan menuju Kerajaan Langit Timur terasa lebih panjang dari yang dibayangkan Xuanyuan.

Luka di bahunya masih perih. Setiap kali ia mengangkat lengan, rasa nyeri menjalar hingga ke bahu. Ia membalutnya dengan potongan kain jubah yang sudah lusuh, menekan kuat-kuat agar darah tidak terus merembes. Air minumnya tinggal sedikit, dan perutnya keroncongan sejak siang tadi.

Saat matahari mulai terbenam, ia melihat sebuah desa di kejauhan. Dikelilingi tembok tanah rendah, atap jerami berjejal rapat, dan di gerbang kayu yang berat tertulis nama yang dicat pudar: Desa Bataskerajaan.

Asap tipis mengepul dari cerobong rumah. Aroma nasi hangat dan sayur rebus tercium hingga ke jalan. Xuanyuan menelan ludah. Ia ragu sejenak pakaiannya compang-camping, ada darah di jubahnya, dan kain mantra di matanya pasti menarik perhatian. Tapi kakinya terasa berat, dan malam di hutan tidak lebih aman daripada di antara orang-orang.

Ia melangkah masuk. Beberapa warga berhenti berbicara saat melihatnya. Tatapan mereka waspada, bukan ramah. Xuanyuan menunduk sedikit, berusaha tidak menarik perhatian, dan berjalan lurus menuju satu-satunya penginapan di ujung jalan bangunan kayu tua yang cahayanya temaram.

Di dalamnya hangat. Bau kayu bakar, tembakau, dan bir encer bercampur. Beberapa tamu duduk berkelompok, berbicara pelan. Xuanyuan mencari kursi paling gelap di sudut ruangan, lalu duduk perlahan, menahan rintihan saat bahunya bergerak.

Seorang wanita paruh baya mendekat. Wajahnya keras, tapi matanya meneliti luka di bahu Xuanyuan.

"Kau mau apa, anak muda?"

"Sepotong roti. Dan segelas air," jawabnya pelan, lalu merogoh koin perak yang diberikan Lian Yue.

Wanita itu melirik koin itu, lalu ke wajah Xuanyuan. "Kau terluka."

"Terjatuh di jalan."

Dia tidak bertanya lebih jauh. Membawa roti hangat, semangkuk sup sayur, dan air bersih. Xuanyuan makan perlahan, menikmati setiap suapan seakan itu hidangan paling mewah di dunia. Perutnya terasa nyaman untuk pertama kalinya sejak meninggalkan sekte.

Saat ia sedang membasuh jari dengan kain kasar, percakapan di meja sebelah menarik perhatiannya. Tiga pria duduk berhadapan, suara mereka rendah tapi tegas.

"...kereta yang dikirim kemarin diserang di jalan utara. Empat prajurit kembali dengan wajah pucat, bercerita tentang anak yang membawa pedang tulang hitam. Pangeran marah besar."

"Anak? Di wilayah ini tidak ada yang berani menentang Kerajaan Langit Timur."

"Itulah yang aneh. Mereka bilang pedangnya patah, tapi getarannya membelah tanah. Dan matanya... tertutup kain, tapi seakan menembus jiwa siapa pun yang menatapnya."

Xuanyuan berhenti bernapas sejenak. Tangan kanannya perlahan merapat ke gagang pedang di pinggang.

"Mereka menyebutnya 'Anak Bertopeng Kain'. Perintah sudah keluar: tangkap hidup-hidup. Hadiahnya seratus keping emas."

Seratus keping emas. Ia bernilai lebih dari seluruh yang dimiliki desa ini. Jantung Xuanyuan berdegup kencang. Kerajaan tidak hanya tahu mereka memasang harga pada kepalanya.

"Kau dengar itu, anak muda?"

Suara berat terdengar dari atas. Xuanyuan mendongak. Pemilik penginapan berdiri di samping mejanya, matanya menatap tajam ke arah pinggang Xuanyuan.

"Pedang tulang hitam yang patah... tidak banyak yang memilikinya di dunia ini."

Xuanyuan berdiri perlahan. "Ibu tidak perlu takut. Aku tidak mencari masalah."

"Masalah sudah mencarimu, sayangku." Wanita itu menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah pintu belakang. "Kamar nomor tiga. Pintu belakang terbuka ke kebun. Pergilah sekarang sebelum mereka yang datang lebih dulu."

Xuanyuan tertegun. "Kenapa?"

"Karena suamiku dikirim ke tambang besi lima tahun lalu. Tidak pernah kembali." Dia menatapnya lurus. "Dan karena di matamu yang tertutup itu... tidak ada kejahatan. Hanya kelelahan."

Suara langkah kaki berat terdengar di luar banyak sekali. Ketukan keras menggema di pintu depan.

"PERINTAH KERAJAAN! KELUARKAN SEMUA ORANG!"

"Cepat!" Wanita itu mendorongnya lembut ke arah lorong gelap.

Xuanyuan berlari menaiki tangga kayu yang berderit. Ia membuka pintu nomor tiga jendela terbuka ke kebun sayur yang gelap. Di bawah sana, di antara bayangan tanaman, seseorang berdiri menunggu.

Saat ia melompat turun, tangan itu mencengkeram lengannya dengan kuat.

"Ikut aku. Jangan bicara."

Itu adalah seorang gadis seusianya, rambutnya dikepang pendek, wajahnya penuh bintik matahari, dan di pinggangnya tergantung belati berukir sederhana. Ia menarik Xuanyuan berlari menembus kebun, melompati pagar kayu, dan masuk ke dalam hutan yang gelap di belakang desa.

Mereka berlari cukup lama sampai suara desa hilang sepenuhnya. Gadis itu berhenti di bawah pohon besar yang rindang, napasnya teratur, tidak terlihat kelelahan.

"Duduk. Aku periksa lukamu," katanya tegas.

Xuanyuan ragu, tapi ia melepaskan ikatan kain di bahunya. Darah masih segar. Gadis itu mengeluarkan ramuan dari kantong kulit di pinggangnya daun yang ditumbuk halus, berbau pahit namun menenangkan.

"Ini akan terasa panas. Tahan."

Ia menaburkan ramuan itu. Xuanyuan menggigit bibirnya, menahan erangan. Nyeri tajam menyengat, tapi perlahan terasa berkurang.

"Kau berani menentang Kerajaan Langit Timur," katanya sambil membalut luka dengan kain bersih. "Namaku Xiao Man. Ayahku adalah kepala desa yang ditangkap saat mereka membakar rumah kami. Kau... kau yang membebaskan Kakek Meng, kan?"

Xuanyuan terkejut. "Kau tahu Kakek Meng?"

"Dia sampai di desa sore tadi. Bercerita tentang anak yang berpedang patah dan tidak membunuh satu pun prajurit. Semua orang takut padamu. Tapi aku tahu... kau bukan penjahat."

Xuanyuan menunduk. "Kerajaan menganggapku penjahat. Dan sekarang ada hadiah untuk kepalaku."

"Hadiah itu ada karena mereka takut, bukan karena mereka benar." Xiao Man mengikat simpul balutannya dengan kuat. "Kau menuju Kerajaan Langit Timur?"

"Aku harus tahu kenapa mereka menangkap orang tak bersalah. Dan aku harus memastikan Kakek Meng selamat."

Xiao Man diam sejenak, menatap ke arah cakrawala yang gelap. "Kalau kau pergi ke sana sendirian, kau tidak akan sampai di gerbangnya. Jalan-jalan dijaga, setiap pos pemeriksaan ada daftar nama orang yang dicari. Dan wajahmu... sudah mereka ketahui."

Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain dari punggungnya. Di dalamnya ada pakaian kasar berwarna cokelat kusam, topi lebar yang menutupi sebagian wajah, dan sepasang sepatu kulit yang sudah dipakai.

"Kau akan menjadi pengangkut kayu dari desa kami. Namamu adalah A'Mu. Kau bisu, jadi jangan banyak bicara. Rombongan kami berangkat besok pagi ke kota untuk mengirim kayu ke istana kecil di perbatasan. Dengan cara itu, kau bisa masuk tanpa diperiksa."

Xuanyuan menatap pakaian itu, lalu ke wajah gadis itu. "Kenapa kau melakukan ini? Aku tidak punya apa-apa untuk dibalas."

"Siapa bilang aku ingin dibalas?" Xiao Man tersenyum tipis, senyum yang penuh kesedihan namun teguh. "Aku ingin seseorang masuk ke sana dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Bukan sebagai budak, bukan sebagai tahanan tapi sebagai orang yang bisa berdiri tegak. Seseorang yang berani menebas rantai di depan kereta kerajaan."

Ia berdiri, menunjuk ke arah sebuah gubuk kecil di balik semak. "Tidurlah di sana. Besok fajar, kita berangkat. Dan Xuanyuan..."

Dia berhenti sejenak, menatapnya dengan mata yang tajam dan jernih.

"Jangan mati sebelum kau melihat kebenaran. Karena kalau kau mati, tidak akan ada yang mengingat bahwa pernah ada seseorang yang berani menentang Langit yang salah."

Xuanyuan sendirian di dalam gubuk yang sederhana. Ia berbaring di atas jerami kering, menatap atap jerami yang berlubang. Di luar, angin malam berhembus pelan. Bahunya terasa jauh lebih baik, tapi hatinya terasa berat.

"Dia benar, kau tahu. Di dalam Kerajaan Langit Timur, kekuatanmu tidak akan cukup. Kau butuh mata, telinga, dan teman. Xiao Man adalah awal dari itu. Tapi ingat... semakin banyak orang yang berjalan bersamamu, semakin banyak yang bisa terluka karena kau." suara Lang Wuyan terdengar lembut.

"Aku tahu," bisiknya pelan. "Tapi aku tidak bisa berjalan sendirian selamanya."

Ia memegang cincin perak di jarinya, lalu menyentuh gagang pedang patah di sampingnya. Di kejauhan, di arah istana kerajaan yang belum pernah ia lihat, sebuah lampu minyak dinyalakan di menara tertinggi — satu dari ribuan lampu yang menjaga kegelapan.

Besok ia akan masuk ke sarang singa. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai kultivator hebat. Hanya sebagai A'Mu...seorang pengangkut kayu bisu.

Dan di dalam sana, sesuatu yang besar sedang menunggu. Pernikahan Pangeran Kerajaan Langit Timur dengan putri dari sekte besar di selatan sebuah pernikahan yang dikatakan akan menyatukan dua kekuatan, namun di baliknya tersembunyi rencana berdarah yang bahkan raja pun tidak sepenuhnya pahami.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!