NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10.Dingin tapi bukan

Cahaya keperakan yang temaram menyusup perlahan lewat celah tirai jendela kamar yang sedikit terbuka, menandakan fajar baru saja menyingsing. Jam dinding berbentuk lingkaran polos di atas meja rias menunjukkan pukul lima pagi tepat. Udara subuh merayap dingin, mengembun di permukaan kaca dan menusuk hingga ke dalam tulang.

Di atas tempat tidur, mata Aruna bergetar pelan sebelum perlahan-lahan terbuka.

Pandangannya kabur, diselimuti bayang-bayang kelabu yang samar. Kepala Aruna terasa sangat berat, seolah dipukuli oleh godam berulang kali, sementara tenggorokannya terasa luar biasa kering dan terbakar.

Aruna mengedipkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Hal pertama yang ia rasakan adalah sensasi kaku dan nyeri di punggung tangan kirinya.

Saat menoleh pelan, Aruna terkejut mendapati selang transparan menancap di sana, terhubung pada kantung cairan yang menggantung kaku di tiang besi.

Infus? batin Aruna bingung.

Kesadarannya mendadak tersentak. Ingatan malam hari langsung berhamburan kembali ke dalam pikirannya: rasa pusing hebat di dapur, bentakan dingin Pak Kaivan, mangkuk sup di atas tray kayu, dan... rasa gelap gulita yang merenggut tubuhnya begitu saja di dekat lorong.

Aku pingsan!

Pikiran itu menghantam dada Aruna bagai sengatan listrik. Rasa panik luar biasa seketika menyapu bersih sisa-sisa kantuk dan rasa lemasnya.

Jam menunjukkan pukul lima pagi! Itu artinya ia sudah mengabaikan kewajibannya selama berjam-jam. Pak Kaivan pasti bangun sebentar lagi untuk bersiap ke kantor. Baju kerja pria itu belum disiapkan secara sempurna di kamar utama, kopi hangat belum diseduh, dan sarapan pagi belum diolah di atas kompor.

"Astaga... bagaimana ini..." gumam Aruna panik dengan suara parau yang hampir tak terdengar.

Tanpa memedulikan rasa pusing yang kembali berputar hebat di dalam kepalanya, Aruna memaksakan tubuhnya untuk duduk. Tangannya yang gemetar berusaha menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dengan ceroboh dan terburu-buru, Aruna meraih plester di punggung tangannya, berniat mencabut jarum infus itu secara paksa demi bisa segera turun ke dapur.

Namun, sebelum jemarinya sempat menarik plester tersebut, pintu kamar yang terbuat dari kayu tebal terdorong terbuka dari luar.

Klek.

Kaivan berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah mengenakan pakaian santai—celana panjang hitam dan kaos polos abu-abu—dengan rambut yang sedikit berantakan seolah ia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak.

Sorot matanya yang tajam dan kaku langsung mengunci gerakan tangan Aruna yang hendak mencabut infus.

"Apa yang sedang kau lakukan?" suara bariton Kaivan bergema dingin, memecah keheningan subuh.

Aruna tersentak kaget. Tubuhnya membeku di atas tempat tidur, matanya membelalak menatap kehadiran Kaivan. "P-Pak Kaivan..."

Kaivan melangkah masuk dengan berkacak pinggang. Wajahnya menyiratkan kejengkelan yang amat sangat. Pria itu berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah lebar yang mengintimidasi.

"Kau gila?" omel Kaivan tajam tanpa basa-basi, menunjuk jarum infus di tangan Aruna dengan dagunya.

"Kau mau mencabut jarum itu sendiri dan membuat darahmu berceceran di atas kasurku? Jangan menambah pekerjaan rumah tangga di rumah ini, Aruna! Aku tidak sudi membersihkan noda darah di sprei hanya karena tindakan bodohmu."

Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa takut dan rasa bersalah bersatu membebani dadanya.

"M-maaf, Pak Kaivan... Saya... saya hanya kaget melihat jam. Ini sudah jam lima subuh. Saya harus menyiapkan baju kerja Pak Kaivan, menyeduh kopi, dan membuat sarapan di dapur. Saya tidak boleh terlambat..."

"Duduk kembali!" potong Kaivan dengan nada membentak namun tertahan, mengibaskan tangannya di udara.

Aruna terhenyak, tidak berani berkutik. Ia kembali merapatkan punggungnya pada kepala tempat tidur, memegangi selimutnya dengan jemari bergetar.

Kaivan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Aruna dari atas dengan pandangan menusuk dan penuh celaan.

"Menyiapkan sarapan? Mengurus baju? Kau bahkan tidak bisa berdiri lurus tanpa membuat tubuhmu ambruk seperti barang rongsokan. Kau pikir aku tega membiarkan orang sakit meracuni makananku di dapur?"

"Bukan begitu, Pak Kaivan... Saya sungguh bisa—"

"Diam," potong Kaivan tegas, menghentikan kalimat Aruna sebelum gadis itu selesai berbicara.

"Aku tidak butuh bantuan orang setengah mati. Kalau kau pingsan lagi di dapur dan kepalamu terbentur kompor gas, siapa yang akan repot? Aku! Dokter pribadi yang harus kupanggil subuh-subuh begini tidak gratis, tahu?"

Meski kata-katanya terdengar sangat kasar, kejam, dan penuh omelan, di balik dada kaku Kaivan, ada rasa tidak nyaman yang enggan ia akui. Sekeras apa pun hatinya menduga bahwa Aruna sedang bersandiwara, logika kemanusiaannya tetap menolak untuk membiarkan seorang gadis dengan demam hampir empat puluh derajat berdiri di depan kompor.

Ia membenci Aruna karena asal-usul keluarganya, namun ia tidak memiliki kekejaman barbar untuk menyiksa orang sakit hingga tewas.

Aruna meremas kain selimutnya. Tenggorokannya terasa makin menyempit, bukan hanya karena sakit, melainkan karena rasa haru dan bersalah yang bercampur aduk. Di balik nada bicara Pak Kaivan yang penuh omelan dan ketidaksukaan, pria itu sebenarnya melarangnya bekerja demi membiarkannya beristirahat.

"Pak Kaivan..." ucap Aruna pelan, memberanikan diri mendongak dan menatap mata tajam milik pria di depannya.

"Saya... saya ingin mengucapkan terima kasih banyak."

Kaivan menyipitkan matanya, mengulas senyum tipis yang sarat akan sarkasme. "Terima kasih untuk apa? Untuk biaya dokter yang harus kubayar karena keputusasaanmu?"

Aruna menggelengkan kepala perlahan. "Terima kasih karena Pak Kaivan sudah membawa saya ke kamar ini... terima kasih sudah memanggilkan dokter dan memasangkan infus untuk saya. Dan..." Aruna menundukkan kepalanya lebih dalam, air mata hangat menetes pelan menembus bulu matanya yang lentik.

"...saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya. Saya sudah sangat merepotkan Pak Kaivan sejak saya datang ke rumah ini. Maafkan saya karena fisik saya lemah dan membuat Pak Kaivan terganggu."

Permohonan maaf yang tulus dan jujur itu mengudara di dalam kamar yang dingin. Suara Aruna yang bergetar tanpa ada nada kepalsuan atau kepura-puraan sejenak membungkam Kaivan.

Pria itu mematung di tempatnya. Hatinya yang membeku sempat bergetar tipis—sebuah sentuhan asing yang langsung membuat Kaivan merasa terancam. Jangan tertipu, tegurnya pada diri sendiri dengan cepat. Gadis ini pintar memainkan emosi.

Kaivan memalingkan wajahnya dengan kasar, mendengus dingin untuk menutupi kecanggungannya. "Sudahlah, tidak perlu berakting menyedihkan di depanku. Aku tidak butuh air mata atau permintaan maafmu. Yang kubutuhkan adalah kau tidak mati di rumah ini dan membuat nama baikku tercemar."

Aruna mengusap pipinya yang basah secara sembunyi-sembunyi, lalu mengangguk pelan. "Baik, Pak Kaivan..."

"Dengarkan aku baik-baik," kata Kaivan lagi, kembali menatap Aruna dengan raut kaku dan mengomeli gadis itu seperti seorang atasan yang tak sabaran.

"Hari ini kau tidak usah keluar dari kamar ini satu langkah pun. Jangan menyentuh dapur, jangan menyentuh sapu, dan jangan berani-berani mencoba merapikan rumah. Paham?"

"Tapi, Pak Kaivan..."

"Paham atau tidak?!" tekan Kaivan dengan suara bariton yang meninggi.

"P-paham, Pak Kaivan," jawab Aruna patuh.

"Bagus," sahut Kaivan singkat.

"Satu jam lagi makanan akan datang. Aku sudah memesan bubur ayam khusus dan makanan sehat lewat aplikasi pengantar makanan. Kau makan sampai habis, lalu minum obat yang ditinggalkan dokter di atas meja ini."

Aruna tertegun mendengar penjelasan pria itu. Pak Kaivan... sudah memesan makanan untuknya? Pria yang begitu dingin dan membencinya ini memikirkan sarapannya?

"Pak Kaivan memesan makanan untuk saya?" tanya Aruna seolah tak percaya.

"Jangan percaya diri," potong Kaivan cepat dengan nada ketus.

"Aku memesannya untuk diriku sendiri juga karena aku malas memasak atau mencari makan di luar subuh-subuh begini. Daripada aku hanya memesan satu porsi dan membuat tukang ojek bingung, sekalian saja kubelikan untukmu. Lagipula, kalau kau tidak makan, demammu tidak akan turun dan kau akan terus merepotkanku sampai minggu depan."

Meskipun alasan yang dilontarkan Kaivan sangat berbelit-belit dan terkesan defensif, Aruna tetap merasa tersentuh. Kesederhanaan Aruna yang terbiasa diabaikan oleh keluarganya sendiri membuat perhatian sekecil apa pun dari Pak Kaivan terasa begitu besar.

"Terima kasih banyak, Pak Kaivan. Nanti uang sarapannya boleh dipotong dari..." Aruna menghentikan kalimatnya, menyadari bahwa ia bahkan tidak memiliki gaji atau uang sepeser pun di rumah ini.

Kaivan menghela napas panjang, menatap Aruna dengan pandangan seolah gadis itu adalah makhluk paling aneh di dunia. "Dipotong dari apa? Kau bahkan tidak punya uang satu rupiah pun. Sudah, diamlah. Suaramu yang serak itu makin membuat kepalaku pusing."

Kaivan merogoh saku celananya, mengambil sebuah botol kecil berisi tablet obat dan meletakkannya dengan agak kasar di atas meja samping tempat tidur, tepat di sebelah gelas berisi air putih yang sudah ia siapkan sebelumnya.

"Obat penurun panas ini diminum setelah kau menghabiskan buburmu. Kalau sampai aku kembali ke kamar ini nanti siang dan melihat makananmu masih tersisa atau obat ini tidak tersentuh, aku sendiri yang akan memaksa memasukkannya ke dalam tenggorokanmu. Mengerti?" ancam Kaivan dengan raut wajah yang berpura-pura galak.

Aruna mengangguk cepat. "Iya, Pak Kaivan. Saya akan makan dan minum obatnya."

"Bagus kalau kau punya telinga yang berfungsi," balas Kaivan dingin.

Pria bertubuh tinggi itu berbalik membelakangi tempat tidur. Tanpa mengucapkan kata-kata manis atau salam perpisahan yang hangat, Kaivan melangkah keluar dari kamar. Langkah kakinya yang mantap bergema di sepanjang lorong kayu luar.

Brak.

Pintu kamar ditutup kembali dengan agak kencang, meninggalkan Aruna kembali dalam keheningan subuh.

Namun, kali ini, suasana kamar yang suram dan sepi itu tak lagi terasa begitu mencekik. Aruna menyandarkan kepalanya kembali ke bantal empuk. Ia menatap selang infus yang menetes teratur, lalu beralih menatap gelas air putih dan botol obat di atas meja.

Di balik sifat Pak Kaivan yang kasar, dingin, dan suka mengomel, Aruna mulai menyadari satu hal: pria itu bukanlah sosok monster yang jahat. Pria itu hanya memiliki tembok yang sangat tinggi dan keras di sekeliling hatinya—sebuah tembok yang dibangun dari luka, yang membuat setiap kebaikan yang dilakukannya harus terbungkus rapat di dalam kata-kata yang tajam.

Aruna memejamkan matanya perlahan, menghirup napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, di tengah rasa sakit dan penderitaan tubuhnya, ada sedikit rasa hangat yang perlahan-lahan menyusup ke dalam dadanya yang dingin.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!