Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan hamgat dan Pamitan yang Tiba-Tiba
Malam kian melarut. Arkan masih terjaga penuh di lorong rumah sakit, menunggu kepastian kondisi Zara yang menjadi korban tabrak lari. Beruntung, cedera fisiknya tak sekritis yang dibayangkan. Namun, benturan di kepalanya tergolong amat keras hingga gadis itu belum juga siuman dan harus menjalani pemindaian CT-Scan serta rontgen kepala secara menyeluruh.
Di balik wajah tenangnya, pikiran Arkan berkecamuk hebat. Panggilan dan rintihan nama Kila yang diucapkan Zara sebelum hilang kesadaran terus bergaung di kepalanya tanpa henti.
"Dokter Arkan, bisa ikut saya sebentar ke ruangan?" panggil Dokter Fariz, dokter spesialis saraf yang menangani Zara.
Arkan mengangguk cepat dan melangkah mengikuti sang senior ke dalam ruang konsultasi.
"Dokter Arkan ini... kerabat dekat dari Pasien?" tanya Dokter Fariz memastikan.
"Iya, Dok. Saya penanggung jawabnya saat ini," jawab Arkan mantap.
Dokter Fariz mengangguk, lalu memutar layar monitor yang menampilkan citra digital tengkorak kepala Zara.
"Ini hasil CT-Scan dan rontgen kepalanya. Benturan akibat tabrak lari tadi menyebabkan blunt head trauma di area kening. Beruntung, tidak ada pendarahan epidural aktif saat ini. Tapi, ketika kami mengamati struktur tulang tengkoraknya lebih teliti... ada hal yang cukup unik." Dokter Fariz menunjuk sebuah garis halus di layar. "Lihat ini? Ada bekas fraktur lama di tulang korteksnya. Sepertinya ia pernah mengalami cedera retak tulang tengkorak yang amat parah di masa lalu. Bekas rekatan tulangnya masih tersisa samar."
Arkan menatap layar itu dengan napas tertahan. Bekas kecelakaan parah di masa lalu?
"Apakah benturan berulang ini sangat membahayakan kondisi sarafnya, Dok?" desak Arkan khawatir. "Mengingat dia baru saja mengalami guncangan keras di area yang sama."
"Secara fisik, kami sudah memberikan injeksi antinyeri dan antiinflamasi untuk mencegah pembengkakan jaringan otak, serta pemasangan neck collar sementara untuk mengantisipasi whiplash injury. Tapi untuk dampak kognitifnya, kita wajib melakukan observasi ketat dalam 24 jam ke depan," pening Dokter Fariz.
Arkan mengepalkan tangannya rapat. "Dokter... apakah benturan bertubi-tubi seperti ini bisa memicu amnesia... atau justru sebaliknya, mengembalikan memori yang selama ini terkunci?"
Dokter Fariz menatap Arkan penuh arti. "Sangat memungkinkan. Benturan pertama di masa lalu bisa saja merusak jalur sinapsis saraf dan memicu amnesia pascatrauma. Lalu, guncangan fisik serta lonjakan adrenalin dari benturan kedua hari ini dapat merangsang kembali respons saraf secara mendadak. Hal itu kadang membuka kembali blokade memori yang terkunci sebuah fenomena amnesia retrograde. Namun untuk kepastian pemulihannya, pasien tetap butuh terapi pemulihan kognitif bertahap."
Usai berdiskusi panjang, Arkan meminta tim medis memindahkan Zara ke ruang perawatan intensif untuk pemantauan tanda-tanda vital. Di ruang jeda, Arkan bergegas menelepon orang tua angkat Zara untuk mengabarkan musibah ini, sekaligus menggali informasi terkait riwayat masa kecil gadis itu.
Dari penuturan sang ibu angkat, tabir misteri itu mulai tersingkap. Belasan tahun lalu, saat mereka sedang menjaga Bimo yang dirawat di rumah sakit, mereka tak sengaja melihat seorang anak perempuan korban kecelakaan fatal yang terbaring koma tanpa identitas. Seluruh badannya penuh luka dan kepalanya terbalut perban rapat. Tak ada satu pun pihak keluarga yang datang atau bisa dihubungi. Ketika anak itu akhirnya siuman dan dinyatakan mengalami amnesia total akibat benturan kepala, hati mereka tergerak untuk merawat dan mengangkatnya sebagai anak kandung—yang kini dikenal sebagai Zara.
𑁍───𑁍───𑁍───𑁍───𑁍───𑁍
Pagi harinya, suasana rumah sakit mendadak riuh, Bayu dan Panji telah berada di ruang rawat untuk menemani Zara yang baru saja siuman setelah pingsan sejak semalam.
Zara masih terdiam membisu, enggan bersuara. Bayu dan Panji sebelumnya telah diberi tahu oleh tim medis bahwa cedera otak yang dialami Zara membuat gadis itu kemungkinan mengalami kesulitan mengenali orang-orang di sekitarnya untuk sementara waktu. Dokter berpesan agar mereka tidak menekan atau memaksa Zara mengingat sesuatu secara instan.
Sementara itu Ayah kandung Arkan yang merupakan pemilik rumah sakit tersebut segera membatalkan jadwal Studi Banding di luar kota begitu mendapat laporan berharga dari sang putra. Bersama adik kandungnya Papa dari Bayu, mereka berkumpul di ruang kepala rumah sakit miliknya untuk berdiskusi.
Arkan duduk di hadapan Papanya, menyodorkan sebuah kalung perak yang ia simpan rapi di saku jasnya.
"Kamu yakin gadis itu adalah Kila?" tanya sang Papa dengan suara bergetar, menatap kalung di tangannya.
"Arkan yakin, Pa," sahut Arkan mantap. "Ini kalung milik Kila. Arkan sendiri yang mendesain ukirannya sewaktu kami bertukar hadiah dulu."
Papa Bayu menepuk bahu kakaknya perlahan. "Kita tunggu hasil tes DNA-nya. Arkan sudah meminta sampelnya diproses secepat mungkin. Kalau hasil tesnya cocok, berarti takdir memang berpihak pada kita... anak gadis yang kita tangisi belasan tahun ini ternyata masih hidup."
𑁍───𑁍───𑁍───𑁍───𑁍───𑁍
Di sisi lain koridor, langkah kaki tergesa memecah keheningan. Aira yang baru saja mendarat dari Surabaya berlari dengan napas berburu-buru. Langkahnya terhenti di depan pintu ruang rawat inap Zara, di mana Panji dan Bayu sedang duduk berjaga.
"Zara bagaimana?!" tanya Aira panik dengan napas terengah-engah.
Panji dan Bayu yang sedang memainkan ponsel spontan menoleh.
"Astaga, Aira! Akhirnya kau balik juga!" seru Panji heboh sembari bangkit dan membentangkan tangan berniat memeluk.
"Woy! Bukan muhrim!" potong Bayu cepat sambil menepis bahu Panji.
Panji cengengesan dan menurunkan tangannya kaku.
"Kapan kamu sampai?" tanya Bayu.
"Itu tidak penting sekarang! Bagaimana kondisi Zara? Aku khawatir sekali!" desak Aira sembari berusaha mengintip ke dalam lewat kaca pintu.
Namun, dengan sigap Bayu dan Panji mendadak pasang badan menghalangi pintu.
"Kalian kenapa sih?! Minggir, aku mau masuk!" protes Aira kesal.
"Eh, sebentar dulu, Ra! Jangan langsung masuk!" tahan Panji kelabakan.
"Kalian kalau mau minta oleh-oleh jangan sekarang! Aku mau lihat Zara dulu!" Aira menarik paksa lengan kedua temannya hingga mereka terhuyung.
KLEK!!!
Pintu terbuka. Begitu Aira melangkah masuk, tubuhnya mendadak kaku seketika. Pandangannya menangkap sosok Arkan yang tengah merengkuh tubuh Zara yang terbaring di atas bangsal. Zara yang baru siuman tampak membalas pelukan itu dengan tenang.
"Zara..." panggil Aira pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Arkan mendongak, matanya bertabrakan dengan pandangan Aira yang terpaku di ambang pintu.
"Tuh kan, sudah dibilang jangan masuk dulu..." gumam Bayu menepuk jidat di belakang Aira.
Sendi-sendi tubuh Aira mendadak lemas. Ada denyut nyeri yang menghantam dadanya secara tiba-tiba, namun ia berusaha menguasai diri dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumbar senyum hangat meski bibirnya bergetar samar.
"Zara... cayangku! Ya ampun, kenapa bisa sampai begini, sih?" tangis Aira pecah saat ia melangkah mendekat dan merengkuh sahabatnya itu erat-erat.
Zara mengukir senyum pucat, membalas pelukan Aira dengan kehangatan yang sama. Sementara Arkan perlahan mengurai pelukannya, melangkah mundur dan memberi ruang tanpa mengalihkan pandangannya dari Aira.
"Kamu kapan sampai, Ra?" tanya Zara pelan.
"Baru saja! Dari bandara langsung ke sini," sahut Aira melepaskan pelukannya.
Panji dan Bayu yang ikut menyusup masuk mengamati Aira dengan cemas, menduga gadis itu akan meledak emosi atau berlari menangis. Namun Aira justru bersikap amat tenang dan mengajak Zara berbincang seolah tak terjadi apa-apa.
"Ra, kau baik-baik saja kan?" bisik Panji hati-hati.
"Kenapa memangnya?" tanya Aira heran.
"Kau ke mana saja seminggu ini? Kita semua bingung mencari kamu! Ponselmu tidak aktif sama sekali. Aku pikir kau menghilang karena mau dijodohkan di Surabaya!" celetuk Bayu.
Aira merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel dengan kondisi layar yang retak seribu, lalu menyodorkannya ke Bayu.
"Astaga! Ponselmu kenapa bisa hancur begitu, Ra?!" seru Panji menatap prihatin.
"Bang Reyhan berantem sama suaminya Kak Nadia, dan ponselku yang jadi korban lemparan," jawab Aira santai.
"Kok bisa sampai berantem hebat begitu?" tanya Bayu kaget.
"Suami Kakakku selingkuh... sampai Kak Nadia kelelahan, stres, dan akhirnya keguguran. Bang Reyhan yang emosi langsung menghajar dia," terang Aira dengan raut wajar.
"Innalillahi... Terus kondisi Kak Nadia sekarang bagaimana?" tanya Zara prihatin.
"Sudah agak membaik, walau masih syok berat. Tapi sekarang proses perceraian mereka sudah berjalan," tutur Aira.
Bayu mencoba menekan tombol daya ponsel Aira, namun layar itu mati total. "Pantas saja tidak bisa dihubungi seminggu ini."
"Lalu kamu tahu aku masuk rumah sakit dari mana?" tanya Zara.
"Aku beli ponsel baru, lalu melihat unggahan foto rumah sakit dari Panji. Pas kutelepon nomor kamu tidak aktif, aku langsung panik dan beli tiket pulang," terang Aira.
Arkan yang berdiri di sudut ruangan menyimak seluruh percakapan itu dalam diam. Sejak Aira masuk, sikap gadis itu padanya bahkan lebih acuh tak acuh, sangat berbeda dibanding biasanya.
"Kebetulan kau sudah di sini, Ra, sebenarnya ada kabar gembira yang..." kata Bayu hendak memotong.
"Wah, pas sekali! Aku juga punya kabar penting," sela Aira cepat. "Aku mau pindah kuliah dan menetap di Surabaya."
Keheningan seketika melingkupi ruangan. "Hah?! Kau bercanda kan, Ra?!" seru Bayu tak percaya.
"Aku serius. Aku ke sini sekalian mau pamitan sama kalian. Kasihan Kak Nadia sendirian di sana, dia butuh pendamping selama proses perceraian ini," jelas Aira mantap.
Arkan menatap Aira tajam, dadanya mendadak sesak mendengar pernyataan mendadak itu.
"Kapan kamu berangkat?" tanya Panji lemas.
"Hari ini. Habis ini aku mau pulang bentar untuk mengambil berkas dan pakaian, lalu langsung terbang lagi," jawab Aira.
"Aira... kamu tega meninggalkan aku?" ratap Zara memegang tangan sahabatnya.
"Bukan begitu, Zar... Keadaannya sedang darurat," bisik Aira menenangkan.
Melihat suasana yang mendadak suram, Panji mencoba mengalihkan perhatian. "Aira... mana oleh-oleh dari Surabayanya? Aku lapar nih."
Aira menyerahkan tas ranselnya ke Panji. "Ambil saja di dalam, ada bungkusan makanan."
Dengan antusias Panji merogoh isi tas Aira. Namun, saat tangannya menarik keluar sebuah benda berwarna merah muda, matanya membelalak horor.
"Aira... ini apa?!" seru Panji menunjuk benda di tangannya.
Aira menoleh dan seketika menjerit heboh. "Panji! Itu dalaman kotor milikku! Kenapa kau pegang-pegang, sih?!"
Aira memang sempat berganti pakaian di perjalanan, tetapi ia lupa memisahkan pakaian kotornya ke kantong terpisah.
Panji refleks melemparkan kain itu kembali ke tas dengan wajah pucat pasi.
"Astagfirullah! Mataku tercemar! Maafkan aku ya Allah, aku tidak lihat!" seru Bayu spontan menutupi matanya rapat-rapat.
Sementara Arkan yang ikut menyaksikan insiden itu hanya mengibaskan tangannya menahan canggung, lalu bergegas melangkah keluar ruangan dengan wajah memerah.
"Panji sialan! Aku bunuh kau sekarang juga!" omel Aira heboh merebut kembali tasnya.
Panji sudah lebih dulu ngibrit kabur keluar kamar sebelum Aira sempat melayangkan pukulan. Gelak tawa Zara akhirnya pecah melihat tingkah absurd teman-temannya.
"Sudah, ah! Aku buru-buru. Selamat tinggal semuanya, sampai jumpa beberapa tahun ke depan!" pamit Aira melambaikan tangan sebelum melangkah keluar.
𑁍───𑁍───𑁍───𑁍───𑁍───𑁍
Aira berjalan menuju lift dengan pandangan terfokus pada layar ponsel barunya. Saat pintu lift terbuka dan ia melangkah masuk, sebuah tangan menahan sensor pintu agar tidak menutup.
Arkan masuk ke dalam lift.
Suasana di dalam kotak besi itu mendadak hening dan canggung. Hanya ada mereka berdua. Aira berpura-pura sibuk membalas pesan, mengabaikan keberadaan sang dokter.
"Apa kamu akan selamanya di Surabaya?" tanya Arkan akhirnya, memecah keheningan.
"Mungkin," sahut Aira singkat dan acuh.
"Kamu tidak akan kembali ke sini?" desak Arkan lagi, menatap intens profilen samping wajah Aira.
Aira menghela napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya, menatap lurus manik mata Arkan. "Kenapa tiba-tiba Kakak banyak bertanya?"
Arkan bungkam, tenggorokannya mendadak tercekat.
"Kalau urusan Aira di sana menumpuk, Aira tidak akan kembali. Tapi kalau sudah selesai, Aira pasti pulang... kasihan Mama sendirian di rumah," ujar Aira datar.
TING!!!
Pintu lift terbuka di lantai utama. Tanpa menguncapkan salam vedat atau berpamitan, Aira melangkah keluar begitu saja meninggalkan Arkan.
Ponsel di tangan Aira berdering. Gadis itu mengangkatnya sembari berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Halo, Pandu? Iya, ini aku sudah di lantai utama. Tunggu sebentar, ya," ucap Aira dengan nada suara yang jauh lebih ramah.
Arkan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya membeku. Nama pria lain yang baru saja disapa Aira dengan begitu hangat mendadak membakar dadanya oleh rasa gelisah yang tak tertahankan.
Siapa Pandu? Dan apakah Aira pergi meninggalkannya bersama pria itu?
Bersambung__
_____
Ini kalung zara yang sempat ditemukan Arkan saat di ruang jenazah.