Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIANG ILMU, ATAP SILEK: Janji di Lereng Singgalang
GERBANG SMP NEGERI PANDE SIKEK 1975 - MENGAPA ARYA 10 TAHUN DILARANG KE SINGGALANG
Tahun 1975. Kabut masih menggantung tebal di lereng Gunung Singgalang, menyelimuti Nagari Pande Sikek dengan selimut putih yang dingin dan lembab. Pagi-pagi embun masih menempel di daun bawang, ayam berkokok bersahutan. Belum ada motor Honda berisik yang lewat, belum ada listrik masuk ke rumah, belum ada televisi. Di Pande Sikek tahun 1975, listrik masuk desa baru akan ada 15 tahun lagi, tahun 90-an. Malam hari kampung gelap gulita, hanya diterangi lampu minyak dan lampu petromaks yang apinya berdesis. Jalan masih tanah merah, licin dan berlumpur jika hujan turun semalam. Di kejauhan, hamparan sawah baru selesai panen, jerami bertumpuk di pematang, dan surau kayu tua di tepi sawah berdiri dengan dinding papan yang sudah menghitam dimakan usia dan asap kemenyan.
Sore itu di halaman rumah gadang Payobadar, suasana seperti biasanya. Angin sore akhir musim kemarau menggerakkan pucuk-pucuk pinus. Bau asap tungku dari dapur tercium, Siti Aminah Sikumbang sedang menanak nasi dengan kayu bakar, asapnya mengepul ke atas.
Andi Rajo Alam Sikumbang, umur 17 tahun, Kelas 3 SMA, sudah bersiap di halaman. Tahun ini adalah tahun yang paling menentukan. Ia mau menghadapi Ujian Negara SMA tahun 1975, ujian yang sangat berat, soalnya datang dari Jakarta, diawasi ketat, menentukan apakah seorang anak petani bawang seperti dia bisa melanjutkan kuliah ke IKIP Padang atau harus berhenti sekolah. Tubuhnya kini sudah tegap, kumis tipis mulai tumbuh. Sarungnya disingsingkan sampai lutut, baju hitam pencak sileknya yang dijahit oleh Bu Nasbah masih berbau keringat kemarin yang belum sempat dicuci karena air sumur kering.
Di sebelahnya, berdiri adik kandungnya, Arlan Rasyad Sikumbang, umur 13 tahun, SMP Kelas 1. Badannya mulai tinggi menjulang, bahunya mulai bidang, darahnya panas, paling berani berkelahi di antara anak-anak Nagari.
Seperti biasanya setiap Asar menjelang, ketika bedug surau kayu bertalu-talu dipukul garin, mereka akan berangkat ke Lereng Singgalang. Di sanalah sasaran mereka, sebuah lingkaran tanah lapang yang diratakan secara adat, hanya tanah keras dipadatkan, di bawah pohon beringin besar yang akarnya menjalar seperti naga tidur. Tempat itu adalah tempat aliran Silek Tuo Harimau diajarkan turun-temurun. Tidak ada buku panduan, hanya dari mulut ke mulut.
Di belakang mereka, berlari kecil dua orang anak muda dari suku Chaniago. Mereka adalah Ibrahim Sulaiman Chaniago, umur 13 tahun, SMP Kelas 1, sekelas sebangku dengan Arlan, tubuhnya kurus tapi otaknya sangat cerdas, dan Darlin Aminuddin Chaniago, umur 10 tahun, masih SD Kelas 4, badannya besar seperti anak kerbau.
Keduanya adalah anak kandung dari Usman bin Rauf Sikumbang dan istrinya Rismawati Chaniago. Sesuai adat Minang matrilineal, suku anak ikut suku ibu, maka keduanya bersuku Chaniago, bukan Sikumbang.
Namun sore itu ada yang berbeda. Di antara mereka, berdiri anak paling bungsu, paling kecil tubuhnya. Dialah Arya Arsyad Sikumbang, umur 10 tahun.
Padahal umurnya baru 10 tahun, tapi ia sudah duduk di SMP Kelas 1, sekelas dengan Arlan yang 13 tahun dan Ibrahim yang 13 tahun. Ini yang membuat seluruh Pande Sikek heboh tahun 1975. Bagaimana mungkin anak 10 tahun sudah SMP? Ia loncat dua kali, terlalu cerdas. Di usia 4 tahun sudah bisa membaca lancar, di usia 6 tahun sudah khatam Al-Qur'an 30 juz di surau Payobadar.
"Mamak, buliah ambo ikut?" pinta Arya.
Semua mata tertuju pada Usman bin Rauf Sikumbang. Di tahun 1975 ini, usianya baru sekitar 28 tahun, masih sangat muda untuk ukuran guru Silek Tuo, kumis dan jenggot hitam tebal, sorot matanya tajam seperti harimau. Ia adalah ayah kandung Ibrahim dan Darlin, dan kakak laki-laki dari Siti Aminah Sikumbang, ibu kandung Andi, Arlan, dan Arya.
Usman menatap kemenakan bungsunya itu lama.
"Arya, Indak kini, Nak."
Wajah Arya langsung layu.
Lalu keluarlah kalimat yang menjadi pegangan hidup sampai ke novel Hakim Dari Kegelapan nanti: "Ilmu pangatahuan dahulu, baru ilmu silek, untuak mambangun adab."
Usman meletakkan tangannya yang kasar di pundak kecil keponakannya itu. "Silek Tuo Harimau bukan soal manjatuhkan lawan. Harimau indak pernah manerjang tanpa parhitungan. Itulah ilmu pangatahuan. Kalau kau hanyo punyo kuku jo taring tanpa aka, kau hanyo binatang buas."
Arya menjawab berani, "Tapi, Mamak, ambo bisa baraja kaduonyo!"
Usman tersenyum tipis. "Boleh, tapi kamu kejar pengetahuan dulu." Ia menunjuk surau kecil tempat kitab kuning dan buku-buku sekolah bertumpuk. Di tahun 1975, buku adalah harta paling mahal, lebih mahal dari sekarung bawang.
Andi yang mau Ujian SMA dan Arlan 13 Tahun yang sudah SMP menoleh.
Dari beranda, Abdullah bin Rais Payobadar tersenyum melihat ketiga putranya.
"Ayo, berangkat!" kata Usman.
Seketika Andi yang 17 tahun Kelas 3 SMA, Arlan 13 Tahun SMP Kelas 1, Ibrahim 13 Tahun SMP Kelas 1, dan Darlin 10 Tahun SD Kelas 4 pergi ke Singgalang. Debu jalan tanah merah beterbangan.
Arya 10 Tahun SMP Kelas 1 ditinggal di halaman. Ada tekad.
Inilah yang tidak diketahui Andi dan Arlan sore itu, mengapa Arya benar-benar dilarang.
Pagi tadi, sebelum Asar tahun 1975 itu, Usman telah dipanggil diam-diam oleh Ibu Gusni, guru disiplin SMP Negeri Pande Sikek, saudari sepupu jauh Siti Aminah.
Di rumah papan sederhana, Bu Nasbah penjahit hampir pingsan karena cemas. Di tahun 1975, mengurus pendaftaran SMP Negeri itu sangat sulit. Belum ada mesin fotokopi, belum ada listrik, semua berkas ditulis tangan dengan kertas karbon di bawah lampu petromaks. Kalau salah tulis satu huruf, harus ulang dari awal. Berkas pendaftaran SMP Negeri Pande Sikek milik Arlan 13 Tahun SMP Kelas 1 dan Arya 10 Tahun SMP Kelas 1 hampir tidak masuk verifikasi karena terlambat administrasi domisili. Map plastik lusuh dibawa jalan kaki dari kantor wali nagari ke dinas pendidikan.
Ibu Gusni berkata jujur: "Da Usman, ambo lah bantu berkas Arlan 13 Tahun jo Arya 10 Tahun masuak verifikasi ulang karano nilai elok. Tapi Kapalo Sekolah Bapak Drs. Syafrianto mandanga kabar Arya ko anak 10 tahun lah SMP Kelas 1. Baliau indak picayo. Baliau ka ma-uji Arya bisuak pagi di MPLS. Kalau lolos, bisa lansuang akselerasi ka Kelas 2 SMP."
Itulah sebabnya Usman harus menahan Arya di surau. Silek bisa menunggu, gerbang SMP Negeri tahun 1975 tidak.
Malam itu, ketika Andi yang 17 tahun mau Ujian SMA dan Arlan 13 tahun pulang dengan tubuh lelah namun wajah puas karena sudah latihan, mereka mendapati adik bungsu mereka masih terjaga di bawah lampu minyak. Bukan lampu listrik, karena di Pande Sikek 1975 belum ada listrik. Lampu minyak sumbunya kecil, asapnya hitam, dan di sudut ada lampu petromaks yang apinya mendesis keras, kacanya sudah agak hitam. Di hadapannya tumpukan buku tebal: buku IPA Kelas 1 dan Kelas 2 SMP pinjaman sepupunya dari Padang Panjang, yang sudah ia habiskan selama liburan.
"La paham kau kini, Ya?" tanya Andi.
Arya mengangguk. "Mamak bana, Da Andi. Kalau ambo indak punyo ilmu, untuak apo Silek ko?"
Tiga hari kemudian, MPLS SMP Negeri Pande Sikek 1975. Semua siswa baru duduk bersila di tanah lapangan yang belum disemen, masih tanah. Mereka pakai putih biru masih baru. Arya 10 Tahun SMP Kelas 1 dan Arlan 13 Tahun SMP Kelas 1 duduk di barisan paling depan.
Tiba-tiba dari depan, Pak Mansur petugas TU tahun 1975, pria kurus dengan peci hitam, maju ke tengah lapangan. Tidak ada pengeras suara listrik, tidak ada TOA, karena listrik saja belum ada. Ia hanya memakai corong gulungan dari kaleng bekas susu yang di ujungnya mengkilat, megafon manual tahun 70-an, dan dengan suara lantang yang menggelegar ia memanggil, "Ananda Arya Arsyad Sikumbang, dimohon segera menghadap ke ruangan Kepala Sekolah. Sekarang!"
Seluruh lapangan menoleh. Arlan 13 Tahun menatap cemas.
Ruangan Kepala Sekolah SMP Negeri Pande Sikek tahun 1975 sangat berwibawa. Dindingnya dari papan kayu, dipenuhi piala-piala kejuaraan cerdas cermat dari kaleng. Tidak ada AC, karena listrik belum ada. Tidak ada kipas angin listrik. Hanya ada jendela kayu besar yang dibuka lebar, angin Singgalang masuk, dan kipas manual dari anyaman lidi yang biasanya dikibaskan sendiri. Meja kayu jati besar berderit.
Di sana telah menunggu Bapak Drs. Syafrianto, Ibu Gusni, dan Ibu Rina.
"Arya," buka Bapak Syafrianto, "Benarkah kamu selama liburan kemarin sudah menghabiskan semua buku IPA kelas 1 dan kelas 2 SMP?"
Arya mengangguk pelan.
Ibu Rina meletakkan map cokelat tebal di meja kayu yang sudah lapuk dimakan rayap. "Ini adalah soal Ujian Akhir Semester untuk kelas 3 SMP, IPA Terpadu. Kerjakan di sini, sekarang. Waktunya dua jam. Kami pakai lampu petromaks kalau kurang terang."
Ruangan sunyi senyap. Hanya detak jam dinding dan goresan pensil di atas kertas yang sudah menguning. Cahaya petromaks yang berdesis menerangi ruangan yang agak gelap karena jendela tertutup kabut. Para guru yang tadinya menunggu di luar ikut masuk menyaksikan anak kecil 10 tahun berseragam SMP yang kebesaran duduk mengerutkan kening menjawab hukum Newton.
Dua jam berlalu. Hasilnya: 85 persen benar!
Kepala Sekolah berdiri menepuk pundak Arya. "Luar biasa, Nak. Kamu anak 10 tahun SMP Kelas 1 pertama dalam sejarah Pande Sikek."
Keesokan harinya, tantangan lebih gila lagi. Di meja kayu sudah tersusun buku tebal tahun 1975: buku Biologi Kelas 1 SMA, Fisika Kelas 1 SMA, dan Kimia Kelas 2 SMA. Buku-buku itu sampulnya sudah lepas, halamannya menguning, pinjaman dari guru SMA X Koto.
"Kami beri waktu seminggu. Pahami konsepnya. Sanggup?" tanya Kepala Sekolah. "Belajar di rumah pakai lampu minyak saja, jangan dipaksakan sampai malam. Minyak tanah lagi susah."
Arya 10 Tahun SMP Kelas 1 yang kemarin dilarang ikut Silek Tuo Harimau ke Singgalang itu matanya berbinar di bawah cahaya petromaks. "Sanggup, Pak."
Seminggu itu kehidupan Arya berubah total. Ia mengurung diri di kamar kecil yang hanya diterangi lampu minyak dan sesekali lampu petromaks yang harus dipompa dulu. Bau minyak tanah menyengat di kamar. Arlan 13 Tahun kakaknya yang sekelas dengannya setia membuatkan kopi hitam tubruk. Andi Rajo Alam yang 17 tahun Kelas 3 SMA mau Ujian SMA menjaga rumah sambil menghafal rumus-rumus SMA dengan buku tulis yang kertasnya buram. Ibrahim 13 Tahun SMP Kelas 1 yang sekelas dengannya, yang dipanggil Paman oleh Andi, Arlan, dan Arya, datang membawakan buku catatan yang ditulis tangan. Darlin 10 Tahun SD Kelas 4 menjaga pintu surau agar Arya tidak diganggu.
Di sinilah Usman melihat, inilah Silek Tuo yang sebenarnya. Duduk diam di bawah lampu minyak adalah Langkah Harimau Turun Minum. Sabar menunggu minyak tanah habis adalah Silek Kucing.
Setelah seminggu, Arya kembali dan ia lulus lagi.
Maka pada malam Jumat di Talago Biru, Lereng Singgalang tahun 1975, di bawah bulan purnama yang terang tanpa lampu listrik sedikit pun, hanya cahaya bulan yang memantul di air telaga biru, Usman mengumpulkan kelimanya: Andi Mau Ujian SMA 17 Tahun Kelas 3 SMA, Arlan 13 Tahun SMP Kelas 1, Ibrahim 13 Tahun SMP Kelas 1, Darlin 10 Tahun SD Kelas 4, dan Arya 10 Tahun SMP Kelas 1.
Api unggun kecil dari kayu bakar dinyalakan untuk menghangatkan badan, karena malam di Singgalang sangat dingin.
"Wahai anak-anakku dari Rismawati Chaniago dan kemenakanku dari adikku Siti Aminah Sikumbang," kata Usman dengan suara berat memecah keheningan telaga, "Selama ini kalian hanya belajar Silek Tari. Kini kalian sudah membuktikan adab. Arya 10 Tahun SMP Kelas 1 sudah membuktikan ilmu pengetahuan dahulu. Maka malam ini ambo titipkan Silek Tuo yang sesungguhnya."
Dan sejak 1975 itu, di SMP Negeri Pande Sikek yang belum ada listriknya, yang kalau malam hanya diterangi petromaks, orang tidak hanya mengenal Andi Rajo Alam yang gagah mau Ujian SMA dan Arlan Rasyad 13 Tahun SMP Kelas 1 yang tekun, tapi juga Arya Arsyad Sikumbang, si harimau kecil 10 Tahun SMP Kelas 1 yang tahu kapan harus diam di surau di bawah lampu minyak dan kapan harus menerkam di gelanggang.