Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Foto dan Nama yang Mulai Terasa
Dokumen itu datang dalam amplop coklat tebal yang diantar langsung oleh pengawal kakek Reza. Pria berjas gelap itu tidak banyak bicara. Hanya menyerahkan amplop ke tangan Reza, mengangguk singkat, lalu kembali ke mobil yang mesinnya masih dinyalakan. Debu jalanan bukit beterbangan saat mobil itu berbalik arah.
Di dalam rumah, keempat orang itu berkumpul di ruang tamu yang cahaya lampunya agak kuning. Aira masih duduk di kursi yang sama dekat jendela, selimut tipis tersampir di bahu. Raka berdiri di belakang sofa. Keenan menyandarkan tubuh di meja makan yang goyang. Reza meletakkan amplop di atas meja kopi, lalu membuka segelnya dengan hati-hati.
Isinya bukan hanya kertas. Ada beberapa foto berwarna kusam, lembar wasiat yang sudah dilegalisir, dan selembar akta kelahiran yang lipatannya sudah menguning.
Reza mengambil foto paling atas dan menatapnya lama sebelum menyerahkannya ke Aira.
Aira menerima foto itu dengan jari yang sedikit gemetar bukan karena takut. Melainkan karena sesuatu di dadanya tiba-tiba terasa penuh.
Foto itu menampilkan seorang pria berusia empat puluhan dengan wajah tegas, berdiri di samping wanita berambut panjang yang tersenyum tipis. Di pelukan wanita itu, seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun menatap kamera dengan ekspresi datar yang sangat familiar. Mata yang sama. Bentuk bibir yang sama. Bahkan cara menatap yang seolah sudah terbiasa tidak banyak tersenyum.
Aira membalik foto itu. Di belakangnya ada tulisan tangan yang sudah memudar: Aira, ulang tahun kelima. Rumah lama.
Dia tidak bilang apa-apa untuk waktu yang cukup lama. Hanya menatap wajah anak kecil itu seolah mencoba memaksa ingatannya bekerja. Yang muncul hanyalah gelap, bau obat-obatan lama, dan suara orang berteriak dari jauh.
“Ini kamu,” kata Reza pelan.
Aira mengangguk sekali. “Wajahnya mirip. Sangat mirip.”
Raka mendekat, melihat foto dari belakang bahu Aira. “Kamu tidak ingat sama sekali?”
“Tidak. Kosong. Seperti ada yang menghapus dengan paksa.” Aira meletakkan foto itu di pangkuan, lalu mengambil lembar berikutnya. Akta kelahiran. Nama lengkap: Aira Hadi. Nama ayah: Hadi Wijaya. Nama ibu: sudah dicoret tipis, seolah sengaja dihilangkan dari catatan.
Keenan yang selama ini diam akhirnya berbicara. “Kalau ini benar, seseorang telah berusaha menghilangkan jejakmu dengan sangat sistematis. Bukan sekadar anak hilang biasa.”
Aira membuka wasiat. Bahasa hukumnya kaku dan panjang, tapi intinya sudah dia dengar kemarin. Seluruh aset keluarga Hadi hanya bisa dialihkan ke Aira Hadi apabila dia menikah dengan Reza, cucu dari pihak yang ditunjuk sebagai wali. Jika tidak, aset jatuh ke cabang keluarga lain yang namanya tidak dia kenal.
Dia menutup lembar itu pelan. “Jadi saya benar-benar disembunyikan atau dibuang. Lalu sekarang diminta kembali dengan syarat menikah.”
Reza duduk di tepi meja kopi. “Kakek bilang ibumu meninggal saat kamu kecil. Ayahmu kemudian memutuskan menyembunyikanmu karena ada ancaman dari organisasi yang sama dengan yang sekarang memburumu. Dia bekerja sama dengan kakek saya untuk menyembunyikan identitasmu. Tapi suatu hari kamu menghilang dari tempat persembunyian. Mereka mencarimu bertahun-tahun tanpa hasil.”
Aira tertawa kecil. “Menghilang, diculik atau dijual ke orang yang kemudian melatih saya menjadi pembunuh bayaran. Pilihannya sama saja jeleknya.”
Raka berjalan mondar-mandir lagi, tidak bisa diam. “Kalau organisasi itu yang bertanggung jawab atas hilangnya kamu dulu, berarti mereka tidak hanya ingin menangkapmu sekarang. Mereka ingin menutup mulut. Atau mengambil sesuatu yang hanya bisa diambil dari ahli waris Hadi.”
Keenan mengangguk pelan. “Masuk akal. Warisan sebesar itu pasti menarik banyak pihak.”
Aira menatap foto anak kecil itu sekali lagi. Jari-jarinya menyentuh tepi foto yang sudah agak aus. “Saya tidak merasa seperti orang di foto ini. Tapi wajahnya tidak bisa dibantah. Mata itu… saya lihat di cermin setiap hari.”
Reza berbicara hati-hati. “Kamu tidak harus menerima apa pun sekarang. Bahkan tidak harus mengakui nama itu di depan publik. Kita bisa selidiki dulu siapa yang diuntungkan jika kamu tidak pernah kembali.”
“Dan sementara itu?” tanya Aira. “Saya tetap tinggal di rumah milik kakekmu, dijaga oleh tiga pria yang masing-masing punya alasan sendiri, sambil menunggu organisasi itu datang lagi?”
“Ya,” jawab Raka tanpa ragu. “Karena alternatifnya adalah kamu kembali ke arena dan bertarung dalam kondisi rusuk yang belum sembuh. Saya tidak akan biarkan.”
Aira menghela napas. Nyeri di sisi tubuhnya naik sebentar, lalu mereda. “Uang yang kamu transfer… saya tetap anggap hutang. Tapi untuk sementara saya pakai. Karena kalau saya tolak, kalian bertiga akan lebih merepotkan lagi.”
Raka hampir tersenyum. “Akhirnya.”
Keenan berdiri, merapikan lembar-lembar dokumen ke dalam amplop lagi. “Saya akan cek luka sekali lagi sebelum malam. Dan saya akan tinggal di sini. Jadwal rumah sakit bisa diatur ulang.”
Reza menatap kedua pria itu. “Kakek tidak akan senang jika kalian terus di sini.”
“Biarkan dia tidak senang,” sahut Raka. “Aira lebih penting.”
Aira memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya yang longgar. “Saya simpan dulu. Kalau suatu hari saya ingin melihatnya lagi, saya tidak perlu minta.”
Mereka terdiam cukup lama setelah itu. Hanya bunyi angin di antara pohon dan sesekali derit kayu rumah tua yang bereaksi terhadap suhu malam yang turun.
Aira akhirnya berdiri, pelan. “Saya mau istirahat. Kepala saya penuh. Jangan ribut di bawah.”
Raka langsung menyertainya ke tangga. “Saya antar.”
“Tidak perlu.”
“Saya antar.”
Keenan dan Reza tertinggal di ruang tamu. Mereka saling berpandangan sejenak.
“Kamu benar-benar lega,” kata Keenan akhirnya.
Reza tidak menyangkal. “Saya lega karena saya tidak kehilangan dia. Tapi saya juga takut. Karena sekarang dia punya target yang lebih besar di punggungnya. Bukan hanya sebagai mantan pembunuh, tapi sebagai ahli waris yang hilang.”
Keenan mengangguk. “Kita harus siapkan diri. Organisasi itu tidak akan tinggal diam setelah tahu dokumen ini sudah di tangan kita.”
Di kamar atas, Aira duduk di tepi tempat tidur sambil masih memegang foto di dalam saku. Raka berdiri di ambang pintu, tidak masuk.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya pelan.
“Tidak tahu,” jawab Aira jujur. “Tiba-tiba saya punya nama lengkap, punya ayah yang sudah mati, punya warisan yang hanya bisa diambil dengan menikah, dan punya tiga pria yang tidak mau meninggalkan saya sendiri. Dulu hidup saya lebih sederhana. Lapar, bertarung, tidur, berulang terus seperti itu.”
Raka tersenyum kecil. “Sederhana itu sudah lewat. Sekarang kamu harus terbiasa dengan yang rumit.”
Aira tidak menjawab. Dia hanya berbaring pelan, memunggungi pintu. Raka menunggu beberapa detik, lalu menutup pintu sampai terbuka sedikit, sesuai aturan yang pernah Aira buat.
Di luar rumah, di balik semak yang sudah basah oleh embun, pria pengawas menekan earpiece.
“Mereka sudah melihat dokumennya,” lapornya pelan. “Reaksi target tenang. Tapi ketiga pria itu terlihat lebih tegang.”
Suara di seberang kali ini lebih dekat, seolah bos sudah berada tidak jauh.
“Bagus. Biarkan mereka tidur. Saya akan datang sendiri sebelum fajar. Kali ini tidak ada tim. Hanya saya. Saya ingin bicara langsung dengan Aira Hadi.”