NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. DI ANTARA RAHASIA DAN PERASAAN

Bastian masih duduk dengan santai di kursinya.

Ia menatap Phat beberapa detik.

“Tuan Phat.”

Phat tidak menjawab.

“Bukankah kau tadi hampir memukul seseorang?”

Rahang Phat mengeras.

“Itu urusan ku.”

Bastian mengangkat alis.

“Begitu, ya.”

Ia menunjuk Sara dengan dagunya.

“Dia adalah saksi dalam kasus yang sedang kami tangani.”

Bastian kemudian berdiri.

“Dan kau hampir melakukan kekerasan terhadap seorang saksi di dalam kantor polisi.”

Phat menatapnya tajam.

“Aku hanya kehilangan kendali.”

“Seorang pria yang tidak bisa mengendalikan situasi,disebut pengecut.”

Suasana menjadi hening.

Bastian berjalan mendekati Phat.

“Sekarang minta maaf.”

Phat tertawa kecil tanpa humor.

“Serius?”

“Tentu saja.”

“Aku tidak punya alasan untuk meminta maaf kepadanya.”

Bastian tersenyum tipis.

“Kalau begitu aku akan menuliskannya dalam laporan.”

Senyum Phat langsung menghilang.

Bastian melanjutkan dengan nada santai.

“Phat Shrabeus datang ke kantor polisi, mengancam seorang saksi, lalu mencoba memukulnya.”

Ia mengangkat bahu.

“Menurutmu akan terlihat bagus di mata penyidik?”

Phat mengepalkan tangannya.

Arka memperhatikan mereka berdua.

Untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang tidak takut berhadapan dengan Phat.

Beberapa detik kemudian, Phat akhirnya menghela napas kasar.

Ia menatap Sara.

“Maaf.”

Sara tidak langsung menjawab.

Phat mengalihkan pandangan.

Bastian mengangguk.

“Bagus sekali~.”

Phat menatapnya dengan kesal.

“Sudah!?”

“Anak pintar~.”

Phat berbalik dan berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh kepada Arka.

“Ayo kita pulang.”

Arka tidak bergerak.

“Aku masih harus memberikan keterangan.”

“Aku belum selesai.”

Phat mendengus.

Namun Arka tetap diam.

Ayahnya kemudian melangkah maju.

“Sudahlah, Phat. Kita pulang.”

Phat mengangguk.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Siapkan mobil.”

Beberapa detik kemudian ia menutup telepon.

Mereka bertiga berjalan keluar.

Sebelum melewati pintu, Phat berhenti sekali lagi.

Ia melirik Bastian.

Tatapannya penuh kebencian.

Bastian hanya tersenyum santai.

“Semoga perjalanan pulangnya menyenangkan~”

Phat tidak menjawab.

Ia langsung pergi.

Ayahnya menyusul tanpa mengatakan apa pun.

Arka memperhatikan keduanya sampai menghilang di balik pintu.

Sara berdiri di sampingnya.

“Sepertinya kakakmu tidak menyukai Bastian.”

Arka menghela napas.

“Phat memang tidak suka orang yang tidak bisa dia kendalikan.”

Bastian yang mendengar perkataan itu tertawa kecil.

“Kalau begitu, sepertinya aku akan sering membuatnya kesal.”

Arka menoleh.

“Kau tidak berubah.”

Bastian tersenyum.

“Begitu juga kau.”

Ia menepuk bahu Arka.

“Hanya saja sekarang masalahmu jauh lebih rumit daripada masa SMA.”

Arka menatap pintu yang baru saja dilewati ayah dan kakaknya.

“Sepertinya memang begitu.”

Bastian kemudian mengambil map kasus dari atas meja.

“Masalah kita belum selesai.”

Arka menatapnya.

Bastian membuka map tersebut.

Ia menatap Arka dengan serius.

“Karena aku ingin mendengar langsung darimu apa yang terjadi malam ketika Pak Braun meninggal.”

Arka terdiam.

Di luar kantor polisi, suara mobil keluarga Khontacron terdengar menjauh.

Phat pergi dengan amarah yang belum reda.

Dan sejak pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun—

Bastian sudah menjadi orang yang paling tidak disukai Phat.

Pintu kantor polisi tertutup setelah ayah dan Phat pergi.

Kini hanya tersisa tiga orang di dalam ruangan.

Arka.

Sara.

Dan Bastian.

Bastian duduk di belakang meja sambil menopang dagu dengan satu tangan.

“Baik,” katanya. “Sekarang ceritakan semuanya.”

Arka menarik napas.

Ia kemudian menceritakan kejadian malam itu.

Tentang dirinya yang awalnya hendak pergi ke kantor pemasaran.

Tentang dirinya yang kembali ke kebun anggur.

Tentang bagaimana ia menemukan tubuh Pak Braun.

Tentang para pekerja yang datang setelah mendengar teriakannya.

Sampai polisi datang dan membawa tubuh Pak Braun.

Arka juga menceritakan tentang percakapannya dengan Sara, kemunculan Phat di rumah Sara, hingga peringatan Sara mengenai keluarganya.

Ia menceritakan semuanya dengan cepat.

Bastian hanya mendengarkan.

Tidak banyak bertanya.

Sesekali ia mengangguk.

Setelah Arka selesai, Bastian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Jadi...”

Ia menghitung dengan jarinya.

“Pak Braun mati di kebun anggur milik mu.”

Jari kedua.

“Pak Thom mengaku diperintah.”

Jari ketiga.

“Sara mengetahui sesuatu.”

Jari keempat.

“Keluargamu terlihat mencurigakan.”

Ia menatap Arka.

“Dan gudang milik mu.”

Arka mengangguk.

“Kurang lebih, begitu.”

Bastian menghela napas.

“Capek juga.”

Arka mengerutkan kening.

“Hah?”

Bastian menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi.

“Kasusnya terlalu banyak.”

Sara menahan senyum.

Arka menatapnya bingung.

“Kau memang dari dulu seperti ini?”

“Bosan kalau terlalu banyak berpikir.”

Bastian kemudian duduk tegak.

“Jadi kita sederhanakan saja.”

Arka mengangkat alis.

“Bagaimana?”

“Kita periksa gudang mu, malam ini, bagaimana?”

Arka terdiam.

“Malam ini?”

“Ya.”

“Apakah tidak akan terlihat mencurigakan?”

Bastian menatapnya.

“Tentu saja tidak,karena kalau Pak Braun memang mengetahui sesuatu tentang orang-orang yang hilang, gudang itu mungkin punya hubungan dengan kasus ini.”

Sara mengangguk pelan.

“Aku juga berpikir begitu.”

Arka menatap Sara.

“Kau yakin, Sara?”

Sara membalas tatapannya.

“Tidak sepenuhnya, tetapi dari pada tidak menemukan sesuatu sedikit pun.”

Ia tersenyum kecil.

“Tapi aku lebih yakin daripada sebelumnya.”

Arka terdiam beberapa detik.

Bastian memperhatikan mereka berdua.

Kemudian senyum jahil muncul di wajahnya.

“Oh~”

Arka menoleh.

“Ada apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu.”

“Tentu saja.”

Bastian melirik Sara, lalu kembali menatap Arka.

“Kapan kau menikah, Arka~?”

Arka langsung tersedak.

“A–apa maksud?”

Sara membeku.

Bastian tertawa kecil.

“Aku cuma bercanda~”

“Kenapa tiba-tiba bercanda begitu.”

“Karena aku sudah lama tidak bertemu denganmu, jadi kupikir kau sudah menikah.”

Bastian menunjuk Sara.

“Dan sekarang ketika aku bertemu lagi denganmu, ternyata kau sudah punya seseorang yang selalu kau lindungi.”

Wajah Sara langsung memerah.

“Bastian!”

Arka mengusap wajahnya.

“Jangan asal bicara.”

“Aku tidak asal bicara.”

Bastian menunjuk keduanya bergantian.

“Tadi ketika kakakmu hampir memukul Sara, kau langsung berdiri di depannya.”

“Itu karena...”

“Oh~”

Bastian mengangguk dengan wajah pura-pura serius.

Sara menundukkan wajahnya.

Arka meliriknya.

Mata mereka bertemu.

Keduanya langsung mengalihkan pandangan hampir bersamaan.

Bastian tersenyum semakin lebar.

“Hm~.”

“Diam, Bastian.”

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Kau sudah mengatakan terlalu banyak.”

Sara menahan tawa kecil.

Arka menatapnya.

“Kenapa kau juga ikut tertawa, Sara.”

“Tidak ada kok.”

“Kau jelas tertawa.”

Sara menutup mulutnya.

“Sedikit.”

Bastian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Baiklah. Aku akan berhenti mengganggu kalian.”

Arka menghela napas lega.

Namun beberapa detik kemudian Bastian menambahkan,

“Tapi aku tetap ingin tahu kapan undangan pernikahannya.”

“BASTIAN!”

Sara akhirnya tertawa.

Arka hanya bisa menatap sahabat lamanya itu dengan kesal.

Namun di tengah ketegangan kasus yang semakin berat, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari—

Arka tersenyum.

Sara juga tersenyum.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Kali ini sedikit lebih lama.

Namun karena Bastian masih berada di depan mereka, keduanya segera kembali mengalihkan pandangan.

Bastian hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Dasar.”

Arka mengerutkan kening.

“Apa lagi?”

“Tidak ada~”

Bastian berdiri dan mengambil kunci mobilnya.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti malam.”

Arka ikut berdiri.

“Dimana kita akan bertemu?”

“Hm, bagaimana kalau di kantor pemasaran mu, Arka.”

Sara berdiri di samping Arka.

“Kantor ku?”

Bastian mengangguk.

“Ya, karena tempatnya tidak terlalu mencurigakan.”

Arka menatap keduanya.

"Baiklah."

"Oke~ kita bertemu di tempat mu jam 9."

Bastian pun pergi mengendarai mobil nya.

Dan ia belum tahu apa yang akan mereka temukan di gudang itu.

Namun satu hal mulai ia sadari.

Jika benar ada sesuatu yang disembunyikan di sana—

mungkin gudang itu akan menjadi tempat pertama yang membuka rahasia keluarganya.​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!