Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 - Selidik
“Shey, ngaku. Lo ada hubungan apa sama Alvaro?” tanya Keisha dengan wajah penuh selidik. Ia menatap Sheyra yang duduk di depannya. Gadis itu terlihat sedang fokus menikmati makanannya.
Seketika Sheyra menghentikan aktivitasnya ketika mendengar pertanyaan Keisha. “Uhuk.” Sheyra terbatuk ketika mendengar pertanyaan Keisha. Tidak sadar ia tersedak oleh bubuk cabai. Terasa pedas di tenggorokannya. Dengan segera Sheyra meraih minuman dingin di sebelahnya lalu meneguknya hingga hampir habis.
“Pelan-pelan Shey. Lo gapapa?” tanya Keisha khawatir.
Sheyra mengangguk dengan cepat. Ia menghela nafas. “Pedas.” keluhnya.
“Mangkannya tadi gue udah bilang kan mending pesen level 1 aja. Lo sih maunya level 5. Sekarang kepedasan kan.”
Sheyra terkekeh, “Level 1 mah level bayi. Mana berasa duh.”
Keisha memutar bola matanya kesal. Sahabatnya itu memang susah untuk dinasehati. Ia heran kenapa Sheyra sangat menyukai makanan pedas padahal ia memiliki penyakit lambung. Cewek aneh. Keisha cukup lelah menasehati Sheyra namun tidak pernah sekalipun didengar. Hal tersebut cukup membuatnya kesal.
Setelah keadaan Sheyra sudah terlihat membaik, Keisha kembali mengulang pertanyaannya yang sempat teralihkan. Ia begitu penasaran dengan hubungan antara Sheyra dan Alvaro. Sejak kapan Sheyra menjadi sepeduli itu terhadap Alvaro? Dan mengapa?
“Oh ya Shey, soal Alvaro lo kenal deket sama dia?” tanya Keisha lagi.
Sheyra tersenyum kikuk. Ia terdiam untuk beberapa saat. Beberapa kali gadis itu menghela nafas dan terlihat seolah sedang berpikir. “Oh ya jadi sebenarnya..” Sheyra mulai membuka mulutnya. Sepertinya ia harus jujur kepada Keisha. Sheyra tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari Keisha. Lagipula, kebenaran soal keluarga Alvaro pun bukan lagi sebuah rahasia. Jadi baginya tidak apa-apa untuk bercerita sedikit.
“Gimana gimana?” Keisha menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Sheyra dengan ekspresi yang penasaran.
“Kalau dibilang punya hubungan sih enggak. Kalau dekat? Gue rasa juga gak sedekat itu. Jadi awalnya… lo kan tau gue bantu tante gue di daycare.” kata Sheyra yang dibalas anggukan oleh Keisha. Sheyra kembali melanjutkan kata-katanya. “Nah di daycare itu gue ketemu anak cewek namanya Lyra. Dia anak yang cantik dan manis. Lalu pada akhirnya gue tau kalo dia adalah anak Alvaro. Gue juga shock saat itu. Dan gue rasa mulai dari situ, mulai ada interaksi yang lebih intens antara gue dan Alvaro. Tapi ya semuanya soal Lyra sih. Bukan sesuatu yang bersifat pribadi kayak yang orang-orang pikirin.”
Keisha mengangguk mengerti dengan penjelasan Sheyra. “Oh gitu.”
“Sorry ya kalau gue gak pernah cerita. Padahal selama ini kita saling terbuka satu sama lain. Sebenernya alasan gue sembunyiin hal ini ya karena gue ngerasa gak etis aja ngomongin privacy orang. Apalagi selama ini Alvaro sendiri tertutup sama kehidupan pribadinya. Jadi gue hargain itu Kei. Dan sekarang gue bisa cerita karena Alvaro sendiri udah buka privacynya.” terang Sheyra.
Keisha segera menjawab, “Eh lo gak perlu minta maaf untuk hal kayak gitu. Gue ngerti kok Shey. Maaf ya kalo kelihatan kepo banget.”
Sheyra menggeleng, “Engga kok. Santai aja.” ujarnya sambil tersenyum.
“Tapi gue khawatir kalo lo terlalu deket sama Alvaro bisa bikin bininya cemburu. Gak lucu kan kalo lo nanti tiba-tiba dilabrak istri sah.” Keisha tertawa kecil. Ia berniat untuk bercanda menggoda Sheyra.
Namun anehnya Sheyra terdiam menanggapi candaannya. Raut wajah Sheyra berubah. Gadis itu tidak tertawa. Tidak biasanya Sheyra seperti ini. Hal itu membuat Keisha menjadi heran. “Shey? Maaf. Gue salah ngomong ya?” Tiba-tiba Keisha menjadi khawatir dan merasa bersalah. Keisha merasa sepertinya ucapannya keterlaluan.
“Anu Kei…” kata Sheyra pelan. Ia menggantungkan kata-katanya. Lalu terdiam untuk beberapa detik sebelum kembali melanjutkan, “Istri Alvaro udah gak ada.”
Keisha membelalakkan matanya. Ia bingung dan tidak mengerti dengan maksud ucapan Sheyra, “Hah?!”
“Maksudnya udah meninggal.”
“Damn.” respon Keisha terkejut, “Sorry sorry gue salah ngomong. Gue gak tau.”
“Gapapa kok santai aja Kei.”
Keisha menghela nafas dengan berat. Wajahnya terlihat sedih, “Kasihan ya… Apalagi anaknya masih kecil pula.”
Sheyra mengangguk setuju, “Iya. Tapi untungnya Lyra anak yang pinter.”
Setelah pembicaraan tersebut, kedua sahabat itu kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Mereka terdiam untuk beberapa menit. Sheyra kembali memakan makanannya. Sedangkan Keisha terlihat sedang sibuk membalas beberapa pesan yang masuk di handphonenya.
“Tapi Shey.. gue penasaran satu hal.” ujar Keisha mengawali pembicaraan setelah keduanya saling terdiam.
Sheyra menaikkan sebelah alisnya, “hah?”
Keisha menatap Sheyra dengan tatapan yang penuh rasa penasaran. Ia berharap bisa mendapatkan jawaban untuk mengobati rasa penasarannya.
“Lo ada perasaan ya sama Alvaro?” tanya Keisha to the point.
Sheyra membulatkan matanya mendengar pertanyaan Keisha. Tanpa sadar pipi Sheyra merona. Ia kembali berdebar. Ah, perasaan aneh ini datang lagi. Sheyra menjadi salah tingkah. Gadis itu berulang kali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia berusaha mengatur gerak-geriknya agar tidak menimbulkan kecurigaan Keisha. Untuk saat ini Sheyra belum siap untuk membicarakan soal hatinya. Ia ingin menyimpannya sendiri.
Sheyra tertawa menertawakan pertanyaan Keisha. “Hahaha lo ngaco banget Kei.”
Keisha melihat Sheyra dengan heran, “Ngaco gimana? Gak biasanya tau lo seperhatian itu sama cowok? Apalagi lo kelihatan peduli dan khawatir banget sama Alvaro. Terus setiap lo mandang Alvaro tuh, tatapan lo kelihatan beda. Kayak punya arti.”
Deg! Sheyra terdiam. Ia tidak menyangka bahwa Keisha bisa menyadari hal itu. Ternyata selama ini Keisha memperhatikan gerak-geriknya kepada Alvaro? Keisha begitu mengenalnya. Sampai bisa notice sesuatu yang berbeda.
Namun, Sheyra tidak ingin jujur. Ia belum siap. “Gue dan Alvaro temenan Kei. Dia ayah dari anak yang gue asuh. Jadi bukan hal yang salah kan kalo gue perhatian ke dia? Itu bukan berarti gue punya perasaan ke dia.” sangkal Sheyra.
Keisha mengangguk mencoba memahami dari sudut pandang Sheyra. “Ah iya ya bener juga. Kayaknya gue deh yang terlalu berlebihan ngelihatnya.”
Sheyra tersenyum. “Syukurlah Keisha percaya”, ucapnya dalam hati. Sheyra merasa lega.
***
“Kak Ei!”
Sheyra terkejut ketika menyadari seseorang memeluknya dari belakang tiba-tiba. Tanpa menoleh untuk memastikan siapa anak kecil yang ada di belakangnya, Sheyra sudah tahu siapa pelakunya. Sudut bibir Sheyra terangkat. Pelukan yang hangat dan manis ini pasti milik Lyra. Sheyra merasa senang.
“Kakak\~\~!” panggil Lyra dengan suara imutnya.
Sheyra membalikkan badannya dan mendapati Lyra yang sedang berdiri di depannya. Gadis itu tersenyum sangat manis sembari menatap Sheyra.
“Ira punya hadiah buat Kak Ei!” serunya antusias.
Sheyra membulatkan matanya. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Lyra, membuat dirinya menjadi penasaran. “Oh ya? Kakak mau lihat.”
“Hadiah dari Papa.” Lyra tersenyum sumringah ketika mengatakan hal itu.
Seketika Sheyra menjadi berdebar. Papa? Apakah itu berarti Alvaro? Sheyra menjadi semakin tidak bisa menahan diri karena rasa penasarannya. “Mana?” katanya terlihat antusias.
Melihat ekspresi Sheyra membuat Lyra tertawa. Lyra meletakkan jari telunjuk di bibir mungilnya. “Sssttt rahasia. Nanti Ira kasih tau waktu makan siang.” katanya sebelum berlari meninggalkan Sheyra yang penasaran.
“Hahaha lucunya.” gumam Sheyra pelan. Ia melihat Lyra yang kini bergabung untuk bermain bersama teman-temannya.
^^^Bersambung…^^^