Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Telepon genggam di genggaman Arlend terlepas, jatuh menghantam lantai semen dan hancur berkeping-keping. Suasana di lorong markas bawah tanah seketika membeku. Seluruh darah di dalam tubuh sang Raja Mafia seolah disedot habis, menyisakan dingin yang luar biasa menusuk di dalam dadanya.
"Tuan Besar—" Gideon yang melihat tuannya pucat pasi hendak mendekat, namun Arlend sudah lebih dulu berbalik dan berlari.
Ia berlari seperti orang gila. Mengabaikan panggil para pengawal dan tatapan heran seluruh anak buahnya, Arlend menerobos pintu keluar, melompat ke dalam sports car hitam berenjin monster miliknya. Ia menancap gas sejadi-jadinya, membuat decitan ban menggelegar nyaring membelah malam.
Mobil sport itu melesat bagaikan kilat di atas aspal jalanan yang basah. Arlend mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan gila-gilaan, menyalip dan memotong jalur tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan berdarah.
Di dalam kabin mobil yang menderu keras, dada Arlend bergemuruh hebat. Gejolak penyesalan, rasa bersalah yang membakar, dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya kini menghantam jiwanya tanpa ampun.
“Kamu benar-benar melupakanku, Kak?”
Bayangan wajah pucat Hazel yang sembap oleh air mata, tatapan matanya yang hancur berkeping-keping saat ia memerintahkan Gideon untuk mencambuknya, hingga kepasrahan gadis itu saat diseret keluar—semuanya berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepalanya.
"Tidak... Tidak, Hazel... Jangan sekarang!" erang Arlend. Suaranya yang biasa berat dan penuh dominasi kini pecah, serak oleh keputusasaan yang teramat sangat. Air mata penyesalan menetes dari mata elangnya, membasahi pipinya yang kaku.
"Aku mohon... aku mohon bertahanlah, Hazel!" jerit Arlend memecah keheningan mobil. Ia menekan pedal gas hingga batas maksimal. "Tunggu aku! Jangan pergi dulu, Hazel! Aku mohon..."
Gadis yang mempertaruhkan nyawanya, gadis yang pasang badan menahan cambukan Cateline demi melindunginya, gadis yang mengusap lukanya dengan penuh kelembutan... telah ia cambuk dan threw masuk ke dalam gulungan laut malam yang dingin. Jika Hazel tewas malam ini, Arlend tahu ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri sampai akhir hayatnya.
BRAKKK!
Mobil sport Arlend menghantam pembatas jalan di tepi tebing lautan lepas, berhenti tepat di titik lokasi pengeksekusian. Tanpa mematikan mesin, Arlend melompat keluar. Dua pengawal yang baru saja hendak masuk ke SUV mereka membeku ketakutan melihat sang Raja Mafia hadir dengan wujud yang teramat mengerikan—napasnya terengah-engah, matanya memerah liar dipenuhi aura membunuh dan kepanikan dahsyat.
Arlend tidak memedulikan kedua pengawalnya. Ia berlari kencang menuju bibir tebing, menatap ke bawah pada kegelapan samudra dengan ombak raksasa yang saling bergulung dan menghantam karang.
"HAZEL!" teriak Arlend histeris, suaranya tenggelam disapu angin laut yang kencang.
Tanpa ragu satu detik pun, tanpa memikirkan pakaian tebalnya atau bahaya karang tajam di bawah sana, Arlend melompat turun dari atas tebing setinggi belasan meter.
BYURRRRRR!
Hantaman permukaan air laut yang membeku menyerap tubuh tegap Arlend. Es dingin laut malam langsung menusuk pori-pori kulitnya, namun Arlend tidak peduli. Ia membuka matanya di dalam air asin yang pekat dan perih, menyapu pandangannya ke sekeliling kegelapan samudra.
Di mana kamu, Hazel?! Di mana?!
Arlend berenang menembus arus deras, menyelam makin dalam ke dasar laut. Paru-parunya mulai terasa terbakar oleh tekanan air dan kekurangan oksigen, namun rasa panik di dadanya seribu kali lebih membakar. Ia menggerakkan kakinya sekuat tenaga, menembus gulungan air yang keruh dan dingin.
Dan di sana... beberapa meter di bawahnya, ia melihat siluet tubuh ramping yang perlahan tenggelam terkulai pasrah. Gaun robeknya mengapung meliuk-liuk di dalam air, rambut panjangnya terurai lepas.
Hazel sudah tidak bergerak.
Jantung Arlend serasa berhenti berdetak. Dengan sisa seluruh tenaga dan amarah jiwanya, Arlend meluncur cepat ke bawah. Tangannya yang gemetar melayang menggapai, hingga akhirnya jemari panjangnya berhasil menyambar pergelangan tangan halus milik Hazel.
Arlend menarik tubuh lemas Hazel ke dalam pelukannya. Ia melingkarkan lengan tegapnya di pinggang ramping gadis itu, lalu menghentakkan kakinya sekuat tenaga membelah kedalaman air menuju ke permukaan.
GASP!
Arlend memecah permukaan air laut, menghirup udara malam dalam-dalam seraya memeluk erat tubuh Hazel agar kepala gadis itu tetap berada di atas air. Dengan sisa tenaga yang terkuras, Arlend berenang menyeret Hazel ke tepi bebatuan karang yang agak landai.
Arlend membaringkan tubuh lemas Hazel di atas permukaan batu basah. Wajah gadis 19 tahun itu pucat pasi bagai mayat, bibirnya yang ramping membiru dingin, dan matanya terpejam rapat tanpa ada hembusan napas.
"Hazel... Hazel, bangun!" teriak Arlend panik. Jemarinya yang gemetar hebat menepuk pelan pipi dingin Hazel.
Tanpa membuang waktu, Arlend langsung berlutut di sampingnya, menekan dada Hazel berulang kali untuk memberikan resusitasi jantung (CPR), lalu menempelkan bibirnya ke bibir dingin Hazel untuk memberikan napas buatan.
"Bangun, Hazel! Aku mohon... buka matamu!" panggil Arlend dengan suara pecah, terus menekan dada Hazel dengan gerakan histeris. "Ini aku... Ini Kak Sagara! Ini Arlend-mu! Jangan tinggalkan aku, Hazel!"
Uhuk! UHH-HUK!
Tubuh Hazel mendadak tersentak hebat. Gadis itu terbatuk-batuk keras, memuntahkan air laut dari mulutnya. Napasnya tersengal-sengal parah saat udara dingin kembali merangsek masuk ke dalam paru-parunya.
Melihat mata Hazel perlahan terbuka sedikit, tangis Arlend pecah seketika.
Arlend langsung merengkuh tubuh ramping Hazel, menariknya ke dalam pelukan yang teramat erat, hangat, dan posesif. Ia menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Hazel yang dingin, mendekap tubuh gadis itu seolah-olah ia adalah harta paling berharga yang nyaris sirna dari genggamannya. Tubuh tegap sang Raja Mafia bergetar hebat saat tangisnya pecah di bahu Hazel.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Hazel..." bisik Arlend berulang kali dengan nada suara yang hancur dan penuh kepedihan yang mendalam. "Aku sudah ingat semuanya... Kakakmu sudah ingat semuanya. Maafkan aku yang bodoh ini... Tolong jangan pergi..."
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...