NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

"Sistem, ubah wujudku jadi Roxy, sekarang..!" ucapku sesudah masuk mobil.

Lima menit kemudian, Shella melangkah cepat menuju pertigaan depan.

Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena ingin segera meninggalkan area kantor. Di kejauhan, mobilku terparkir di dekat toko roti, agak tersembunyi dari pandangan gerbang utama.

Pintu penumpang terbuka dari dalam sebelum Shella sempat menyentuh gagangnya. Aku sudah condong membukakan pintu.

"Masuk, Shella. Aman di sini," ucapku lembut.

Shella naik dan duduk. "Makasih ya, Roxy. Udah jemput jauh-jauh."

"Yang penting kamu tenang. Sabuk pengaman ya, kita jalan sebentar lagi." Aku menutup pintu, melingkarkan senyum menenangkan.

"Kamu kelihatan lelah. Arif lagi ganggu ya?" tanyaku sambil memasang sabuk pengamanku.

Shella menghela napas panjang sambil mengencangkan sabuk. "Dari pagi, Roxy. Tiap kali aku lewat, dia pasti ada di situ. Tanya ini itu, nawarin ini itu, komentarin ini itu... capek banget." jelas Shella jengkel.

"Brooom" Aku menyalakan mesin. Suara halus dan tenang. "Kamu nggak perlu takut. Kalau dia berani macam-macam, aku ada di sini." ucapku tegas.

Mobil melaju pelan menjauh dari pertigaan. Shella bersandar di kursi, memejamkan mata sebentar mencoba melepas ketegangan seharian. Tangan kanannya meraba kalung batu di leher. Bayangan pantai kemarin kembali muncul, lalu berganti dengan suara Arif yang terus mengganggu.

Belum jauh dari area kantor, mobil harus berhenti di lampu merah tak jauh dari gerbang.

Dan tiba-tiba, sosok berjas rapi berlari kecil mendekat. Arif. Dia melihat mobilku, melihat Shella di dalam, dan wajahnya langsung berubah.

Mobil lampu hijau, tapi Arif berdiri tepat di depan bumper. Tidak bergerak.

Aku mengerem pelan. "Tetap di dalam, Shella. Jangan turun." pintaku menenangkan.

Arif menepuk kaca pengemudi dengan kasar. "Tok..! Tok..!" Aku menurunkan kaca sedikit.

"Kamu siapa?" tanya Arif dengan nada tinggi.

"Kenapa bawa Shella pergi? Kamu tahu siapa aku? Aku atasan di kantornya!" cerca Arif dengan nada marah.

"Saya Roxy, pak Arif."

"bukankah kita sudah pernah bertemu" ucapku tenang.

"Minggir. Kita mau jalan." lanjutku tegas.

"Enggak sampai aku pastikan kamu bukan orang yang salah!" Arif makin keras, lalu menoleh ke arah Shella yang duduk di dalam.

"Shella! Turun! Jangan ikut orang yang nggak kamu kenal baik! Dia cuma mau manfaatin kamu!" hardik Arif.

"Pak Arif, tolong minggir! Saya mau pergi!" seru Shella dari dalam mobil.

"Turun aku bilang!" Arif berusaha menarik gagang pintu Shella. Kunci pintu sudah terkunci, tapi dia makin kasar, menepuk-nepuk kaca.

"Klak" Aku membuka pintu dan turun perlahan. berdiri tegap, menatap Arif setenang mungkin.

"Sudah cukup, Pak. Kamu sudah mengganggu kenyamanan Shella seharian. Sekarang kamu menghalangi jalan dan memaksa dia. Itu bukan cara yang benar." ucapku penuh tekanan.

"Kamu berani ngajarin aku? Kamu siapa, hah?!" Arif mendorong bahu Roxy dengan kasar. "Minggir atau aku panggil satpam!"

Dorongan itu kuat. Aku mundur selangkah, tapi tidak terpeleset. Mataku masih menatap Arif lekat-lekat.

"Aku nggak mau cari masalah. Tapi kalau anda menyentuh Shella atau menyentuh aku lagi, aku nggak akan diam." ancamku tegas.

"Ancaman ya?!" Arif mengangkat tangan hendak memukul wajahku.

Shella berteriak dari dalam mobil. "Roxy hati-hati!"

Aku mengelak cepat. "Swing..!" Tangan Arif melayang di udara. Dalam sekejap, Aku menahan pergelangan tangan Arif dengan satu gerakan cepat dan tegas. "krak..!" Lalu dengan pelan tapi pasti, dia memutar sedikit dan mengarahkan tubuh Arif berbalik.

Arif terhuyung. "Lepas! Berani kamu sama aku?!"

"Turunkan suaramu. Jangan buat pemandangan di jalan raya," ucapku pelan tapi tegas.

"Tapi kalau kamu masih memaksa, aku tidak akan ragu membela diri dan membela Shella." ancamanku semakin keras.

Arif memberontak, "Aakh..!" mencoba mendorongku lagi. Kali ini dia menggunakan kekuatan penuh. "Swing..!" Aku menghindar, lalu dengan satu gerakan yang terukur, menahan bahu Arif dan mengarahkan badannya jatuh ke rumput pinggir jalan. Bukan untuk melukai, tapi untuk menaklukkan.

Arif bangkit, "Tap...!" wajahnya merah padam. Dia berlari menyerang lagi. Kali ini dia tidak berteriak. Langsung pukulan ke arah perut. "Brak .!" Aku menangkis, lalu membalas dengan satu dorongan yang membuat Arif jatuh terduduk.

Orang-orang di sekitar mulai berhenti menonton. Beberapa pengendara sepeda motor melambat.

"Berhenti...!" seruku lantang.

"Kamu bisa ku jatuhkan kapan saja. Tapi aku memberi kesempatan untuk berhenti dengan hormat." ucapku tegas.

Arif bangkit lagi, "Hossh..hosh" napasnya memburu, matanya melotot. Dia maju lagi, tapi langkahnya goyah.

Aku menangkis pukulan berikutnya, lalu "Krek...!" Aku memutar lengan Arif ke belakang dengan kekuatan yang terkendali. Arif tertekuk, tidak bisa bergerak.

"Aduh... aduh... sakit... lepas!" rintih Arif.

"Janji nggak akan ganggu Shella lagi?" tanyaku pelan.

"Iya! Iya! Lepas!"

Aku melepaskan kuncian perlahan. "Sreet" Arif mundur terhuyung, memegangi lengan dan perutnya. Wajahnya memerah, ada goresan kecil di pipi, kemejanya kusut. Dia menatapku dengan pandangan benci, tapi tidak berani maju lagi.

"Kamu tunggu saja..." geram Arif pelan, lalu berbalik berjalan cepat menjauh, menghilang di balik kerumunan orang yang mulai bubar.

Aku berdiri sejenak, mengatur napas, memastikan tidak ada kerusakan yang berbahaya. Lalu kembali ke mobil dengan penuh ketenangan.

"Maaf ya... kamu nggak apa-apa?" tanyaku lembut saat aku masuk ke dalam.

Shella menatapku dengan mata terbelalak, campuran antara kaget dan haru. "Roxy... kamu... kamu nggak perlu sampai begini..."

"Aku perlu. Nggak ada yang boleh memaksa kamu atau mengganggu kamu begitu. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu." Aku menatapnya tulus. "Kamu aman sekarang. Kita lanjut ya?"

Shella mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Hmmm..iya..."

"Brooom" Mobil melaju meninggalkan lokasi. Shella diam sebentar, mencerna apa yang baru saja terjadi.

Jantungnya masih berdebar, tapi bukan karena takut. Karena ada seseorang yang berdiri di depannya, melindunginya tanpa diminta.

"Kamu nggak marah sama aku kan?" tanyaku pelan.

"Enggak... aku malah... terharu. Makasih ya, Roxy. Nggak ada yang pernah belain aku kayak gitu." Shella menunduk pelan, lalu menatap ke luar jendela. "Tapi aku takut dia balas dendam."

"Biar aku yang urus. Kamu fokus nikmati hari ini ya. Aku janji sore ini dan malam ini cuma tentang kamu."

Mobil berbelok masuk ke area pusat perbelanjaan terbesar di kota. Pintu parkir otomatis terbuka. Aku memarkir di area paling dekat pintu masuk.

"Kita beli tiket dulu ya?" tanyanya sambil turun dan membukakan pintu Shella.

Sesampainya di loket bioskop, Aku bertanya pada Shella dengan lembut. "Film yang aku sebut tadi, kamu mau? Atau ada yang lain kamu lebih suka? Bebas pilih, apa saja."

Shella menatap layar jadwal. "Kalau boleh... yang kartun animasi yang ceritanya tentang perjalanan pulang ke rumah itu ada?" tanya Shella pelan.

"Yang itu ada. Kita ambil yang jamnya paling nyaman, yang tidak terburu-buru." Aku membayar tiket, lalu menoleh lagi.

"Mau camilan apa? Minuman apa?." tanyaku lembut menawarkan.

Shella tersenyum malu. "Biasa aja deh, Roxy. Popcorn kecil dan minuman satu cukup."

"Enggak boleh 'biasa aja' hari ini, ini spesial" Aku mencoba tersenyum, lalu memesan popcorn ukuran terbesar dengan dua rasa, minuman dingin favorit Shella, dan sepotong kue cokelat dari toko di lantai bawah.

"Hari ini spesial. Kamu boleh minta apa saja." ucapku sambil berjalan kearah Shella.

Saat masuk ke ruang bioskop, Aku sengaja memilih kursi yang agak ke tengah, tidak terlalu dekat layar, tidak terlalu dekat pintu. Menaruh camilan di tempat yang paling mudah dijangkau Shella.

"Kalau kurang apa atau mau ganti posisi, bilang aja ya. Aku pindahin," bisiknya lembut.

Sepanjang film, Aku memperhatikan reaksi Shella. Kalau Shella tertawa, dia ikut tersenyum. Kalau Shella terharu, dia menyodorkan tisu lebih dulu. Kalau Shella meraih popcorn, dia memajukan wadahnya sedikit. Tidak berlebihan, tapi perhatian di setiap detik kecil.

Setelah film selesai, Shella masih duduk diam sebentar, matanya berbinar. "Bagus banget ceritanya... terima kasih ya, Roxy."

"Sama-sama. Kalau kamu mau nonton lagi yang lain, kita bisa tinggal." ajaku tegas

Shella menggeleng sambil tersenyum. "Udah cukup kok. Tapi... kalau boleh, aku mau mampir ke toko buku di lantai dasar sebentar?"

"Iya, Kita ke sana sekarang." jawabku

Di toko buku, Shella melihat-lihat majalah dan novel. Dia memegang satu buku resep masakan lama, membalik halamannya dengan senyum kecil, lalu menaruhnya kembali ke rak.

"Suka yang itu?" tanyaku

Shella menggeleng. "Cuma lihat aja. Harganya lumayan mahal."

Aku tidak menjawab. meminta izin sebentar ke kasir, lalu membayar buku itu tanpa sepengetahuan Shella. Saat mereka keluar, Aku menyodorkan kantong belanjaan itu.

"Buat kamu. Biar bisa dicoba resepnya di rumah."

Shella terkejut. "Loh Roxy... ini kan mahal! Aku cuma lihat doang!"

"Kalau itu bikin kamu senang, harganya sepadan. Bukan soal uang, tapi soal kamu senang." Aku tersenyum tulus. "Dan ini belum selesai. Kamu belum makan malam kan?"

"Belum... tapi kita makan yang sederhana aja ya, Roxy. Jangan yang mahal-mahal." pinta Shella penuh keraguan.

"Terserah kamu mau makan di mana. Aku ikut. Kalau kamu mau yang sederhana, kita cari tempat yang nyaman dan enak. Tapi kalau kamu tiba-tiba pengen yang lain, tinggal bilang." ucapku lembut.

Shella tersenyum lebar. "Kalau gitu... kita cari kedai mie yang di pinggir jalan dekat sini ya? Mie-nya enak banget, murah, tapi suasananya hangat."

"Ayo kita ke sana." jawabku.

Kami duduk di kedai mie yang sederhana tapi bersih. "ini..!" Aku membiarkan Shella pesan dulu, lalu menambahkan camilan pendamping yang mungkin dia suka.

Saat makan, Aku tidak banyak bicara soal diri sendiri. Lebih banyak mendengarkan Shella bercerita — soal masa kecil, soal impian punya kedai kecil, soal hal-hal sepele yang bikin dia senang.

Sesekali Shella menyeka mulut dengan tisu, atau "Fuuh" meniup mie yang masih panas.

Aku memperhatikan dengan senyum lembut, memastikan minumannya tidak habis tanpa diganti.

"Kamu senang hari ini?" tanyaku saat dia selesai makan.

Shella mengangguk dengan tulus. "Senang banget, Roxy. Bukan cuma karena makan atau nonton. Tapi karena kamu... kamu bikin aku ngerasa dihargai. Bukan karena harta atau jabatan, tapi karena aku adalah aku." jawabnya.

Aku menatapnya lembut. "Kamu berhak diperlakukan dengan baik, Shella. Berhak diperhatikan, didengarkan, dan dilindungi".

Mata Shella berkaca-kaca pelan. "Makasih ya, Roxy. Banyak banget yang udah kamu kasih hari ini."

Tiba-tiba, udara di samping mejaku bergetar pelan. Sebuah notifikasi muncul hadapanku.

DING!

Hubungan dengan Roxy: 51% (+25%)

Hubungan dengan Maxy: 48% (-2%)

Sumber: Melindungi dari ancaman fisik & tekanan emosional Arif, perhatian penuh tanpa menuntut balasan, memenuhi keinginan kecil & besar dengan tulus, membuat Shella merasa dihargai dan aman sepenuhnya. Uang sistem digunakan untuk kenyamanan, bukan untuk membeli perhatian.

Aku menahan senyum dan sedih bersamaan. agar tidak terlihat aneh. Senang karena Shella senang, sedih karena Aku tahu, yang naik bukan Maxy, tapi Roxy.

Tapi yang lebih penting — Shella terlihat bahagia. Matanya bersinar, senyumnya tulus, dan ketegangan yang ada di pagi hari sudah hilang hampir sepenuhnya.

"Shella..."

"Ya?"

"Mau aku antar pulang sekarang? Atau mau keliling sebentar naik mobil, lihat lampu kota dari jauh?" tanyaku lembut.

Shella tersenyum manis. "Keliling sebentar aja ya... aku belum siap pulang dulu."jawab nya.

"Pasti. Kemana saja kamu mau."ucapku

Kami berjalan keluar menuju mobil. Langkah Shella ringan, tangannya sesekali menyentuh lenganku tanpa sadar, seperti mencari kehadiran yang menenangkan.

Malam belum selesai, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Shella merasa seperti ratu — bukan karena mahkota atau kemewahan, tapi karena diperlakukan dengan hati yang tulus.

Dan di dalam hatiku, tahu: ini baru permulaan. Arif belum selesai sepenuhnya. Rahasia belum terungkap. Tapi untuk malam ini, di saat seperti ini, aku cukup tahu bahwa aku berhasil membuat Shella merasa aman, dihargai, dan dicintai.

Walaupun dengan wujud Roxy...

 

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!