Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Matahari pagi di Kota Bimantara menembus tirai jendela kamar kos dengan bias cahaya yang pucat. Keira terbangun dengan mata yang terasa berat dan sembab. Semalaman, ia tertidur dalam posisi meringkuk di atas karpet tipis dengan selimut yang bahkan tak sempat ia rapikan. Rasa pegal langsung menghantam sekujur tubuhnya begitu ia mencoba bangkit untuk duduk.
Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di samping bantal. Layar retak itu mati total karena baterainya habis semalam. Sesuai perintah Davin, ia memang tidak menyentuh ponsel itu lagi setelah sambungan telepon terputus dengan nada dingin.
Keira menarik napas panjang, lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi luar untuk mengambil air wudu. Dinginnya air subuh sedikit menyadarkan pikirannya yang masih dipenuhi sisa-sisa kesedihan semalam. Setelah menunaikan salat, ia duduk bersimpuh cukup lama, menatap sajadah yang terbentang di lantai kamar.
Ada rasa hampa yang bergelayut di dadanya. Biasanya, pagi hari setelah malam yang tegang, pesan dari Davin akan masuk untuk mencairkan keadaan.
Permintaan maaf ringan, atau sekadar sapaan pengingat sarapan. Namun hingga ia selesai melipat mukena dan merapikan tempat tidur, ponselnya masih tergeletak mati.
Mungkin dia benar-benar sibuk dengan laporan meeting hari ini, batin Keira mencoba menenangkan diri, meski ada rasa perih yang tertahan di tenggorokannya. Semalam dia bilang harus lembur nyiapin kerjaan.
Pagi itu berlalu dalam keheningan yang asing. Keira menghabiskan waktu dengan mencuci beberapa helai pakaian di ember kecil dan merapikan sisa-sisa barang di atas meja. Tidak ada niat sedikit pun untuk melangkah keluar kamar. Larangan Davin semalam masih terngiang di kepalanya. Tanpa sadar, Keira jadi terlalu berhati-hati bahkan untuk sekadar keluar kamar. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti kemarin. Ia tidak ingin membuat Davin marah lagi.
Menjelang pukul dua belas siang, suara ketukan pelan terdengar di pintu kayunya.
Jantung Keira berdegup lebih cepat. Ia bergegas bangkit, berharap itu adalah Davin yang datang membawa senyuman dan permintaan maaf. Namun, ketika ia membuka pintu, bukan sosok lelaki berkaos polo abu-abu yang berdiri di sana.
Amara berdiri dengan membawa sebungkus plastik berisi bubur ayam dan dua botol teh kotak. Wajah sahabatnya itu tampak cemas, matanya menatap tajam ke arah Keira dari ujung kepala hingga kaki.
"Kei! Astaga, akhirnya kamu buka pintu juga," seru Amara langsung melangkah masuk tanpa menunggu undangan, lalu meletakkan bungkusan di atas meja plastik. "Aku udah ketuk dari tadi, gak ada jawaban. Kamu beneran sakit? Kenapa semalem HP kamu mati?"
Keira terpaku sejenak, terkejut mendapati kedatangan Amara secara tiba-tiba. Ia merapikan letak pashminanya, berusaha memasang senyuman senatural mungkin untuk menutupi pucat di wajahnya.
"Eh, Amara... Masuk, Mar. Maaf, semalem HP aku mati, baterainya habis dan aku langsung ketiduran."
Amara menghentikan langkahnya, memutar tubuh menatap Keira dengan alis bertaut. "HP kamu mati dari semalam? Bukan karena kamu sengaja ngilang, kan?" Amara mendengus pelan, lalu menyentuh kening Keira dengan punggung tangannya. "Badan kamu gak panas. Jujur sama aku, Kei. Kamu sebenarnya kenapa? Semalem aku chat panjang lebar gak dibales, pagi ini di-chat centang satu terus. Aku kira kamu kenapa-napa di kos."
Keira merasa tidak enak hati. Ia menyingkirkan tangan Amara secara perlahan, lalu tersenyum tipis. "Aku beneran gak apa-apa, Mar. Cuma kecapekan aja, makanya tidur nyenyak banget semalem. Kamu tumben siang-siang ke sini? Katanya mau siap-siap buat pameran buku weekend besok?"
Amara menghela napas panjang, menarik kursi plastik kecil dan duduk di dekat meja. "Gimana mau fokus siap-siap, kalau sahabat aku sendiri tiba-tiba mendadak aneh. Kemarin nolak ajakanku dengan alasan gak enak badan, tapi pas aku lewat daerah sini tadi pagi, aku mampir bawain makanan buat memastikannya." Amara menatap lurus ke mata Keira.
"Kei, kamu lagi nutupin sesuatu dari aku, ya?"
Pertanyaan itu meluncur begitu telak, menghantam pertahanan Keira yang sejak semalam berusaha dibangun rapat-rapat. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk menceritakan semuanya tentang rasa sesaknya, tentang bagaimana Davin memarahinya hanya karena melihatnya memegang ponsel, tentang bagaimana ruang geraknya kini terasa begitu terkunci.
Namun, bayangan wajah Davin dan kalimat peringatan lelaki itu langsung berkelebat di kepalanya.
“Jangan terlalu sering komunikasi sama anak itu... Teman kayak Amara itu cuma bakal bikin pikiran kamu terpengaruh.”
Rasa takut mendadak merayap di dada Keira. Ketakutan bahwa jika ia menceritakan keburukan Davin pada Amara, sahabatnya itu akan semakin membenci Davin, dan posisinya akan semakin terjepit di antara dua dunia yang saling bertarung.
"Enggak ada apa-apa kok, Mar," jawab Keira pelan, mencoba menjaga agar suaranya tidak bergetar. "Aku beneran cuma pengin istirahat di kos. Jangan overthinking, deh."
Amara menatap Keira lekat-lekat selama beberapa detik, mencari kebohongan di balik mata sahabatnya itu. Ada kilat kecewa yang melintas di wajah Amara, namun ia tidak mendesak lebih jauh. "Terserah kamu kalau gak mau cerita, Kei. Tapi kalau suatu saat kamu ngerasa gak sanggup nanggung semuanya sendiri, ingat aku ada di sini."
Kalimat itu sederhana, namun justru membuat mata Keira mendadak panas. Ia harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan Amara.
Mereka akhirnya menghabiskan waktu siang itu dengan obrolan ringan seputar hal-hal remeh di luar kehidupan pribadi Keira. Amara berusaha mencairkan suasana, menceritakan kejadian konyol di tempat kerjanya, hingga membuat Keira tertawa kecil meski tawanya terdengar hampa di telinganya sendiri.
Sekitar pukul dua siang, Amara pamit karena harus kembali masuk kerja shift sore.
"Ingat, makannya dihabisin. Jangan males," pesan Amara sebelum menutup pintu kos.
Keira mengangguk, melepas kepergian sahabatnya dengan rasa bersalah yang kembali menghimpit ulu hatinya. Ia kembali berbohong. Ia kembali menepis uluran tangan orang yang benar-benar peduli padanya demi menjaga perasaan seorang lelaki yang semalam membentaknya lewat sambungan telepon.
Sore menjelang malam, suasana di gang kos mulai ramai oleh suara kendaraan pekerja yang pulang kantor dan suara pedagang keliling. Keira menyalakan kembali ponselnya setelah mengisi daya beberapa jam. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi langsung masuk sebagian besar dari grup pesan lama, dan beberapa dari Amara.
Namun, tidak ada satu pun pesan atau panggilan dari Davin.
Jantung Keira berdegup tidak karuan. Rasa cemas mulai merayap di dadanya. Apakah Davin benar-benar marah besar padanya? Apakah lelaki itu memutuskan untuk tidak lagi datang mengunjunginya malam ini?
Pikiran-pikiran buruk itu berputar di kepala Keira. Ia merasa gelisah, bolak-balik berdiri dan duduk di atas kasur sempitnya. Tangannya beberapa kali terulur hendak mengetik pesan untuk Davin, menanyakan kabar atau sekadar mengucapkan maaf sekali lagi, namun ia urungkan karena takut dianggap tidak menuruti perkataan lelaki itu untuk tidak memegang ponsel malam-malam.
Pukul delapan malam, ketukan tegas terdengar di pintu kayunya.
Keira nyaris melompat dari tempat tidurnya. Dengan gerakan tergesa-gesa, ia membuka pintu.
Davin berdiri di ambang pintu. Tidak ada senyuman ramah seperti biasanya. Wajah lelaki itu tampak lelah, kemeja kantornya berantakan dengan dasi yang sudah sedikit longgar di leher, dan di tangan kanannya ia membawa sekotak martabak manis yang sama seperti dua hari lalu.
"Vin..." cicit Keira pelan, merasa kelegaannya bercampur dengan rasa takut yang mendadak mencengkeram.
Davin melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia meletakkan kotak martabak itu di atas meja plastik, lalu melepas jaketnya dan melemparnya begitu saja ke atas kasur. Ia duduk di tepi kasur, menyandarkan kepalanya dengan kedua tangan menutupi wajah.
Keira menutup pintu, lalu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Ia berlutut di hadapan Davin, menyentuh lutut lelaki itu dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Kamu capek banget ya, Vin? Maaf... semalem aku gak sengaja..." suara Keira nyaris berbisik, mengambil alih kesalahan meskipun ia tahu ia tidak melakukan hal yang fatal.
Davin menurunkan tangannya, menatap Keira dengan tatapan lelah yang dingin. "Aku capek, Kei. Seharian di kantor aku harus beresin masalah klien, ngadepin bos yang resek, mikirin cicilan mobil, dan malamnya aku masih harus mikirin kelakuan kamu."
Kalimat itu menohok ulu hati Keira. Ia merasa dirinya kini menjelma menjadi beban tambahan di pundak lelaki yang sudah menanggung banyak hal untuknya.
"Aku minta maaf, Vin," lirih Keira, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Aku gak bermaksud bikin kamu pusing. Aku kemarin cuma... cuma kangen temenku sebentar, tapi aku beneran udah tolak ajakannya."
Davin menghela napas panjang, menatap Keira dengan sorot mata yang melunak, meski sisa kekesalan masih kentara di garis rahangnya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Keira dan mengusap air mata yang nyaris tuntas menetes.
"Kamu tuh keras kepala, Kei," ucap Davin dengan nada suara yang kini lebih lembut, namun sarat akan tuntutan. "Kenapa sih kamu gak bisa sepenuhnya ngertiin aku? Aku cuma punya kamu di dunia ini yang aku harapkan bisa jadi rumah buat aku pulang. Kalau kamu masih sibuk mikirin orang lain, terus aku pulangnya ke siapa?"
Mendengar kalimat itu, seluruh pertahanan Keira runtuh. Rasa bersalah yang masif langsung menghantam dadanya tanpa ampun. Ia merasa dirinya adalah perempuan paling egois di dunia ini membuat lelaki yang kelelahan bekerja masih harus memikirkan kecemburuannya.
"Iya, Vin... Aku minta maaf," bisik Keira tulus, lalu menenggelamkan wajahnya ke pangkuan Davin, memeluk pinggang lelaki itu erat-erat. "Aku gak akan gitu lagi. Aku cuma mau sama kamu."
Davin tersenyum tipis di atas kepala Keira. Jemarinya mengusap rambut gadis itu perlahan, seolah memastikan Keira tetap berada dalam dekapannya.
"Gitu dong. Jadi anak baik, nurut sama apa kataku. Semua ini kulakuin biar kita gak pisah, Kei. Kamu paham kan?"
"Paham, Vin... Aku paham," jawab Keira di dalam dekapannya.
Malam itu, di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter yang pengap, Keira kembali merasakan kehangatan pelukan Davin. Namun di balik rasa aman semu yang merayap di tubuhnya, dinding-dinding kamar itu perlahan terasa semakin menyempit menyekatnya dari dunia luar, dari sahabatnya, dan perlahan-lahan, dari dirinya sendiri. Dan Keira, dengan segala rasa cinta dan kepatuhannya, dengan sukarela membiarkan dinding-dinding itu mengurungnya semakin rapat.