DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: BIJI DI PASAK SELOKAN
Sinar fajar hari Minggu tanggal lima belas Oktober menyirat terang menembus kaca jendela koridor samping.
Aroma tanah basah dari pekarangan luar perlahan menguap disapu hembusan angin hangat pagi perkampungan.
Suara kicau burung gereja bersahutan riuh di dahan pohon mangga tua di depan halaman rumah kami.
Dini dan Ranti berdiri berdampingan di dekatku, memandangi kawat pasak terali selokan luar dari balik kaca.
Sebutir biji tanaman liar sebesar ujung jari tampak mengering kaku, tersangkut kencang pada lipatan kawat pasak.
Kerak tanah merah yang membungkus biji tanaman liar itu mengkilap kusam saat terkena pantulan sinar fajar.
"Bu... biji tanaman liar itu terbungkus tanah merah pekat sekali nggih?" bisik Dini menunjuk kaca.
"Inggih, Din. Biji tanaman liar itu tersangkut kaku di lekukan kawat pasak besi," sahutku berbisik pelan.
"Ranti takut kalau biji tanaman itu jatuh dari karung goni sewaktu diseret, Bu," cicit Ranti gemetar.
"Mboten usah cemas, Ran. Pasak besi dan kawat segel terali selokan masih terikat rapat," balasku menenangkan.
"Ibu mau langsung minta Pak RT dan Pak Bripka datang memeriksa kawat pasak ini nggih?" tanya Dini.
"Iya, Din. Kita laporkan temuan biji tanaman liar ini secara resmi ke kepolisian pagi ini juga," jawabku mantap.
"Semoga sampel biji tanaman di kawat ini cocok sama tumbuhan di lereng bukit nggih, Bu," sahut Dini mengangguk.
"Pasti, Din. Kita serahkan seluruh proses pengujian fisik ini ke tim laboratorium Polsek," balasku mengusap bahunya.
Aku mengajak Dini dan Ranti melangkah ke ruang tengah untuk mempersiapkan kedatangan pengurus RT kami.
Langkah kaki kedua putriku terdengar teratur dan tenang menapak ubin semen rumah kami yang bersih.
Ubin semen ruang tengah terasa hangat menembus telapak kaki saat kami bertiga berjalan menuju teras.
Pukul delapan pagi lewat dua puluh menit, deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar berhenti di halaman.
Pak RT melangkah masuk ke teras depan bersama Bripka Haryono dan seorang anggota tim penyidik Polsek.
Aku segera membukakan pintu pagar besi depan untuk menyambut kedatangan pengurus RT dan petugas kepolisian.
"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras.
"Selamat pagi, Pak Bripka, Pak RT. Dherek pinarak teng teras rumiyin, Pak," sambutku membukakan pintu depan.
Bripka Haryono membawa koper besi peralatan sampel, sementara petugas penyidik menyiapkan kuret kawat.
Garis raut wajah Bripka Haryono tampak sigap di bawah paparan cahaya fajar yang hangat.
Pak RT mendudukkan diri di kursi rotan teras, merapikan letak peci hitam di atas kepalanya.
"Bu Sari, tadi Pak RT menyampaikan ada temuan biji tanaman berkerak tanah baru di pasak selokan nggih?" tanya Bripka Haryono.
"Inggih, Pak Bripka. Tadi pagi pukul enam kami melihat biji tanaman liar berkerak tanah merah di kawat pasak," terangku.
"Mari kita periksa lokasi kawat pasak terali selokan di lorong samping sekarang, Bu Sari," ajak Bripka Haryono.
Bripka Haryono, petugas penyidik, dan Pak RT mengikuti langkahku menyusuri koridor samping rumah.
Langkah sepatu boot kulit petugas berdecit pelan membentur lantai ubin semen koridor samping.
Petugas penyidik Polsek berjongkok di samping selokan luar, mengarahkan kamera dokumentasi ke kawat pasak besi.
Clek! Clek!
Lampu kilat kamera menyala dua kali, memotret biji tanaman liar berkerak tanah merah di kawat pasak.
Petugas penyidik mengikis gumpalan kerak tanah dan mengamankan biji tanaman tersebut menggunakan kuret stainless steel.
"Biji tanaman liar niki diduga berasal dari jenis putri malu gunung yang banyak tumbuh di lereng puncak bukit," jelas penyidik.
"Apakah posisi biji tanaman niki menunjukkan ada gesekan material karung dari luar selokan, Pak?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Tekanan kerak niki membentang di lipatan kawat, seperti rontokan muatan tanah bukit," jawab penyidik.
Bripka Haryono mencatat penjelasan teknis petugas penyidik ke dalam lembar formulir olah TKP kepolisian.
Ujung pena bolpoin hitamnya bergerak cepat di atas kertas formulir resmi Polsek.
"Hasil sampel biji tanaman niki bakal kami bawa ke laboratorium Polsek buat analisis lanjutan," kata Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget atas penanganan cepat dari tim Polsek, Pak Bripka," balasku lega.
"Langkah Bu Sari yang mboten menyentuh kawat pasak niki sangat membantu keutuhan sampel," puji Bripka Haryono.
"Kami cuma ingin membantu proses pemeriksaan kepolisian supaya semuanya makin jelas, Pak," sahut Dini mengangguk.
Hawa hangat pagi terasa makin tebal menyapu lorong samping, membiaskan bayangan pagar besi di tembok.
"Lalu pripun perkembangan tim penyisiran di kawasan lereng puncak bukit pagi niki, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kabar.
"Tim gabungan Polsek, Polres, dan petugas Perhutani sejak subuh sudah menyisir lereng puncak bukit," terang Bripka Haryono.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekat pintu koridor dalam seketika menahan napas mendengar penjelasan resmi itu.
"Apakah tim penyisiran menemukan barang bukti baru di lereng puncak bukit itu, Pak Bripka?" tanya Dini penasaran.
"Petugas bersama petugas Perhutani menemukan sisa pijakan kaki berkerak tanah dan robekan kain goni basah," jawab Bripka Haryono.
"Robekan kain goni itu tersangkut di semak akar pohon dekat mulut gua kapur tua puncak bukit," lanjut Bripka Haryono.
"Berarti pergerakan Rian mengarah ke sekitar mulut gua kapur tua itu nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Tim penyisiran sekarang sedang mengurung kawasan sekitar mulut gua kapur tua," terang Bripka Haryono.
"Kami berharap keberadaan Rian dan karung goni itu bisa segera dipastikan oleh tim gabungan," tambah Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget atas informasi resminya, Pak Bripka. Kami terus berdoa buat keselamatan petugas," balasku mengangguk.
"Sami-sami, Bu Sari. Tolong pintu dan jendela tetap dalam kondisi terkunci rapat," pesan Bripka Haryono.
Pak RT mengusap dahinya, lalu memandangi wajahku dan anak-anak dengan raut penuh perhatian di lorong samping.
Sorot mata pengurus RT kami itu menyiratkan kesungguhan dalam mengayomi warga perkampungan.
"Bu Sari... warga gang tadi pagi sudah mengerti kalau kepolisian fokus menyisir lereng puncak bukit," bisik Pak RT.
"Warga juga merasa tenang karena patroli ronda malam berjalan lancar dan teratur," tambah Pak RT pelan.
"Matur nuwun sanget atas bantuan Pak RT dalam menjaga situasi lingkungan gang tetap kondusif," balasku menghela napas.
"Inggih, Bu Sari. Yang penting warga tetap saling menjaga dan mboten terpancing kabar desas-desus," ujar Pak RT.
"Iya, Pak. Kami di rumah juga selalu disiplin menjaga keamanan sesuai petunjuk kepolisian," timpal Dini.
"Langkah Mbak Dini dan Bu Sari sampun sangat tepat dan bijaksana," puji Pak RT mengangguk ramah.
Bripka Haryono dan petugas penyidik merapikan koper peralatan sampel, lalu berjalan menuju teras depan.
Bunyi klip besi koper penyidik terkatup rapat di udara halaman depan rumah kami.
Petugas penyidik merapikan letak pita penanda garis pengaman Polsek yang terikat kencang di tiang selokan.
Pita plastik berwarna kuning hitam itu membatasi area pemeriksaan fisik di samping rumah kami.
Pak RT dan Bripka Haryono berpamitan, lalu melangkah menuju kendaraan dinas yang terparkir di jalan gang.
Suara deru mesin sepeda motor warga yang melintas di depan rumah memberikan suasana ramai perkampungan.
Aku memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh setelah mengantar kepulangan petugas.
Pukul sebelas siang lewat dua puluh menit, sinar matahari memancar hangat di permukaan ubin teras.
Hawa panas siang berembus perlahan memutar debu tipis di atas meja kayu teras kami.
Suara pedagang keliling dan obrolan warga gang terdengar riuh dari arah jalan depan.
Dini dan Ranti mengajakku ke dapur kecil untuk menyiapkan makan siang keluarga sederhana.
Mangkuk porselen berisi sup sayur kubis hangat dan tahu goreng tersaji di atas meja makan.
Aroma gurih kaldu hangat membumbung halus di udara dapur, memberikan suasana tenang di dalam rumah.
Dini menyendokkan nasi hangat dan sup sayur ke piringku dengan gerakan lembut dan telaten.
Asap tipis dari piring nasi membumbung membawa kehangatan rumah tangga kami.
Ranti menata cangkir teh hangat di sebelah piring nasi, lalu mendudukkan diri di bangku kayu.
"Bu... kalau polisi sudah mengurung area gua kapur tua, Rian mboten bisa melarikan diri nggih?" bisik Ranti.
"Iya, Ran. Tim polisi dan petugas Perhutani menjaga ketat seluruh celah di puncak bukit itu," jawabku memegang tangannya.
"Ranti merasa lebih tenang karena petugas penyidik tadi cepat mengamankan biji tanaman di kawat," ujar Dini.
"Inggih, Din. Penanganan dari kepolisian dan Linmas warga pancen sangat terstruktur dan cepat," balasku mengusap bahunya.
"Ibu bangga lihat kalian berdua tetap tenang dan selalu saling mendukung di rumah," tambahku tersenyum.
"Inggih, Bu. Kita bertiga bakal terus disiplin mengunci pintu dan jendela rapat-rapat," janji Ranti mengangguk.
Kami bertiga menikmati makan siang bersama di meja makan, menghabiskan sup hangat dalam ketenangan keluarga.
Pukul satu siang lewat dua puluh lima menit, Pak Wo melangkah masuk ke halaman teras depan rumah kami.
Langkah kaki seksi keamanan warga itu terdengar teratur menapak lantai teras depan.
Pak Wo mengenakan pakaian seragam linmas cokelat tua, membawa papan jepit laporan ronda warga.
Aku segera membukakan pintu depan untuk menyambut kedatangan seksi keamanan warga perkampungan kami.
Selot besi kuningan kuputar dua kali dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian.
"Selamat siang, Bu Sari," sapa Pak Wo menganggukkan kepala di ambang pintu teras.
"Selamat siang, Pak Wo. Wonten kabar punapa dari petugas ronda Linmas siang niki, Pak?" tanyaku menyambut sopan.
"Kulo mau menyampaikan bahwa koordinasi pos ronda siang niki berjalan sangat aman dan tertib," terang Pak Wo.
Pak Wo menyerahkan lembar jadwal piket ronda malam Linmas yang baru diperbarui oleh Pak RT.
"Matur nuwun sanget, Pak Wo. Kertas jadwal ronda niki bakal kulo tempel di dinding dapur," balasku menerima lembar.
"Oh inggih, Bu Sari... tadi waktu kulo kontrol di gorong-gorong batu luar gang, kulo lihat ada ceceran," ungkap Pak Wo.
"Ceceran tanah merah di mana, Pak Wo?" tanya Dini yang berdiri di sampingku seketika menyimak.
"Di dinding plesteran gorong-gorong batu pintu masuk gang, sepuluh meter dari batas rumah Bu Sari," terang Pak Wo.
"Ceceran tanah merah basah bercampur lumut kering itu menempel tipis di dinding gorong-gorong," lanjut Pak Wo.
"Apakah ceceran tanah merah itu masih lembap dan mengandung pasir kasar, Pak Wo?" tanya Dini mengejar detail.
"Inggih, Mbak Dini. Cecerannya tampak baru dan teksturnya mirip persis sama rontokan tanah bukit," jawab Pak Wo.
"Pak Wo sudah mengabarkan temuan ceceran di gorong-gorong itu ke Bripka Haryono mboten?" tanyaku.
"Sampun, Bu Sari. Tadi kulo langsung telepon Bripka Haryono dan foto cecerannya sudah kulo kirim," jawab Pak Wo.
"Bripka Haryono menyampaikan instruksi apa, Pak Wo?" tanya Ranti cemas memegang lengan kakaknya.
"Bripka Haryono minta gorong-gorong itu dijaga dan tim penyidik bakal cek lokasi sore niki," terang Pak Wo.
"Pak Wo dan anggota Linmas juga bakal terus siaga mengawasi jalur luar gang niki," tambah Pak Wo mantap.
"Matur nuwun sanget atas kesigapan Pak Wo dan warga Linmas dalam menjaga keamanan lingkungan," balasku lega.
"Sami-sami, Bu Sari. Tolong pintu teras tetap terkunci rapat dan jangan menggeser ganjal pintu," pesan Pak Wo.
Pak Wo merapikan papan jepit Laporan Linmas, lalu melangkah meninggalkan teras rumah menuju jalan gang.
Aku dan Dini segera memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh dari dalam.
Bunyi denting besi kunci mengunci rapat pintu teras depan rumah kami.
Kertas jadwal piket Linmas dari Pak Wo itu kutaruh rapi di atas meja kayu teras sebagai pengingat.
Kami bertiga berjalan menuju koridor samping, menatap ganjal kayu jati yang tertancap kokoh di bawah pintu.
Sinar matahari siang menyusup dari balik celah ventilasi atas, menerangi tiang besi selokan koridor luar.
Garis kuning pita pengaman Polsek terikat kencang di tiang besi selokan luar yang terlihat dari balik jendela.
Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, menatap dinding semen lorong samping yang hening.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.
---