"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Di rumah sakit, Johan melakukan pengambilan darah setelah Karunia selesai.
Di ruangan lab. "Apapun hasilnya, saya yang pertama diberitahu dan lakukan seperti yang saya perintahkan." Johan suara tegas.
"Siap Tuan." petugas mengangguk.
Hm, "Nanti asisten saya akan menghubungi kamu." ujar Johan, menatap penuh arti.
"Terima kasih, Tuan." ucap petugas lab menunduk hormat pada Johan.
"Coba kamu jelaskan, apakah mungkin Ayah dengan golongan A, dan Ibu golongan O bisa menurunkan golongan AB pada anaknya?" tanya Johan penasaran.
"Belum pernah dijumpai Tuan." jawab petugas.
"Setahu saya, golongan AB dan O akan menurunkan golongan A atau B, apakah ada kemungkinan memiliki seorang anak golongan AB?" tanya Johan lagi.
"Kemungkinan itu ada dijumpai pada golongan yang disebut Cis AB. Cis AB dan O akan menurunkan golongan Cis AB bisa juga O."
Jelas petugas lagi, seketika jantung Johan berdenyut.
Jadi bisa! Tapi aku AB regular hah, bikin kaget aja. Jadi siapa sebenarnya ayah Karunia..
Dalam hati Johan sangat khawatir kalau kalau Niah bisa jadi adalah darah dagingnya.
~
Selesai urusan dari rumah sakit, Devan mengantar Johan dan Karunia kembali ke rumah.
"Devan, sudah malam nginap lah." ujar Johan.
Ngapain juga aku di sini, jadi saksi hidup atas kebohongan kamu Johan.
Batin Devan, "Aku pulang saja." tolak nya.
Johan mendelik. "Devan, ini perintah! Tambahkan bonus kamu bulan ini, setengah gaji." tegas Johan.
Cih, suap. Seolah aku kekurangan uang.
"Baiklah, Johan." Devan sinis.
"Ayo, ikut aku!" ajak Johan menarik tangan Karunia.
Karunia menyentak tangan Johan. "Tuan, sebaiknya anda cari Nyonya."
Niah suara ketus, berjalan ke dapur duduk terhempas di sofa. Johan menghela nafas pelan melihat ke tangga, sunyi tidak ada suara.
Johan melangkah ke arah dapur diikuti Devan, dimana Karunia berbaring lemas. Melihat kehadiran Johan, Karunia bangun dari baring nya.
Johan ke kulkas, Devan duduk di depan Karunia. Johan datang dengan beberapa ketul es batu duduk di samping Karunia.
"Tuan mau ngapain?'' Karunia nada tanya.
"Ngompres wajah kamu Niah." Johan suara lembut, menarik wajah Niah.
"Tidak perlu Tuan." Karunia buang muka.
"Baiklah Niah, ada obat lebam di kit medikal kamu oles ya." Johan mengusap pucuk kepala Niah.
Hm, gumam Niah, menepis tangan Johan.
"Niah, bisa tidak jangan panggil aku lagi Tuan."
"Lalu manggil apa?"
"Karena menurut hasil test kita ayah dan anak panggil aku papi, hm." Johan berbinar.
Cis, dalam hati Devan menarik ujung bibirnya.
"Tidak mau." Karunia suara pelan.
"Papi serius, Niah. Ijinkan aku merawat mu, selama 20 tahun ini kita terpisah."
"Tidak perlu Tuan, saya bisa mengurus diri saya sendiri. Sebaiknya Tuan pergi cari Nyonya!" Karunia suara ketus, jengah di dekat Johan.
~
Terdengar suara ribut di tangga, mbok Senah sedang menyeret sebuah koper di ikuti Dewi menenteng sebuah tas baju.
Ketiga Johan, Karunia, Devan menoleh. Melihat itu, setengah berlari Johan menghampiri istrinya.
"Sayang, jangan lakukan ini." Johan suara khawatir menahan tangan Dewi.
"Mas, lepaskan aku." ketus Dewi.
"Tidak sayang, mas minta maaf. Ayo kita bicara berdua di kamar."
Johan menarik tangan Dewi sambil menenteng tas bajunya. Karunia dan Devan menghampiri mbok senah.
"Berikan pada saya mbok." Devan mengambil koper dari si mbok, membawa naik kembali ke lantai dua meletak nya di depan pintu kamar Johan.
Bertiga, Devan, Niah dan mbok Senah kembali ke ruang santai dapur. Terduduk diam dengan pikiran masing masing.
~
Di kamar Johan dan Dewi.
"Mas, aku mau bercerai." teriak Dewi, pipinya basah berurai air mata.
Johan merah padam. "Tidak akan!"
Johan memeluk tubuh Dewi, Dewi mendorong Johan segera Johan menekan tubuh Dewi ke tembok sehingga Dewi tidak bisa bergerak.
"Mas, lepas! Biarkan aku pergi." jerit Dewi histeris, bahkan suara tangisnya kedengaran sampai ke lantai bawah.
"Tidak sayang, jangan tinggalkan mas! Demi Tuhan aku tidak bisa hidup tanpa kamu." Johan ikut menangis, menempelkan kening mereka berdua.
"Mas kan sudah punya anak, biarkan aku pergi." mohon Dewi suara memelas.
"Tidak mau, mas masih ingin punya anak dari kamu. Lanjutkan program hamil, ya. please, Dewi sayang." mohon Johan memeluk Dewi.
Kedua suami istri itu menangis. Satu air mata kepedihan, satu lagi air mata buaya.
***** ♥️ jumpa lagi.
Jangan lupa like nya guys, 👍
kemana sofinya Thor