Demi melindungi cintanya, dia harus membuat sebuah keputusan yang sulit untuk di mengerti orang lain. Menyembunyikan pernikahannya dan tinggal terpisah dari istrinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan itu selain dirinya, si gadis dan asisten pribadinya. Sangat tidak masuk akal memang, namun semua itu Kevin lakukan semata-mata hanya demi melindungi gadis tercintanya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
DOORRR ...
DOORRR...
Rentetan peluru yang di lepaskan ke udara membuat suasana Mall yang semua tenang menjadi tegang. Sedikitnya ada sepuluh orang bersenjata api yang tiba-tiba datang dan membuat keributan. Semua orang kalang kabut menyelamatkan diri , panik terlihat jelas di raut wajah setiap pengunjung yang ada di sana.
Tembakkan demi tembakkan kembali mereka lepaskan secara membabi-buta, dan hanya dalam hitungan detik saja sedikitnya memakan sepuluh korban.
"DIAM DI TEMPAT DAN JANGAN ADA YANG BERGERAK," gema teriak seorang Polisi memperingatkan. "ANGKAT TANGAN DAN LETALKAN SENJATA KALIAN, KALIAN SEMUA SUDAH DI KEPUNG."
Salah seorang dari ke sepuluh pria itu menyeringai. "Benarkah? Kalian ingin menangkap kami? Lakukan jika memang kau bisa," tantangnya lalu melepaskan tembakkan ke arah Polisi tersebut. Timah panas menembus kepalanya membuat tubuh ya ambruk seketika.
"DIAM DAN JANGAN ADA YANG COBA-COBA UNTUK MELARIKAN DIRI JIKA TIDAK INGIN NASIB KALIAN SEPERTI MEREKA."
"Tapi setidaknya biarkan wanita itu itu pergi," seru sebuah suara dari arah belakang mereka. Sontal ke sepuluh pria itu menoleh dengan serempak. Menatap wanita itu dengan seringai mematikan.
"Wow, tidak di sangka ada bunga teratai di tengah-tengah kubangan lumpur. Hei , Nona , cantik siapa namamu?" tanya pimpinan pembajak itu.
Tapi tangan pria itu segera di tepis kasar oleh pria bermata panda yang pastinya adalah Tao. "Jangan sembarangan menyentuhnya dengan tangan kotormu, atau kau akan menyesal." Ucap Tao memperingatkan.
"Hahahahha ..."
Tawa pria itu pun meledak , menganggap jika kalimat peringatan Tao hanya sebuah angin lalu. Sepertinya mereka masih belum tau siapa dua pria yang ada dihadapannya itu. "Habisi bocah sombong ini dan bawakan gadis itu untukku." Perintah pria tersebut pada anak buahnya.
"Baik ,Boss,"
"O'o, tidak semudah itu. Sebelum kalian berhasil menyentuhnya, sebaiknya langkahi dulu mayat kami berdua." Kata Lay seraya merentangkan kedua tangannya di depan Jessica, menjadi perisai untuknya. "Nunna, mundurlah dan segera beri tau, Boss, tentang kegentingan di sini dan minta dia mengirim bala bantuan." Lay melirik Jessica, wanita itu mengangguk.
Jessica segera mencari tempat untuk bersembunyi. Keadaan saat ini benar-benar genting, Lay dan Tao tengah berkelahi melawan para penjahat itu. Meskipun mereka berdua sangat mahir dalam bela diri, tapi jumlah mereka tidak seimbang dan mereka berdua tetap membutuhkan bantuan.
Tanpa mengulur waktu, Jessica segera menghubungi Kevin dan memberi tau apa yang sedang terjadi. Tapi belum sempat dia bicara, ponselnya lebih dulu di rebut oleh seseorang. Tau panggilan itu masih tersambung, Jessica segera berteriak agar Kevin bisa mendengar dan mengetahui di mana dia saat ini berada. Dan Kevin yang tau Jessica sedang dalam bahaya , tanpa membuang waktu di pun bergegas, tidak hanya sendiri tapi dia membawa bala bantuan.
"Nunna," teriak Tao melihat Jessica berada dalam bahaya. Tao menendang tubuh lawan didepannya lalu menerjang tubuh pria yang hendak melecehkan Jessica dan langsung menembaknya mati. "Nunna, kau tidak apa-apa?" tanya Tao memastikan.
"Perutku, Tao. Ahhh ... perutku sakit," jerit Jessica sambil memegangi perutnya. Kedua mata Tao membelalak melihat cairan merah mengotori dress putih Jessica.
"DARAH ...."
DORRR ....
DORRR ...
DORRR ...
"HYUNG, BANTUAN DATANG." seru Jimin dengan begitu hebohnya. Jimin begitu bersemangat melihat banyaknya mangsa dihadapannya.
"Sica," seru Kevin melihat Jessica kesakitan.
Kevin terkejut melihat darah pada pakaian Jessica. Wanita itu menangis sambil terus merintih kesakitan. Kedua tangannya mencengkram perutnya, fikiran Kevin langsung melayang ke mana-mana. Tak ingin hal buruk sampai menimpa Jessica, segera Kevin mengangkat tubuhnya dan membawanya ke rumah sakit.
"Aku mohon bertahanlah,"
🌹🌹🌹
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Kevin segera berdiri dan menghampiri Dokter yang menangani Jessica.
"Kandungannya berhasil kami selamatkan, Ibu dan janinnya kini dalam keadaan baik-baik saja." Jelas Dokter.
Mata Kevin membelalak. "Jadi maksud, Dokter, Istri saya sedang mengandung?" kaget Kevin tak percaya. Dokter itu mengangguk membenarkan.
"Benar , Tuan, dan usia kandungan Istri anda baru memasuki minggu pertama." Ucap Dokter itu dan meninggalkan Kevin begitu saja.
Kevin tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Dan Kevin tidak pernah merasakan perasaan yang begitu luar biasa seperti ini. Antara percaya dan tidak percaya jika tidak lama lagi dirinya akan menjadi seorang Ayah. Kevin menghampiri Jessica yaang sudah dipindahkan ke ruang inap. Tanpa berkata apa-apa, Kevin langsung menakup wajahnya dan mencium bibir ranumnya. Dan dalam ciuman itu, Kevin ingin menumpahkan perasaannya.
Ciuman mereka berakhir satu menit kemudian. Sudut bibir Kevin tertarik ke atas membenuk lengkungan indah di wajah tampannya. Pria itu meraih bahu Jessica dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukkannya. "Gomawo karna sudah memberikan kebahagiaan yang sempurna untukku, Jessica Zhang. Aku pasti akan menjaga kalian berdua, kau dan calon anak kita." Bisik Kevin dan semakin mengeratkan pelukkannya.
"Apa aku benar-benar hamil?" Kevin mengangguk.
Air mata Jessica seketika tumpah dan membasahi wajah cantiknya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan, dan rasanya Jessica benar-benar tidak percaya jika tak lama lagi dia akan menjadi seorang Ibu.
🌹🌹🌹
GLUKKK ...
Susah payah Leon menelan salivanya ketika melihat Justin keluar dari kamar dalam wujud barunya. Leon sungguh tidak menyangka bila Justin akan begitu cantik dalam wujud wanitanya. "Tiang bodoh, kenapa kau menatapku seperti itu? Yakk, mesum , jangan menatapku berlebihan begitu." Serunya sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya
Leon sampai meneteskan liurnya. Dan Justin yang merasa ngeri segera pergi dari sana sebelum Leon menerkam dirinya.
BRUGG ...
"Aaahhh,, " tubuh Justin terjerembat ke lantai setelah tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang di depan pintu Apartemennya.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya orang itu memastikan.
"Apa kau buta? Jelas aku tidak baik-baik saja, masih bertanya lagi. Aduh pantat dan pinggangku." Pekik Justin sambil memegangi pinggangnya. Dan apakah Justin secantik itu sampai-sampai pria yang berdiri dihadapannya tidak menyadari jika Justin itu adalah seorang pria?
"Maaf, Nona. Saya, sungguh tidak sengaja. Mari saya bantu." Pria itu mengulurkan tangannya pada Justin. Justin mendesah berat, dengan terpaksa dia menerita ulurang tangan itu karna dia memang membuthkan seseorang untuk membantunya berdiri.
"Aaahhh ,,,"
BRUGG ...! Tapi sial menghampiri. Kaki kirinya tersandung kaki kanannya sendiri dan otomatis Justin jatuh menimpa tubuh pria itu. Parahnya lagi bibir mereka malah tidak sengaja bersentuhan. Dan kedua mata Justin seketika membelalak saat merasakan pergerakkan bibir pria itu.
Dengan kasar Justin mendorong tubuh pria dihadapannya dan langsung menampar wajahnya.
"KURANG AJAR, BERANI-BERANINYA KAU MENGHANCURKAN KEPRAWANAN BIBIKU? KAU BENAR-BENAR TAK TAU MALU, MESUM. HUAA BIBIRKU YANG MALANG."
"Nona tunggu .... "
🌹🌹🌹
Jae Eun langsung pergi ke rumah sakit setelah Kevin menghubunginya dan mengatakan bila Jessica mendapat musibah dan berada di rumah sakit. Rasa cemas yang sebelumnya menggerogoti perasaannya kini hilang dan Jae Eun lega karna Jessica baik-baik saja. Jessica juga mengatakan jika saat ini dirinya sedang hamil muda.
Mendengar hal itu tentu membuat Jae Eun merasa sangat bahagia. Dia tidak menyangka bila kebahagiaan akan datang secara berturut-turuk di dalam keluarganya.
"Sebaiknya mulai sekarang perhatikan tingkah lakumu. Jangan pecicilan lagi dam kurangi kebiasaan cerobohmu itu agar janin di dalam perutmu selalu sehat dan baik-baik saja."
"Tentu , Bibi, tidak mungkin aku membahayakannya. Apalagi dia adalah sumber kebahagiaanku dan Kevin, kehadirannya akan semakin melengkapi kebahagiaan keluarga Kami." Tutur Jessica sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Dan aku harap kau tidak merasa keberatan jika aku ingin supaya Jessica tinggal bersamaku saja. Dengan begitu aku bisa lebih menjamin keamanannya dan menjaganya , karna di kehamilannya ini dia pasti lebih banyak membutuhman diriku." Kevin angkat bicara setelah cukup lama diam .
"Tentu saja, Tuan Zhang. Saya tidak ada masalah dengan hal itu, selama ini adalah yang terbaik bagi Jessica, maka saya akan setuju-setuju saja apa lagi anda adalah suaminya."
.
.
.
BERSAMBUNG.