NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anomali

Muffin Blueberry telah keluar dari oven. Saatnya Bagas mencicipi salah satunya. Ternyata lezat melebihi dugaannya.

Tak ada rasa penyesalan saat membuatnya selain jumlahnya yang tidak seberapa.

Ia mencubit dagu. Otaknya berpikir diapakan hasil keisengannya itu.

Tidak mungkin ia membawanya ke panti asuhan karena terlalu sedikit. Dimakan sendiri pun dirasa kebanyakan.

Ia harus mencari seseorang yang mau menerimanya dengan senang hati meski jumlahnya tidak seberapa.

Otaknya mencari sosok paling tepat, hanya terbesit nama seseorang. Tanpa pikir panjang lagi, ia memutuskan untuk memberikannya pada orang itu.

Bagas segera membungkus beberapa lalu meninggalkan sebagian kecil sisanya di rumah untuk dirinya dan ayahnya nikmati.

Ia langsung keluar rumah dengan menenteng plastik di tangan. Berjalan sedikit lebih cepat karena cahaya mentari mulai memudar. Terhalau oleh gumpalan awan gelap.

Akibatnya Bagas sampai lebih cepat. Di depan sebuah gerbang bercat pudar yang familiar.

Ia mengetuknya beberapa kali, barulah terdengar jawaban dari dalam. Seorang wanita mengintip lalu keluar saat mendapati sosok yang berada di depan rumahnya.

"Mencari Renata ya? Dia sudah pergi. Biasa pulangnya malam." ucapnya seolah tahu alasan kedatangannya.

Bagas tak nampak terkejut dengan pernyataannya karena ingat betul siapa Renata sebenarnya.

"Tidak, Tante. Saya cuma mau memberikan ini ke Gea dan Gio."

Mendengar nama mereka disebut, Gea dan Gio sontak keluar dari pintu. Berlari kompak ke arah Bagas.

"Apa itu, Kak?"

"Iya, apa itu?"

"Ini ada kue buat kalian."

Ia menyelipkan kantong melalui celah pagar agar mereka berdua bisa langsung menerimanya.

"Ambil ini. Jangan lupa sisakan untuk kakak kalian ya?" ujar Bagas sembari menyerahkannya.

Gea mengangguk cepat. Matanya berbinar saat membuka isi kantung. Sementara Gio masih menatapi Bagas dengan bersemangat.

"Kakak mau langsung pulang?" tanyanya.

"Iya, Gio."

Air muka Gio mengusut. Bagas merasa harus segera pergi karena langit tampak tak ingin bersahabat. Urusan di sana juga sudah selesai.

Belum sempat berbalik, bulir air mulai menjahilinya. Bahkan tak sampai beberapa detik, derasnya terburu-buru seolah langit sedang memiliki dendam kepadanya.

Tante Lala buru-buru membuka gembok pagar yang terkunci.

"Ayo masuk saja!" ajaknya.

Bagas merasa tak enak. Tapi, ia tidak punya banyak pilihan. Ia segera membuntuti mereka bertiga berlari menuju teras.

"Saya menumpang sebentar ya, Tante."

"Oh iya, silakan, silakan."

"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan handuk."

"Tidak usah, Tante. Saya cuma basah sedikit kok."

"Sudah, tidak apa-apa."

Tante Lala masuk. Tak genap satu menit, ia sudah menyodorkan handuk polos dari tangannya.

"Maaf merepotkan, Tante."

"Ah tidak apa-apa."

Bagas mengusap kepalanya. Mengusap juga tubuh bagian atasnya yang sempat terkena cipratan. Sementara tante Lala kembali masuk ke dalam.

Gio yang sedari tadi memperhatikan Bagas, kini mendekat separuh mengendap. Ia baru sadar adanya anak itu saat ujung bajunya terasa ditarik.

"Ini buat kakak." ucapnya sembari menyodorkan sebuah muffin dari tangannya.

Bagas tersenyum ramah. Ia tidak ingin menerimanya karena jatahnya sudah ada di rumah, namun ia teringat perkataan Renata kalau adiknya jarang berinteraksi dengan orang lain.

Jika menolaknya, ia khawatir seolah dirinya tak menghargai keberanian anak itu. Meski terpaksa, ia menyambut pemberian dari tangan mungil itu.

"Kamu sudah mencicip kuenya?"

Ia menggeleng cepat.

"Coba ini deh. Enak tahu."

Bagas menyodorkan kembali kue yang ada di tangannya.

"Tapi ..."

"Kamu belum coba 'kan? Nah ini kamu saja yang makan. Kakak sudah tadi."

Dengan ragu, Gio menerima kembali kue pemberiannya itu. Mencoba menikmati rasanya. Baru satu gigitan,, ia sudah mengerang bahagia.

Tante Lala kembali ke teras. Kali ini dengan secangkir teh dari tangannya.

"Gas, ini ada teh buat kamu. Lumayan untuk menghangatkan badan." ujarnya sambil menyodorkan.

"Repot-repot sekali, Tante."

"Tidak kok. Justru aku tidak bisa membiarkan teman Renata begitu saja. Jarang-jarang temannya datang seperti ini."

"Apa iya, Tante? Bukannya Renata punya banyak teman?"

Bagas sering kali melihat gadis itu bersama beberapa gadis lain. Jelas-jelas itu temannya.

Ia yakin karena sering kali ia memperhatikannya. Makanya janggal saat mendengar pernyataan wanita itu barusan.

"Iya, tapi yang sampai datang kemari itu cuma kamu. Apa jangan-jangan kamu pacarnya?"

Bagas mengerjap cepat. Bagaimana pun juga, dugaannya terlalu mengada-ada.

Memiliki pacar adalah hal yang mustahil bagi Bagas jika masih dalam kondisinya saat ini. Namun, beda cerita jika ia sudah sembuh.

Karena itu, meski punya pacar adalah impiannya, ia harus mencari cara agar sembuh terlebih dahulu.

"Bukan, Tante. Orang seperti saya tidak mungkin berpacaran dengan Renata."

Renata adalah wujud anomali dalam hidupnya. Meski begitu, ia tak pernah membayangkan menjalin hubungan spesial dengannya.

Ia paham betul kalau gadis itu baik hati. Bahkan terlampau baik terhadapnya. Kalau dalam pandangannya, ia gadis menarik. Entah dari segi paras ataupun kepribadian.

Tapi, ia merasa sayang kalau Renata malah berakhir dengannya. Gadis itu layak mendapatkan pasangan yang lebih baik ketimbang dengan lelaki yang tak bisa diandalkan seperti dirinya.

Terlepas dari pekerjaannya, perasaan yang menghendaki Renata bahagia itu nyata adanya. Namun, ia hanya bisa sebatas berharap saja.

"Kenapa begitu? Jodoh tidak ada yang tahu 'kan?"

"Betul, Tante. Tapi perasaan saya ... tidak seperti itu."

Di tengah perbincangan mereka, muncullah Gio dan Gea. Kini mereka berdua menarik ujung baju Bagas bersamaan.

"Kak, ini namanya kue apa? Kok rasanya enak?" tanya Gea antusias.

"Itu namanya Muffin blueberry."

"Kak, kita main petak umpet yuk!" ajak Gio.

Bagas kebingungan menjawabnya. Tante Lala yang tersenyum, sontak menyahut, seolah paham dengan kebingungan Bagas.

"Masuk saja, Gas. Jarang-jarang mereka bisa akrab dengan orang lain loh."

Bagas akhirnya menuruti mereka. Sembari menunggu hujan reda. Itulah batas yang ia tentukan.

...----------------...

Renata kembali ke rumah dengan lebih cepat dibanding biasanya. Pesanan yang masuk terakhir kali, dibatalkan dengan alasan cuaca.

Meski merasa kesal karena sudah terlanjur datang, uang kompensasi atas pembatalan menjadi hadiah pelipur laranya.

Meski cuma dua puluh persen, uang tetaplah uang. Terlebih ia tak perlu melakukan apapun demi mendapatkan uang itu.

Ia pulang ke rumah. Walau lebih cepat, tetap saja penghuni rumahnya telah terlelap karena waktu hampir mendekati tengah malam.

Saat ia masuk, langkahnya dibuat mengendap supaya tak membangunkan siapapun.

"Ayo main, Kak Bagas." gumam Gio pelan.

Renata merasa seperti mendengar gumaman berbunyi "Bagas", namun akalnya menyangkal telinganya.

Tidak mungkin adiknya menggumamkan nama lelaki yang baru mereka temui sekali itu, pikirnya.

Sebelum menuju ke kamar, perutnya meraung. Sedari siang, belum ada satu pun pengganjal yang memasukinya. Karena itu, ia mampir dulu ke kulkas untuk mencari sesuatu.

Ternyata hanya ada bahan mentah. Matanya beralih ke meja makan. Sebuah tudung saji seolah sedang melindungi sesuatu. Seperti ada siluet samar di dalamnya. Namun, ia menyangkalnya kalau hal itu bisa ia makan.

Renata merasa yakin, di kulkas saja tidak ada, apalagi di dalam tudung? Pikirnya. Meski begitu, ia masih tetap berharap ada sesuatu yang bisa langsung ia lahap karena tubuhnya terlalu lemas untuk menyiapkan sesuatu.

Dalam kondisi seperti ini, ia tidak bisa mengabaikan seluruh kemungkinan yang ada. Termasuk yang ada dalam tudung.

Ia mencoba peruntungan untuk mencari tahu apa sebenarnya siluet itu. Rupanya dugaannya salah.

Ternyata ada dua buah muffin mendekam di dalamnya. Matanya berbinar bak menemukan harta karun.

Mendadak rasa heran menyadarkannya.

Renata merasa tidak pernah membeli kue semacam itu. Selama ini, selalu ia yang membeli segala sesuatunya.

Kalaupun tante Lala yang membelinya, ia selalu menerima kabarnya. Namun, kali ini tak ada pembicaraan apapun soal ini.

Renata paham betul kalau tante Lala tidak pandai membuat pastri. Maka dari itu, hanya ada satu kemungkinan yang bisa terjadi.

Apa mungkin ada yang memberinya?

Renata sudah tidak punya pilihan. Perut dan tubuhnya seolah bersatu untuk merintih bersamaan. Mendorong tangannya untuk bergerak sesegera mungkin.

Di tengah keheranan yang belum mereda, rasa Blueberry justru menari di atas lidahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!